NovelToon NovelToon
MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

MAHAR 1 MILIAR: AKU JUAL DIRI, TAPI AKU TIDAK JUAL HARGADIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romantis / Aksi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluargaku Datang Membawa Malu

📖 BAB 5: Keluargaku Datang Membawa Malu

Koridor utama mansion keluarga Gu mendadak terasa sempit.

Lin Qingyan berdiri mematung beberapa detik setelah mendengar laporan Han. Jantungnya berdetak keras, bukan karena takut pada keluarga Lin—ia sudah terlalu lama hidup bersama mereka untuk masih takut.

Ia takut pada satu hal lain.

Malu.

Keluarga itu selalu punya kemampuan luar biasa untuk menyeret kekacauan ke mana pun mereka datang. Jika mereka benar-benar membawa media ke gerbang keluarga Gu, maka malam ini akan berubah menjadi sirkus.

Beichen menatap Han.

“Berapa orang?”

“Dua mobil keluarga Lin. Tiga wartawan lokal. Satu tim live-streaming.”

Qingyan menutup mata.

“Mereka bahkan upgrade.”

Beiming yang baru keluar dari ruang makan bersiul rendah.

“Menarik. Keluarga barumu cukup berisik.”

Yuna tertawa kecil.

“Perempuan dari keluarga seperti itu memang sulit dibersihkan.”

Qingyan menoleh padanya.

“Tenang. Bau busuk biasanya berasal dari orang yang paling banyak parfum.”

Senyum Yuna langsung hilang.

Beichen berjalan melewati semua orang.

“Turun.”

Han langsung mengikuti.

Qingyan menarik napas panjang lalu ikut melangkah.

Madam Gu memanggil dari belakang.

“Kalau kau menangis, jangan lakukan di karpetku.”

Qingyan menoleh sambil tersenyum tipis.

“Kalau mereka menangis, saya boleh?”

Untuk pertama kali malam itu, sudut bibir Madam Gu bergerak sedikit.

Gerbang utama mansion dipenuhi cahaya kamera.

Mobil keluarga Lin parkir miring seperti ingin menunjukkan kepemilikan. Di depan gerbang berdiri ibunya, Lin Madam, mengenakan gaun paling mencolok yang ia punya. Ayahnya tampak gusar namun berusaha berwibawa. Adiknya, Lin Meili, sibuk mengatur sudut kamera ponsel agar wajahnya terlihat tirus.

Dua wartawan memegang mikrofon.

Seorang pria muda sedang live-streaming sambil berteriak ke kamera.

“Kami berada di depan kediaman keluarga Gu! Ada kabar wanita biasa memikat pewaris konglomerat besar dan meninggalkan orang tuanya!”

Qingyan memijat pelipis.

“Mereka cepat sekali memelintir cerita.”

Beichen berdiri di sampingnya.

“Mau kuusir?”

Qingyan menatap keluarganya dari kejauhan.

Ibunya sedang pura-pura menangis ke kamera.

Ayahnya menunjuk gerbang sambil marah-marah.

Meili sesekali melihat pantulan layar ponsel.

Hinaan bertahun-tahun, eksploitasi, tamparan, ancaman—semuanya melintas dalam benaknya.

Ia menatap lurus ke depan.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku mau bicara.”

Beichen memandang wajahnya beberapa detik.

“Baik.”

Gerbang dibuka perlahan.

Kerumunan langsung heboh.

Saat Qingyan berjalan keluar bersama Beichen, lampu kamera menyerbu wajah mereka.

Wartawan hampir berlari mendekat.

“Nona Lin! Benarkah Anda memutus hubungan dengan keluarga demi pria kaya?”

“Nona Lin, apakah hubungan ini sudah ada sejak lama?”

“Tuan Gu, apakah Anda merebut putri orang?”

Han memberi isyarat dan para penjaga membentuk barisan, menahan jarak.

Ibunya langsung maju sambil menangis dramatis.

