NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB 8

Janice segera memotong ucapan Yohan. “Hai, aku Janice. Aku adalah calon istri Stendy,” Janice langsung mengulurkan tangannya tanpa memberi kesempatan Yohan untuk menjelaskan siapa Harisa. 

Janice sudah tahu semua tentang Harisa dari Rodez. Bahkan ada satu hal yang membuat Rodez dan juga Janice tentang rahasia Harisa yang tidak diketahui oleh siapapun, kecuali Rodez dan Janice. 

Harisa menatap uluran tangan Janice, lalu menatap ke arah Stendy. Akan tetapi Stendy hanya diam tanpa melihat ke arahnya. Harisa semakin dibuat kesal karena Stendy terlihat cuek padanya malam ini. 

Harisa pun tersenyum kaku dan membalas uluran tangan Janice. “Hai, aku Harisa. Aku temannya Yohan,” jawab Harisa. 

Janice masih tersenyum dan kembali bergelayut manja di lengan Stendy. “Sayang, aku mau ambil beberapa cemilan. Apakah kamu mau aku ambilkan sesuatu?” tanya Janice dengan begitu lembut. 

Stendy langsung menoleh ke arah Janice dengan dahi berkerut. Dalam pikiran Stendy, mengapa tiba-tiba Janice kembali bersikap seperti semula. Tidak seperti tadi yang selalu menjawab dengan nada ketus dan penuh sindiran. Tatapannya bertemu dengan mata Janice yang begitu jernih. Ini pertama kalinya Stendy memperhatikan mata indah milik Janice. Dirinya pun, sempat terpaku dengan mata indah itu. Buku mata yang lentik sedikit bergetar mampu menghipnotis Stendy. 

Stendy tersenyum, dan berkata. “Iya, aku akan tunggu kamu disini,” ucapannya terdengar begitu lembut. Ini pertama kalinya juga Stendy bicara seperti itu pada Janice. 

Janice juga sempat tertegun mendengarnya, bahkan Yohan pun juga begitu terkejut. Biasanya Stendy selalu membalas dengan nada ketus dan dingin. Tapi malam ini benar-benar berbeda. 

Janice pun meninggalkan Stendy, Yohan dan juga Harisa. Janice menuju stand makanan, tiba-tiba saja Owen mendekat dan ikut mengambil beberapa kue untuknya. 

“Aku pikir kau akan selalu menempel dengan Stendy, Nona Janice.” Owen sengaja menyindir Janice dengan kata-katanya yang biasa sinis. 

Janice tidak terkejut dengan sindiran Owen. Ia pun tersenyum seolah itu hal biasa. 

“Tidak selamanya aku akan menempel dengannya. Aku bukan anjing penjilat peliharaannya,” Janice menatap penuh kebencian pada Owen. 

Ini kali pertama Janice memberanikan dirinya menatap mata tajam milik Owen. Pria itu pun tertegun dengan sikap Janice yang terbilang cukup berani. Janice tersenyum menyeringai dan mendekat ke arah Owen. 

“Saya  tahu anda sangat membenci saya, Tuan Owen. Entah alasannya apa. Tapi bagi saya itu bukanlah masalah besar, karena tidak merugikan hidup saya. Permisi!” 

Janice berbalik badan dan tidak sengaja matanya menangkap Stendy yang berjalan dengan diikuti oleh Harisa. Janice mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras. Dengan perasaan campur aduk, akhirnya Janice mengikuti arah perginya Stendy dan Harisa. Sementara Owen mantap kepergian Janice dengan tatapan dingin. 

Di taman belakang villa, Stendy dan Harisa saling berpelukan. Janice yang melihat itu pun merasakan aliran darahnya mulai naik. Rasa panas sudah menjalar naik ke atas kepalanya. Tangannya terkepal begitu  kuat. 

“Stendy, apakah kita tidak bisa kembali bersama seperti dulu?” tanya Harisa yang masih berada di dalam pelukan Stendy. 

Stendy merenggangkan pelukannya dan menghapus air mata Harisa dengan jarinya. 

“Sabarlah. Aku tidak bisa langsung memutuskan mengakhiri hubunganku dengan Janice, dan meninggalkannya begitu saja. Apalagi kedua orang tuaku sangat sayang padanya,” 

Mendengar ucapan Stendy, hati Harisa begitu kesal. Seketika itu juga ia membenci Janice. Harisa tersenyum paksa di depan Stendy, bagaimanapun juga ia harus tetap menjaga imagenya. 

“Aku akan menunggumu. Aku tahu kamu masih begitu mencintaiku, Stendy. Begitupun juga denganku,” ucap Harisa terdengar begitu memilukan di hati Stendy. 

