Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chp 7
UKS
Kedua jari Ara di plester jari tengah dan jari manisnya. Dan yang mengobati adalah Darius.
"Ara mau pulang kak," cicit Ara yang berada di pangkuan Darius. Pemuda itu mengangguk, "gue bakal telepon om Pramudita." ujarnya.
Ara menggeleng. "Pulang ke rumah Ara.. bukan rumah papa.." air mata Ara kembali keluar. Tangisnya terdengar begitu pilu membuat Darius diam-diam menggeram.
"Kenapa Darius?" tanya Darian yang masuk ke UKS.
"Dia mau pulang, tapi bukan ke rumah om Pramudita." jawab Darius yang membuat Darian terdiam.
"Segitu nya ya Silviana gak suka sama Ara?" celetuk Julian. "Perasaan Ara enggak ada yang salah, dia polos dan imut cantik lagi." sambung nya.
Ara tertawa dalam hati mendengar itu. Polos katanya? Tidak tahu saja kalau Ara itu sebenarnya enggak polos.
Marco yang kebetulan membawa susu kotak di tangannya mendekati Ara. Lalu memberikan susu itu kepada gadis itu.
"Supaya sedihnya hilang," tukas Marco. Ara menerima susu kotak dan...
Cup
Mengecup bibir Marco tanpa bersalah sedikitpun. Marco melotot kaku mendapatkan ciuman mendadak itu. Hidung nya seketika mengeluarkan cairan merah.
Darius, Darian dan Julian bahkan mengerjapkan mata mereka mencerna apa yang terjadi. Bahkan Arsen yang baru saja masuk sampai tersandung melihat kejadian itu.
"Ar-Ara kenapa nyium Marco?!" tanya Arsen dengan tidak santainya. Ara mengangkat wajahnya menatap polos Arsen yang terlihat ketar-ketir.
"Kata mama ciuman itu ucapan kasih sayang sama terimakasih"ucap Elara
Arsen mengusap wajah nya kasar. Gadis ini terlalu polos. "Ara lain kali jangan mencium orang sembarangan ya." pungkas nya.
Darius menarik wajah Ara agar menghadap nya. Ara sudah tidak menangis namun jejak air mata itu masih ada, bahkan wajahnya terlihat sembab.
Cup!
"DARIUS BANGSAT!!" teriak Arsen, Darian dan Julian bersamaan. Marco yang masih mengurus hidungnya yang belum berhenti pipis itu mengabaikan teman-temannya. Lagipula dia sudah merasakan bibir Ara duluan.
Mansion Maheswari
"Tangan kamu kenapa sayang?" Ara langsung menyembunyikan tangannya ke belakang punggung mendengar pertanyaan Larasati.
"Sini mama lihat." Larasati meraih tangan Ara. "Luka karena apa?" tanya Larasati kembali.
"Ara ceroboh, tidak hati-hati pas angkat mangkuk."ucap Elara gugup
"Ara terluka? Bagaimana bisa?! Silviana bukankah papa bilang untuk menjaga Ara?!" marah Pramudita
Tubuh Ara tersentak kaget saat mendengar suara keras Pramudita. "Mas kamu buat Ara kaget!" seru Larasati, menatap sinis suaminya.
Pramudita pun mengusap kepala Ara. "Maafkan papa ya," ucap nya kemudian mengecup puncak kepala gadis itu.
"Bukan salah Silviana, dia aja yang ceroboh!" balas Silviana. Gadis itu berekspresi datar, tak menoleh ke arah Pramudita.
"Silviana seharusnya kamu yang bawain mangk-"ucap Pramudita mau marah
"Papa Ara ngantuk, ayo tidur." Ara menarik tangan besar Pramudita. Melihat wajah Ara yang memang mengantuk itu dia mengurungkan niatnya untuk mengomeli Silviana.
"Uang jajan kamu papa kurangin,"Ujar Pramudita
Larasati mengikuti suaminya masuk ke kamar. Silviana yang di tinggalkan sendirian menggigit bibir menahan isakan nya. Kenapa keluarga nya berubah dalam sekejap saat kedatangan Ara? Bahkan temannya juga ikut-ikutan.
"Kamu jahat Ara." lirih Silviana.
