NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin. tak bisa menahan hasrat

Ini kesempatan yang aku tunggu-tunggu sejak Minggu lalu. Aku perlu bertemu muka dengan Adam dan memintanya membatalkan pernikahan. Apa tujuan dia mengambil tindakan itu, meminta izin papa untuk menikahiku. Mana ada lelaki baik-baik dengan tenang ingin memperistri perempuan yang pernah di sentuh lelaki lain sesuka hati, apalagi perbuatan itu di lakukan di depan mata sendiri?

Selesai kelas CCT, Ana mengajakku makan siang di kantin setelah itu mengajakku shoping seperti biasa, tapi kali ini aku tolak dengan alasan ada urusan lain yang perlu kuselesaikan. Kali ini Ana tidak banyak bertanya. Setelah kami berpisah, segera aku pergi ke ruang Sains Komputer.

Aku tahu ini masih jam makan siang, jadi mungkin dia tidak ada di rungannnya sekarang. Tapi tidak apa, akan kutunggu sampai dia kembali.

Setibanya di lantai 2, ketika melewati pintu ruangan kedua yang terbuka, wajahnya tertangkap di mataku dan reflek langkahku terhenti. Aku dekati pintu itu, kepala aku ulurkan ke dalam.

Di sana dia belum menyadari kehadiranku, sedang sibuk membolak balik beberapa kertas di atas meja. Tangan kanannya memegang sandwich tebal. Pipinya kembang kempis karna sedang mengunyah. Mataku tertarik melihat bibirnya yang merah, seksi.

Bolehkah lelaki seperti dia di katakan cantik?

Kunyahannya terhenti saat matanya melirik kearah pintu di mana aku berdiri. Sama seperti mataku, matanya tak berkedip di sana. Perlahan dia kembali melanjutkan mengunyah makanan dalam mulut dan menelannya, lalu sandwich di tangannya di letakkan di tempat semula. Sapu tangan di keluarkan, mulut di lap sebelum menyapaku.

"Winda, ayo. Silahkan masuk."

Dia menawarkan aku masuk sambil menunjuk kursi di hadapannya. Namun aku tidak bergerak seinci pun. Pandangan mata masih tertancap padanya, sedikitpun tidak teralihkan.

"Kenapa?" tanyaku. Aku tidak ingin membuang waktu. Dia pasti tau maksud pertanyaanku.

"Kenapa apa, Winda? Kenapa saya mempersilahkan kamu masuk? Atau kenapa saya makan di ruangan ini?" dalihnya. Wajahnya masih tetap formal. Begitu pun panggilan namaku, seperti tidak mengenalku sebelum ini.

"Gak usah banyak bacot, Adam-"

"PAK Adam, Winda." Dia memotong kata-kataku dengan menekankan kata 'pak'.

Nafasku semakin naik turun, belum hilang sesak berjalan dari bawah kesini, sekarang malah tambah emosi dengan sikapnya yang sok angkuh. Darah di kepala makin mendidih dengan emosi yang datang secara tiba-tiba, lalu kudekati meja kerjanya dengan hentakan kaki yang begitu kuat seakan langkah ini bisa merobohkan bangunan. Tangan sudah terkepal kuat lansung kupukulkan kemeja kerjanya. Tapi di sedikitpun raut wajahnya tidak berubah. Masih santai.

"Peduli apa gue dengan jabatan Lo di sini! Di mata gue Lo hanya cowok brengsek yang bersembunyi di balik topeng keluguan Lo. Tega Lo ngasih tau-"

"Winda." Adam tiba-tiba berdiri memotong lagi kata-kataku, tapi kali ini dengan suara yang lebih tegas hingga aku terdiam.

Matanya yang tajam menatapku sebelum di tutup lagi saat menghela nafas. Ketika mata di buka lagi, di terlihat lebih tenang.

