Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pagi ini, rumah keluarga Ganendra tampak lebih sibuk dan banyak aktivitas.
Melina, seperti biasanya sudah berjalan dari panti asuhan menuju rumah mewah keluarga Ganendra.
Kaos sederhana yang sering di gunakan untuk bersih-bersih, menjadi asisten rumah tangga.
Di rumah Ganendra.
"Nyonya maaf, saya harus segera bersih-bersih," ujar Melina yang ingin pergi berlalu.
Namun, langkahnya terhenti saat Nyonya Adisti menghentikannya sambil duduk di ruang tamu.
"Mel, tunggu dulu," ucap Adisti.
Adisti sendiri nampak elegan, mengenakan atasan warna jingga dengan lengan model terompet di ujungnya---terkesan mewah.
Di padukan dengan rok warna marun sebatas lutut, tak lupa rambutnya di gerai sampai bahu di tata dengan ikal sempurna di bagian ujungnya.
Melina hanya menunduk saat di tatap seperti itu oleh majikannya, langkah wanita itu mendekat hingga berhadapan dengan Melina.
Mata Adisti menatap Melina memperhatikan dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Kamu mau fitting baju pengantin, Melina. Bukan mau ke pasar," tegur Adisti dengan ketus.
Terlihat Adisti nampak tak suka dengan penampilan Melina, seolah menunjukkan ketidaksukaan akan penampilan calon menantunya.
Melina sebenarnya lupa hari ini mau fitting baju pengantin, karena semalaman dirinya harus menyelesaikan tugas dari dosennya.
"Lalu...saya harus pakai apa, Nyonya?" tanya Melina dengan suara pelan.
Adisti hanya menghela napas, dirinya tahu jika Melina baru pertama kali mau masuk ke kalangan kelas atas.
Gadis ini terlihat bingung, memilih jati dirinya---hidup Melina terbiasa hidup simpel, dan bahkan mengenakan pakaian hanya mengambil baju asal pilih dari lemari.
bukanlah hal mudah menjadi istri selebriti, dan tentu dari pakaian, cara makan, dan public speakingnya harus bagus.
Adisti merasa berat bebannya harus mendidik gadis panti asuhan ini, agar mau masuk ke dalam keluarga Ganendra.
Sebenarnya, secara pribadi Melina menyukai Alvaro---teman kampusnya.
Namun, Alvaro merasa patah hati saat mendengar jika Melina akan menikah dengan Ishan Ganendra.
Tanpa banyak bicara, Adisti memberikan instruksi pada Melina agar mengikutinya ke lantai atas kamarnya.
Melina adalah calon menantu yang di pilih sendiri, oleh karena itu Adisti sendiri yang harus mendidiknya.
Wanita itu berpikir selain muda dan cantik, Melina yang berasal dari panti asuhan akan sangat mudah jika di tekan dan tak akan berani memberontak.
Melina melangkah di belakang Adisti, menaiki anak tangga untuk menuju kamar wanita itu.
Di lantai bawah Ihsan berdiri menatap adegan antara calon istri dan ibu kandungnya.
Terlihat jelas di mata Ishan tak suka, baginya pemandangan itu adalah sebuah sirkus---sirkus yang nanti akan menjadi bom waktu.
Seorang Aktor menikahi anak panti asuhan yang miskin, hidup dari mengandalkan beasiswa.
Lihat bagaimana teman-teman selebritinya mengolok-oloknya nanti, saat tahu dirinya menikahi pembantu rumahnya atas desakan sang ibu.
Livia Kumara seorang model, meski pernah terjebak skandal video dewasa----namun namanya sudah bersih lewat bekingan yang di milikinya.
Di dalam kamar Adisti.
Kamar yang luas dengan aroma parfum mahal dari merek ternama, Melina di paksa meninggalkan identitas sebagai Melina yang lama.
Adisti membuka lemari dan mengeluarkan sebuah gaun polos warna biru muda yang sangat cantik.
"Pakai ini," titah Adisti singkat.
Melina segera meraih gaun itu dari tangan Adisti, menghela napas untuk melangkah masuk ruang ganti.
Tak berselang lama.
