Lin Tian, seorang pemuda dari kasta terendah Sekte Awan Hijau, harus menelan kepahitan takdir saat Dantiannya dihancurkan tanpa ampun demi melindungi adik perempuan satu-satunya. Alih-alih mendapat keadilan, sang adik dirampas oleh petinggi sekte yang serakah, sementara Lin Tian dibuang ke tambang beracun di Lembah Kematian untuk membusuk sebagai manusia cacat.
Namun, di kedalaman keputusasaan, Lin Tian menolak untuk menyerah pada nasib. Ketika langit menutup jalan kultivasi ortodoks baginya, ia memilih untuk membelah langit itu sendiri. Diasingkan bersama kerangka para pendekar masa lalu, ia menemukan Seni Pedang Sembilan Kematian—sebuah warisan kuno dan terlarang yang tidak membutuhkan Dantian.Tanpa lautan Qi, ia menjadikan daging dan tulangnya sebagai wadah pedang. Menempuh jalur yang dipenuhi siksaan berdarah dan rasa sakit yang melampaui batas manusia, Lin Tian perlahan menempa dirinya menjadi senjata paling mematikan di bawah langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Menara Ilusi dan Kabut Pembusuk Jiwa
Malam semakin larut, namun hujan badai di Kota Batu Darah perlahan mereda, menyisakan rintik-rintik dingin yang menusuk tulang.
Sesuai koordinat yang diberikan oleh Tuan Hei, Lin Tian melesat menembus bayang-bayang kota menuju pinggiran timur. Tujuannya adalah sebuah menara batu tua peninggalan era dinasti fana yang sudah lama ditinggalkan. Menara itu berdiri menjulang di atas tebing karang, dikelilingi oleh jurang terjal di tiga sisinya.
Lin Tian mendarat tanpa suara di dahan pohon pinus yang menjorok ke arah menara. Jubah hitam dan topeng kayunya menyatu sempurna dengan kegelapan malam.
Dari atas pohon, mata peraknya yang tajam memindai struktur bangunan tersebut. Tidak ada penjaga yang terlihat berpatroli, tidak ada cahaya obor dari jendela. Namun, bagi Lin Tian yang memiliki intuisi Niat Pedang, keheningan menara ini adalah keheningan buatan. Udara di sekitarnya terasa lengket dan terdistorsi, ciri khas dari Formasi Ilusi tingkat menengah yang aktif.
"Menunggu jemputan sambil memasang jebakan. Cerdik, tapi sia-sia," batin Lin Tian.
Daripada menggunakan pintu utama yang pasti dipenuhi perangkap mematikan, Lin Tian memilih jalur vertikal. Ia melompat dari dahan pinus, melintasi jarak belasan meter di udara, dan menempel pada dinding batu menara bagai tokek raksasa. Jari-jari perunggunya, yang dilatih melalui siksaan Baja Pembelah Urat, menancap masuk ke dalam celah batu keras layaknya menusuk tahu.
Ia memanjat dengan kecepatan mengerikan hingga mencapai lantai tiga—tingkat tertinggi menara sebelum atap. Di sana, terdapat sebuah jendela bundar yang setengah terbuka.
Lin Tian menyelinap masuk melalui jendela itu.
TAP.
Kakinya menyentuh lantai kayu yang lapuk. Tidak ada suara, namun seketika itu juga, pemandangan di sekitarnya berubah drastis.
Ruangan yang seharusnya berisi perabotan usang dan sarang laba-laba, mendadak berubah menjadi padang rumput yang luas, dihiasi oleh bunga-bunga berwarna merah darah yang memancarkan aroma manis yang memabukkan. Di langit padang rumput itu, tiga bulan sabit kembar berwarna ungu menggantung sinis.
"Kau masuk ke dalam sangkarku, tikus kecil."
Sebuah suara gemulai dan penuh godaan terdengar dari segala arah. Dari balik ilusi bunga-bunga merah, muncul puluhan siluet wanita cantik berpakaian tipis, menari-nari menggoda, namun setiap tangan mereka memegang jarum beracun yang berkilau hijau.
Pengkhianat Paviliun Obat Racun ini ternyata bukanlah pria biasa, melainkan seorang kultivator wanita ahli racun ilusi—Liu Mei.
"Sihir ilusi tingkat tiga: Ladang Mimpi Buruk Merah," suara Liu Mei kembali menggema, penuh kesombongan. "Aku sudah menduga Tuan Hei si tua bangka itu akan mengirim pembunuh bayaran. Tapi mengirim satu orang cacat yang bahkan tidak memiliki fluktuasi Qi? Dia pasti sudah putus asa."
Lin Tian berdiri diam di tengah padang ilusi itu. Aroma manis dari bunga merah itu mulai mencoba menyusup ke pori-porinya. Ini bukan sekadar ilusi ini adalah racun saraf yang dirancang untuk melumpuhkan kelima indra musuh secara perlahan sebelum membunuhnya dalam tidur.
