Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.
Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.
Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.
Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…
Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.
Namun ternyata, Alexa adalah Naura...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Waktu berlalu begitu cepat, dan bagi Genesis, hari-harinya kini terasa jauh lebih ringan untuk dijalani. Jika dulu pulang ke rumah terasa seperti sebuah hukuman karena kesunyian dan kesedihan yang menyergap, kini rumah kecil di ujung gang itu adalah satu-satunya tempat di mana ia ingin berada secepat mungkin.
Semua itu karena satu alasan, Alexa.
Pagi itu, seperti biasa, Genesis bangun dengan malas. Matahari sudah menyengat, tapi ia masih meringkuk di bawah selimut tipis, memejamkan mata rapat-rapat seolah berusaha menahan waktu agar tidak berjalan terlalu cepat.
“Gen… ayo bangun. Nanti telat lho,” suara lembut itu terdengar di dekat telinganya. Tangan hangat menyentuh bahunya, mengguncang pelan.
Genesis hanya mendengus, malas membuka mata.
“Lima menit lagi, Lex… Ngantuk banget…”
“Nggak boleh! Ayo bangun! Sudah siap semua tuh, mandi terus sarapan,” bujuk Alexa lagi, suaranya terdengar geli melihat tingkah laki-laki itu.
Dulu, Genesis adalah tipe orang yang bangun sendiri, bergegas sendiri, dan tidak peduli apa pun di sekitarnya. Tapi sekarang? Sejak ada Alexa yang selalu membangunkan dengan lembut, ia jadi merasa bangun sendiri adalah hal yang berat. Ia mulai terbiasa dimanja.
Genesis akhirnya membuka sebelah matanya, menatap wajah cantik yang berada sangat dekat dengannya.
“Bangunin gue terus…” gumamnya parau, masih setengah sadar. “Kalau lo nggak bangunin, gue bakal males bangun seharian.”
Alexa tertawa kecil, mencubit pipi Genesis pelan.
“Iya-iya, makanya bangun. Jangan manja deh, kamu kan laki-laki.”
“Boleh dong manja sama lo,” jawab Genesis tanpa ragu, lalu bangkit duduk dengan rambut acak-acakan yang justru membuatnya terlihat lebih tampan dan polos.
Alexa terpaku sejenak mendengar jawaban spontan itu. Jantungnya berdegup kencang. Manja? Anaknya manja sama aku? Rasanya aneh tapi hangat sekali. Rasanya kembali ke masa-masa ketika Genesis masih kecil dan selalu menempel padanya.
“Yaudah sana mandi!” seru Alexa buru-buru memalingkan wajah untuk menyembunyikan pipinya yang memerah. “Air hangatnya sudah siap.”
Genesis tersenyum puas melihat reaksi gadis itu. Ia suka sekali melihat Alexa tersipu, itu membuatnya merasa… memiliki tempat khusus di hati gadis itu.
.
.
Siang harinya di tempat kerja, teman-teman Genesis sudah bisa menebak suasana hati pemuda itu hanya dari cara ia berjalan. Jika dulu wajahnya selalu muram dan judes, sekarang seringkali ada senyum tipis yang terukir di bibirnya, bahkan saat sedang bekerja keras mengangkat barang berat.
“Woy Gen! Lo kenapa sih akhir-akhir ini senyum-senyum sendiri kayak orang kesambet?” tanya Rico, teman kerjanya yang paling cerewet, sambil duduk di sebelahnya saat jam istirahat.
Genesis yang sedang membuka kotak bekal makan siangnya hanya mendengus pelan, tapi tidak menyembunyikan senyumnya.
“Gue senyum karena gue bahagia, kenapa? Lo iri?”
“Ih apaan sih! Bahagia apaan?” Rico mendekat, matanya berbinar penasaran. “Jujur deh, itu cewek yang kemarin lo bawa pulang itu masih di rumah lo kan?”
Tangan Genesis berhenti bergerak. Wajahnya langsung berubah lebih serius, sedikit protektif.
“Iya. Kenapa?”
“Gila lu! Berani banget lo bawa cewek gak jelas tinggal serumah!” Rico memukul pelan bahu Genesis.
“Cantik banget lagi kelihatannya, kulitnya putih bersih banget, pasti anak orang kaya kan? Lo jangan-jangan nyulik orang ya?”
“Jangan ngomong sembarangan!” bentak Genesis rendah, suaranya terdengar tidak suka.
“Dia nggak gak jelas! Dia orang baik! Dan dia ada di tempat yang tepat sekarang.”
Melihat perubahan drastis pada wajah Genesis, Rico langsung mengangkat tangan tanda menyerah.
