NovelToon NovelToon
Bumil Barbar Di Mansion Megah

Bumil Barbar Di Mansion Megah

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:21.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 17

***

Lonceng jam besar di lobi mansion berdentang tiga kali, menggema sunyi di tengah malam yang dingin. Raditya melangkah masuk ke dalam rumah dengan sisa-sisa amarah yang masih membakar dadanya. Pertemuannya dengan Atmaja benar-benar menguras emosi ia merasa muak dengan permainan kotor old money yang menyeret-nyeret istrinya.

Ia menaiki tangga dengan langkah berat, merenggangkan kerah kemejanya yang terasa mencekik. Pikirannya dipenuhi oleh satu kalimat terakhir sang kakek: "Pastikan kau tahu siapa yang sebenarnya tidur di sampingmu setiap malam."

"Sialan," umpat Raditya rendah.

Begitu pintu kamar utama terbuka, Raditya mengira akan menemukan Nadia yang sedang terlelap. Namun, yang ia dapati justru pemandangan yang membuat jantungnya hampir melompat. Lampu tidur menyala temaram, dan di pinggir tempat tidur, Nadia duduk bersimpuh sambil menangis sesenggukan. Bahunya yang kecil bergetar hebat, dan suara isakannya terdengar begitu menyayat hati.

Raditya panik seketika. Seluruh egonya sebagai CEO dingin luruh. Ia berlari kecil mendekat dan berlutut di depan istrinya.

"Nadia? Ada apa? Mana yang sakit? Perutmu kram lagi?!" suara Raditya yang biasanya datar kini dipenuhi kecemasan yang nyata. Ia memegang kedua bahu Nadia, mencoba mencari luka atau tanda-tanda bahaya.

Nadia mendongak. Matanya merah dan sembap, air mata mengalir deras di pipinya yang pucat. Ia menatap Raditya dengan tatapan paling menyedihkan yang pernah dilihat pria itu.

"Mas..." panggil Nadia dengan suara serak.

"Iya, saya di sini. Kita ke rumah sakit sekarang, ya?" Raditya sudah bersiap menggendong Nadia.

"Nggak mau ke rumah sakit..." isak Nadia lagi. Ia menyeka air matanya dengan ujung daster satinnya. "Aku... aku laper banget, Mas. Tapi aku nggak mau makan steak, aku benci baunya. Aku juga mual kalau lihat nasi."

Raditya tertegun. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tadi menggila. "Lalu? Kamu mau makan apa sampai menangis begini?"

Nadia menarik napas panjang, mencoba berhenti sesenggukan. "Aku mau mie nyemek. Tapi aku nggak mau buatan koki atau beli di luar. Aku mau Mas yang buatkan. Sekarang."

Hening sejenak.

Raditya mengerutkan keningnya, tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. "Saya? Membuat mie nyemek? Nadia, ini jam tiga pagi. Dan kamu tahu sendiri, saya bahkan tidak tahu di mana letak garam di dapur kita."

Mendengar penolakan itu, tangis Nadia pecah lagi, kali ini lebih keras. "Tuh kan... bener kata orang-orang. Mas cuma sayang kalau ada maunya aja. Giliran anaknya yang minta, Papanya malah perhitungan. Sabar ya Nak, Papa lebih sayang sama berkas kantor daripada kita..."

Raditya memijat pangkal hidungnya. Ini benar-benar tidak masuk akal. Pria yang baru saja menegosiasikan angka triliunan rupiah kini harus berhadapan dengan ancaman air mata seorang bumil yang menginginkan mie instan.

"Diamlah, Nadia. Jangan bawa-banyak anak dalam urusan ini," ucap Raditya akhirnya menyerah. "Ayo turun. Tapi jangan protes kalau rasanya seperti racun."

