Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Kesedihan An Na
Mendengar jawaban yang tidak memuaskan itu, An Na menggeleng kuat-kuat, emosinya meluap tak tertahankan lagi. Ia menatap ibunya dengan pandangan yang bercampur marah dan kecewa yang mendalam.
“Ibu tidak berhak melarangku! Selama ini Ibu tidak pernah ada saat aku kelaparan, tidak pernah menanyakan apakah aku sakit atau tidak, tidak pernah tahu bagaimana aku bisa bertahan hidup sendirian. Lalu sekarang, tiba-tiba Ibu muncul dan berlagak seolah pemilik hidupku?”
Suasana di dalam restoran itu terasa semakin mencekam dan menyayat hati. An Na akhirnya tidak bisa menahan tangisnya lagi, ia menangis terisak-isak, menundukkan kepalanya. Bahunya terguncang hebat menahan beban perasaan yang selama ini ia pendam.
“Apa aku memang tidak cukup berharga di mata Ibu? Apakah aku tidak pantas dicintai hanya karena aku anak perempuan Ibu? Aku hanya ingin sekali saja merasakan bagaimana rasanya dipeluk, diperhatikan, disayangi, dan dianggap ada oleh orang yang telah melahirkanku ke dunia ini...” rintihnya pelan, namun terdengar sangat menyentuh, penuh kepedihan yang mendalam.
Ia mengangkat wajahnya kembali, menatap ibunya dengan tatapan yang penuh kerinduan sekaligus kekecewaan, lalu melanjutkan dengan suara yang sedikit meninggi namun tetap terdengar lirih. “Aku sayang Ibu, meskipun Ibu tidak pernah menunjukkan hal yang sama padaku. Lalu kenapa Ibu tidak pernah bisa menyayangiku juga? Aku ini anak Ibu. Seharusnya akulah satu-satunya orang yang Ibu pikirkan, perhatikan, dan sayangi tanpa syarat apa pun!”
Tanpa sadar, suaranya naik menjadi teriakan yang penuh keputusasaan. “Apa yang kurang dari diriku? Apakah Ibu lebih senang jika aku tidak pernah lahir ke dunia ini? Apa Ibu ingin aku mati agar Ibu tidak perlu lagi merasa terganggu dengan keberadaanku?”
Mendengar pertanyaan yang menusuk hati itu, raut wajah ibu An Na berubah seketika. Ia berdiri tegak, mengangkat tangannya, dan plak! sebuah tamparan keras mendarat di pipi An Na. Suara itu terdengar jelas hingga menarik perhatian seluruh orang di sekitarnya.
Ibu An Na menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, namun matanya tetap memancarkan kekecewaan dan kemarahan yang terpendam. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, tidak menjelaskan apa pun. Hanya dengan tatapan dingin, ia berbalik badan dan berjalan pergi begitu saja, meninggalkan An Na yang tertegun di tempatnya.
An Na memegang pipinya yang terasa perih dan panas, air matanya berlinang namun ia berusaha menahannya agar tidak jatuh. Ia tidak menyangka bahwa ungkapan perasaannya justru berakhir dengan kekerasan.
Semua pengunjung yang ada di sana ikut tertegun, saling berpandangan dengan ekspresi bingung dan perihatin. Tidak ada yang berbicara, suasana menjadi hening seketika.
Salah satu pengunjung restoran itu segera mendekati An Na dengan wajah khawatir. “Nona, kau tidak apa-apa? Kenapa wanita tadi bersikap kasar kepadamu?” tanyanya pelan.
An Na hanya menggeleng pelan, masih menahan tangisnya. “Aku... aku tidak tahu,” jawabnya dengan suara bergetar sambil pergi dari restoran itu juga.
# Di Supermarket
Beberapa saat kemudian, An Na kembali masuk ke dalam supermarket dengan langkah perlahan. Ia baru saja hendak menuju tempat kerjanya, ketika seorang rekan kerja memanggilnya.
“An Na, Manager memanggilmu. Beliau ada di ruangannya,” ucapnya pelan.
Dengan perasaan cemas, An Na segera menuju ruang manajer. Begitu masuk, ia melihat wajah manajer yang tampak serius.
“An Na, duduklah,” pinta manajer itu. “Saya memanggilmu karena insiden tadi. Kau pergi secara tiba-tiba tanpa izin yang jelas, meninggalkan tanggung jawabmu di kasir. Itu melanggar peraturan perusahaan, dan seharusnya saya tidak punya pilihan lain selain memecatmu.”
Wajah An Na seketika pucat. Ia segera berdiri dan menunduk memohon, “Pak, saya benar-benar minta maaf! Saya tidak bermaksud meninggalkan pekerjaan, tapi situasinya tadi di luar kendali saya. Tolong berikan saya kesempatan sekali lagi, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini.”
Melihat ekspresi sedih dan memelas di wajah gadis itu, manajer terdiam sejenak. Ia menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada lebih lunak, “Baiklah, saya bisa mengerti. Saya akan memaafkanmu kali ini dan mengizinkanmu tetap bekerja. Tapi ingat, kejadian seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Jika terjadi lagi, saya tidak akan ragu untuk memecat mu.”
