NovelToon NovelToon
Sang Tuan Mafia

Sang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:533
Nilai: 5
Nama Author: Yanti Topato

Semua orang mengenal Bintang Prakasa sebagai pengusaha muda yang sukses, berwibawa, dan nyaris sempurna. Namanya terpampang di berbagai media sebagai pemimpin perusahaan besar yang terus berkembang dari tahun ke tahun. Dengan wajah tampan, kecerdasan tajam, dan kekayaan yang melimpah, ia menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.

Namun tidak ada yang tahu kehidupan sebenarnya di balik senyum tenangnya.

Di balik dunia bisnis yang gemerlap, Bintang adalah pria yang mengendalikan salah satu organisasi paling berpengaruh di dunia bawah. Namanya dihormati sekaligus ditakuti. Satu perintah darinya mampu mengubah nasib seseorang dalam sekejap.

Meski memiliki segalanya, hidup Bintang tidak pernah benar-benar damai.

Lima belas tahun lalu, ayahnya meninggal dalam sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kecelakaan. Semua orang menerima penjelasan itu, kecuali Bintang. Ia yakin ada tangan-tangan kotor yang terlibat dalam kematian ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Foto lama

Rania berdiri di depan pintu ruang kerja Bintang dengan napas tertahan, matanya terpaku pada foto lama yang berada di tangan pria itu. Dari celah pintu yang terbuka sedikit, ia bisa melihat gambar seorang anak perempuan kecil yang wajahnya sangat mirip dengannya. Tidak, bukan sekadar mirip. Anak dalam foto itu seperti dirinya ketika masih kecil.

"Aku harus memberitahunya," ucap Rangga sambil menatap Bintang serius.

Bintang menutup map di hadapannya.

"Belum sekarang," jawabnya dengan suara rendah.

"Kalau Leonard yang memberitahunya lebih dulu, Rania akan membencimu," ujar Rangga sambil menahan napas panjang.

Bintang terdiam, tatapannya jatuh pada foto itu lagi. Ia tahu Rangga benar, tetapi mengatakan kebenaran sekarang sama saja mendorong Rania masuk lebih dalam ke dunia yang selama ini berusaha ia jauhkan.

"Aku butuh waktu," ucap Bintang akhirnya.

Rania mundur perlahan dari depan pintu, dadanya terasa sesak. Jadi benar, Bintang menyembunyikan sesuatu darinya. Pria itu bukan hanya tahu tentang Leonard, tetapi juga tahu tentang masa lalunya.

Pagi harinya, Rania turun ke ruang makan dengan wajah pucat, ia hampir tidak tidur semalaman. Bayangan foto itu terus memenuhi pikirannya, ditambah ucapan Leonard yang berkata bahwa wanita yang selama ini ia panggil ibu bukan ibu kandungnya.

"Kau tidak tidur?" tanya Ratna sambil meletakkan secangkir teh di depan Rania.

Rania menatap wanita paruh baya itu.

"Tante mengenal ibu saya?" tanyanya tanpa basa-basi.

Ratna terdiam, tangannya yang hendak mengambil piring berhenti di udara.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Ratna sambil berusaha tersenyum.

"Karena setiap kali nama ibu saya disebut, wajah Tante berubah," jawab Rania sambil menatapnya lurus.

"Aku hanya pernah bertemu dengannya dulu." Ratna mengalihkan pandangan.

"Dulu kapan?" desak Rania.

"Sangat lama," jawab Ratna pelan.

"Seberapa dekat Tante mengenalnya?" tanya Rania sambil menggenggam ujung meja.

Sebelum Ratna sempat menjawab, Bintang masuk ke ruang makan. Pria itu langsung menyadari ketegangan di antara mereka.

"Ada apa?" tanya Bintang sambil menatap Rania.

"Aku ingin bicara denganmu." Rania berdiri dari kursinya.

"Bicara di ruang kerja." Bintang menatap ibunya sebentar, lalu kembali menatap Rania.

Mereka berjalan tanpa suara menuju ruang kerja. Setiap langkah terasa berat bagi Rania, ia sudah lelah diberi jawaban setengah-setengah. Kali ini ia ingin tahu semuanya.

Begitu pintu tertutup, Rania langsung menatap Bintang.

"Aku melihat foto itu semalam," ucapnya sambil menahan emosi.

Bintang tidak terkejut, ia sudah menduganya sejak melihat wajah Rania pagi ini.

"Foto apa?" tanyanya, meski tahu pertanyaan itu hanya menunda sesuatu yang tidak bisa lagi dihindari.

"Jangan pura-pura tidak tahu," balas Rania sambil mengepalkan tangan. "Foto anak kecil itu. Anak yang wajahnya mirip denganku."

"Kau tidak seharusnya menguping." Bintang mengembuskan napas panjang.

"Aku tidak seharusnya dibohongi," balas Rania dengan suara bergetar.

Bintang terdiam, kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang ia kira.

"Katakan padaku, Bintang. Siapa anak dalam foto itu?" tanya Rania sambil melangkah mendekat.

"Kemungkinan besar itu kau," jawab Bintang akhirnya.

Rania membeku. Meski sudah menduganya, mendengar jawaban itu langsung dari mulut Bintang tetap membuat dadanya terasa dihantam sesuatu.

"Kenapa fotoku ada di dokumen ayahmu?" tanyanya pelan.

"Aku belum tahu semuanya," jawab Bintang sambil menatapnya.

"Tapi kau tahu sebagian," tekan Rania.

"Ayahku mengenal wanita yang selama ini kau panggil ibu." Bintang mengangguk pelan.

"Maksudmu ibuku?" Rania menelan ludah.