"Please, Winda, jangan di sini. Saya tahu, banyak yang perlu saya jelaskan pada kamu. Tapi bukan di sini tempatnya." Suaranya tenang memintaku mengerti.

"Di sini saya dosen kamu, dan kamu mahasiswi saya. Saya minta kamu hormati hubungan kita bila berada di kampus. Bisa?" tambahnya dengan kedua tangan di tekan diatas meja dan kepalanya di tundukkan sedikit agar sama dengan tinggiku.

Rahangku semakin mengeras Kukatup kuat mulut agar bisa menahan diri dari kembali menghamburkan kata-kata kasar padanya.

"Oke. Tapi kapan?" tanyaku singkat dan dia tersenyum lebar.

"Saya yang akan datang kerumahmu besok malam setelah isya. Boleh?" jawabnya sambil membolak balik kertas di tepi komputer.

Kukerutkan kening. Apakah dia sengaja mengulur-ngulur waktu? Besok udah Selasa. Setelah itu  Rabu, Kamis....

"Kenapa gak malam ini aja?"

"Malam ini saya tidak bisa karna ada keperluan lain. Besok malam baru free. Kenapa? Kamu tidak bisa besok malam?" Dia balik bertanya. Entah apa kepentingannya malam ini sampai tidak bisa meninggalkan untuk bicara denganku. Aku merasa dia sengaja mengulur waktu, tapi karna malas berdebat, aku mengalah.

"Oke. Besok malam," balasku menyetujui rencananya. Lalu aku berbalik meninggalkan ruang kerjanya.

***

Putaran waktu terasa begitu lama hingga datangnya hari Selasa.

Setalah makan malam, aku mondar-mandir tak tentu arah di depan rumah. Mama sibuk di dalam rumah menyiapkan pernikahanku. Makin sakit hatiku di buatnya.

Hampir pukul sembilan malam, kulihat sorot lampu mobil di luar pagar dan nyala lampu itu hilang di susul dengan pintu mobil di buka dan di tutup. Tidak lama, muncul sesosok tubuh yang sejak dari kemarin kutunggu-tunggu berjalan melalui pagar kecil di sudut pos satpam.

"Bicara baik-baik."

Aku kaget. Entah sejak kapan mama berdiri di depan pintu utama. Jangan-jangan mama sudah tahu kedatangan Adam malam ini? Dan seakan mengetahui isi pikiranku mama kembali bicara. "Adam sudah minta izin papa bertemu Winda malam ini. Papa sendiri yang beri tahu Mama."

Aku diam, tak tahu harus merespon apa. Papa tidak ada dirumah sejak semalam, pergi urusan bisnis.  Aku masih tertegun, memikirkan Adam yang meminta izin papa.

Sementara itu Adam sudah berada dipintu rumah menghampiri mama dan bersalaman.

"Assalamualaikum, Ma."

What? Mama? Mataku nyaris melompat seolah tak percaya mendengar sapaan mesra Adam pada mama. Sedekat itu kah mereka?

"Walaikumsalam. Susah ndak mencari alamat rumah ini tadi?" Mama manjawab santai, seperti tidak masalah dengan panggilan Adam tadi.

"Mudah saja kok, Ma. Tinggal mengikuti alamat GPS yang dikirim Papa, sampai deh di sini." Adam pun menjawab santai seolah mereka memang sudah dekat.

Mama membakas senyuman Adam. "Oh, bagus lah kalau begitu. Ohya, ini mau ngobrol di luar atau di dalam?"

Adam menoleh padaku dan tersenyum.

"Diluar aja, Ma. Bukan mau ngobrol lama pun. Ayo Dam," ajakku dan tanpa menunggu persetujuannya, kulahkan kaki menuju gazebo di samping kolam ikan koi.

"Gue nanya serius nih. Sejak kapan Lo jadi anak bokap dan nyokap gue?" tanyaku dengan emosi. Tapi dengan santainya dia malah duduk di sebelahku. Wajahnya terlihat berseri di bawah lampu gazebo.