Stendy tersenyum, kemudian ia dibuat terkejut saat merasakan bibirnya bersentuhan dengan bibir Harisa. Janice yang sejak tadi memperhatikan keduanya pun terkejut dan membelalakkan matanya. Bahkan Janice tidak pernah merasakan ciuman panas yang seperti Stendy lakukan pada Harisa. 

Selama dua tahun berpacaran dan tinggal bersama Stendy, pria itu hanya pernah mengecup kening dan pipi Janice saja. Janice kembali merasakan sesak dalam dadanya, tubuhnya sedikit limbung ke belakang dan membuat pot bunga yang ada di sana pecah, sehingga menimbulkan suara yang membuat Stendy segera menghentikan ciuman panas bersama Harisa. 

“Siapa itu?” suara Stendy terdengar cukup kencang. 

Janice memejamkan matanya sambil menenangkan dirinya. Janice melangkahkan kakinya keluar dari persembunyiannya. Stendy dan Harisa terkejut melihat Janice yang keluar dari balik dinding. 

Janice berjalan mendekat ke arah Stendy dan Harisa. Tatapannya penuh kekecewaan dan sakit hati pada pria yang pernah membersamainya selama dua tahun ini. Walau ia tahu Stendy tidak pernah mencintainya. 

“J-Janice,” ujar Stendy dengan panik. 

Stendy pun berjalan mendekati Janice. “Janice, sedang apa kau disini?” tanya Stendy yang masih terlihat gugup. 

Janice memasang wajah tenang, dan membuat Stendy semakin khawatir dan takut. Janice menatap Stendy dan tersenyum tipis. 

“Aku tidak sengaja melihatmu berjalan ke taman ini bersama Harisa, dan seperti apa yang kau tahu. Aku mendengar dan melihat apa yang barusan kalian bicarakan dan yang kalian lakukan tadi” jawab Janice dengan tatapan penuh luka, namun bibirnya masih mampu tersenyum. Walau terlihat begitu kelu. 

Stendy gelagapan dan menggeleng. “K-Kau salah mengartikan. Aku dan Harisa tidak punya hubungan apapun. Kami hanya….” 

“Ssttt!” Janice menempelkan jarak telunjuknya di bibirnya. 

“Aku tidak tuli dan juga tidak buta, Tuan Stendy.” Bibir Janice bergetar saat bicara. 

Matanya sudah mulai berair dan memerah. “Aku tahu siapa dia,” kata Janice seraya menatap ke arah Harisa yang masih berdiri tidak jauh dari posisi Janice dan Stendy saat ini. 

Stendy pun menoleh ke arah Harisa dan kembali menatap Janice. “Janice aku harap kamu jangan buat masalah dengan kesalahpahaman ini,” 

Janice tertawa miris mendengar ucapan Stendy. Sudah jelas-jelas pria itu tertangkap basah oleh Janice, tapi masih ingin membela dirinya. 

“Kau memang pria brengsek yang pernah aku kenal, Tuan Stendy.” Janice menatap sinis pada Stendy. 

Stendy terkejut mendengar ucapan Janice. “Janice. Jaga ucapanmu!” bentak Stendy. 

Janice tertawa miris sambil menggeleng. Bibirnya mengatup, begitupun tangannya kembali mengepal kuat. 

“Untuk apa aku menjaga ucapanku, kalau kenyataannya memang seperti itu.” Janice melangkah mendekat ke arah Stendy. 

“Ayo, kita akhiri hubungan ini, Tuan Stendy!” ucap Janice penuh penekanan, dan membuat Stendy terbelalak. Pria itu benar-benar terkejut mendengar ucapan Janice. 

Namun, itu hanya sebentar. Karena ia tahu Janice begitu mencintainya. Ia yakin kalau ucapan Janice hanya sebuah bualan belaka. Stendy tertawa seakan meremehkan Janice. 

“Mengakhiri hubungan?” Stendy berdecak kesal sambil berkacak pinggang. 

“Kau tidak perlu mengancamku dengan kata-kata ingin mengakhiri hubungan ini, Janice. Aku sangat mengenalmu. Kau…” Stendy menunjuk wajah Janice. 

“Kau sangat mencintaiku, dan membutuhkan diriku.  Jadi mana mungkin kamu bisa jauh dariku,” Stendy masih menertawakan Janice dan menganggap remeh wanita itu. 

Janice merasa dirinya terhina, ia pun melayangkan sebuah tamparan di wajah Stendy. 

Plak… 

Stendy melototkan matanya sambil memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh Janice. Harisa yang melihat itu pun segera mendekat dan mendorong Janice. 

