NovelToon NovelToon
Obsesi Teman Papa

Obsesi Teman Papa

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Beda Usia / Duda / Cintapertama
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zhahra Putri

Kisah cinta pandangan pertama seorang pria dewasa kepada gadis muda, yang merupakan anak dari teman baiknya, dan berakhir menjadi obsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhahra Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Kepergok

Pukulan keras melayang menghantam wajah seorang pria bertubuh besar. Dia tidak memberikan respon apapun, apalagi sampai melawan.

"Bajingan! Gadisku terluka gara-gara kecerobohanmu" murka. Bastian sangat marah saat mengingat apa yang di alami Keisya beberapa saat lalu.

"Maaf, tuan" Sekalipun dia memiliki alasan masuk akal, dia tidak akan mengatakannya. Sudah sangat lama dia mengenal Bosnya, dan hapal sekali bagaimana sifatnya yang tidak pernah mau mendengarkan apapun alasannya.

Bastian berdecih, "Sudahlah" dia mengibaskan tangannya, mengusirnya sekaligus enggan memperpanjang masalah.

Lagipula suasana hatinya sedang bahagia. Tidak rela rasanya jika harus terganggu oleh hal-hal tidak penting seperti ini.

\=\=\=\=\=

Keisya bangun cukup terlambat dari rencana awalnya. Dia sampai terkejut saat melihat jam sudah menunjukan pukul tujuh.

Karena panik, dia sampai lupa dengan kakinya. Alhasil, karena terburu buru turun dari tempat tidur, dia berakhir terjatuh. Keisya meringis sambil menyentuh pergelangan kakinya yang ternyata sudah membiru.

Benar-benar sial.

Sekalipun menyakitkan, dia tetap melanjutkan niatnya untuk mandi. langkahnya pincang dan pergerakannya terbatas, membuatnya membutuhkan lebih banyak waktu sampai benar-benar selesai.

Setelah berada di luar kamar. dia menghela napasnya panjang. Melihat deretan anak tangga di depannya, terlihat jauh lebih banyak dari biasanya. Keisya bahkan belum melangkah, namun ia sudah bisa merasakan lelahnya.

Sekalipun enggan, dia akhirnya tetap melanjutkan langkahnya. Dengan tangan bertumpu pada besi pembatas, dia melompat kecil dengan hati-hati. Seluruh tenaganya ia kerahkan, dan mengandalkan kakinya yang lain untuk menopang tubuhnya.

Satu sampai ke empat anak tangga, Keisya masih baik-baik saja. Namun setelahnya dia mulai kelelahan. Rasa nyerinya bahkan jauh lebih besar di bandingkan semalam.

Ok, dia sudah tidak kuat lagi. Meski enggan akhirnya ia meminta bantuan.

"Bibi!" Keisya berteriak. "Tolong kesini sebentar"

Tidak ada jawaban. Dia menunggu sebentar, sampai akhirnya mendengar langkah kaki mendekat. Pandangannya terus tertuju ke arah sumber suara.

TAPI, alih-alih Bibi, yang muncul justru Bastian.

Sekali lagi, Bastian.

Keisya bengong, matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan jika dia tidak salah mengenali orang. Namun seberapa sering pun dia berkedip, hasilnya tetap sama.

Bastian benar-benar ada di depannya. sedang berjalan menuju ke arahnya.

"Ayo, saya bantu" tawarnya tanpa basa basi.

"Om Bastian belum pulang?" Keisya bertanya heran.

"Listrik menyala jam enam pagi. Adik-adik kamu bangun awal, sementara kamu masih tidur. Saya tidak tega pergi begitu saja. Apalagi Keyla sempat mencari Papa kamu"

Keisya meringis. Dia melupakan keterkejutan sebelumnya dalam sekejap. Dia semakin merasa bersalah atas keterlambatannya, yang justru merepotkan banyak orang.

"Aku minta maaf." Keisya meraih tangan Bastian yang masih terulur, kemudian menambahkan perkataannya "Aku ga tahu kenapa bisa tidur selama itu. Bahkan alarm aja ga kedengeran sama sekali"

Bastian tersenyum samar. Dengan gerakan yang se'natural mungkin dia merangkul bahu Keisya dan langsung menjawab untuk mengalihkan perhatian gadis itu, "Kamu sepertinya kelelahan. Belum lagi kejadian semalam, pasti tubuh kamu butuh istirahat lebih banyak"

Jika diingat kembali, Keisya malu sendiri. Di depan Bastian, dia terjatuh dan berguling, belum lagi suara teriakannya yang sangat kencang. Sekalipun dalam keadaan gelap gulita, dan kecelakaan itu bukanlah sesuatu yang sepele, tapi saat adegan itu muncul dalam benaknya, Keisya tetap malu.

"Se-semalam kalian ngapain?"

Keisya yang tengah menunduk memperhatikan langkahnya, langsung berhenti begitu mendengar suara yang sangat familiar. Kepalanya dengan cepat terangkat, dan menemukan sosok temannya yang berdiri tak jauh dari posisinya.

Saat tatapan mereka bertemu, Keisya maupun Sisi menunjukan ekspresi serupa.

Jika Keisya terkejut karena keberadaan temannya itu dirumahnya, dan melihatnya sedang bersama Bastian, Sisi justru lebih dari itu.