“Qingyan! Anak Ibu! Akhirnya kau mau keluar!”

Qingyan menatapnya datar.

“Jangan panggil aku seperti kita dekat.”

Tangisan ibunya tersendat sesaat.

Lalu kembali lebih keras.

“Kau tega! Setelah kami membesarkanmu, kau tinggalkan keluarga demi pria ini!”

Ayahnya menunjuk Beichen.

“Dia telah mencuci otak putriku!”

Meili ikut masuk ke frame kamera.

“Kakakku dulu baik, sejak kenal pria kaya ini dia berubah.”

Qingyan hampir tertawa.

Berubah?

Benar.

Ia berubah menjadi seseorang yang tidak mau diinjak lagi.

Salah satu wartawan mendekat.

“Nona Lin, apakah benar keluarga Anda terlilit utang karena menafkahi Anda selama ini?”

Qingyan menoleh padanya.

“Siapa yang memberi informasi itu?”

Ibunya mengangkat tangan.

“Saya ibunya!”

Qingyan mengangguk pelan.

“Bagus. Sekarang saya jawab di depan kamera.”

Ia melangkah maju satu langkah. Semua mikrofon terangkat.

“Sejak lulus kuliah, saya bekerja penuh waktu dan menyerahkan hampir seluruh gaji saya ke keluarga.”

Ibunya langsung memotong.

“Karena itu kewajiban anak!”

Qingyan tak menoleh.

“Saya membayar cicilan rumah.”

Ayahnya mulai pucat.

“Saya melunasi utang judi ayah saya dua kali.”

Wartawan saling pandang.

Meili menurunkan ponselnya perlahan.

“Saya membayar biaya kuliah adik saya.”

Ibunya menjerit.

“Pembohong!”

Qingyan akhirnya menatap langsung ke arah kamera live-streaming.

“Dan kemarin, keluarga saya mencoba menikahkan saya dengan pria lima puluh tahun demi satu miliar.”

Hening.

Streamer muda menatap chat yang meledak di layar.

Wartawan langsung ribut saling bertanya.

“Apakah itu benar?”

“Tuan Lin, tanggapan Anda?”

“Keluarga menjual anak?”

Ayah Qingyan berkeringat.

“Itu fitnah!”

“Fitnah?” Qingyan membuka tas dan mengeluarkan map.

Han menoleh kagum. Ia tidak tahu sejak kapan wanita ini menyiapkan senjata.

Qingyan menyerahkan dokumen ke wartawan terdekat.

“Surat perjanjian mahar. Tanda tangan ayah saya.”

Wajah ayahnya langsung putih.

Ibunya menyerbu hendak merebut map, tapi penjaga menahannya.

Kerumunan meledak.

Meili buru-buru menangis ke kamera.

“Kakak marah karena salah paham!”

Qingyan menatap adiknya lama.

Ia teringat semua hinaan, ejekan, dan barang-barang mewah yang dibeli dari hasil kerjanya.

“Meili, ponselmu merek terbaru itu.”

Adiknya terdiam.

“Dibeli pakai uang siapa?”

Meili mundur selangkah.

Ibunya menjerit.

“Kenapa kau mempermalukan keluarga sendiri?!”

Qingyan tertawa kecil.

“Mempermalukan? Kalian datang ke sini membawa kamera.”

Ia melangkah mendekat ke ibunya.

“Jangan salahkan aku kalau hari ini dunia melihat wajah asli kalian.”

Beichen sejak tadi diam.

Namun auranya membuat tak seorang pun berani terlalu dekat.

Seorang wartawan akhirnya nekat bertanya.

“Tuan Gu, mengapa Anda membantu Nona Lin?”

Beichen menjawab singkat.

“Karena aku bisa.”

“Tapi apakah Anda serius dengan hubungan ini?”

Ia menoleh pada Qingyan.

Lalu, tanpa peringatan, menarik pinggang wanita itu dan membawanya mendekat.