“Keterlaluan kamu, Janice!” bentak Harisa yang langsung melihat kondisi Stendy. 

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Harisa terlihat begitu khawatir. 

Janice yang melihat itu pun kembali tertawa melihat drama Harisa yang peduli pada Stendy. Harisa pun menatap nyalang ke arah Janice. 

“Mengapa kamu menampar Stendy, hah?” bentak Harisa. 

“Wah, lihatlah dirimu. Kau begitu perhatian sekali dengan calon suamiku ini, Nona Harisa. Apakah kau tidak malu, karena telah begitu perhatian padanya. Kau tahu melihat sikapmu ini, menandakan kalau kau benar-benar sangat tidak tahu malu dan… murahan,” 

“Janice!” teriak Stendy yang begitu marah setelah mendengar ucapan Janice yang menghina Harisa. 

“Hahahaha,” Janice tertawa kencang. “Wow, luar biasa sekali. Bahkan kau berteriak di hadapanku. Lihatlah ini Nona Harisa! Pria ini begitu perhatian dan sangat mengkhawatirkan dirimu. Kalian berdua memang cocok. Yang satu begitu khawatir dan satunya lagi sangan peduli,” Janice bertepuk tangan sambil tertawa miris. 

Stendy mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Janice yang begitu memprovokasi dirinya. 

“Berhenti omong kosong, Janice. Jika kamu ingin marah padaku, maka marahlah denganku. Jangan kau libatkan Harisa dalam masalah kita berdua!” 

Janice menghentikan tawanya dan kembali menatap Stendy dengan tatapan dingin. 

“Aku tidak sedang bicara omong kosong, Stendy.” Janice melirik ke arah Harisa. 

“Bagaimana aku tidak melibatkan dirinya, jika kalian berdua menusukku dari belakang. Aku melihat apa yang kalian berdua lakukan!”  bentak Janice. 

Tatapan Janice berubah menjadi penuh amarah, membuat Stendy tertegun sejenak sebelum akhirnya ia pun menatap Janice penuh kemarahan. 

“Kau tahu hubunganku dengan Harisa seperti apa, kan? Dia cinta pertamaku dan aku masih mencintainya,” Stendy begitu tidak berperasaan mengatakan kejujuran itu. 

Janice tersenyum miris dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya Stendy mengakui itu dihadapannya. 

“Ya, aku tahu kau sangat mencintainya. Bahkan setelah dua tahun kita bersama pun, kamu masih belum bisa melupakannya.” Air mata Janice pun sudah tidak bisa tertahan lagi. 

Stendy merasa hatinya mencelos ketika melihat Janice mengeluarkan air matanya. Harisa yang berdiri di sebelah Stendy pun tersenyum dalam hatinya. Lalu tatapannya seolah memandang remeh pada Janice. Janice sempat melirik ke arah Harisa, ia  tahu kalau wanita itu sedang menertawakan dirinya di dalam hatinya. 

“Selamat Nona Harisa. Kau kembali memenangkan hati Stendy,” Janice mundur beberapa langkah. 

Janice kembali menatap Stendy dan berkata. “Mulai malam ini kita akhiri hubungan ini. Aku akan melepaskanmu untuk bersama wanita yang kamu cintai. Semoga kalian berdua selalu bahagia,” Janice berbalik badan dan berjalan dengan cepat meninggalkan Stendy dan Harisa. 

Stendy termangu mendengar kembali kata putus dari Janice. Untuk sesaat otak Stendy membeku, dan belum bisa mencerna apa yang terjadi. Harisa tersenyum dan mengernyit menatap Stendy yang masih diam. 

“Stendy,” Harisa menarik lengan Stendy dan membuat pria itu tersadar. 

“Dimana Janice?” Stendy mencari keberadaan Janice. 

“Mengapa kamu mencarinya? Dia sudah pergi,” Harisa merasa kesal karena Stendy mencari Janice. 

Stendy menatap tidak percaya pada Harisa. “Pergi?” beo Stendy. 

“Iya,” 

Stendy pun segera berjalan meninggalkan Harisa yang kebingungan. 

“Stendy, kamu mau kemana?” Harisa menyentakkan kakinya merasa panggilannya diabaikan oleh Stendy. 

Stendy berlari masuk ke dalam aula, matanya terus mencari sosok Janice. Namun, ia tidak menemukan Janice. Sampai ia bertemu dengan Rodez. 

“Rodez, kau lihat Janice?” tanya Stendy. 

“Tidak. Memangnya kemana Janice, bukankah tadi dia bersama dirimu?” Rodez balik bertanya. 

Stendy berdecak. “Aku harus mencarinya,” Stendy pun berlalu meninggalkan Rodez.. 

