NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Cahaya Teduh di dalam Masjid

“Apa kau bilang?! Kau dipecat?!” tanya Ridho seolah tak percaya dengan pernyataanku barusan. Aku mengangguk cepat seraya mendongakkan kepala dan berkacak pinggang padanya. Tiba-tiba … sebuah tangis pilu terdengar di sampingku. Tangisan yang kuusahakan agar tak terjadi, justru kini hadir karena ulahku.

“Adelin … kamu benar dipecat, Nak?” tanya Ibu dengan nada getirnya. Wajah yang semula penuh harapan itu seketika luruh detik itu juga.

Aku mengangguk pelan—memasang ekspresi sedih dan bimbang. Kugenggam tangan Ibu yang terasa dingin dan bergetar. Lalu, kuucapkan satu kalimat yang kuharap ia dapat tenang saat mendengarkannya.

“Bu, in sha Allah hari ini juga aku janji akan cari kerja yang baru. Ibu jangan sedih, ya. Aku mohon, Bu,” mohonku dengan nada suara penuh getaran. Seolah tangis mendesak hendak turun detik itu juga.

“Ya, kau cari kerjaan baru sekarang! Awas aja kalau kau pulang nggak bawa uang.” Ridho sialan ini benar-benar membuatku semakin dirundung stres. Ia mirip sekali dengan almarhum bapaknya yang kasar dan pemalas.

Aku tak menjawab sama sekali. Memilih diam sebagai bukti perlawananku. Aku berjalan keluar rumah tanpa permisi dengan Ibu dan Ridho. Kemudian, sebuah suara kembali menghentikan langkah kakiku.

“Kau ingat, ya! Jangan pulang sebelum kau bawa uang! Paham, kau?!”

“Ridho! Sudah, Nak. Kasihan Kakakmu,” bela Ibu di sela tangisnya. Kuteruskan langkahku. Lalu menutup pintu dengan kasar.

Bayang-bayang rutinitas kerja di masa lalu masih setia menemani memori di dalam kepalaku. Aku berjalan menyusuri kota Jakarta yang padat dan macet di pagi hari ini dengan langkah gontai. Pandanganku nanar, tenagaku menipis karena semalam aku sama sekali tak tidur.

Kuingat lagi pekerjaan yang kucintai dulu. Menjadi seorang karyawan loyal di bidang administrasi yang begitu sulit bagi siapa pun untuk mendapatkan jabatan itu. Di tengah sulitnya lowongan kerja di zaman sekarang. Tiba-tiba, pandangan mataku tertuju pada sebuah rumah makan yang ada di pinggir jalan. Aku memberanikan diri mampir—bertanya satu hal.

“Bu, Pak. Maaf, saya mau bertanya. Ada lowongan kerjakah di sini untuk saya?” Kedua lansia paruh baya itu lantas menoleh ke arahku. Ia memandangku dari ujung kepala hingga kaki.

“Salah alamat kali, Dek mau ngelamar. Di sini rumah makan nggak perlu penampilan kayak pekerja kantoran,” jawab Bapak pemilik rumah makan itu seolah menyindirku.

Aku membalas cepat ucapannya.

“Nggak apa-apa, Pak. Saya bisa bantu-bantu, kok. Walau penampilan begini saya juga bisa masak dan cuci piring, Pak.” Aku mencoba meyakinkannya. Berusaha agar diriku bisa dapat bekerja menjadi apa pun di sini.

“Marni! Masih buka lowongan?” Bapak berkulit sawo matang dan bertubuh kurus itu berteriak memanggil salah seorang wanita yang tampak tengah sibuk membungkus nasi pelanggannya.

“Karyawan kita udah banyak.” Runtuh sudah harapanku mendengar jawaban singkat dari wanita bernama Marni tersebut. Kulihat Bapak itu menoleh ke arahku dengan tatapan datarnya.

“Maaf, ya, Dek. Lagi nggak buka lowongan.”