“Oke oke! Santai bro! Gue cuma nanya doang. Tapi serius deh Gen, lo berubah banget. Dulu lo cuek bebek, sekarang lo kayak… punya semangat hidup gitu.”
Genesis terdiam. Ia menatap nasi di kotak makannya yang dihias lucu oleh Alexa. Benar kata Rico, ia berubah. Ia merasa hidupnya punya arah lagi. Setiap keringat yang ia keluarkan, setiap uang yang ia tabung, semuanya punya tujuan. Ia ingin bekerja lebih keras, ia ingin rumah ini lebih layak, ia ingin bisa membelikan sesuatu yang bagus untuk Alexa.
Ia mulai bergantung. Bukan hanya soal makanan atau kebersihan rumah, tapi secara emosional. Jika sehari saja ia tidak mendengar suara Alexa, rasanya hari itu terasa hambar dan salah.
“Gue cuma nggak mau kehilangan lagi,” gumam Genesis pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Gue mau dia tetap di sana.”
.
.
Sore itu hujan turun lagi, membuat jalanan menjadi licin dan dingin. Genesis pulang dengan berlari kecil agar tidak terlalu basah kuyup. Saat ia membuka pintu rumah, hawa hangat langsung menyambutnya, disertai aroma masakan yang sangat menggugah selera.
“Eh, sudah pulang! Cepet ganti baju, badan kamu basah kuyup!” seru Alexa yang langsung menyambutnya di depan pintu, seperti seorang istri yang menunggu suami pulang kerja.
Genesis tidak langsung bergerak. Ia justru berdiri diam di ambang pintu, menatap Alexa yang sibuk mengambilkan handuk untuknya. Wajah gadis itu tampak begitu bersahaja, tanpa riasan, namun begitu indah di mata Genesis.
“Kenapa diem aja? Masuk dong, cepat, nanti masuk angin,” kata Alexa sambil menarik tangan Genesis agar masuk ke dalam.
Saat kulit mereka bersentuhan, Genesis langsung membalas genggaman itu. Ia tidak melepaskan tangan Alexa, justru menariknya sedikit hingga jarak mereka sangat dekat.
“Lex…” panggilnya pelan, napasnya terasa hangat menerpa wajah gadis itu.
“I-iya kenapa?” Alexa gugup, jantungnya berpacu melihat wajah Genesis yang begitu dekat. Tatapan mata anak itu begitu dalam, begitu hangat, dan penuh dengan rasa yang membuatnya limbung.
“Gue…” Genesis menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian.
“Gue pulang kerja tuh rasanya capek banget badan. Tapi pas liat muka lo, pas denger suara lo… capeknya ilang semua. Tau nggak sih?”
Alexa menelan ludah. Matanya mulai berkaca-kaca. “Kamu…”
“Rumah ini kecil, kumuh, dan miskin. Tapi karena ada lo, tempat ini jadi kayak istana buat gue,” lanjut Genesis, suaranya terdengar tulus dan serius.
“Gue nggak tau lo dari mana, nggak tau kenapa lo mau sama gue. Tapi gue bersyukur banget. Sangat bersyukur.”
Ia mengangkat tangan bebasnya, menyentuh pipi Alexa dengan sangat lembut, seolah menyentuh benda paling berharga di dunia.
“Jangan pernah pergi ya. Dimanapun lo pergi, ajak gue. Atau lo tetap di sini. Gue bakal kerja lebih keras, gue bakal bikin lo bahagia. Janji deh.”
Alexa merasa dadanya sesak oleh emosi yang meluap-luap. Air mata jatuh lagi, tapi kali ini air mata bahagia. Anaknya mencintainya, anaknya menyayanginya, anaknya bergantung padanya.
“Iya…” jawabnya terbata, memejamkan mata menikmati sentuhan itu. “Aku nggak ke mana-mana. Aku di sini sama kamu.”
Genesis tersenyum lebar, senyum tulus yang memperlihatkan lesung pipinya. Ia akhirnya melepaskan tangan Alexa, tapi tidak jauh-jauh.
“Yaudah, gue ganti baju dulu. Terus kita makan bareng ya?”
“Iya!”
Saat Genesis masuk ke dalam, Alexa memegangi dadanya, tersenyum sendiri sambil menggelengkan kepala tak percaya.
Genesis benar-benar mulai nyaman. Bahkan lebih dari itu, ia mulai bergantung sepenuhnya pada kehadiran Alexa. Dan bagi Naura, melihat anaknya tersenyum secerah itu, adalah obat paling manis untuk segala rasa sakit dan penyesalan di masa lalu.
Namun di balik kebahagiaan itu, bahaya perlahan mulai mengintai. Semakin dalam ikatan ini terjalin, semakin sakit nantinya saat kebenaran terungkap.