"Saya minta maaf kalau kamu tidak suka, tapi mama dan papa yang menyuruh saya memanggil mereka begitu?" jawabnya tenang.

"Mereka boleh aja menyuruh Lo, tapi Lo gak wajib mengikuti mereka. Jadi gak usahlah, cari muka gitu. Jijik gue mendengarnya. Kalau Lo ingin benget bermama papa, sana, sama nyokap dan bokap Lo!" Aku melipat kedua tangan di dada. Belum semenit bicara, suaraku sudah menunggi. Adam menoleh padaku dengan wajah sayu.

"Mereka sudah tidak ada."

Jawabannya membuat hatiku tersentak sebentar. Sungguh, sedikitpun tak pernah terfikir olehku jika dia sudah tidak memiliki orang tua.

"Oh." Tangan yang tadi kulihat di dada kuturunkan ke bawah. Aku ingin minta maaf karna menyinggungnya, tapi ogo dalam diri lebih menguasai.

Adam kembali mengukir senyum. Suasana berubah sunyi hingga bik Inem-pembantu rumah datang membawa minuman.

"Terimakasih, Bik," ujar Adam dengan senyum lebar.

Kulihat bik Inem tersipu malu sambil mempersilahkan Adam minum. Selama ini tidak pernah kulihat wanita itu begitu. Apa mungkin pesona Adam yang begitu kuat, hingga bik Inem yang sudah menjanda 10 tahun sampai terkesima dengan senyumnya.

Tanpa melepaskan pandangannya darimu, Adam mengambil gelas minuman di depannya dan mulai meneguk perlahan, hingga gelas di letakkan lagi, matanya masih tertumpu padaku.

"Jadi, kita mulai dari mana?" tanyanya tenang sama seperti pembawaannya.

Sesaat aku menghela nafas dan kembali bersedkap.

"Malai dari kenapa Lo kasih tau Mama dan Papa tentang... Tentang rahasia kita. Apa rencanamu sebenarnya?" tanyaku dengan wajah serius.

Adam diam sesaat sebelum menjawab.

"Sama seperti rencanamu memberi tahukan pada Adri dan Rehan mengenai rahasia kita."

"Oh, Lo mau balas dendam dengan menjatuhkan gye?" tanyaku lagi dengan mata membulat.

"Apa itu tujuanmu memberi tahukan mereka?" Adam malah mengembalikan pertanyaan itu padaku.

"Tujuan gue bukan itu. Gue beritahu mereka karna gue ingin menang. Gue menang karna udah berhasil buat Lo tunduk pada nafau. Gue rasa Lo tau akan hal itu."

"Tujuan saya memberi tahu Mama dan Papa  karna saya juga mau menang. Saya ingin berhasil memiliki kamu." Dia mengulang jawabanku dengan versinya tanpa ragu.

"Oke, Fine! Tapi Lo udah jatuhin harga diri gue di depan Mama dan Papa!" Suaraku kembali naik.

"Saya hanya mengikuti standar permainan yang kamu buat. Jadi bukan kamu saja yang bisa mempermalukan saya di depan teman saya, saya pun bisa melakukan hal yang sama."

Adam masih menguji kesabaranku meski nadanya tetap tenang, tapi wajahnya sudah merah, mungkin turut emosi.

"Masalahnya. Gue gak ceritain bagian di mana kita bermesra-mesraan, sementara LO, Lo ceritakan semuanya! Ini gak adil!" teriakku. Tangan yang sudah terkepal kuat aku hentakkan ke lantai gazebo hingga gelas disana terbalik. Air dingin dalam gelas tumpah menetes melalui celah lantai papan gazebo.

Mata Adam tertancap pada gelasku sebelum dia memandangku.

"Jadi, kamu tidak ceritakan apa yang terjadi malam itu pada mereka?" tanya Adam memastikan.