“Ya, Pak. Nggak apa-apa. Terima kasih,” jawabku sembari menuai senyuman padanya.

Aku tahu, ada banyak pekerjaan di Kota Jakarta ini. Tapi, tak semua yang benar-benar membuka lowongan pekerjaan. Aku menepi sejenak di tengah keramaian yang menyesakkan di tengah kota ini. Bersandar pada bangku yang tersusun rapi di tepi jalan khusus bagi pejalan kaki. Membiarkan sengatan mentari membakar kulitku.

Aku memeriksa ponselku sejenak. Tak ada notifikasi pesan dari siapa pun. Hatiku berdecak pilu. Begitu tak pedulinya manusia padaku di titik terendahku saat ini. Bahkan menanyakan kabarku saja mungkin mustahil.

Tiba-tiba … sebuah pesan masuk. Pesan dari rekan kantorku dulu sekaligus sahabatku—Kayla.

“Adelin! Dengar kabar lo udah nggak kerja lagi, ya?”

Aku tersenyum getir membaca pesan itu. Aku sama sekali tak membalas pesan dari Kayla. Membiarkan ponselku menyala setiap kali telepon darinya berdering. Hingga dipanggilan ke lima, aku memberanikan diri untuk mengangkatnya.

“Ya, gue udah resign,” jawabku tanpa basa-basi.

“What? Emang lo kenapa resign? Coba cerita. Ada masalah apa?”

“Nggak ada masalah apa-apa, kok. Gue doang yang mau resign.” Kutebar senyum getir itu di balik telepon ini. Aku tahu, Kayla di balik telepon sana sedang mengkhawatirkanku.

“Videocall, deh! Gue mau liat muka, lo.”

“Nggak, ah! Gue lagi di luar,” jawabku menolak ajakannya.

“Bentar aja. Gue lagi kangen berat. Oh ya, tadi gue tanya Dimas juga. Lo habis berantem sama dia katanya. Kenapa?” Tiba-tiba, Kayla menanyakan soal Dimas yang membuat gemuruh di dadaku kembali terbakar api amarah. Aku lantas menjawab.

“Nggak usah bahas orang itu lagilah. Udah, ya. Bye!” Kututup telepon itu kemudian. Membiarkan Kayla yang mungkin masih penasaran dengan jawabanku terkait pertanyaannya.

Ingatanku kembali berlabuh pada kejadian malam itu. Malam yang menakutkan sekaligus pertaruhan antara hidup dan matiku. Ditambah dengan cara Dimas menyatakan cinta dengan cara penuh pemaksaan. Hal yang semakin menimbulkan luka trauma dalam diriku.

“Semua laki-laki itu brengsek, kan?!” Aku bertanya pada angin yang menerpa. Membiarkan suaraku mengudara dan menghampiri semua telinga manusia yang pada saat itu tengah berlalu-lalang.

Semua mata lantas menoleh ke arahku. Aku memilih tak peduli. Kemudian bangkit dari kursi yang kini tak lagi nyaman untuk kududuki.

Siang datang begitu saja. Aku telah menghampiri banyak kantor dan toko untuk menanyakan lowongan pekerjaan. Tapi ternyata aku tak juga mendapatkan pekerjaan. Entah mengapa nasib tak berpihak padaku hari ini. Aku kembali mengingat ucapan Ridho yang mengingatkanku agar tak pulang sebelum membawa uang. Aku mengacak rambut frustrasi.

Saat langkahku kembali kulanjutkan, aku mendengar suara azan berkumandang di masjid yang ada di sekitarku. Hati mendesakku untuk berhenti sejenak dan mengunjungi masjid tersebut. Hingga aku mengikuti desakkan hatiku untuk mengunjungi masjid.

***

Sebuah masjid nan indah dan teduh berdiri kokoh di hadapanku. Aku melewati setapak jalan yang menghubungkan antara pintu masjid dan ruang wudu. Namun, saat aku hendak menuju ruang wudu, yang kutemukan justru tempat wudu pria. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari di mana tempat wudu wanita berada.