Suasana dapur yang biasanya rapi dan steril kini berubah menjadi medan perang bagi Raditya. Ia sudah melepaskan jas dan melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Dengan wajah kaku, ia menatap deretan bumbu di dapur dengan tatapan seolah sedang meninjau laporan kerugian perusahaan.

Nadia duduk di kursi bar dapur, memperhatikan suaminya dengan dagu yang ditumpu tangan. Isak tangisnya sudah hilang, berganti dengan binar jahil yang ia sembunyikan.

"Bawang merahnya diiris tipis, Mas. Jangan lupa kasih cabai rawit lima, biar greget," instruksi Nadia sambil tersenyum manis.

"Saya tahu cara mengiris bawang, Nadia," sahut Raditya ketus, padahal tangannya memegang pisau dengan canggung.

Takk! Takk! Takk!

Suara pisau beradu dengan talenan terdengar sangat tegas. Raditya memasukkan bumbu ke dalam wajan. Aroma tumisan bawang mulai menyeruak. Raditya terlihat sangat fokus, rahangnya mengeras seolah mie nyemek ini adalah proyek terbesar dalam hidupnya.

"Kenapa Mas tiba-tiba mau melakukan ini?" tanya Nadia tiba-tiba, suaranya melembut.

Raditya terdiam sejenak sambil mengaduk mie di dalam wajan. "Karena saya tidak mau besok pagi Bi Sum melapor kalau istri saya pingsan hanya karena ingin makan mie instan. Itu akan merusak reputasi saya."

"Reputasi atau karena Mas merasa bersalah?" goda Nadia lagi.

Raditya menoleh sekilas, menatap mata Nadia dengan dalam. "Makan saja mienya nanti, jangan banyak bicara."

Sepuluh menit kemudian, semangkuk mie nyemek dengan kuah kental, telur setengah matang yang lumer, dan taburan cabai rawit tersaji di depan Nadia. Aromanya benar-benar menggugah selera.

Nadia mencoba satu suapan. Matanya membelalak. "Wah... ini beneran buatan Mas? Kok... enak banget? Lebih enak dari yang di pinggir jalan!"

Raditya hanya mendengus, mencoba menyembunyikan rasa bangganya. Ia menyandarkan tubuhnya di konter dapur, memerhatikan Nadia yang makan dengan sangat lahap. Rasa lelahnya setelah berdebat dengan Atmaja seolah menguap melihat semangat istrinya itu.

"Ternyata Mas punya bakat jadi tukang mie kalau nanti perusahaan bangkrut," puji Nadia sambil terus menyuap. Ia benar-benar merasa semangat kembali. Ajaibnya, ia sama sekali tidak mual mencium aroma mie ini.

Sambil memperhatikan Nadia, pikiran Raditya kembali ke ucapan Atmaja. Ia melihat Nadia yang sekarang berani menggoda, cerdas berdebat, dan punya selera makan yang meledak-ledak. Sangat berbeda dengan Nadia yang dulu gadis yang hanya bisa menunduk ketakutan setiap kali ia pulang ke rumah.

"Nadia," panggil Raditya rendah.

"Ya?" sahut Nadia tanpa menoleh dari mangkuknya.

"Kenapa kamu tiba-tiba berubah?"

Gerakan tangan Nadia terhenti sejenak. Ia mendongak, menatap mata tajam Raditya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.

Apakah dia curiga? pikirnya.

"Berubah gimana? Namanya juga bawaan bayi, Mas. Dulu aku nggak suka pedas, sekarang pengennya yang pedas terus. Dulu aku pendiam karena aku pikir Mas itu menakutkan seperti monster, tapi setelah semalam... ternyata Mas cuma singa lapar yang butuh perhatian," jawab Nadia dengan nada bercanda yang sangat natural.

Raditya menyipitkan mata. Jawaban itu terdengar masuk akal, tapi insting bisnisnya mengatakan ada sesuatu yang lebih besar di balik sorot mata berani istrinya.

