IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Alphard milik Naufal sudah berhenti di area basement apartemen lantai 15 super eksklusif.
Apartemen low-rise luxury— yang isinya sedikit unit tapi sangat private. Terletak di pusat kota, hingga memiliki views yang begitu gemerlap.
"Ini, salah satu apartemen pertama yang Papa bangun. Satu unit, Papa khususkan buat aku waktu lulus Spesialis Anestesiologi. Nah kamu bisa pake, apartemen aku ini, sampai kapan pun kamu mau." Ujar Naufal saat mereka sudah memasuki apartemen yang di maksud.
Anin merebahkan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu. Lantas memejamkan matanya sebentar.
"Nyamannya... Kamu benar sayang, aku memang butuh tempat untuk berhenti sejenak. Buat sekedar bernafas, walaupun nanti aku harus menghadapinya lagi."
Naufal ikut duduk di sebelahnya.
"Memangnya tadi kenapa Sayang? Di rumah berantem lagi? Ibuk sama Bapak?"
Anin menggeleng, lantas menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan dengan mata terpejam.
Naufal bangkit, berjalan ke arah kulkas kecil di sudut ruangan. Dan mengambil dua kaleng softdrink. Ia buka kaleng itu, lantas menyodorkannya...
"Minum ini dulu sayang, siapa tahu setelah ini bisa bikin kamu rileks."
"Makasih ya..." Anin meraih kaleng itu. Dan menyesapnya perlahan.
Naufal duduk kembali di sofa tadi, masih menunggu Anin untuke menjawab pertanyaan nya.
"Tadi pas pulang, aku di kasih tahu sama tetangga aku. Bilang kalau Ibuk sama Tante May, jambak-jambakan di lapangan badminton warga."
Naufal terkesiap, lantas menegakkan punggungnya. "Tante May siapa?"
"Tetangga aku, deket rumah. Aku akuin, memang Tante May itu kalo ngomong suka julid. Tapi yang aku nggak bisa habis pikir, kenapa sih harus di ladenin. Mana Kenzo bawa-bawa golok, teriak-teriak ngebubarin. Rasanya tuh, malu. Malu banget jadi tontonan warga begitu. Paham nggak sih rasanya? kayak, orang-orang primitif yang apa-apa harus pake cara gontok-gontokan buat nyelesain masalah. Padahal jelas-jelas nambah masalah."
Naufal menyipitkan mata, "Sayang, kamu yakin yang membuat kamu merasa berat, karna hal itu?"
Anin menunduk, tatapan dengan air mata menggenang itu jatuh pada permukaan lantai granit abu-abu mengkilap. Seolah ia sedang mencari tenang di sana. "Terlebih, saat Tante May bilang, kalau keluarga aku nggak tahu malu, sudah ngebiarin anak gadisnya jadi tulang punggung keluarga, dan Ibu aku jawab... Itu karna anak gadisnya pinter cari uang." Air mata Anin jatuh tanpa ada isak. Lalu cepat-cepat Anin menyusutnya.
Naufal menelan ludah, ingin sekali ia rengkuh tubuh kekasihnya itu. Tapi ia tahan, ia tahan sebisa mungkin untuk tidak bertindak ceroboh, yang bisa membuatnya kebablasan seperti yang Kenzo katakan.
"Padahal aku begitu karna memang keadaannya yang membuat aku harus banting tulang. Bukan karna aku pinter cari uang."
Anin menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan. Menunduk memeluk lutut.
Naufal menyentuh pelan pundak kekasihnya, mengusapnya perlahan. "Sayang, kalo kamu mau nangis, nangis aja dulu. Jangan di tahan. Biar kamunya lega."
Anin mengangkat wajah, lalu meraih tangan Naufal. Dan menggenggamnya pelan.
"Maafin aku ya, selama kita ada hubungan, justru bikin kamu malah dengerin masalah-masalah aku terus. Aku nggak enak sama kamu."
"No, sayang. Kamu jangan meminta maaf. Kamu sudah melakukan banyak buat aku. Aku bisa ngerasain nya."
"Aku, ngerasa hidup aku malah cuma nambah beban hidup kamu yang sebelumnya bahagia-bahagia aja. Tapi lihat sekarang, kamu malah harus mengurusi masalah-masalah aku. Kamu tuh, definisi nyari-nyari masalah deh kalo kata aku."
Naufal tersenyum tipis, "Sayang, justru aku pengennya ketemu kamu dari awal. Dan kita bisa lebih dekat lebih cepat. Setidaknya aku bisa meluk kamu, saat kamu lagi takut buat membuka mata. Aku pengen jadi satu-satunya orang yang kamu andalkan, setiap kamu menghadapi masalah."
Anin kembali menyusut air matanya, "Kamu sudah lakuin itu semua buat aku, terimakasih ya..."