Saat aku kesulitan mencarinya, tiba-tiba … seorang pria berjubah putih, berpeci putih. Wajahnya cerah dan lebih terawat dariku. Jenggot yang lebat, tapi terjaga kerapiannya. Wajahnya seolah mencerminkan bahwa ia keturunan Arab. Aku memberanikan diri menanyakan padanya. Walau aku tahu, ia pasti tak paham dengan bahasaku.

Tiba-tiba … aku teringat dokter bercadar lalu yang mengucapkan kata ‘Afwan’ sebagai permintaan maaf. Aku tahu pasti bahasa itu adalah bahasa arab. Dengan keterbatasan bahasaku, aku mulai menyapanya.

“Assalamualaikum, afwan.”

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya? Kenal saya?”

Senyap. Kami saling diam satu sama lain. Lelaki berwajah arab itu, ternyata bisa berbahasa Indonesia. Aku pun dibuat bingung oleh kalimatnya yang bertanya. Apa aku mengenalnya? Hingga aku kembali melanjutkan ucapanku.

“Wudu wanita, di mana?” tanyaku padanya dengan perasaan canggung. Kulihat, lelaki itu tersipu malu dengan sedikit tawa yang tak bisa ia sembunyikan di wajahnya. Namun, ia sama sekali tak menolehkan pandangan ke arahku.

“Di sebelah kiri. Pojoknya lagi, ya,” jawabnya dengan bahasa Indonesia yang fasih.

“Terima kasih,” ucapku sambil menganggukkan kepala.

“Afwan,” jawabnya singkat kemudian berlalu ke dalam masjid. Tiba-tiba … ia kembali bersuara.

“Mbak!” panggilnya dengan nada sedikit tinggi, tapi tetap santun.

“Iya?” jawabku seraya menolehkan pandangan kembali ke arahnya.

 “Bawa sendalnya aja langsung. Soalnya, di sini pintu khusus pria.”

“Oh, baik. Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Kini aku telah berada di dalam masjid. Menanti ikamah selesai. Saat aku hendak berdiri, aku dikagetkan oleh segerombolan wanita bercadar yang masuk ke dalam masjid secara serempak dan teratur. Aku yang sendirian menggunakan mukena masjid di tengah hitamnya gamis dan cadar mereka membuatku merasa sedikit canggung.

Saat aku hendak salat—tiba-tiba … seorang wanita bercadar menarik tanganku dan memposisikan kaki kami dengan rapat. Aku tak mengerti mengapa harus demikian. Sejauh ilmuku selama ini tentang agama, aku baru melihat ini sebagai suatu kebaruan di dalam beragama. Tapi, entahlah apa tujuan mereka.

Hingga sebuah suara berbisik ke telingaku.

“Rapatkan safnya,” ucapnya sambil membuka cadar yang menutupi wajahnya. Tampak sudah wajah cantik alami itu. Aku terkesima seketika saat memandangnya. Tanpa riasan. Namun, tetap cantik alami.

Seusai salat, kukira semua muslimah ini akan pulang. Ternyata, aku terjebak di antara kerumunan mereka yang memilih duduk sehabis salat di dalam masjid. Kulihat, semua mereka membuka sebuah buku catatan yang sudah penuh sebagian. Tangannya bersiap-siap menulis sesuatu dengan pena-pena mereka. Aku terkesima seketika melihat pemandangan itu.

“Maaf, ini mau ngapain, ya habis ini?” tanyaku pada wanita bercadar di sampingku.

“Maa syaa Allah. Mbak baru, ya? Habis ini ada kajian. Dengar aja, ya. Mau nyatat?” Suara lembut itu membuat hatiku luluh seketika. Ternyata, ada wanita yang semenyejukkan itu di dunia ini. Ke mana aku selama ini? Kenapa lingkungan tenang ini baru hadir sekarang?