Sejak pertama dia datang dan menemukan orang yang membukakan pintu untuknya adalah Bastian, Sisi sudah terkaget kaget.

Dan sekarang, apa yang dia lihat, dan apa yang dia dengar. semakin membuatnya tercengang.

Bagaimana bisa tanggapan atas ucapan ambigu Om Bastian dari temannya itu terlihat seperti malu malu begitu? Apa yang sudah terjadi pada mereka berdua semalam?

Keisya menggeleng, dia menjauh sambil melepaskan genggaman tangannya pada Bastian. "Jangan mikir aneh-aneh. Maksudnya bukan itu" dia tergagap, seperti orang yang terpergok selingkuh.

Sisi terperangah.

Bukannya percaya, dia justru semakin curiga.

itu belum termasuk fakta sebenarnya yang tidak Sisi ketahui jika Bastian tidak hanya berada di satu atap yang sama dengan Keisya, tapi juga berada di kamar yang sama.

Bayangkan, bagaimana reaksinya jika mengetahui hal itu?

Sepertinya yang terkejut bukan hanya Sisi, tapi juga Keisya sendiri, yang tidak sadar sama sekali jika ada orang lain yang tidur di sampingnya semalaman.

\=\=\=\=\=

Haikal mendatangi rumah sakit setelah tahu teman satu tongkrongannya di rawat. Katanya dia baru selesai menjalani operasi kecil pada kakinya.

Dia datang cukup terlambat sebenarnya, mengingat ini sudah hari kedua pasca temannya itu selesai operasi. Tapi mau bagaimana lagi, jadwalnya cukup padat beberapa hari lalu setelah Ayahnya dua hari tidak pulang.

Di pertengahan jalan, pandangannya teralih pada satu orang yang juga sedang berjalan di depannya. Haikal sepertinya cukup familiar dengan sosok tersebut.. Kakinya melangkah lebih cepat untuk memastikan dia tidak salah mengenali orang.

Setelah yakin, barulah dia memanggilnya, "Sisi" suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup terdengar sampai Sisi langsung berhenti dan berbalik menatapnya.

"Loh, Haikal?" Sisi cukup kaget, tidak menyangka bertemu dengan pria ini disini.

Mereka bersalaman dan saling berpelukan singkat sebagai sapaan. "Gue kira bukan lo" ujar Haikal.

"Gue aja kaget liat lo ada di sini." balas Sisi, "Ngapain lo ada di sini? Siapa yang sakit?"

"Nengokin temen" Pandangannya berlaih kearah satu orang lagi yang memang sedang bersama Sisi sebelumnya, "Ini, siapa?" pertanyaan itu tertuju pada Sisi, namun pandangannya tetap bertahan di sana.

Sisi ikut menoleh, tertawa kecil saat melihat raut kebingungan pada wajah temannya. "Oh iya. Kenalin, ini temen gue, Keisya"

Benar, Sisi sedang bersama Keisya. Mereka datang untuk memeriksakan kaki Keisya yang masih terasa nyeri sampai sekarang. Sebelumnya Keisya bersikeras untuk tidak memeriksakan kondisi kakinya karena yakin akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu.

Namun yang terjadi tidaklah demikian.

Dan di sinilah mereka berada.

"Kei kenalin, ini Haikal. Orang yang sempet gue ceritain yang sering ketemu di tempat gue nongkrong itu"

Keisya membulatkan bibirnya. Dia mengangguk paham. Lalu mereka bersalaman sambil kembali menyebutkan nama masing-masing.

"Terus kalian di sini ngapain?"

"Nganterin dia" tunjuk Sisi pada Keisya "Habis jatuh dari tangga, terus kakinya keseleo"

Soal kejadian hari itu, Keisya sudah menjelaskan semuanya. Dari awal sampai akhir, secara detail, tanpa ada yang di tutup tutupi. Namun meskipun begitu, Sisi masih saja sering meledek Keisya karena kedekatannya dengan Bastian pagi itu.

Keisya sampai kesal sendiri dibuatnya.

Haikal kembali menatap Keisya. Gadis manis yang tampaknya cukup cuek itu terlihat menyenggol Sisi. Mungkin karena jawabannya yang terlalu detail.

"Kamu baik-baik aja?" kali ini Haikal berbicara pada Keisya. Dari caranya berbicara saja sudah jelas. Mereka baru kenal, aneh saja jika langsung menggunakan panggilan yang sama seperti yang dia lakukan pada Sisi.

Keisya menggeleng, "Gapapa" suaranya kecil, dan jawabannya singkat. Dan tidak berniat untuk memperpanjang percakapan.

Itulah sifat Keisya jika berinteraksi dengan orang asing yang baru ditemuinya.

1
D_wiwied
pasti dikasih obat tidur lwt air mineral, ya kan om tebakanku bener kan 🤭
D_wiwied
halaah lumayan kan pak dud, jd bs gendong keisya walo cm sebentar🤭
D_wiwied
kenyamanan ya Vid, calon ibu barumu itu.. baru dikejar ma ayahmu, doakan aja bisa segera jd ibumu beneran 😁
Esti 523
baca part ini jd guling2 sendiri ngebayangin nya
Esti Purwanti Sajidin
ahhhh cerdas jg kamu nak memastikan hati nya dulu ya kai
D_wiwied: hmmm gayung bersambut, tp kei masih malu2 utk mengakuinya
total 1 replies
Fitri Widia
Ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!