"Atmaja ingin bertemu denganmu," ucap Raditya tiba-tiba, memantau reaksi Nadia.

Nadia terdiam sejenak, lalu meletakkan garpunya. Ekspresi wajahnya berubah menjadi dingin dan datar, aura "Cucu Menteri" yang sebenarnya perlahan keluar tanpa ia sadari.

"Untuk apa? Membahas isu korupsi yang sedang dia goreng sendiri untuk menarik perhatian Mas?" tanya Nadia sinis.

Raditya terpaku. Ia belum memberitahu Nadia soal detail isu korupsi itu, tapi Nadia sudah bisa menebaknya dengan akurat. Teka-teki ini semakin dalam.

"Tidurlah setelah ini," Raditya berjalan mendekat, mengusap sisa kuah mie di sudut bibir Nadia dengan jempolnya. Sentuhan itu terasa sangat intim, membuat bulu kuduk Nadia meremang. "Jangan terlalu banyak berpikir. Ingat, kamu adalah milik saya sekarang. Bukan milik Atmaja, bukan juga milik siapapun di luar sana."

Nadia menatap punggung Raditya yang menjauh menuju wastafel untuk mencuci piring (sebuah pemandangan langka yang luar biasa). Ia tersenyum tipis.

"Aku tahu, Mas. Tapi Mas juga harus tahu... singa lapar mungkin berbahaya, tapi bumil yang sedang melindungi anaknya jauh lebih berbahaya jika diganggu," gumam Nadia pelan.

Raditya tertegun di depan wastafel, ia mendengar gumaman itu. Ia tersenyum licik dalam hati. Sepertinya permainan ini akan menjadi jauh lebih menarik, batinnya.

****

Bersambung..

1
Noey Aprilia
Mkanyaaa.....
kl d blangin sm suami tu nurut...
udh tau bnyak msuh,mlah sntai bgt kluar sndrian.....mnimal ingt lh sm perutmu yg ada bayi d dlm,jgn cma mkirin diri sndri......
partini
hhh pasti ada orang lain itu
Heresnanaa_: stay tune beb 🫶
total 1 replies
MARWAH HASAN
di tunggu kelanjutannya 🤭
Heresnanaa_: stay tune beb 😚
total 1 replies
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
Heresnanaa_: happy reading yaa 🫶
total 2 replies
MARWAH HASAN
aku suka yg cerita model begini
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
Heresnanaa_: aaa maaciw kaka😍🤭😚🥹🫂
total 1 replies
partini
wah tumben mafia bermain dulu bisa sikat tebas biarpun itu ibu ayah sodara ga penting,keren bang Radit
partini
wow
aku
sangat jelas..... 🤣🤣🤣🤣
partini
ahhh ternyata mafia juga Thor,masih di dalam perut aja aktif luar biasa gimana kalau dah lahir bisa lebih sadis dari ayahnya tu baby
MOZZA AUDYA
sikattt trussssssssss Thor buat nyaaaa seru bat drama siang yang di buat nadia 🤭
partini
itu baru di semprot kalau pakai jurus 10 tinju dan tendangan apa ko langsung 😂
MOZZA AUDYA
lanjut thorrr.... gk sabar nih nunggu drama di kantor nyaaa🤭
partini
ulet kadut itu,ayo nak bantu mommy buat hempas uler kadut 😂😂
tunggu aksi luar biasa bumil thor
𝐀⃝🥀Weny
si kulkas jadi bucin😁
MOZZA AUDYA
wahhhhh nampak aada drama baru yang akan di main kn nihh🤭
partini
Thor sekali pakai lingerie bagus deh perut Belendung uhhhh
partini
see main masuk aja kata ga berani wkwkwk
partini
lah masa udah ketauan aja sih ,roh nya Nadia ganti yg tau orang lain pula 🤦
MOZZA AUDYA
aduhh nadia jiwa barbar nya gk bisa di tahan sihhh 🤭
partini
good story 👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!