An Na langsung mengangkat wajahnya dengan mata berbinar lega. “Terima kasih banyak, Pak! Saya janji akan lebih bertanggung jawab dan tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi.”
“Baiklah, sekarang kembalilah bekerja,” perintah manajer sambil tersenyum tipis. Saat An Na hendak berbalik pergi, ia menambahkan dengan suara pelan yang terdengar seperti berbicara pada dirinya sendiri, “Seandainya anakku dulu tidak meninggal... mungkin sekarang dia sudah sebesar dirimu.”
# Di Dalam Rumah
An Na duduk termenung di kursi sambil menempelkan handuk basah di pipinya yang terasa perih dan mulai membengkak. Pikirannya terus melayang mengingat sikap ibunya yang tiba-tiba datang, marah, dan akhirnya menamparnya tanpa mau mendengar penjelasan sedikit pun.
Belum sempat ia menenangkan diri, terdengar suara pintu terbuka. Anqi baru saja pulang kerja, diantar oleh Eric, dan membawa banyak bungkusan makanan di tangannya.
“An Na, aku pulang!” seru Anqi dengan riang, namun senyumnya seketika lenyap saat melihat keadaan sahabatnya itu. Ia segera meletakkan semua bungkusan di meja, lalu bergegas menghampiri dengan wajah panik.
“An Na, ada apa dengan pipimu? Kenapa bisa bengkak begini?” tanya Anqi dengan nada cemas, matanya menatap khawatir. “Apakah kau dipukul oleh bosmu? Atau ada rekan kerja yang berani menyakitimu? Katakan saja siapa mereka, aku akan segera memberi pelajaran kepada mereka sekarang juga!” ucapnya tegas sambil hendak berdiri.
An Na segera menarik lengan Anqi agar duduk kembali, lalu menggeleng pelan. “Tidak, bukan begitu. Ini tidak apa-apa, hanya sedikit bengkak saja, nanti juga sembuh sendiri,” jawabnya sambil berusaha mengalihkan pembicaraan. “Oh, ya. apa saja yang kau bawa? Kelihatannya banyak sekali.”
Melihat An Na enggan bercerita lebih lanjut, Anqi pun mengerti dan tidak memaksanya. Ia segera membuka bungkusan satu per satu dengan antusias.
“Ada ayam goreng, pizza, roti bakar, jus jeruk, jus sirsak, dan masih banyak lagi!” tunjuknya dengan senyum lebar. “Ayo kita makan, kau pasti sudah lapar setelah bekerja seharian.” Tanpa ragu, ia mengambil sepotong pizza dan menyuapkannya ke mulut An Na.
An Na memakannya perlahan, lalu bertanya dengan nada lembut, “Kenapa membeli sebanyak ini? Bukankah ini terlalu boros?”
Anqi tertawa kecil. “Tidak apa-apa, kok. Tadi aku ditraktir makan siang oleh Eric, dan dia juga memberiku uang tambahan untuk membeli makanan agar bisa kita nikmati bersama. Makanya aku beli banyak supaya kita bisa kenyang dan senang.”
Mendengar itu, senyum tipis terukir di bibir An Na, namun matanya terlihat sayu. “Kau memang beruntung, Anqi. Ada orang yang peduli dan menyayangimu dengan tulus. Berbeda denganku...” gumamnya pelan.
Anqi segera memegang bahu sahabatnya itu dan menatapnya dengan tulus. “Siapa bilang kau tidak punya orang yang menyayangimu? Aku ada di sini, dan aku sangat menyayangimu. Jangan pernah merasa sendirian, ya.”
An Na hanya bisa tersenyum mendengarnya, namun tak lama kemudian air matanya mulai menetes tanpa sadar. Ia menunduk, lalu mulai meluapkan segala sesak di hatinya yang selama ini dipendam.
“Anqi... aku sering berpikir, aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Lalu kenapa setelah aku ada, orang yang melahirkanku justru bersikap seolah aku tidak berharga?” suaranya bergetar menahan tangis. “Apakah benar orang tua berhak seenaknya melahirkan, lalu membuang dan menelantarkan anaknya sesuka hati? Bukankah itu tidak adil?”
Ia mengusap air matanya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas namun penuh kepedihan. “Menurutku, menjadi orang tua bukan hanya melahirkan saja. Mereka harus bertanggung jawab sepenuhnya, mendidik, menyayangi, dan selalu ada di sisi anaknya. Itulah hakikat menjadi orang tua yang sebenarnya, bukan hanya sekadar memberi nyawa lalu pergi tanpa peduli.”
Anqi mendengarkan setiap kata dengan hati yang ikut tersentuh. Ia segera memeluk tubuh An Na dengan lembut, mengusap punggung sahabatnya itu untuk menenangkannya.
“Aku mengerti perasaanmu. Rasanya pasti sangat sakit dan kecewa. Tapi ingat, nilai dirimu tidak ditentukan oleh sikap orang lain. Kau berharga, dan aku akan selalu ada di sini untukmu,” ucap Anqi lembut, berusaha menenangkan hati sahabatnya yang sedang terluka itu.