Bagi kultivator biasa tanpa pelindung Qi, racun ini adalah hukuman mati.
Namun Lin Tian bukanlah kultivator biasa.
Di dalam perutnya, Inti Teratai Pedang berdenyut. Esensi Ketiadaan yang baru saja ia sadari di arena sebelumnya aktif secara pasif. Saat racun saraf berbentuk gas manis itu mencoba merasuk ke paru-paru dan meridiannya, aura perak redup menyelimuti organ dalamnya. Gas beracun itu langsung "dipotong" dan diuraikan menjadi ketiadaan, tak meninggalkan efek apa pun selain bau harum murahan.
"Mata yang menipu, racun yang lemah," gumam Lin Tian datar.
Ia tidak meraba-raba mencari tubuh asli Liu Mei di antara puluhan ilusi penari itu. Bagi petarung fisik yang mengandalkan insting murni, trik visual adalah permainan anak-anak.
Lin Tian menutup matanya.
"Oh? Menyerah begitu saja? Betapa membosankannya," tawa Liu Mei terdengar meremehkan dari berbagai sudut.
Puluhan siluet penari beracun melesat maju, menyodorkan jarum hijau mereka ke berbagai titik vital tubuh Lin Tian. Jika ia salah menebak, jarum dari tubuh asli akan menembus jantungnya.
Namun, di dunia kegelapan Lin Tian yang dipandu oleh Niat Pedang Sembilan Kematian, ilusi yang terbuat dari Qi tidak memiliki "kehadiran" atau niat membunuh yang nyata. Mereka kosong. Sebaliknya, ada satu detak jantung. Satu aliran pernapasan panik. Satu niat membunuh murni yang bersembunyi di sudut kanan atas ruangan ilusi ini.
Saat ujung-ujung jarum ilusi itu hanya berjarak satu inci dari wajahnya...
Lin Tian menghentakkan kaki kanannya dengan kekuatan ledakan Baja Pembelah Urat.
BOMMM!
Lantai kayu di bawah kakinya hancur berkeping-keping. Tubuh Lin Tian melesat bukan ke arah para penari, melainkan terbang miring ke atas, lurus menabrak kekosongan langit ilusi bergambar bulan ungu.
"Apa—?!" Suara Liu Mei seketika panik.
Lin Tian memutar pinggangnya di udara, mengayunkan siku kirinya dengan kekuatan fisik maksimal langsung ke arah kehampaan ruang tersebut.
KRAAK! CRASH!
Sikunya menghantam sesuatu yang sangat nyata. Pemandangan padang rumput dan bulan ungu hancur berkeping-keping layaknya cermin yang pecah.
Realitas kembali. Lin Tian kini berada di sudut ruangan menara lantai tiga yang temaram. Siku kirinya telah menembus bahu kiri seorang wanita berjubah sutra merah yang tadinya menempel di langit-langit menara seperti kelelawar, bersembunyi di balik jubah kamuflasenya.
Liu Mei menjerit kesakitan, memuntahkan darah hitam dari mulutnya saat ia jatuh menghantam lantai kayu yang lapuk. Tulang selangkanya hancur total, tangan kirinya terkulai tak berguna.
Matanya yang memikat kini membelalak ngeri melihat pemuda bertopeng kayu abu-abu yang mendarat tanpa suara di hadapannya.
"B-Bagaimana kau bisa melihat menembus Formasi Ilusi Puncak tanpa menggunakan Cermin Penyingkap atau sihir pelacak jiwa?!" Liu Mei tergagap, mundur menyeret tubuhnya ke dinding menara. Keringat dingin membasahi wajah cantiknya yang kini pucat pasi.
Ia adalah ahli ilusi terbaik di Paviliun Obat Racun. Bahkan Tetua Inti Emas butuh waktu beberapa tarikan napas untuk menemukan celah ilusinya, tapi pemuda fana ini menghancurkannya dalam hitungan detik seolah ilusi itu tidak pernah ada!
Lin Tian melangkah mendekat. Suaranya serak dan sedingin es, tanpa emosi, tanpa belas kasihan. "Ilusi hanya menipu mata. Rasa takut dan niat membunuhmu berteriak lebih keras dari sihirmu."
Menyadari ia berhadapan dengan monster sejati yang kebal racun dan ilusi, Liu Mei mengertakkan giginya. Ia adalah mata-mata tangguh yang dilatih Sekte Pedang Surgawi. Ia belum menyerah.
Tangan kanannya yang masih utuh tiba-tiba merogoh kantong penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah gulungan kulit hitam.
"Jika aku harus mati, aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku! Kabut Pembusuk Jiwa!" teriak Liu Mei histeris. Ia menghancurkan gulungan itu.
