Yu-nian adalah putri dari seorang bangsawan di kerajaan Tangyu, suatu ketika dia terpaksa mengantikan kakaknya yang kabur untuk menikah dengan seorang menteri yang sangat berkuasa. Berbeda usia membuat Yu-nian selalu berbeda pemikiran. dengan sang menteri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan tiba-tiba.
Yu-nian mendekati suaminya, kedua tangannya dia tarik. "Apakah kamu yakin, suamiku?" Yu-nian bertanya dengan menahan amarahnya.
Feng Shiyan terus meyakinkan Yu-nian kalau dirinya tidak pernah mempunyai perasaan apapun kepada Putri Qian man, bahkan pria itu bersumpah kalau dia baru mencintai seorang wanita yang benar-benar membuatnya merasakan perasaan berbeda. jawaban yang dikatakan oleh Feng Shiyan membuat Yu-nian memainkan alisnya, matanya sedikit menyipit dengan senyum yang terlihat sinis.
"Aku akan memegang semua perkataanmu, jendral. Jika kamu berani bermain-main denganku maka kamu harus tahu aku mempunyai kebiasaan yang tidak akan bisa dirubah sampai kapanpun. Jika kamu main-main Kamu tidak akan pernah mendapatkan di mana keberadaanku" ujar Yu-nian.
Seketika Feng Shiyan menarik tangan Yu-nian, dia menariknya ke pelukannya dengan perasaan bercampur aduk. "Tidak, aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Aku tidak akan pernah membuatmu menderita." janjian Feng Shiyan. Dia kemudian memeluk Yu-nian dengan begitu erat.
"Baiklah kalau begitu, lebih baik aku tidur karena besok aku mau keluar jalan-jalan bersama Kak Naer." ucap Yu-nian yang kemudian tidur terlebih dahulu.
Malam itu sama seperti biasanya, Feng Shiyan masih belum berani untuk menyentuh istrinya, mereka sudah menikah satu bulan lamanya tapi malam pertama itu belum terjadi juga. Yu-nian mencoba untuk selalu menjaga dirinya karena dia masih takut jika dia di sakiti.
Pagi itu Feng Shiyan tidak pergi ke barak para prajurit, dia ingin bersama sang istri dan karena kata-kata Yu-nian tadi malam membuat Feng Shiyan takut jika istrinya tiba-tiba kabur.
"Kenapa kamu tidak pergi ke istana?" tanya Yu-nian.
Feng Shiyan menggelengkan kepalanya, Yu-nian membalas menatap sang suami dengan tajam, pasti ada sesuatu yang membuat suaminya itu bersikap seperti itu. "Aku tanya sekali lagi memangnya apa yang terjadi? kenapa kamu tidak ke istana?" tanya hari itu Feng Shiyan tidak ditemani oleh dua orang kepercayaannya. Fu Tian dan Ren Fen pergi ke barat militer untuk melakukan pekerjaan mereka.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Feng Shiyan.
"Aku mau ke tempat Yi-bao, aku ingin berbicara dengannya, sudah lama aku tidak pernah menemuinya." jawab Yu-nian.
Feng Shiyan kemudian menganggukkan kepalanya kembali, setelah itu pria itu meminta salah satu pelayan untuk membawa kereta kuda. "Bawa kereta kuda keluar."
"Kamu mau apa?"
"Tentu keluar bersamamu." jawab Feng Shiyan.
"Kamu mau ikut denganku?" tanya Yu-nian bingung.
Feng Shiyan kembali menganggukkan kepalanya, sedangkan Yu-nian dia merasa kalau suaminya itu perlahan semakin posesif padanya.
"Apa kamu yakin?" tanya Yu-nian yang tidak percaya.
"Tentu saja, lagi pula aku tidak akan membiarkanmu keluar sendirian, takutnya kamu tiba-tiba kabur." jawab Feng Shiyan.
Yu-nian mengerutkan keningnya, salah satu alisnya terangkat sebelah. "Pria ini semakin hari seperti perekat saja." gumam Yu-nian dalam hati.
"Tuan, kereta kudanya." pelayan pria mendekat.
"Ayo." Feng Shiyan mengajak Yu-nian naik kereta kuda.
Di barak militer para prajurit, terlihat 2 orang kepercayaan Feng Shiyan sedang melihat pelatihan para prajurit, mereka berdua sebenarnya sedang membicarakan mengenai Jenderal mereka yang sekarang ini sudah berubah total.
"Apa kamu merasa kalau sekarang ini jenderal lebih sibuk daripada sebelumnya?" tanya Fu Tian.