Bintang menatapnya dalam diam, ia tahu satu kata yang salah bisa membuat hati wanita itu hancur.

"Jawab aku," desak Rania.

"Aku tidak yakin dia ibu kandungmu," ucap Bintang pelan.

Rania langsung mundur satu langkah, matanya memerah tetapi ia berusaha keras tidak menangis di depan pria itu.

"Jadi Leonard benar?" tanyanya sambil menatap Bintang tidak percaya.

"Aku belum bisa memastikan semua ucapannya benar," jawab Bintang.

"Tapi bagian itu mungkin benar, kan?" tanya Rania dengan suara hampir pecah.

Bintang tidak menjawab, diamnya sudah cukup.

Rania tertawa kecil, tetapi tawa itu terdengar pahit. Seluruh hidupnya terasa seperti kebohongan. Rumah, keluarga, nama, bahkan masa kecil yang ia ingat kini terasa asing.

"Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?" tanya Rania sambil menyeka air mata yang akhirnya jatuh.

"Karena aku ingin melindungimu," jawab Bintang sambil mendekat.

"Jangan pakai alasan itu lagi," balas Rania sambil menepis tangannya. "Kau tidak sedang melindungiku. Kau sedang memutuskan hidupku tanpa bertanya padaku."

Bintang terdiam, untuk pertama kalinya ia tidak punya pembelaan.

"Aku yang diculik. Aku yang hidupku dibongkar. Aku yang mungkin bukan anak dari wanita yang selama ini kupanggil ibu," ucap Rania sambil menatapnya penuh luka. "Tapi kau tetap merasa paling berhak menentukan kapan aku boleh tahu kebenaran?"

"Rania..." ucap Bintang pelan.

"Jangan sebut namaku seperti itu," potong Rania sambil mundur. "Kau membuatku merasa bodoh karena percaya padamu."

Kalimat itu membuat wajah Bintang berubah. Ia bisa menghadapi musuh, peluru, dan pengkhianatan, tetapi melihat kepercayaan Rania runtuh di depannya jauh lebih menyakitkan.

Sebelum Bintang sempat menjawab, ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal, Bintang mengambilnya lalu wajahnya langsung berubah dingin.

"Apa lagi?" tanya Rania sambil memperhatikan perubahan ekspresinya.

Bintang tidak langsung menjawab. Ia menatap layar ponsel beberapa saat. Hanya ada satu foto tanpa tulisan, tanpa ancaman, dan tanpa pesan apa pun, namun foto itu cukup membuat darahnya terasa membeku.

"Berikan padaku," ucap Rania sambil mengulurkan tangan.

"Tidak," jawab Bintang tegas sambil menggenggam ponselnya lebih erat.

"Berikan padaku!" bentak Rania.

Bintang menatapnya beberapa detik, lalu menyerahkan ponsel itu dengan berat hati.

Rania melihat layar ponsel. Foto itu memperlihatkan seorang pria muda yang sedang menggendong bayi perempuan. Pria muda itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Bintang, ia tidak perlu bertanya untuk tahu bahwa pria itu adalah ayah Bintang, namun bayi yang berada dalam gendongannya membuat napas Rania tercekat.

"Itu aku?" tanya Rania dengan suara nyaris tidak terdengar.

"Sepertinya begitu." Bintang mengangguk pelan.

"Kenapa ayahmu menggendongku?" tanya Rania sambil menatap foto itu.

"Aku juga baru tahu," jawab Bintang sambil menahan amarahnya.

Rania membaca pesan berikutnya yang baru muncul di layar, wajahnya semakin pucat ketika melihat alamat yang dikirim Leonard.

Kalau ingin tahu siapa Rania sebenarnya, datang malam ini. Jangan bawa siapa pun selain dia.

"Aku ikut." Rania mengangkat wajahnya.

"Tidak," jawab Bintang cepat.

"Aku tidak sedang meminta izin," balas Rania sambil menggenggam ponsel itu.

"Ini jebakan," ucap Bintang sambil menatapnya tajam.

"Aku tahu."

"Kalau kau tahu, kenapa masih ingin datang?"

"Karena aku lelah menjadi orang terakhir yang tahu tentang hidupku sendiri," jawab Rania sambil menahan air matanya.

Bintang menatap wanita itu dalam diam. Ia ingin melarang, tetapi ia tahu Rania tidak akan mundur, bukan setelah semua yang ia dengar dan lihat.

"Kalau kau ikut, kau harus menuruti semua perintahku," ucap Bintang akhirnya.

"Aku akan ikut untuk mencari kebenaran, bukan untuk menjadi bonekamu." Rania menatapnya tanpa berkedip.

"Keras kepala." Bintang menghela napas.

"Aku belajar dari orang yang salah," balas Rania sambil mengembalikan ponsel itu.

Di tempat lain, Leonard duduk di ruang kerjanya sambil menatap foto yang sama. Senyum tipis muncul di wajahnya, setelah puluhan tahun rahasia yang selama ini dikubur akhirnya siap dibuka.

"Datanglah, Bintang," gumam Leonard sambil mengetuk meja dengan jarinya. "Malam ini, kau akan tahu bahwa Rania bukan hanya kelemahanmu."

"Apa perlu kami siapkan tempatnya, Tuan?"

"Siapkan semuanya. Malam ini mereka akan tahu bahwa ayah Bintang mati bukan karena dendam mafia." Leonard tersenyum semakin lebar.

"Lalu karena apa, Tuan?" Pria itu menunduk.

Leonard menatap foto bayi dalam gendongan ayah Bintang itu. Matanya berkilat penuh kebencian.

"Karena anak itu," jawab Leonard pelan.

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya hari ini
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya dong torku
Glastor Roy
seru kali torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!