Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian yang Tak Diakui
Siang itu datang tanpa benar-benar terasa.
Jam di dinding sudah melewati pukul dua belas, tapi suasana di dalam ruangan Zayn tidak banyak berubah. Masih sama, hening, tenang, dan entah kenapa terasa menekan.
Aurora masih duduk di sofa yang sama. Beberapa berkas sudah berpindah posisi, sebagian selesai, sebagian masih terbuka. Tangannya bergerak perlahan, berusaha tetap fokus, meskipun pikirannya sesekali melayang.
Sesaat, pandangannya jatuh ke pergelangan tangannya sendiri.
Perban yang kemarin masih melilit, sekarang sudah tidak ada.
Kulit di sana masih meninggalkan bekas tipis. Tidak terlalu parah, tapi jelas belum sepenuhnya hilang.
Aurora menarik napas pelan, lalu kembali menunduk.
Namun beberapa detik kemudian
“Perbannya mana?” Suara Zayn tiba-tiba memecah keheningan.
Aurora sedikit terkejut. Ia mengangkat kepalanya, lalu mengikuti arah pandangan Zayn yang tertuju pada tangannya.
“Oh… itu, udah nggak sakit kok, jadi aku lepas” jawab Aurora santai.
Zayn tidak langsung merespon. Tatapannya tetap di sana, pada bekas luka yang menurut Aurora sudah tidak penting.
Lalu Zayn berdiri.
Aurora langsung menegang saat pria itu berjalan mendekat. Langkahnya tenang seperti biasa, tapi kali ini terasa berbeda. Lebih dekat, terlalu dekat.
Zayn berhenti tepat di depan Aurora. Tanpa banyak bicara, ia meraih pergelangan tangan Aurora.
Aurora refleks terdiam. Sentuhannya tidak kasar. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Zayn menatap luka itu dengan serius. Alisnya sedikit berkerut, “Ini belum sembuh.”
Aurora mengerutkan kening, sedikit menarik tangannya, tapi tidak benar-benar melepaskan, “Udah kok, Pak. Udah nggak sakit lagi.”
Zayn mengangkat pandangannya. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Aurora.
“Bukan berarti nggak sakit itu sembuh” Nada suaranya tetap datar, tapi ada tekanan di sana.
Aurora terdiam.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap dalam jarak yang terlalu dekat.
Aurora adalah orang pertama yang mengalihkan pandangan.
“Iya…” jawab Aurora pelan, meskipun jelas tidak sepenuhnya setuju.
Zayn akhirnya melepaskan tangannya. Ia berbalik, kembali ke mejanya seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun sebelum duduk, ia berkata singkat, “Lain kali jangan sok tau.”
Aurora langsung mengangkat kepalanya.
“Kalau infeksi, yang repot bukan cuma kamu.”
Aurora menatap punggung Zayn beberapa detik, “Aneh banget sih dia. Kenapa tiba-tiba peduli begitu?” batinnya.
Ia kembali menunduk, tapi kali ini fokusnya benar-benar hilang.
Beberapa saat kemudian, Zayn menutup laptopnya.
Aurora sedikit tersentak mendengar suara itu.
“Udah cukup.”
Aurora mengernyit, “Pak?”
“Makan.”
Aurora terdiam beberapa detik, mencoba mencerna maksudnya, “Maksudnya…?”
Zayn berdiri, mengambil kunci mobilnya, “Ikut.”
Satu kata, singkat, dan tidak memberi ruang untuk banyak pertanyaan.
Aurora ragu sejenak. Tapi pada akhirnya, seperti sebelumnya ia tetap menurut.
Mobil itu melaju di jalanan siang hari yang cukup ramai. Seperti biasa, tidak ada musik. Tidak ada percakapan.
Aurora duduk diam di kursi penumpang, tangannya saling menggenggam di pangkuan.
“Ini cuma diajak makan siang biasa aja kan? Tapi tunggu, dia kan nggak pernah ajak makan siang? Kenapa jadi tiba-tiba begini?” batinnya.
Beberapa menit kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah kafe.
Tempatnya tidak terlalu ramai. Tampak nyaman, dengan suasana yang lebih santai dibandingkan restoran formal.
Aurora mengikuti Zayn masuk. Mereka duduk berhadapan.
Zayn memesan tanpa banyak bicara. Aurora hanya menyebutkan menu dengan pelan.
Dan seperti yang Aurora duga keheningan akan selalu menyelimuti mereka. Namun kali ini, heningnya berbeda, tidak setegang di kantor, tapi juga tidak benar-benar santai.
Beberapa menit kemudian, makanan datang.
Aurora mulai makan pelan. Zayn juga.
Namun di tengah-tengah itu, tanpa banyak gerakan mencolok, Zayn memindahkan satu potong daging dari piringnya ke piring Aurora.
Aurora sedikit terdiam. Ia melirik sekilas, lalu kembali menunduk.
Beberapa detik kemudian. Satu potong lagi.
Aurora menelan pelan. Ia tahu, tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Dan Zayn juga tidak. Seolah itu bukan sesuatu yang perlu dibahas.
Makan siang selesai lebih cepat dari yang Aurora kira.
Tidak banyak percakapan. Tapi entah kenapa tidak terasa canggung.
Saat mereka kembali ke mobil, Aurora akhirnya membuka suara, “Makasih ya, Pak, udah ditraktir.”
Zayn tidak langsung menjawab.
Tangannya sudah di setir. Pandangannya lurus ke depan.
Beberapa detik hening.
“Sama-sama” hampir keluar.
Namun, “Saya cuma nggak mau kamu kelaparan.”
Aurora sedikit terkejut dengan jawabannya. Ia menoleh sebentar, lalu tersenyum kecil, “Iya, tetep makasih.”
Zayn tidak membalas. Namun untuk sesaat, ia melirik ke samping.
Dan di momen itu, senyum itu sederhana, tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya berhenti sejenak.
Tangannya yang berada di setir sedikit mengencang. Pandangan kembali lurus ke depan. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Sore datang lebih cepat dari biasanya.
Pekerjaan selesai, dan kantor mulai perlahan sepi.
Aurora mengemas barang-barangnya pelan.
Hari ini terasa aneh. Banyak hal yang tidak bisa ia jelaskan.
Tentang Zayn. Tentang sikapnya. Tentang cara dia melihat.
Aurora menghela napas pelan, lalu berdiri.
Ia berjalan keluar gedung. Namun langkahnya langsung terhenti.
Di depan sana, Rayden bersandar santai di mobilnya seperti biasa.
Aurora sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum kecil, “Rayden…” gumamnya.
Namun belum sempat ia melangkah lebih jauh, “Flora.”
Aurora langsung menegang. Ia berbalik.
Zayn berdiri tidak jauh di belakangnya. Tatapannya datar seperti biasa.
“Tunggu.”
Aurora terdiam di tempat. Matanya bergantian melihat dua arah.
Di depan, Rayden, yang mulai menyadari kehadirannya. Di belakang, Zayn, yang tidak bergerak, tapi jelas menunggunya.
Udara sore terasa berbeda. Lebih berat.
Aurora menggenggam tasnya sedikit lebih erat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus melangkah ke arah mana.
Dan tanpa ia sadari, dua dunia yang selama ini terpisah, kini berdiri tepat di hadapannya.
Menunggu untuk dirinya pilih.