"Maksudmu? biasanya kan Jenderal selalu sibuk masalah istana, apalagi sekarang ini Jenderal fokus dengan tugasnya mencari keberadaan Sanhu." jawab Ren Fen.
"Bukan itu maksudku." ucap Fu Tian.
"Lalu?" tanya Ren Fen.
"Sekarang itu Jenderal lebih fokus sama nyonya, Kamu tahu tidak jendral kan tidak pernah meninggalkan barak militer ataupun pelatihan para prajurit, sekarang Jenderal malah tidak ada di camp militer, kelihatannya jenderal fokus banget sama nyonya." jawab Fu Tian.
"Oooo...," jawab Ren Fen.
"Kok cuma O?" Fu Tian mengerutkan keningnya.
"Ya bagaimana lagi, Aku cuma bisa jawab o saja." jawab Ren Fen yang membuat Fu Tian malah kesal sendiri. pria itu kemudian mengangkat salah satu kakinya, setelahnya Dia menendang pantat Ren Fen.
"Jawabanmu tidak jelas banget." kata Fu Tian yang kemudian pergi.
Namun berbeda di tempat lain, Putri Qian man nampak sangat marah, dia menemui Kaisar Tang Yi man untuk membicarakan mengenai Jenderal Feng.
"Heh...," kaisar Tang menghela nafasnya.
"Yang mulia, cepat katakan padaku, aku mau membuat jenderal Feng jadi milikku." putri Qian man terus memaksa.
"Aku tidak bisa memaksa jenderal Feng untuk menerimamu, dia sudah ke istana untuk menyatakan penolakan perjodohan ini." jawab kaisar Tang.
"Tapi yang mulia, yang mulia tidak boleh membatalkan perjodohanku dengan Jendral Feng. Aku sangat mencintainya, aku tidak mau kehilangan dia." Putri Qian man terus ngotot untuk melanjutkan Perjodohan dengan Jendral Feng.
Kabar mengenai pernikahan dan Yu-nian sudah didengar oleh kaisar Tang, waktu itu sang Kaisar sangat marah, dia kemudian memanggil Feng Shiyan untuk menjelaskan mengenai situasi yang terjadi. Bahkan Feng Shiyan berani mengancam Kaisar Tang, jika Sampai dia berani mengancam atau mencoba untuk menyakiti istrinya maka pria itu akan berani melakukan pemberontakan secara besar-besaran. Hal itu membuat Kaisar Tang harus memikirkan dua kali mengenai keputusannya, Jika dia memilih keponakannya maka dia akan menghadapi masalah yang sangat besar.
"Sudahlah putri, perjodohan itu sudah di batalkan." kata kaisar Tang.
"Tidak! Aku tidak mau!" seru Putri Qian man.
"Heh..," kaisar Tang menghela nafasnya dengan begitu dalam.
"Yang mulia!" seru Putri Qian man.
"Kembalilah." perintah kaisar Tang.
Putri Qian man begitu marah, salah satu kakinya di hentakkan dengan sangat keras. Dia tidak terima ketika permintaannya ditolak oleh sang Kaisar, dia merasakan amarah yang begitu luar biasa karena permintaannya tidak dihiraukan oleh kaisar yang pamannya sendiri.
"Heh..," kaisar Tang menghela nafasnya dengan begitu berat. "Sebagai Kaisar aku tidak boleh melakukan kesalahan, jika sampai aku memaksa Jenderal Feng untuk menerima Putri Qian man menjadi istrinya, akibatnya sangat berbahaya. Jenderal Feng adalah pria yang memiliki sifat sangat keras, dia tidak bisa diatur bahkan dia tidak bisa dikendalikan. Jika sampai aku mengancamnya, maka dia bisa menggulingkan aku dari posisiku sebagai Kaisar." ucap pelan Kaisar Tang sembari memijit kepalanya. otaknya terasa sudah buntu, Dia mempunyai keponakan yang sangat keras kepala bahkan keponakannya selalu membuatnya pusing tujuh keliling.
"Yang mulia." panggil Kasim.
"Ada apa Kasim?" jawab Kaisar Tang.
Sebaiknya perjodohan ini tidak usah dilanjutkan, Yang mulia tidak usah menghiraukan permintaan putri Qian man. jika yang mulia memaksa Jenderal Feng untuk menerima titah pernikahan itu, takutnya akan ada masalah besar." kata Kasim.
Tentu saja kaisar Tang yang tidak mau melakukan hal itu, karena dia juga berpikir apa yang dikatakan oleh Kasim itu seperti yang dia pikirkan. "Tentu saja aku tidak bisa terburu-buru, aku tidak akan membahayakan posisiku hanya untuk Putri saudaraku yang tidak tahu diri itu." jawab kaisar Tang.
*bersambung*