NovelToon NovelToon
Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Kontrak Nikah Boss Dody : Demi Nafas Nonik

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Alya Senja

Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.

Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.

Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.

Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERKORBAN DEMI NONIK

BRAK!

Di dalam lift lantai 20 yang baru menutup, kepalan Dody menghantam dinding baja. Tangannya sakit tetapi tidak dia rasakan. Di genggaman tangannya ada 2 benda ID card "Nyonya" punya Santi dan foto Nonik anak Santi yang dia dapat dengan paksa dari Santi sebagai jaminan kalau Santi mau datang ke mansionnya untuk melakukan kewajibannya sebagai istri siri.

"24 hari lagi," desis Dody ke kaca lift. Senyumnya sumbang. "Hari itu, aku bikin tante Wati merasakan akibatnya."

Jam 00.47. Mansion Dody sepi seperti kuburan. Lampu sudah mati semua kecuali lampu taman yang temaram.

Santi tidak bisa tidur. Perutnya bunyi. Dari pagi habis pengesahan nikah siri walau tidak resmi, dia belum makan. Nonik sudah resmi ditangani di ICU, sudah ditangani dokter terbaik. Tetapi Santi disuruh istirahat karena ibu Dewi tetangga kosannya bersedia menjaga Nonik. Kalau ada apa-apa bisa menghubungi Santi.

Kamarnya mewah. Ranjang king size, AC dingin, selimut bulu. Tapi Santi merasa seperti patung batu tidak bisa gerak. Tidak ada suara. Tidak ada Dody. Tidak ada status.

Dia lirik tangannya. Kosong. Tidak ada cincin. Nikah siri tadi hanya tanda tangan dan cap jempol dari Nonik. Lalu Dody hanya mendatangkan pengesah nikah saja. Tidak ada janji manis. Adanya "1 tahun, terus bubar".

Lapar. Santi akhirnya menyerah. Dia keluar kamar. Tanpa sandal. Jalan mengendap-endap mencari dapur. Kata bibik, dapur di sayap barat.

Lorong mansion gelap. Cuma ada lampu tidur kecil di lantai. Santi melewati 4 kamar kosong. Sampai di depan pintu kayu jati besar. Ruang kerja Dody. Dari sela pintu, ada cahaya.

Santi mau lewat saja. Tetapi...

"Denger ya Opa. Saya udah nikahin dia tadi sore."

Suara Dody. Dingin. Datar. Jelas banget.

Kaki Santi otomatis berhenti. Nafasnya dia tahan. Jantungnya berdegub kencang. Ini membicarakan dia.

Santi menempel ke tembok. Menguping. Badannya gemetar, antara takut ketahuan sama ingin tahu.

"Siapa?”

“Namanya Santi. OB di kantor aku,"

Dody lanjut. Suaranya tidak ada emosi. Seperti sedang laporan ke boss besar.

"Iya. Anaknya udah 5 tahun. Cewek. Namanya Nonik."

Hening 3 detik. Kayaknya Opa Darwis mau bicara.

"Kenapa dia?”

 Ya karena gampang Opa," Dody jawab. Enteng. "Tak punya. Butuh uang. Anaknya sakit. Aku tawarin 250 juta, langsung tanda tangan. Nggak pake mikir."

DEG.

Kata "gampang" itu nusuk ulu hati Santi. Air matanya langsung mengumpul. Jadi dia memang rendah di mata Dody.

"Soal Wandy?"

Dody diam lagi. Terus tertawa pendek. Hambar.

 "Opa masih nanya? Wandy kan mandul. Udah 2 tahun Opa tau. Opa sendiri yang bilang, 'Kalo Wandy nggak bisa kasih gue cicit, semua saham aku hibahin'."

Santi beku. Wandy mandul? Opa ngancem warisan?

"Jadi ini solusiku Opa,"

Suara Dody makin rendah, makin meningkat.

"Aku nikah siri sama Santi. Anaknya aku akuin di KK. Besok aku bawa Nonik ke Opa. Opa gendong, Opa seneng, saham  balik ke aku. Beres."

Santi tutup mulut pake tangan. Biar tidak menjerit. Jadi Nonik... Nonik cuma tiket. Tiket warisan.

"Abis itu?”

“Ya setahun lagi aku ceraiin Santi," Dody lanjut. Santai. Seperti membicarakan pecat karyawan.

"Terus aku nikahin Wandy. Wandy tetep dapet nama Nyonya Gumilang. Merger kontrak perusahaan tetap jalan. Opa tetep dapet cicit bohongan. Aku dapet saham. Semua menang."

KREK.

Itu suara hati Santi patah.

"Jadi Opa tenang aja,"

Dody tutup.

"Santi itu cuma kontrak. Wandy yang bakal aku nikahin resmi. Di hadapan semua, di hadapan investor. Santi? Dia nikahnya di UGD. Sama cap jempol darah."

Tut. Telepon dimatikan.

Hening.

Santi tidak bisa napas. Air mata sudah banjir. Dia mundur pelan. Kaki lemas. Dia tidak jadi ke dapur. Laparnyah ilang, ganti mual.

Ternyata ini alasannya. Pantesan Dody mau nikahin OB.