Aku tidak lansung menjawab, karna merasa air yang tumpah mengenai pahaku. Aku berdiri dan melap-nya. Sekilas aku melihat mata Adam tertuju pada kakiku, lalu dia menggeleng.

"Nggak. Gue cuma bilang keberhasilan gue membuat Lo mencium gue. Itu aja," jawabku dan Adam kembali memandang wajahku.

"Bagus. Tapi saya tidak menghilangkan bagian itu dan memberitahu semua pada orang tuamu kalau kita tidak sengaja saling memuaskan nafsu. Kamu mencapai tujuanmu malam itu, dan saya pun mencapai tujuan saya dengan ending yang memuaskan. Adilkan?" Adam tersenyum sinis.

"Tujuan? Apa tujuan Lo mau memiliki gue. Bahkan sebelum ini kita gak saling kenal?" tanyaku lagi. Hatiku bertambah panas karna setiap argumenku di balas tanpa ragu olehnya.

"Tanggung jawab, Winda. Saya mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi antara kita. Malam itu kamu juga mempertanyakan tanggung jawab, kan?" Suaranya kembali tenang.

"Tanggung jawab? Gak usah kasih gue alasan bodoh Lo itu! Oke, malam itu gue ngomong tentang tanggung jawab, tapi bukan menyuruh Lo menikahi gue!" Aku kembali membentaknya. Herannya argumenku dengan mudah di patahkannya.

"Ya, kamu memang tidak menyuruh saya menikahimu. Tapi saya yang mau menikah denganmu. Saya mengambil keputusan ini sebagai bentuk tanggung jawab saya atas apa yang kita lakukan malam itu."

Jawabannya masih tenang. Aku yang hilang kata dibuatnya. Hingga akhirnya aku mengambil jalan terakhir.

"Gue udah gak perawan lagi." Sungguh, hatiku remuk kala mengucapkan kebohongan itu.

Adam terdiam cukup lama dan aku hampir yakin kalau dia akhirnya akan menyerah.

"Saya ikhlas terima kamu apa adanya, Winda," jawabnya sebelum melangkah pergi.

What? Apa dia sudah gila?

***

Beberapa kali mama mengetuk pintu kamarku yang terkunci, tapi aku abaikan. Sepasang baju kebaya putih dengan gaya modern masih tergantung rapi di pintu lemari. Aku tidak mau keluar untuk di nikahkan dengan Adam.

Bunyi anak kunci yang masuk ke lubang pintu menarik perhatianku. Jantung semakin berdetak kencang. Otak malah merutuk diri sendiri. Harusnya siang tadi aku tidak pulang. Harusnya aku lari saja dari rumah.

Tapi aku tidak tahu harus lari kemana? Sejak kejadian di rumah Adri malam itu, hanya di rumah ini aku merasa aman. Jadi aku harus lari kemana? Lari ke pangkuan Adri? Seketika hatiku di hujami berbagai pertanyaan. Di manakah Adri sekarang! Kenapa dia tidak pernah menghubungiku?

"Winda! Kenapa belum siap juga! Semua tamu sudah hadir? Penghulu juga sudah datang. Semua menunggu kamu di bawah."

Suara papa menghentikan semua pertanyaan yang bermain di kepalaku.

"Kan Winda udah bilang, Winda gak mau nikah dengan Adam! Jangan paksa Winda!" balasku membentak dan wajah papa berubah marah mendengar kata-kataku.

"Winda. Jangan permalukan Papa dan Mama seperti ini. Papa sudah bilang keputusan Papa tidak bisa di ubah! Walau bagaimanapun, malam ini kamu tetap harus menikah dengan Adam!"

"Winda gak cinta dia! Tolong jangan paksa Winda hidup dengan lelaki yang nggak Winda cinta!" Aku menjerit keras. Air mata mukai mengalir membasahi pipi. Hatiku sakit dengan tekad papa yang tidak main-main ingin menyatukan aku dan Adam.

