NovelToon NovelToon
Aku Bukan Wanita Simpanan

Aku Bukan Wanita Simpanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa1999

Warning Dark Romance ❗❗
Bagi Aluna, Gavin Alvaris Ramadhan adalah iblis yang berwujud manusia. Namun, demi menyelamatkan keluarganya yang hancur, ia terpaksa menyerahkan kebebasannya ke tangan pria itu. Di balik kemewahan yang terlihat menggoda, Aluna harus menghadapi kenyataan pahit: Gavin tidak akan pernah berencana melepaskannya sebelum berhasil menanamkan benihnya dan memiliki Aluna seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa1999, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Rencana Untuk Kabur

"Saya hanya ingin bermain sebentar, Nona Aluna tidak perlu repot-repot mengoreksi," ujar Sisi, berusaha sekuat tenaga untuk menekan gejolak emosi di dadanya.

"Selain itu, perhatikan juga postur tubuhmu saat menekan tuts piano..." Aluna kembali mengingatkan dengan nada yang teramat lembut, tanpa bermaksud menyindir.

Sisi menghentikan gerakan jarinya. Ia tidak bisa menahan senyum sinis yang mengembang di bibirnya. "Nona Aluna, berhentilah bersandiwara. Tidak ada orang lain di ruangan ini. Karena Anda begitu bersemangat untuk mengajari saya, mengapa Anda tidak mengajari saya sekalian bagaimana cara berperan sebagai gadis yang polos dan naif di depan Tuan Muda?"

Aluna tetap tidak bergeming. Ia tetap berdiri dengan tenang di samping piano, dan tampak mengabaikan provokasi itu dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Nona Aluna, Anda sudah cukup beristirahat di kamar. Apakah siang ini Anda tidak perlu melayani dan menemani Tuan Muda lagi?" Sisi sengaja mencoba memancing amarah Aluna begitu melihat gadis itu sama sekali tidak memberi respons.

Aluna tahu betul bahwa Sisi sangat membencinya, tetapi ia tidak peduli. Bagi Aluna, situasi saat ini jauh lebih menenangkan karena setidaknya Sisi tidak bisa lagi memata-matai setiap gerak-geriknya dari dekat.

Saat Aluna berbalik untuk meninggalkan ruang musik, langkahnya terhenti ketika melihat kepala pelayan masuk dengan wajah cemberut. Tatapan pria paruh baya itu dipenuhi rasa jijik yang kentara saat beralih pada Sisi yang berdiri di belakang piano.

"Pantas saja saya mencarimu ke mana-mana tai tidak ketemu. Ternyata kamu menyelinap ke sini? Apa semua pekerjaanmu sudah beres?!"

Sisi mencicit pelan, "Saya... saya sudah menyelesaikan semua tugas saya sebelumnya, Pak..."

"Kalau begitu, kamu tetap tidak pantas menginjakkan kaki di tempat seperti ini! Berani-beraninya seorang pelayan sepertimu lancang memasuki ruang musik pribadi Nona Aluna!"

Wajah kepala pelayan itu tampak sangat serius dan nada bicaranya tegas, namun di dalam hati, jantungnya berdebar kencang karena didera ketakutan. Tuan Muda Gavin adalah pria yang sangat pemarah dan sulit diprediksi. Jika sampai dia mendapati Sisi berada di ruangan ini, sang kepala pelayan pasti akan ikut diseret dan dihukum karena dinilai lalai dalam mengawasi bawahan.

"Kamu, cepat minta maaf kepada Nona Aluna sekarang juga!" perintah kepala pelayan dengan ketus.

Sisi sempat menunjukkan penolakan dan bersikap keras kepala. Namun, dihadapkan pada ekspresi marah di wajah sang kepala pelayan, ia akhirnya menyerah. Dengan suara serak yang tertahan, ia berucap, "Nona Aluna, saya meminta maaf atas kelancangan saya..."

Aluna melambaikan tangannya dengan pelan, memotong ketegangan itu. "Tidak apa-apa, bermainlah di sini jika kamu memang menyukainya."

Sang kepala pelayan seketika mengembuskan napas lega. Selama Nona Aluna tidak memperpanjang masalah ini dan tidak mengadu kepada Gavin, maka posisinya akan tetap aman.

"Terima kasih, Nona Aluna," sahut Sisi, meski di dalam hatinya ia melontarkan kutukan yang berisi sumpah serapah untuk Aluna.

Ketiganya kemudian melangkah keluar dari ruang musik. Begitu tiba di dalam kamarnya yang sepi, Aluna segera menyalakan komputer. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di halaman situs lowongan pekerjaan yang beberapa waktu lalu ia kunjungi.

Sebelum terjebak di dalam mansion ini, Aluna sempat mengirimkan berkas riwayat hidup dan mengikuti serangkaian ujian daring. Siapa yang menyangka bahwa di tengah situasi sulit ini, ia justru dinyatakan lulus seleksi.

Aluna mengetikkan kata "Terima kasih" sebagai balasan formal, sementara di dalam benaknya, sebuah rencana pelarian yang baru mulai tersusun dengan rapi.