Qingyan membelalak.

Beichen menatap kamera.

“Ia tunanganku.”

Kerumunan heboh.

Han hampir tersenyum.

Madam Gu yang menonton dari jendela lantai dua hampir menjatuhkan cangkir tehnya.

Qingyan menatap Beichen dengan mata membara.

“Kita belum bahas ini.”

Ia berbisik pelan tanpa menoleh.

“Bicarakan nanti.”

“Kau cari mati.”

“Antriannya panjang.”

Ibunya menjerit histeris.

“Tidak! Kami tidak setuju!”

Beichen akhirnya menatap keluarga Lin.

Tatapan dingin yang membuat suara malam seperti berhenti.

“Pendapat kalian tidak diminta.”

Ayah Qingyan maju dengan sisa keberanian.

“Kau tak bisa mengambil putriku begitu saja!”

“Bisa.”

“Kami keluarganya!”

“Sayang sekali.”

Suara Beichen rendah dan tajam.

“Orang seperti kalian hanya berbagi darah, bukan arti keluarga.”

Tak seorang pun bicara.

Bahkan wartawan ikut diam.

Ibunya mulai mengumpat, tapi Han mengangkat tangan kecil. Seketika empat penjaga bergerak maju.

Han tersenyum sopan.

“Jika Anda terus membuat keributan, kami akan menyerahkan bukti penipuan pajak dan perjudian ilegal kepada polisi malam ini.”

Ayah Qingyan hampir jatuh.

“Kau mengancamku?”

Han masih tersenyum.

“Saya menyampaikan jadwal.”

Keluarga Lin akhirnya mundur.

Bukan dengan martabat, tapi dengan teriakan kacau dan wajah panik.

Meili menangis karena siaran langsungnya dipenuhi komentar hujatan.

Ibunya terus menunjuk Qingyan sambil memaki.

Ayahnya sibuk menelepon seseorang dengan tangan gemetar.

Mobil mereka pergi dengan ban berdecit.

Lampu kamera perlahan mati.

Wartawan bubar membawa berita besar.

Gerbang kembali tertutup.

Sunyi turun perlahan.

Qingyan berdiri diam.

Tubuhnya masih tegang.

Ia tidak menyangka akan merasa seperti ini.

Bukan senang.

Bukan puas.

Lebih seperti... kosong.

Beichen berdiri di sampingnya.

“Menyesal?”

“Tidak.”

“Sedih?”

“Sedikit.”

Ia menatap jalan kosong di depan gerbang.

“Mereka keluargaku.”

“Dulu.”

Qingyan menghela napas.

“Mungkin.”

Beichen melepas jasnya lalu meletakkannya di bahu Qingyan. Udara malam mulai dingin.

“Kau tidak perlu kuat setiap saat.”

Ia menoleh, sedikit terkejut.

Pria ini kadang bicara seperti batu.

Kadang seperti... rumah.

Qingyan cepat-cepat menepis pikiran itu.

Berbahaya.

Saat mereka hendak masuk, Han menerima panggilan lagi.

Wajahnya berubah serius.

“Tuan.”

“Apa lagi?” tanya Beichen.

“Direktur cabang timur dibawa polisi satu jam lalu.”

Beichen tenang.

“Alasan?”

“Penggelapan dana.”

Han menelan ludah.

“Dan... dia meninggalkan pesan. Katanya seseorang dari dalam perusahaan menjual data internal kepada pesaing.”

Mata Beichen sedikit menyempit.

Pertama kali malam itu, Qingyan melihat ekspresi berbahaya yang sesungguhnya.

“Siapa?”

Han menjawab pelan.

“Nama yang disebut... adalah Gu Beiming.”

Qingyan menoleh cepat ke arah mansion megah di bukit.

Jendela lantai dua masih menyala.

Di balik dinding rumah mewah itu...

keluarga Gu rupanya jauh lebih berbahaya daripada keluarga Lin.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!