Bunyi ritsleting tas menyadarkanku dari lamunanku. Wanita yang belum kuketahui namanya itu lantas memberikanku satu buku catatan dan satu buah pena yang masih baru.

“Wah, nggak usah repot-repot, Mbak. Saya cuma sebentar, kok.”

“Jangan gitu. Terima aja. Ini hadiah dari Allah.” Aku menghela napas panjang. Ada ya, manusia di zaman ini yang memberikan sesuatu tapi melibatkan Allah dalam segala pemberiannya. Aku menganggukkan kepala. Bersyukur bahwa ternyata masih ada manusia baik di dunia ini yang peduli padaku. Walau, untuk hal kecil.

Seorang moderator acara kulihat mulai membuka kajian ini. Hampir seluruh orang yang kulihat di sini berwajah cerah dan teduh. Aku benar-benar seolah menemukan cahaya yang selama ini hilang dalam hidupku.

“Kajian kita hari ini bertema tentang “Jalan Tercepat Meraih Surga Allah.” Yang akan dibawakan oleh al ustaz Afwan Zaid hafidzhahullahu ta’ala. Kepada ustaz Afwan waktu dan tempat kami persilakan.”

“Bentar-bentar … Afwan? Ustaz?”

1
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
Rizkia Mauli
penulisannya sangat bagus, alurnya menegangkan. aku baru baca tiga bab udah kerasa ketegangannya. sangat rekomended bagi yang suka alur menegangkan dan emosional.
Larasati: waaa makasi banyak dek atas ulasannya.. 😍😍 rajin2 mampir ya dek.
total 1 replies
ceefour
Yeayy... So sweet
Larasati: 😍 sweet ya. Alhamdulillah halal.
total 1 replies
ceefour
Waow cepet ya proses nikahnya
Larasati: kalau ustaz gitu main sat set.. hahaha
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku merasakan kekecewaan terhadap sosok Adelin, tapi... termasuk wajar gak sih jika diposisi seperti itu sampai sekalut itu dan akhirnya memilih hal buruk terhadap hidupnya? eh kayaknya wajar deh, aku pun pernah di masa tertekan jg melakukan hal bodoh sih hehe
Larasati: wajar dong. kalau memang sudah sekalut itu siapa yaang gak belok dek hehe
total 1 replies
Rizkia Mauli
aku yakin adelin gak akan nerima deh, dari prolog aja mungkin itu baru pertama kalinya dia, jadi... ntah deh hehe
Larasati: hehe ayo bab berikutnya yuk
total 1 replies
Rizkia Mauli
Bugh ini.... apakah... antara benar-benar jatuh atau... suara orang yang datang menolong?
Tulisan_nic
I could feel a quiet kind of fear settling in me as I read 🥲
Larasati: same with me... 🫣
total 1 replies
Tulisan_nic
Kekalutan apa sebegitu merubah seseorang, Adelin, why?
Larasati: emosinya unstable kak /Sob/
total 1 replies
Tulisan_nic
Ikut merasakan, kepedihan dan hancurnya Adelin. Ikut merasakan kejamnya dunia menghujam kehidupan Adelin. Ikut merasakan, detik-detik waktu berhenti saat satu langkah kaki menapaki tempat ketinggian ekstrem.
Akhirnya penasaran dengan kata Bugh di ujung paragraf, apa itu suara tubuh Adelin yang memilih terjun ke bawah sana? atau apa?
Larasati: 🥲 iya kak... kalutnya ya kak jadi adelin
total 1 replies
ceefour
Yah jangan membanting gelas dong
Larasati: terkejut dia 🫣
total 1 replies
ceefour
Lho ada Dimas lagi
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi kak sudh hadir 😍
total 1 replies
mama Al
bagus kak
Larasati: makasi ya kak sudah mampir 😍
total 1 replies
ceefour
Yaah... Gimana tuh kelanjutannya?
Larasati: hayo tebak apa selanjutnya ya?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!