Gadis itu sudah keluar dari ruang ganti, dengan mengenakan gaun biru muda yang panjang sampai lutut.
Adisti tersenyum lalu mendekati Melina, dan memanggil penata rambut untuk menata rambut Melina.
Gadis itu di dudukan di depan meja rias.
Melina memejamkan mata seolah pasrah, para penata rambut itu tengah menata rambutnya.
Rambut yang biasa di kuncir kuda, kini di kepang rapi ke samping satu.
Terlihat Melina yang tak pernah berdandan terlihat anggun hari ini.
Melina menatap dirinya di depan cermin, seolah ini bukan dirinya----tampilannya sangat memukau seperti kalangan kelas atas bukan gadis yang tumbuh di panti asuhan.
"Sempurna, ini terlihat mau fitting baju...bukan kaya tadi, keliatan mau mungut sisa kain fitting baju," ujar Adisti bicara seolah membandingkan penampilan calon menantunya.
Dari yang awal masuk rumah dengan yang sekarang.
"Nyonya...," ucap Melina dengan lirih.
Adisti tersenyum, lalu mengulurkan tangannya.
Keduanya sudah berdiri berdampingan, terlihat jelas perbedaan fisik keduanya.
Tinggi badan Melina hanya sebahu Adisti, karena Melina adalah keturunan asli Indonesia.
Melina terlihat seperti anak kecil berhadapan dengan kewibawaan calon ibu mertuanya itu.
"Ayo kita berangkat," ajaknya.
Sementara penata rias itu tersenyum menganggukkan kepalanya, dan segera merapikan alat-alatnya.
Melina dan Adisti berjalan berdampingan, menuruni anak tangga.
Ishan yang sedang zoom kepada managernya untuk membahas rencana syuting di Lombok, tiba-tiba pandangannya terpaku saat menatap Melina.
"Cantik banget," batinnya, sementara lehernya berusaha menelan saliva.
"Ihsan...Mama ama Melina mau fitting baju, kamu lagi sibuk 'kan?" ujar Adisti kepada putranya.
"Ihsan?"
Ihsan hanya melamun menatap Melina yang berpenampilan berbeda, biasanya gadis ini mengenakan celana kulot jeans atau baju ala anak kuliahan.
Kali ini berbeda, Melina menunjukkan sisi berbeda terlihat elegan dan cantik.
"Ihsan!" panggil ibunya dengan nada tinggi.
"Eh iya mah," ucap Ihsan.
Adisti hanya tersenyum lalu menatap putranya.
"Cantikan calon istri kamu," kata Adisti.
Ihsan yang tersadar, karena harga dirinya tak mau jatuh dan seolah gengsi malah tersenyum sinis.
"Biasa aja, lagian aku udah biasa ngeliat kaya gitu. Malah lebih cantik dari dia," ucap Ihsan dengan cuek mengenakan headset bluetooth nya.
Mendengar itu hati Melina merasa kecewa, namun dirinya hanya bisa menghela napas.
"Yaudahlah, ayo Melina!" ajak Adisti mengajaknya fitting baju.
Keduanya menaiki mobil dengan supir.
Setelah menempuh perjalanan dengan mobil mewah, keduanya sampai di butik langganan para sosialita.
Seorang designer ternama segera menyambut mereka.
"Selamat siang Nyonya Ganendra ada yang bisa di bantu?" tanya sang designer.
"Saya mau membuat gaun pengantin untuk calon menantu saya," ujarnya.
Melina hanya tersenyum dan mengangguk sopan.
Gadis ini sudah berdiri di depan cermin, seorang pegawai meminta Melina berdiri tegak untuk di ukur tubuhnya.
"Berdiri yang tegak, Melina. Jangan membungkuk," tegur Adisti lembut.
Namun tegas sembari meletakkan tangannya di bahu Melina, mengarahkannya menghadap cermin besar.
Melina hanya bisa diam membeku, ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Tampak asing dengan balutan gaun biru.
Pita pengukur tengah melilit pinggang, bahu dan seluruh tubuhnya.
Melina merasa jika ini adalah garis takdirnya, tiba-tiba entah mengapa perasaannya tak enak---entah apa yang terjadi nanti.
*
*
*
*
*
*