Mansion Mahendra
BUGH
Arsen memukul wajah Darius. Dan yang di pukul hanya tersenyum remeh. Saat sepulang sekolah tadi mereka berkumpul di rumah Arsen. Tepatnya di kamar pemuda itu. Pukulan Arsen terlalu tiba-tiba membuat Darius tak bisa menghindar.
"Kenapa lo cium Ara hah?!" marah Arsen. la sebenarnya hendak memukul wajah Marco namun sahabat nya itu tidak sengaja, Ara lah yang mencium Marco terlebih dahulu.
"Kenapa lo cemburu? Cukup Silviana aja Sen jangan maruk sampe-sampe mau embat Ara juga." sarkas Darius.
"Gue gak ada perasaan apapun sama Silviana!" sanggah Arsen. Ia mati-matian menahan diri untuk tidak menghantam kembali wajah Darius.
"Tapi lo nyium Silviana, Sen." ucap Julian.
"Bener tuh, lo juga paling perhatian sama dia selama ini." imbuh Darian.
Marco jangan di tanya dia sedang apa, sejak mendapatkan ciuman mendadak dari Ara pemuda itu lebih banyak diam dengan pipi bersemu. Terkadang hidungnya kembali pipis cairan merah entah membayangkan apa.
"Itu karena gue anggep Silviana adik gue!" Arsen membantah spekulasi temannya tentang ia memiliki perasaan kepada Silviana.
"Makanya jangan gitu ke Silviana, nanti dia salah paham terus ngarep sama lo, gimana?" cibir Darian.
"Gue pulang deh, kepala gue pusing nih."Ucap Marco tiba tiba
Mereka beralih kepada Marco yang memang agak pucat. Mungkin karena terlalu sering mimisan ia menjadi lemas.
Darius berdiri. "Pulang sama gue." ia menggeret kerah baju Marco. Arsen membiarkan keduanya keluar.
"Game kuy!" ajak Julian berniat menghilangkan kecanggungan mereka. Mereka bertiga pun mabar mengesampingkan masalah yang ada.
Lagipula masih ada besok, mungkin besok mereka akan mendapatkan ciuman juga dari Ara.
Mansion Maheswari
Pramudita yang berbaring di samping. Ara memainkan jari mungil gadis itu. Sebenarnya ia pulang ke rumah karena ingin mengambil berkas yang ketinggalan namun melihat Ara yang jarinya terluka dan Ara yang meminta nya untuk di temani tidur jadi Pramudita memutuskan untuk tidak kembali ke kantor.
Cklek
Pintu kamar terbuka, di sana ada Larasati yang baru masuk sambil tersenyum manis. Wanita itu membawa sesuatu di tangannya, benda yang bernama dot.
Pramudita menautkan alisnya saat menatap wajah istrinya. "Apa yang akan kamu lakukan sayang?" bisik Pramudita karena Ara posisi nya mulai terlelap.
Larasati tersenyum penuh arti, "coba lihat apa yang akan aku lakukan, mas." kekeh nya.
Larasati memasuki nipple silikon yang tersambung ke tutup botol dot itu ke mulut Ara yang langsung di hisap oleh Ara.
"Emmm..." Ara mulai menyedot agak brutal membuat pipinya bergerak lucu.
"Lucu kan mas?"ucap Larasati gemas
Pramudita mengangguk setuju. Ini bukan lucu lagi, tapi sangat menggemaskan. "Andai dulu Silviana seperti Ara," tiba-tiba saja Larasati merasa sedih. Teringat masalalu. Silviana menolak minum ASI miliknya, susu formula juga tidak ada yang cocok untuknya.
Jadi terpaksa Silviana minum ASI dari orang lain.
Pramudita mengusap lembut bahu istrinya.
"Sekarang ada Ara, kamu bebas ingin melakukan apa saja tapi tetap pada batas nya. Aku takut Ara tidak nyaman dan dia ingin pergi." ujar Pramudita.
Larasati tersenyum. "Benar, sekarang sudah ada Ara. Mungkin ini kebaikan dari Tuhan agar aku bisa merasakan menjadi ibu yang sesungguhnya." bisik Larasati. Kedua orang dewasa itu pun menyusul Ara untuk tidur siang tanpa tahu kalau putri mereka yang lain
sedang menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambunggggggggggg
semangat buat auto ya 💪💪💪