Stendy mencari Janice sampai ke seluruh villa. Namun, hasilnya tetap nihil. Ia pun kembali masuk ke aula dan Harisa pun mendekatinya. 

“Stendy, kamu dari mana saja?” tanya Harisa. 

“Aku mencari Janice,” jawab Stendy yang membuat Harisa kesal. 

“Untuk apa kamu mencarinya lagi, Stendy? Bukankah itu bagus, kalau dia pergi?” 

Stendy menatap tidak  suka pada Harisa setelah mendengar ucapan itu keluar dari mulut wanita itu. Harisa yang merasakan suasana hati Stendy yang sedang tidak baik pun, segera mendekat. 

Harisa meraih lengan Stendy. “Stendy, masih ada aku disini. Kamu tidak perlu khawatirkan Janice lagi, sebab aku akan selalu ada untuk kamu. Lagi pula bukankah ini yang kamu inginkan? Biarkan Janice pergi, agar kita bisa kembali bersama,” dengan wajah yang dibuat-buat memelas, Harisa mencoba membujuk Stendy. 

Stendy menatap Harisa, dalam benaknya ada rasa bersalah pada wanita itu. Semenjak Harisa kembali ke tanah air, Stendy berjanji akan selalu bersamanya. Bahkan Stendy juga menjanjikan kalau mereka akan tetap bersama dan hidup bahagia. Akan tetapi, Stendy merasa ini terlalu cepat. Baru satu Minggu yang lalu Harisa kembali, dan Stendy pun mulai merasakan cintanya kembali tumbuh saat bersama wanita itu. Namun, entah mengapa hatinya gelisah sebab  Janice pergi entah kemana. 

Ada rasa bersalah yang sangat besar pada Janice. Membuat Stendy ragu dengan perasaannya sendiri. Stendy menatap dalam-dalam mata Harisa. Lalu kembali mengerjapkan matanya saat sekilas bayangan mata Janice yang mengeluarkan air mata kembali melintas dalam bayangannya. 

Stendy melepaskan tangan Harisa dengan lembut. “Aku harus mencari Janice,” katanya. 

Harisa tercenung mendengarnya, lalu perasaan kesal pun kembali menyelimuti hatinya. 

“Untuk apa kamu mencarinya lagi?” 

Stendy menatap dingin pada Harisa. “Aku harus menjelaskannya. Bagaimanapun juga dia sudah dua tahun menemaniku,” jawab Stendy yang membuat Harisa bungkam. 

Stendy pun pergi dari acara tersebut dan meninggalkan Harisa yang termangu menatap punggung Stendy. Dari jarak tidak terlalu jauh, Rodez terus memperhatikan dan ia pun tersenyum menyeringai. 

Rodez kembali ke aula dan hendak menemui Owen dan juga Yohan. Namun, saat melihat Yohan dahi Rodez berkerut. 

“Dimana Owen?” tanya Rodez. 

“Ah, dia tiba-tiba ada panggilan darurat dari rumah sakit.” Rodez mengangguk dan paham mengapa tiba-tiba saja Owen pergi. Mengingat profesinya adalah seorang dokter. 

Stendy mengendarai mobil menuju villa. Firasatnya merasakan hal yang tidak enak. Pikirannya selalu tertuju pada Janice, pertengkarannya tadi dengan wanita itu benar-benar masih sangat diingat olehnya. 

Stendy memukul stir mobil, “Sial!” 

Sementara itu di sebuah taman tidak jauh dari villa keluarga Canet, Janice duduk termenung dengan tatapan kosong. Stendy tidak melihat Janice, sebab posisi taman berada di arah yang berbeda dari jalan yang Stendy lalui. Air mata yang tadi sempat keluar, kini terasa kering. Matanya mengerjap saat ponselnya berdering. Briant menghubungi dan menanyakan keberadaannya. Ya, Janice tadi sempat menghubungi Briant untuk segera menjemputnya. 

“Aku di taman, tidak jauh dari villa.” 

“Kirim lokasinya dan tunggu aku disana.” 

Panggilan pun berakhir, Janice kembali menatap lurus ke arah air mancur yang terlihat sedang menari-nari. 

“Semuanya sudah berakhir. Selamat tinggal Stendy,” gumam Janice seraya menghela nafas kasarnya. 

Janice kembali larut dalam pikirannya, sampai ia tidak menyadari ada sosok yang sejak tadi memperhatikan dirinya. Sosok itu berdiri di balik pohon yang cukup besar tidak jauh dari posisi Janice. Orang itu hanya diam mengamati, seolah tidak ingin membuat Janice takut. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!