NovelToon NovelToon
Calon Suamiku, Pak Perwira!

Calon Suamiku, Pak Perwira!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AnaDww

Slowburn—Romansa Komedi


Naira tidak pernah membayangkan dirinya akan dijodohkan.

Apalagi dengan Arka— seorang perwira muda pendiam yang baru dikenalnya beberapa jam, tetapi sudah membuat jantungnya gugup setiap kali lelaki itu menatap.

Sementara Arka sendiri tidak pernah pandai berbicara manis.

Ia hanya hadir dengan sikap tenang, perhatian sederhana, dan kebiasaan selalu datang tepat waktu.

Di antara suara radio tua, hujan sore, dan telepon wartel yang sering terputus, hubungan mereka tumbuh perlahan.

Canggung. Pelan. Tapi diam-diam menghangatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

...~Jalan Desa, Sawah dan Urap Sayur~...

Suara cobek bertalu terdengar di ruang dapur rumah Naira. Aroma kencur, cabai, daun jeruk dan kelapa parut lembut tercium samar.

Naira tengah membuat urap sayur di dapur rumahnya. Beberapa sayuran telah direbus seperti kacang panjang, bayam, dan wortel. Ia juga mengiris tipis tempe goreng garing dan timun. Tangannya cekatan mencampur bumbu yang baru saja ia ulek dengan kelapa parut. Lalu, ia mengukusnya di dandang bersama nasi.

"Wah, enak banget baunya." Suara ibunya muncul dari ambang pintu.

"Ibu sudah sehat?" tanya gadis itu pelan.

"Sudah." Pandangan wanita paruh baya itu menyapu ke semua sisi dapur, terutama pada tumpukan piring yang telah bersih. "Bersih banget, tumben kamu rajin bersih-bersih." Ibu Naira mengambil satu teko air putih.

Naira diam sesaat. Bayangan Arka di dapur semalam kembali muncul; punggung tegap dengan kaos putih yang digulung sampai lengan. "Itu... Mas Arka."

Ibunya yang baru akan berjalan keluar menenteng teko sedikit terkejut. "Kamu menyuruh anak orang?"

Naira segera menoleh cepat dan menggelengkan kepalanya. "Enggak ya, Bu. Itu Mas Arka sendiri."

Naira berpura-pura sibuk mencampur bumbu urap. Ia memasukkan nasi ke dalam bakul anyaman bambu, lalu menyimpan urap dalam rantang dengan beberapa lauk pendamping seperti ikan asin dan tahu bacem yang baru saja selesai ia masak.

"Oh..." Ibunya tidak lagi menggoda. Wanita paruh baya itu segera ke teras rumah, hanya beberapa menit sebelum akhirnya masuk lagi dengan tangan kosong.

"Buruan antar sana."

"Loh, katanya nanti Bapak mau ambil?"

"Mas Arka sudah menunggu di depan. Barusan minta air minum."

Naira menegang sesaat. Ia menelan ludah pelan. "Oh..."

Sebelum ke arah teras, Naira merapikan celana batik rumahan dan kaos lengan pendeknya. Lalu, ia melangkah pelan dengan bakul dan rantang di tangan.

Benar saja, di dekat kran depan rumah, Arka tengah berdiri dengan wajah yang basah. Air mengalir hingga ke sisi tenggorokannya. Naira tertegun sesaat melihat siluet itu. Terutama bagaimana jakun Arka tampak naik-turun.

"Mas..." panggilnya sangat lirih.

Pria itu menoleh ke arah Naira dengan senyuman melekat. "Sudah selesai?" tanyanya sambil mematikan kran air.

Beberapa kali pria itu mengelap sisi wajahnya dengan punggung tangan sebelum akhirnya menyisir rambut dengan jari-jarinya yang panjang. Naira melihat itu, lalu teringat bagaimana hangatnya jemari Arka ketika mengusap bekas kemerahan dari cengkeraman Santoso semalam.

"Nai?" panggil Arka kembali, menyadarkan Naira dari lamunannya.

"Oh, maaf, Mas."

"Sudah selesai?" Pria itu sudah berdiri tepat di depannya. Kaos Arka yang sedikit basah menampakkan siluet tubuhnya yang atletis.

Wajah Naira memanas. Belum pernah ia sedekat ini dengan pria, apalagi sampai menyadari perbedaan fisik mereka yang luar biasa.

"Sudah, Mas," jawab gadis itu sambil menundukkan kepala.

Arka memiringkan kepalanya, mencoba mencari tatapan gadis yang terus menunduk itu. "Kita berangkat sekarang?" tanya Arka.

"Ayo," ucap Arka kemudian. Mengulurkan tangan. "Aku bawa nasinya. Kita jalan kaki."

Naira menyerahkan bakul nasi itu. Kepalanya mendongak setelah beberapa saat menunduk. "Jalan kaki?"

"Iya. Mumpung libur."

Pria itu berjalan terlebih dahulu. Satu tangan memegang bakul, sementara tangan lainnya membawa teko aluminium dengan tenang. Langkahnya tidak terlalu lebar.

Baru beberapa langkah ke luar halaman, Naira berucap, "Nai, kamu duluan."

"Enggak jalan berdua saja?" Pertanyaan Naira keluar lebih cepat dari dugaannya.

Arka tampak terdiam sesaat. "Kalau kamu mau, enggak apa-apa."