"Cinta itu anugrah yang bisa Tuhan beri dan ambil tanpa kita inginkan. Mungkin saat ini Winda mamang tidak cinta pada Adam, tapi perasaan itu bisa berubah dengan izinNya. Beri Adam satu kesempatan untuk membuktikan kesungguhannya."

Aku tertawa sinis mendengar kata-kata papa. "Bisa berubah sekelip mata? Seperti cinta Papa dan Mama? Kalau itu yang di namakan cinta, lebih baik Winda gak usah nikah seumur hidup!" .

Papa melepaskan keluhan panjang.

"Disanalah kesalahan Winda. Menjadikan contoh cinta Papa dan Mama. Adam bukan Papa dan Winda juga bukan Mama. Papa yakin, Adam bisa memberikan Winda kebahagaian. Itu sebabnya Papa ingin kalian bersatu dalam hubungan yang seharusnya."

"Di sanalah kesalahan Papa. Papa lupa kalau Adam juga manusia biasa, sama seperti Papa dan Mama." Aku terus membalas dengan air mata yang terus mengalir. Hatiku semakin panas dengan papa yang begitu menyanjung Adam yang nyata-nyata hanya orang asing, sedang aku putrinya sendiri di ketepikan.

"Winda, Papa tidak pernah seyakin ini mempertaruhkan kebahagaian putri Papa pada orang lain yang baru Papa kenal. Seandainya Papa yang berada di posisi Adam, mungkin Papa tidak akan berani melakukan seperti yang Adam lakukan. Tapi Adam, dia berani mengakui kesalahannya pada Papa dan berniat baik meminta Winda."

Belum sempat aku membalas, papa sudah keluar dari kamar.

Aku terduduk di sisi ranjang. Tangisku semakin pecah. Bantal kuletakkan diatas paha, lalu membenamkan wajah di sana. Menangis sejadi jadinya.

Beberapa saat menangis, pendengaranku menangkap bunyi pintu kamar di buka dan di tutup lagi.

"Please, Pa, leave me alone! Winda gak mau dengar apa-apa lagi dari Papa!" teriakku di balik bantal. Tubuhku bergetar terisak.

"Winda."

Itu bukan suara papa, tapi suara Adam. Bantal di wajah aku angkat, pandanganku seketika tertuju ke pintu. Di sana Adam memandangku sayu.

"Ngapain Lo di kamar gue? Siapa yang izinin Lo masuk?" marahku dan segera bangkit dari tempat tidur, pipi yang basah oleh air mata aku seka dengan punggung tangan.

Adam perlahan menapak ke arahku yang berdiri di pinggir ranjang.

"Saya sudah minta izin papa." Sesaat Adam menghela nafas. "Winda, saya perlu bertanya sesuatu. Saya tahu kamu tidak cinta saya, tapi apakah sampai ke tahap membenci saya?" tanyanya pelan.

Mataku yang masih basah terus-terusan aku seka hingga kering dan kulihat mata Adam seolah berkaca.

"Ya, Lo tau sendiri gue gak cinta sama Lo dan gak akan pernah cinta!" jawabku sambil mengelap hidung yang tak henti mengeluarkan ingus.

"Saya dengar apa yang kamu bicarakan dengan Papa sebentar tadi dan saya tahu kamu tidak cinta saya. Tapi sebenci itukah kamu pada saya sampai kamu tidak memberikan saya kesempatan?" Suara Adam bergetar. Entah kenapa hatiku merasa iba mendengar tone suaranya.

Perlahan aku mendekat, lalu berlutut di depannya dengan kepala mendongak agar dapat melihat wajahnya.

Sementara Adam masih setia memandangku penuh pengharapan, bahkan saat kuraih tangannya ekspresinya tidak berubah. Tangannya yang kugenggam juga di biarkan saja tanpa di tariknya.