Sebuah kabut hitam pekat yang luar biasa padat meledak dari gulungan tersebut, memenuhi seluruh lantai tiga menara dalam sekejap. Ini bukan ilusi, ini adalah Racun Fisik Korosif tingkat tinggi! Racun ini mampu menghacurkan Pembangunan Pondasi dan merusak organ fana hanya dalam satu tarikan napas.
Asap tebal menutupi pandangan Liu Mei. Ia tertawa gila menahan sakit, yakin bahwa pemuda tanpa Qi itu pasti akan mati meleleh menjadi genangan darah di dalam kabut beracun itu.
Namun, tawanya tercekik di tenggorokan saat kabut hitam di depannya tiba-tiba tersibak membelah dua, seolah dipotong oleh bilah angin tak kasat mata.
Dari balik pusaran kabut beracun yang gagal menyentuh kulitnya, sosok Lin Tian melangkah maju. Kulit lengan kirinya yang tidak terbalut perban memancarkan rona kemerahan yang menggelegak—Niat Pedang-nya aktif di permukaan kulit, membentuk lapisan ketiadaan tipis yang mencabik-cabik molekul racun korosif itu sebelum menempel di dagingnya.
"S-Seni perlindungan fisik macam apa ini... kau... kau bukan manusia!" jerit Liu Mei, nyalinya hancur sepenuhnya. Ia merangkak menuju jendela.
Lin Tian tidak berlari. Ia hanya mengayunkan kaki kanannya, menendang sebuah kursi kayu yang rusak di lantai.
WUSSH! CRASH!
Kursi itu melesat secepat peluru, menghantam kaki kanan Liu Mei hingga tulang keringnya patah berkeping-keping. Wanita itu jatuh tertelungkup, menjerit menyayat hati, tak bisa lari lagi.
Lin Tian berjalan pelan menghampirinya, berdiri menjulang di atas tubuh wanita yang merintih kesakitan tersebut.
"Formula rahasianya. Di mana kau menyimpannya?" tuntut Lin Tian dingin.
Sambil menangis dan menahan sakit yang tak tertahankan, Liu Mei menunjuk dengan gemetar ke sebuah kotak timah kecil yang tergeletak di sudut ruangan dekat meja altar.
"Di... di situ... Kumohon, lepaskan aku... Aku adalah agen bayangan Tanah Suci... Jika kau membunuhku, Tetua Gui Ming tidak akan—"
Ucapan Liu Mei terpotong saat tumit kaki kiri Lin Tian menghantam pangkal lehernya dengan perhitungan presisi mematikan.
KRAK.
Tulang belakang leher wanita itu putus seketika. Liu Mei tewas dengan mata terbelalak ketakutan, kata-kata ancamannya tersangkut selamanya di tenggorokan.
Lin Tian tidak mempedulikan mayatnya. Ia melangkah menuju kotak timah di sudut ruangan, membukanya, dan menemukan sebuah perkamen kuno berisi diagram meridian dan ribuan karakter rahasia racun. Formula Curian Paviliun Obat.
Tanpa ragu, Lin Tian merobek perkamen itu menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu meremasnya dengan tangan kirinya hingga hancur menjadi debu tak terbaca.
Tugas pembersihannya untuk Tuan Hei selesai. Tiket untuk adik-adiknya menaiki Kapal Persekutuan Seratus Harta kini telah aman.
Ia berbalik untuk keluar dari menara mematikan itu, berencana kembali ke penginapan dan segera menyerap Kristal Tulang Naga.
Namun, tepat saat ia menjejalkan tubuhnya untuk keluar melalui jendela...
ZIIINNGGG...
Bulu kuduk Lin Tian berdiri seketika. Niat Pedang di sumsumnya menjeritkan tanda bahaya yang sangat mutlak, jauh melebihi ancaman dari Liu Mei, atau bahkan Tetua Feng Yang sebelumnya.
Sebuah pilar cahaya hitam legam tiba-tiba menghantam atap menara tempat Lin Tian berada, merobek atap batu tebal itu seperti kertas basah.
Di udara malam, melayang menembus awan badai, seorang pria paruh baya mengenakan jubah abu-abu gelap dengan sulaman pedang hitam di dadanya. Pria itu tidak menaiki pedang terbang. Ia berjalan di atas udara kosong!
Tahap Inti Emas Menengah.
Mata pria itu sedingin jurang maut, menatap langsung ke arah Lin Tian yang berada di dalam menara yang setengah hancur.
"Jadi... kau tikus fana yang membantai sekteku di lembah itu," suara Tetua Gui Ming menggema, pelan namun menggetarkan ruang itu sendiri, menciptakan tekanan yang meretakkan tulang-tulang di tubuh Lin Tian. "Cermin Pelacakku ternyata tidak salah. Membunuh agenku adalah kesalahan terakhir yang kau buat di dunia ini.