Malam harinya, Aluna sengaja memilih gaun tidur yang lembut, menyemprotkan sedikit parfum beraroma manis, lalu memantapkan langkah menuju ruang kerja Gavin. Ini adalah kali pertama ia menginjakkan kaki ke dalam ruangan pribadi pria itu. Interior di dalamnya tetap mengunakan konsep minimalis namun sangat mewah, memancarkan kesan berkelas sekaligus menyimpan banyak rahasia dominasi Gavin.

"Kak Gavin, mengapa belum beristirahat padahal malam sudah selarut ini?" Aluna berjalan menghampiri meja kerja, lalu dengan gerakan menggoda yang sengaja dibuat-buat, ia mendudukkan diri di atas pangkuan Gavin. Lengan rampingnya melingkar alami di leher pria itu.

Aroma parfum yang misterius namun lembut seketika menyergap indra penciuman Gavin, membuat ritme napas pria itu mendadak memberat.

Tubuh mungil yang berada di dalam dekapannya itu tiba-tiba mendongak, berucap dengan nada suara yang teramat manis,

"Hm... ada satu hal yang ingin kubicarakan denganmu. Apa kamu mau mendengarkannya?"

Gavin menghentikan aktivitas jarinya di atas dokumen bisnis, lalu bertanya dengan nada melembut, "Ada apa?"

Aluna mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya, mencoba bersikap sehangat mungkin. "Beberapa waktu lalu, aku sempat melamar pekerjaan, dan hari ini pihak yayasan memberikan surat penerimaan. Aku... ingin mencoba mengambil kesempatan itu."

Ekspresi wajah Gavin seketika membeku. Ia baru menyadari bahwa sikap manis dan inisiatif Aluna malam ini untuk menyenangkan hatinya ternyata hanyalah sebuah taktik agar bisa keluar dari rumah ini.

Gadis ini benar-benar berniat melepaskan diri dari pengawasannya.

Karena tidak kunjung mendapat respons dari Gavin, Aluna tidak memiliki pilihan lain selain semakin merapatkan tubuhnya, meringkuk manja di dada pria itu demi melunakkan hatinya.

"Aku sangat menyukai pekerjaan ini, Kak. Menjadi guru piano di sebuah lembaga kursus musik. Lagipula, terus-menerus berdiam diri di dalam rumah sepanjang hari sama sekali tidak baik untuk kesehatan mentalku dan janin ini. Tolong izinkan aku, ya? Aku berjanji akan bersikap baik dan menuruti keinginanmu, aku juga akan langsung pulang begitu jam kerja usai, dan tidak akan berinteraksi dengan orang asing."

Gavin tidak mampu menahan pesona dan godaan dari wanita yang kini berada di dekapannya. Seandainya saja Aluna tidak sedang dalam kondisi mengandung, ia pasti sudah kehilangan kendali dan mengklaim tubuh gadis itu malam ini juga.

Dengan suara yang serak menahan gejolak, Gavin akhirnya menyahut rendah, "Baiklah. Aku izinkan."

Sebenarnya, Gavin merasa sedikit terhibur sekaligus tertarik melihat bagaimana Aluna berusaha keras menyanjung dan menjilat demi keinginannya. Pria itu sendiri heran, mengapa setiap kali dihadapkan pada sosok Aluna, seluruh prinsip ketat dan kediktatorannya bisa melunak begitu saja.

Keesokan paginya, Aluna telah bersiap dengan mengenakan gaun putih yang anggun, sementara rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai indah di punggung.

Wajahnya yang semula sudah menawan kini dipercantik dengan polesan riasan tipis, membuatnya tampak begitu murni dan segar bagai bunga teratai yang baru mekar dari permukaan air.

Setelah menyepakati rentetan syarat ketat yang diajukan oleh Gavin,termasuk pengawalan rahasia, mobil mewah milik Gavin akhirnya membawa mereka tiba di lokasi tujuan.

Di hadapan Aluna kini berdiri sebuah pusat pelatihan seni dan musik yang cukup ternama. Gavin mengedarkan pandangannya, merasa sedikit lega setelah memastikan bahwa Aluna memang murni bekerja sebagai instruktur piano di tempat tersebut.

"Aku akan menjemputmu tepat setelah jam kerjamu selesai. Jangan berani-berani berkeliaran ke tempat lain!" perintah Gavin dengan nada mutlak sebelum akhirnya melajukan mobilnya membelah jalanan.

Aluna tidak mampu menyembunyikan kebahagiaan di dadanya. Ia akhirnya berhasil mengambil langkah pertama: menundukkan ego Gavin dan mendapatkan

kepercayaannya sebelum mencari celah yang tepat untuk melarikan diri sejauh mungkin.

Dengan langkah cepat dan penuh semangat, Aluna berjalan memasuki ruang kelas piano utama. Namun, begitu sepasang netranya menangkap sosok pria yang sedang duduk di sudut ruangan, seluruh tubuh Aluna seketika langsung membeku di tempat.

Bagaimana mungkin... pria itu ada di sini?!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!