"Orang lama menang karena sejarah, tapi orang baru menang karena masa depan."
Azeant Apolo-valerio kehilangan cintanya, namun menemukan kembali harga dirinya. Kata "Putus" dari Claudia Astor seharusnya menjadi akhir, namun bagi pewaris tunggal keluarga Valerio ini, itu hanyalah sebuah awal dari pembebasan.
Apolo adalah pria yang hidup dalam presisi rumus teknik, namun ia gagal menghitung variabel ego seorang wanita yang hanya haus akan validasi.
Segalanya berubah saat sebuah notifikasi dari aplikasi kencan masuk, membawa nama Veronica Brooklyn.
Gadis itu adalah anomali; dia tidak memuja ketampanan Apolo, malah menantangnya dengan kejujuran yang Brutal.
Veronica hadir bukan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan Claudia, melainkan untuk menciptakan standar baru yang tak pernah Azeant Apolo-valerio bayangkan sebelumnya.
Apolo belajar bahwa terkadang, orang yang datang paling akhir adalah satu-satunya yang layak menjadi yang pertama.
🦋
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Ruangan itu terbungkus dalam keheningan yang dingin, hanya interupsi ritmis dari mesin ventilator dan detak jantung yang terpampang di monitor sebagai penanda bahwa kehidupan masih ada di sana.
Cahaya bulan yang masuk dari sela gorden rumah sakit menciptakan bayang-bayang panjang yang seolah ingin menelan ranjang tempat Veronica terbaring.
Azeant Apolo-Valerio melangkah masuk. Langkahnya yang biasanya tegas kini terseret, seolah beban di pundaknya beratnya berton-ton. Ia mendekati ranjang, menatap wajah Veronica yang kini hampir menyatu dengan warna seprai putih di bawahnya. Tidak ada warna di bibir itu, tidak ada rona di pipi. Hanya ada pucat yang mematikan.
Ia duduk di kursi plastik di samping ranjang, meraih tangan Veronica yang terasa sedingin es. Ia menempelkan tangan itu ke pipinya, memejamkan mata erat-erat.
"Apa yang terjadi, Sayang?" bisiknya, suaranya hancur, nyaris tak terdengar. "Kenapa kau menyimpan semua sakit ini sendirian? Apakah selama tiga tahun ini kau menanggung neraka hanya agar aku bisa tetap bernapas di belahan bumi lain?"
Azeant tahu hasil laboratorium baru akan keluar besok, namun instingnya—insting seorang pria yang telah lama hidup dalam kewaspadaan—mengatakan bahwa ini bukan penyakit alami. Ada sesuatu yang jahat yang telah menyusup ke dalam nadi istrinya, sesuatu yang menunggu waktu yang tepat untuk meledak.
Di balik kelopak matanya yang tertutup rapat, Veronica tidak merasakan dinginnya ruang ICU. Ia berada di sebuah tempat yang sangat berbeda.
Ia berdiri di tengah padang rumput yang luas, di bawah langit berwarna jingga keemasan yang abadi. Tidak ada rasa sakit di dadanya. Tidak ada rasa sesak. Ia merasa sangat ringan, seolah-olah ia baru saja melepaskan jubah besi yang selama ini ia pakai.
Seorang wanita paruh baya berdiri di hadapannya. Wajahnya asing, namun terasa sangat familiar di hatinya. Wanita itu mengenakan gaun putih sederhana, wajahnya memancarkan ketenangan yang belum pernah Veronica rasakan seumur hidupnya. Wanita itu menggenggam tangan Veronica. Genggamannya hangat, sangat hangat.
Veronica ingin bertanya, "Siapa kau? Apakah kau ibuku?" Namun suaranya tidak keluar.
Wanita itu tidak bicara melalui bibir, melainkan melalui tatapan matanya yang teduh. Ia hanya tersenyum tipis, lalu perlahan melepaskan tangan Veronica.
"Kembalilah, Sayang..." suara itu bergema di seluruh padang rumput. "Di sini bukan tempatmu. Ada suara yang terus memanggilmu dengan penuh luka. Kembalilah untuknya. Kembalilah untuk putra kecilmu."
Wanita itu perlahan memudar menjadi cahaya. Veronica ingin mengejarnya, ingin merasakannya lebih lama, namun tiba-tiba bumi di bawah kakinya seolah runtuh.
"Vea? Sayang?"
Azeant tersentak dari lamunannya. Ia merasakan tangan Veronica bergetar hebat dalam genggamannya. Harapan sempat membuncah di dadanya, mengira istrinya akan bangun. Namun, harapan itu berganti menjadi horor yang murni.
Cairan merah kental kembali merembes dari hidung Veronica. Dan kali ini, darah itu juga keluar dari sela-sela giginya, membanjiri bantal untuk kedua kalinya. Tubuh Veronica mulai kejang kecil, monitor jantung berbunyi melengking, menunjukkan irama yang kacau.