Pria itu menunggu langkah Naira mendekat ke sisinya. Keduanya berjalan dengan tenang. Naira tidak perlu menyesuaikan langkahnya dengan Arka karena pria itu lebih memilih melambatkan langkahnya sendiri.

Matahari yang belum sampai ke puncak memberikan efek hangat yang pas. Angin musim kemarau mengembus, menerbangkan debu-debu jalanan. Beberapa tetangga mulai menyapa keduanya.

"Mas..." Naira membuka obrolan lebih dulu. Arka menoleh.

"Makasih," lanjut Naira.

"Untuk?"

"Karena semalam. Soal Santoso."

Arka menggertakkan giginya samar. Rahangnya mengeras untuk beberapa saat. "Lelaki itu banyak mulut."

Naira terkekeh pelan. "Bapak enggak suka dia."

"Iya, bapakmu sudah cerita. Termasuk insiden di sungai."

"Sungai?" Naira mencoba mengingat kata-kata ayahnya beberapa hari lalu.

"Iya, saat dia ketahuan sembunyi di semak-semak waktu kamu dan beberapa gadis mau mandi di bilik."

"Apa?!" Pertanyaan Naira terdengar lebih cepat. Langkahnya langsung terhenti, membuat Arka juga ikut berhenti. Yang Naira ketahui hanyalah ayahnya tidak menyukai Santoso.

"Kenapa?"

"Aku baru tahu."

"Sekarang sudah tahu, kan?"

Mata Naira membesar sesaat. "Jangan-jangan dia berhasil mengintip?"

"Kata ayahmu tidak sampai mengintip. Keburu kepergok beliau."

Naira menghela napas lega.

"Ayo jalan, mereka pasti menunggu kita." Arka mengajak Naira kembali berjalan. "Lelaki seperti Santoso tentu akan dibenci setiap bapak yang punya anak perempuan. Selama aku dan ayahmu ada, akan dipastikan dia tidak akan mengganggu kamu."

Naira menundukkan kepala mendengar ucapan itu. Jantungnya berdegup lebih cepat.

"Mas bisa saja," sahut Naira.

"Ya, karena menurutku itu tindakan kurang ajar."

Mereka berbelok ke arah ladang pematang milik Ayah Naira. Pria paruh baya itu sedang beristirahat di gubuk bambu beratap jerami kering.

"Nai! Ka!" teriaknya dari jauh.

Teriakan ayah Naira memecah kekakuan di antara keduanya. Langkah Naira sedikit dipercepat, meninggalkan Arka. Gadis itu lebih dulu duduk di pinggir gubuk. Saat Arka datang, ia meletakkan bakul dan rantang, lalu mulai menata lauk serta piring plastik dengan rapi.

"Ayah sudah dengar dari Arka soal kejadian semalam," obrolan dibuka oleh ayahnya yang baru saja mencuci tangan di sungai kecil di sisi sawah.

Naira masih menundukkan kepala, berpura-pura sibuk menata lauk.

"Untung ada Arka. Ayah enggak salah pilih dia buat jagain kamu semalam."

"Ayah..." Naira bergumam lirih antara malu dan takut.

"Aduh, Yok. Sudah, jangan dibahas. Kita harus makan siang supaya bisa lanjut menggarap sawah dan ladang," Om Seno menengahi obrolan dengan topik lain. Ia mengambil sayur urap dengan aroma kencur, cabai, dan daun jeruk yang kuat. "Ini buatanmu, Nai?"

"Iya, Om."

Pria paruh baya itu mencicipinya lebih dulu. "Enak, lo, Nai. Masakanmu memang selalu enak. Arka bisa gendut gara-gara kamu."

Arka yang sedang minum hampir tersedak mendengar ucapan itu, sementara Naira terkekeh pelan. Mereka akhirnya makan dengan tenang. Sayur urap yang dipadukan dengan ikan asin goreng renyah dan tahu bacem terasa seperti harta karun yang menyegarkan.

"Enak, Nai," puji Arka setelah selesai makan.

"Makasih, ya, Mas," ucap gadis itu pelan sambil merapikan rantang kembali.

"Ka, kamu balik kapan?" Tanya ayah Naira. Pria paruh baya itu duduk menyilangkan kaki dengan tusuk gigi di tangannya.

"Tinggal lima hari lagi. Kemarin Komandan sudah mengonfirmasi."

"Cepat juga, ya."

Naira terdiam mendengarnya. Lima hari lagi, Arka akan pergi dari kampung ini. Gerakan tangannya terhenti di atas rantang mendengar hal itu.

...----------------...

1
NonaAns
🤭 tiba2 pengen batuk. uhuuuk uhuuukk
Ana Dww
Ini adalah karya bergenre Romansa Komedi yang pertama aku buat.

Semoga cerita ini bisa dibaca dengan ringan, canda, dan tawa kepada kalian. Terimakasih atas dukungannya. ❣️

Salam hangat juga dari Arka—Naira, mereka selalu menunggumu membaca cerita mereka.
MayAyunda
keren👍👍
NonaAns
Salting niye 🤭 gemes bgt
NonaAns
Arkanya modus ah wkwkwkw
Ana Dww: Aduuhh, ketahuan dehhh
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍😍
Ana Dww: Terimakasih kak ❣️❣️❣️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!