Wandy mandul \= tidak bisa kasih cicit.Opa gila cicit \= Mengancam warisan  hangus.Santi punya Nonik 5 tahun \= Cicit instan, tidak perlu menunggu hamil.Santi tidak punya \= Mudah dibeli 250 juta, mudah diancam.Dody tidak menolong. Dody dagang. Dagang nyawa Nonik buat ditukar saham.

KLIK.

Gagang pintu ruang kerja memutar.

Santi panik. Dia lari berjinjit. Balik ke kamar tamu. Nutup pintu pelan. Jantung mau copot. Dia merebahkan badan ke pintu, mendengarkan.

Sepi. Dody nggak tidak mengejar. Mungkin tidak dengar.

Santi melorot. Duduk di lantai. Menangis tanpa suara. Dia lihat ranjang king size. Mewah. Tetapi dia merasa seperti barang sewaan. Bedanya, dia dibayar pake nyawa anaknya.

 Dody tidak sebut namanya dengan sayang. Dody menyebut Santi seperti menyebut aset.

Dan yang paling sakit, Dody benar. Santi memang “gampang”. Demi Nonik, Santi jual harga diri.

Jam 01.30. Santi tidak tidur di ranjang. Dia tidur di lantai, dekat pintu. Posisinya kayak OB lagi menunggu disuruh ngepel. Karena hanya itu yang dia pantas.

Dia tidak bawa bantal. Bantalnya air mata.

Di ruang kerja, Dody mutar-mutar cincin platinum di jarinya. Cincin D dan W. Tunangan 2 tahun. Cincin yg tidak bakal dia lepas. Karena cincin itu segel kontrak trilyunan.

Dia buka laci. Ada map hitam. "Surat Perjanjian Nikah Siri dan Talak". sudah ditandatangani Santi pakai jempol anaknya.

Dody senyum. Senyum menang. 15T sudah di depan mata.

TOK. TOK. TOK.

Pintu kamar tamu diketuk. Santi terbangun dari lantai. Jam 05.30. Matanya bengkak.

"Sudah siap nyonya."

 Suara bibik pelan dari balik pintu.

 "Tuan Muda nunggu di lobi bawah. Ada perintah."

Perintah? Santi cepat-cepat cuci muka, ganti baju. Tetapi di atas ranjang cuma ada satu stel, daster bunga-bunga lusuh sama sandal  merah. Bukankah ini pakaian kemarin yang dia pakai waktu datang ke Wati.

Santi bingung. Kok disiapkan ini?

Dia turun ke lobi. Dody sudah berdiri di depan pintu mansion. Jas hitam, dasi marun, jam emas mahal. Di belakangnya, sopir sudah buka pintu mobil mewah.

Dody tidak menoleh ke Santi. Dia cuma menyodorkan map coklat.

"Jam 8 tepat kamu sudah di lobi kantor,"

Suara Dody datar. dingin.

"Pakai itu."

Dia melirik daster Santi. Kembali lagi minta pada Wati untuk memperhentikan kamu. Kemarin itu Wati masih belum benar-benar memperhentikan kamu. Kamu masih sebagai OB jadi harus benar-benar resmi bukan sementara.

Santi kaget.

"Kenapa... kenapa saya harus."

"Karena Opa Darwis nonton,"

Dody memotong. Matanya akhirnya menatap Santi. Tajam.

 "Opa mau bukti kalo kamu emang bukan siapa-siapaku. Kalo kamu masih OB rendah yang mau aku jauhi. Kalo kamu balik ke kantor pake daster, nangis-nangis, Opa makin percaya ,"  "Emang cuma anak OB yang aku beli. Bukan skenarioku."

DEG.

Jadi ini tes. Tes buat Opa. Santi harus dihina dulu di kantor, biar Opa yakin Dody tidak sayang Santi. Biar Opa yakin Dody hanya mau anaknya. Padahal kemarin Wati sudah memperlakukan dia dengan tidak baik.

"Abis kamu diperlakukan kurang baik, abis kamu nangis, sopirku yang jemput kamu di lobi," Dody lanjut. Dia memasukkan tangan ke saku.

"Baru kita ke rumah Opa. Ngajak opa ke rumah sakit ketemu Nonik. Saham cair. Paham?"

Paham. Santi paham. Dia harus jadi umpan lagi.

"Ini kontraknya,"

Dody menyodorkan map.

 "Pasal 4: Wajib akting sesuai skenario Tuan Dody demi kelancaran akuisisi saham. Pelanggaran \= operasi Nonik batal."

Tangan Santi gemetar menerima map. Kertas itu panas seperti bara.

Dody masuk mobil. Pintu nutup. Mobil jalan meninggalkan Santi sendirian di lobi mansion, pake daster, pegang map kontrak.

Jam 06.00. Santi naik taksi online ke kantor.Tujuannya bukan kerja. Tujuannya dihina. Seperti kemarin dia diperlakukan tidak baik oleh Wati

Di dashboard taksi, ada kalender kecil. 29 hari lagi Nonik operasi. Santi mengusap air mata. "Kuat, Nonik. Mama kuat."

BERSAMBUNG

1
gendiz
semangat ya
Alya Senja: Terima kasih kak sudah mampir
total 1 replies
MayAyunda
keren
Alya Senja: Makasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
Alya Senja
ya terima kasih mau mampir kak. Kita langsung ya kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!