Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pasar Pertama Balqis & Ikan yang Ingin Dipeluk
Pagi itu, matahari bersinar cerah seolah mengundang kami keluar rumah. Balqis sejak bangun tidur sudah tidak bisa diam. Ia berlari kecil dari kamar ke dapur, lalu kembali lagi sambil tertawa-tawa sendiri. “Yah… jalan-jalan!” serunya sambil menarik-narik ujung celana panjangku.
Aku tersenyum lelah. Semalam aku baru saja menyelesaikan Bab 13 sampai larut, tapi melihat antusiasme Balqis, hatiku luluh. Lagipula, sudah lama sekali kami tidak keluar rumah bersama. Sejak stroke, dunia kami seolah menyempit hanya di dalam empat dinding ini.
“Oke, Dek,” jawabku akhirnya. “Kita ke pasar ya? Tapi jangan lepas tangan Ayah.”
Balqis mengangguk semangat, matanya berbinar-binar seperti dua bintang kecil. Aku memakai sandal jepit favoritku, mengambil tas kain bekas istriku yang masih layak pakai, lalu menggenggam erat tangan mungil Balqis. Langkah kami pelan, tapi pasti.
Perjalanan ke pasar hanya sepuluh menit dengan ojek, tapi bagi kami, ini adalah petualangan besar. Balqis terus bertanya tentang segala hal yang ia lihat: “Itu apa, Yah?” “Kenapa ayamnya dikurung?” “Ikan itu kenapa nggak punya kaki?”
Aku menjawab sebisa mungkin, meski kadang harus berhenti karena napasku tersengal-sengal. Tapi setiap kali aku berhenti, Balqis akan memeluk kakiku dan berkata, “Ayah kuat kan? Nanti kita istirahat dulu.”
Di pasar, suasana ramai oleh suara pedagang, bau ikan segar, dan warna-warni sayuran yang dipajang rapi. Balqis tampak kewalahan, tapi juga sangat senang. Ia menunjuk-nunjuk ke arah buah-buahan, lalu tiba-tiba berhenti di depan sebuah ember besar berisi ikan hidup.
“Ikan!” teriaknya girang, lalu berusaha membungkuk untuk melihat lebih dekat.
“Hati-hati, Dek,” kataku sambil menahan pundaknya agar tidak jatuh.
Tapi Balqis tidak puas hanya melihat. Dengan gerakan cepat, ia memasukkan tangannya ke dalam ember. Airnya ciprat ke mana-mana. Seorang pedagang ikan yang sedang duduk di kursi plastik tertawa renyah.
“Wah, anak Bapak berani banget ya, Pak!” katanya sambil mengelap air di dagunya. “Biasanya anak-anak malah takut.”
Balqis menoleh padaku, wajahnya penuh kebanggaan. “Ayah, ikannya dingin! Dan licin! Bisa peluk nggak?”
Aku geleng-geleng sambil tertawa. “Nggak bisa, Dek. Ikannya nanti sedih kalau dipeluk terlalu kencang. Lagipula, dia butuh air biar bisa napas.”
Balqis mengernyit, lalu menatap ikan-ikan itu dengan pandangan penuh pertimbangan. “Kalau gitu… kita beli satu aja. Biar dia temen Balqis di rumah.”
Aku terdiam. Membeli ikan? Di kondisi keuangan kami sekarang, bahkan untuk lauk saja harus hemat. Tapi melihat mata Balqis yang begitu penuh harap, hatiku goyah.
“Nanti ya, Dek,” jawabku lembut. “Kalau Ayah udah dapat uang dari menulis, kita beli ikan beneran. Yang bisa renang di akuarium kecil.”
Balqis mengangguk pelan, meski agak kecewa. Lalu tiba-tiba ia berlari kecil ke arah tumpukan jeruk nipis di lapak sebelah. “Ini buat Ayah! Biar nggak batuk!” katanya sambil menyodorkan satu buah jeruk nipis kecil kepadaku.
Pedagang jeruk itu tersenyum. “Ambil aja, Nak. Gratis.”
Aku tercekat. Lagi-lagi, kebaikan datang dari tempat yang tak terduga. Aku membungkuk sedikit untuk mengucapkan terima kasih, lalu menerima jeruk nipis itu dengan tangan gemetar. Bukan karena sakit, tapi karena haru.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Balqis tidur di pangkuanku di atas ojek, tubuhnya lemas setelah seharian bereksplorasi. Aku memandangi wajah polosnya, lalu menatap jeruk nipis di genggamanku.
Hari ini, kami tidak membeli apa-apa. Tidak ada beras tambahan, tidak ada lauk mewah, tidak ada mainan baru. Tapi kami mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman, tawa, dan bukti bahwa dunia masih penuh kebaikan.
Saya harus menulis bab ini.
Saya harus abadikan hari di mana Balqis mengajarkan Ayah bahwa kebahagiaan bukan soal memiliki, tapi soal merasakan.
Supaya dunia tahu, bahwa bahkan di tengah keterbatasan, seorang ayah bisa memberi anaknya dunia — cukup dengan hadir, mendengarkan, dan mencintai.
Satu bab lagi selesai.
Empat belas bab sudah terangkai.
Target 20 bab tinggal 6 langkah lagi! Kontrak semakin dekat!
Aku tidak sendirian.
Kita tidak sendirian.
Tuhan selalu kirimkan kejutan manis melalui senyum anak kecil dan hati baik orang asing.