"Adam, please. Please batalkan pernikahan ini. Aku gak cinta kamu dan kamu juga gak cinta aku kan? Jadi kita gak perlu lalui semua ini. Kamu gak perlu bertanggung jawab atas kejadian malam itu. Kalau kamu ingin aku minta maaf, oke aku minta maaf dan memaafkan kamu. Tapi tolong, bicaralah dengan. papa agar membatalkan pernikahan ini. Papa pasti dengar kata-katamu." Aku memohon dengan menurunkan ego serendah rendahnya, tapi Adam masih diam tanpa melepaskan pandangan dari mataku.

"Adam, please! Jangan lakukan ini padaku. Kamu bisa minta apa pun dariku dan aku janji akan kuberikan. Tapi tolong batalkan pernikahan ini." Tangannya semakin aku genggam erat. Hanya dia satu-satunya harapan yang bisa membatalkan pernikahan ini.

Tanpa kuduga, sebelah tangan Adam yang lain menekuk telingaku. Ibu jarinya yang besar menyeka pipiku yang basah. Nafasku seakan tercekat saat tapak tanganny menghangatkan wajahku. Kata-katanya yang menyusul kemudian membuat nafasku seakan terhenti.

"Saya hanya ingin kamu, Winda." Suaranya lembut berbisik.

"Gak Adam! Aku gak mau nikah sama kamu. Tolong paham. Aku rela melakukan apa saja yang kamu mau. Kamu gak perlu menikahi aku jika hanya untuk menyentuhku. Aku izinkan kamu menyentuhku, melakukan apa pun yang kamu mau." Meski aku sendiri tidak yakin bisa menepati janji yang kuucapkan itu, tapi dalam situasi begini otakku buntu, aku sanggup menjanjikan apa saja. Mungkin dengan janjiku itu dia akan setuju. Laguan lelaki mana yang mau menolak tawaran emas?

Tapi dugaanku salah, Adam menggeleng pelan. Reaksinya membuatku semakin putus asa. Keyakinan dia akan menerima tawaranku tadi semakin tipis. Namun, sebelum sempat dia menolak tawaranku itu, aku berdiri dan mengalungkan tangan di lehernya, lalu bibirnya yang merah lansung aku sambar. Bagian depan tubuhku semakin kerepatkan ke dadanya dN kedua tangannya berada di pinggangku.

Adam membuka mulut membalas ciumanku rakus. Lidah kami saling membelit dan tanpa sadar desahan kecil keluar dari mulutku. Tiba-tiba tangannya menolak tubuhku dan ciuman itu terhenti.

Aku yang masih mau menikmati bibirnya dengan tak tau malu mendekatinya, seolah merengek inginkan lagi. Namun kedua telapak tangannya menahan keningku.

"Jangan, Winda," mohonnya dengan suara masih bercampur nafsu.

"Itu bukti kata-kata aku, Adam. Kamu menginginkan tubuhku kan? Lakukanlah," bujukku, tapi Adam malah menggeleng dan mundur beberapa langkah kebelakang.

"Tidak, Winda. Itu bukti saya gagal menahan nafsu bila berada di dekat kamu. Saya inginkan kamu, Winda. Tapi bukan dengan cara seperti ini." Adam meraup wajah kasar, lalu memandangku penuh harap.

"Wind, tolong! Jangan buat saya seperti ini. Mintalah apa saja dari saya, akan saya berikan. Cuma satu yang saya minta. Jadilah pasangan yang halal untukku saya seorang." Pintanya dengan mata berkaca. Belum sempat aku bicara, dia sudah berbalik.

"Saya tunggu kamu di bawah. Bersiaplah," ucapnya tanpa memandangku. Kemudian, sama seperti papa dia keluar dari kamarku.

Aku menoleh ke arah baju nikahku, lalu menoleh ke arah jendela. Apa yang harus kulakukan? Memakai baju keba

ya itu dan turun untuk di nikahkan dengan Adam atau memilih kabur dari rumah ini?

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!