Naufal mengangguk, "Sama-sama sayang, sudah kasih aku kesempatan buat melakukannya."
Naufal berdiri, dan menarik tangan Anin. "Sayang, kita kesana yuk, di sana kayanya bisa bikin kamu lebih rileks."
Anin menuruti kemana Naufal membawanya. Dan ia terperangah saat berdiri di tempat yang Naufal maksudkan.
Area balkon, dengan city view yang spektakuler. Kemewahan dan gemerlap kota di malam hari terlihat jelas. Angin malam berhembus, menampar pipi dan melayangkan anak rambutnya. Anin merentangkan tangan, lantas memejamkan matanya. "Rasanya, tenang... damai..."
Naufal menoleh, dan tersenyum melihatnya. "Kamu suka?"
Anin mengangguk, "Suka banget!"
"Kalo kamu suka, kamu bebas ke sini kapan pun kamu mau. Apartemen ini buat kamu."
Anin serta Merta menoleh, teringat tentang sang mantan bernama Niken yang pernah ia beri apartemen.
"Waktu kamu ngasih Niken apartemen, suasananya begini juga?"
Pertanyaan yang membuat Naufal terlonjak. "Kenapa kamu mikir ke sana?!"
"Ya iyalah, aku mikir kesana. Orang jelas-jelas situasinya mirip."
"Ih...nggak. Beda kasus sama Niken. Dia itu dulu... gimana ya, ngomongnya." Naufal garuk-garuk kepala.
"Apa? ngomong yang jelas!" bentak Anin.
"Dia dulu kan temenan pas SMA, satu SMA juga sama Albie. Terus aku tahu dia kan kesulitan finansial. Dan butuh kerjaan. Jadi karna hotel star lagi butuh manajer, aku suruh lah dia. Nah sebagai gajihnya, di mau apartemen. Ya udah aku kasih, tapi dia nggak dapat bonus pertahunnya."
Anin menyipitkan mata, menatap curiga pada Naufal, "Kamu nggak lagi bohongin aku kan?"
"Ya nggak lah, ngapain aku bohong. Aku udah bilang, antara kamu sama semua mantan-mantan aku tuh berbeda. Beda jauh. Levelnya nggak sama. Nih...'' Naufal menunjuk dadanya "Di sini, nggak akan pernah bisa bohong sama rasanya. Kamu tanya sama Albie, gimana aku dulu kalo ngerasa nggak klik sama cewek yang lagi dekat. Aku nggak nunggu lama buat cut off. Karna menurut aku, hubungan itu harus berdasarkan cinta. Biar apa? Biar bisa ikhlas berjuang. Seperti kata kamu, kamu bilang aku itu definisi nyari-nyari masalah. Tapi bagi aku, aku lagi memperjuangkan apa yang aku cinta. Beda case, beda frame. Bisa di fahami, Ibu manager?"
Anin terpana, ia tidak bisa berkata apa-apa. Hanya mengangguk lantas percaya pada semua yang ia dengar.
Tak lama ponsel Naufal berderit, segera ia meraihnya.
Dan menerima panggilan telepon dari staff rumah sakit.
"Ya, kenapa Han?"
Suara di seberang terdengar cepat dan tegang.
"Dok, mohon maaf menganggu. Pasien kanker di ruang perawatan mengalami nyeri hebat dok, tidak terkontrol. Obat sebelumnya tidak mempan. Kondisi pasien sudah sangat gelisah."
Wajahnya Naufal berubah serius. Baru kali ini Anin melihat Naufal seserius itu. Dan di matanya, Naufal berubah begitu karismatik yang mempesona. 'Gila, keren banget cowok gue!" jerit batinnya.
"Skala nyerinya berapa Han?"
"Sepuluh, Dok. Pasien sampai tidak bisa diam, napasnya memburu." sahut Nurse Hana.
"Oke Han, saya ke sana sekarang. Siapkan akses infus, monitor lengkap. Saya tangani begitu sampai." timpal Naufal.
"Baik, Dok."
Sambungan telepon terputus. Lantas Naufal kembali menatap Anin.
"Sayang, aku ke rumah sakit Pusat dulu ya... Kamu di sini aja dulu. Nanti aku pesenin makanan. Mau pesen apa?"
"Nggak, nanti aku pesen sendiri aja. Kamu langsung ke sana aja. Aku bukan balita sayang, yang apa-apa harus kamu siapin." sahut Anin dengan senyum tipsnya.
"Ya udah, kalo gitu aku langsung ke sana ya, terus nanti aku langsung pulang ke rumah atau ke..."
"Rumah!" potong Anin cepat. "Jangan coba-coba ya, mau ngikutin sarannya Kenzo? He?!"
"Ya kali aja di kasih ... namanya juga usaha." ujar Naufal, dengan senyum menggoda.
"Najis!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