"DOKTER! DOKTER, KEMARI!" teriakan Azeant pecah, parau dan penuh ketakutan. "Cepat kemari! Dia berdarah lagi! SIALAN, CEPAT!"
Lampu-lampu darurat menyala. Tim medis berlarian masuk, mendorong Azeant menjauh. Azeant berdiri mematung di sudut ruangan, air matanya jatuh tanpa henti melihat tubuh istrinya dikerumuni oleh dokter yang melakukan tindakan darurat.
"Kenapa bisa separah ini? Kenapa... oh Tuhan, Vea..." ia merosot di lantai, menutupi wajahnya dengan tangan yang kini kembali berlumuran darah segar istrinya.
Satu jam kemudian, Dokter Kepala keluar dengan wajah yang sangat pucat. Ia memegang selembar kertas hasil awal lab yang dipercepat melalui jalur prioritas Valerio.
"Tuan Valerio," suara dokter itu berat. "Kesimpulan kami sementara... ini adalah keracunan kronis. Thallium yang dicampur dengan dosis kecil arsenik. Sifatnya tidak langsung membunuh. Racun ini mengendap di jaringan lemak dan organ, merusak sumsum tulang belakang dan dinding pembuluh darah secara perlahan. Butuh waktu bulanan, bahkan tahunan untuk mencapai tahap penghancuran sistemik seperti ini."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Azeant. Tahunan. Itu berarti selama di kediaman Garfield.
Pukul 06.00 Pagi – Kediaman Garfield
Pintu gerbang Mansion Garfield hancur ditabrak oleh mobil SUV hitam milik Azeant. Satpam yang berusaha menghalangi langsung tersungkur saat Azeant keluar dengan wajah yang sudah bukan lagi wajah manusia, melainkan iblis yang haus darah.
Ia mendobrak pintu depan, masuk ke ruang makan di mana Andrew dan ibunya, Morana, sedang duduk menikmati kopi pagi seolah-olah dunia baik-baik saja.
BRAK!
Meja makan kayu itu bergetar saat Azeant menghantamnya dengan kedua tangan. Andrew tersedak, sementara Morana memekik kaget.
"APA YANG KAU BERIKAN PADA ISTRIKU, HAH?!" raung Azeant. Suaranya menggelegar, membuat lampu gantung di ruangan itu bergetar.
Andrew berdiri, wajahnya pucat. "Azeant? Apa maksudmu masuk seperti—"
"DIAM KAU, PECUNDANG!" Azeant mencengkeram kerah baju Andrew, mengangkatnya hingga kaki pria itu hampir tidak menyentuh lantai. "Istriku sedang meregang nyawa di rumah sakit karena racun yang menggerogoti tubuhnya selama Bertahun-tahun! Dan hanya di rumah busuk inilah dia tinggal selama itu!"
Azeant melepaskan Andrew dengan kasar, lalu menoleh tajam ke arah Morana yang mencoba menyembunyikan tangannya yang gemetar di bawah meja.
"Kau..." Azeant menunjuk Morana dengan jari yang bergetar karena amarah murni. "Kau yang selalu menyiapkan teh untuknya, bukan??"
"Jangan menuduh sembarangan, Tuan Valerio!" suara Morana melengking ketakutan.
"Aku akan membunuhmu," desis Azeant, suaranya kini merendah, sangat dingin hingga membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat.
"Jika lab toksikologi menemukan sisa racun itu di rumah ini, atau jika istriku kehilangan satu napas saja karena perbuatanmu... aku sendiri yang akan memastikan kalian tidak akan memiliki kuburan yang layak. Aku akan meratakan rumah ini, perusahaan kalian, dan seluruh sejarah keluarga Garfield dari muka bumi."
Azeant menatap mereka berdua dengan tatapan mematikan. "Jangan berani-berani melarikan diri. Karena sejauh mana pun kalian lari, Valerio akan menemukan kalian."
Ia berbalik, meninggalkan mansion itu dengan amarah yang masih membara. Di dalam kepalanya, ia hanya melihat wajah pucat Veronica dan tangisan Matthew.
Azeant kembali ke mobilnya, memacu kendaraan itu menuju rumah sakit. Di tengah jalan, ia memukul kemudi berulang kali, menangis dengan raungan yang menyakitkan.
"Maafkan aku, Vea... maafkan aku karena membiarkanmu berada di tangan iblis selama itu..."
Fajar mulai menyingsing di New York, namun bagi Azeant Apolo-Valerio, matahari seolah tidak akan pernah terbit lagi selama mata istrinya belum terbuka.
Sebuah tragedi yang berakar dari kebencian seorang wanita tua telah menghancurkan sebuah kebahagiaan yang baru seumur jagung, menyisakan luka yang mungkin tak akan pernah bisa disembuhkan.
jd teh celup ka dia disana.... 😂