NovelToon NovelToon
Istri Bisu Pilihan Ibu

Istri Bisu Pilihan Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pembantu / Orang Disabilitas / Cinta setelah menikah / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: penyuka ungu

​Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.

​Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebaikan yang mengetuk hati

Setelah menuntaskan pekerjaannya merapikan bunga-bunga segar di seluruh sudut lantai satu, Azizah melangkah menuju teras belakang, tepat di samping ruang laundry. Udara sore yang sejuk menyapa wajahnya. Di tangannya, ia membawa keranjang berisi bunga-bunga lama yang tadi ia angkut dari vas-vas ruang tamu.

Walaupun Ezra sudah memberi instruksi jelas untuk membuang semua bunga lama itu. Namun bagi Azizah, membuang bunga-bunga yang kondisinya masih cukup segar terasa seperti sebuah tindakan yang sia-sia dan kejam. Ia tidak tega melihat keindahan itu berakhir di tempat sampah begitu saja.

Dengan teliti, Azizah mulai menyusun bunga-bunga itu satu per satu. Ia mengambil tali rami yang sudah ia siapkan, lalu mengikat pangkal batangnya dengan rapi. Satu per satu bunga ia gantungkan di dinding teras belakang dengan posisi terbalik.

Ia sedang melakukan proses pengeringan bunga secara alami. Setidaknya, mereka tidak akan terbuang dan masih bisa dibuat sesuatu yang bermanfaat.

Azizah menatap deretan bunga yang kini bergelantungan rapi di dinding. Ia tersenyum puas. Ia merasa telah memberikan kehidupan kedua bagi bunga-bunga itu, dan memberinya kepuasan batin di tengah hari yang melelahkan.

Sementara di dalam rumah, Ezra melangkah keluar dari kamarnya dengan kondisi yang jauh lebih baik. Rasa sakit yang melilit perutnya sejak semalam sudah menghilang. Berganti dengan tenaga yang perlahan pulih berkat bubur buatan Azizah. Ia berjalan menuruni tangga dengan membawa nampan berisi mangkuk kosong, sambil menatap ke sekeliling.

Ezra terpaku sejenak. Bunga-bunga segar yang baru saja dikirimkan tadi sudah tertata dengan sangat cantik di dalam vas. Ia harus mengakui, cara kerja Azizah sangat rapi dan teliti. Ada kesan berbeda di rumahnya hari ini. Namun saat sampai di dapur dan menaruh nampan di wastafel, ia tidak menemukan sosok wanita itu. Ia segera tersenyum miring, menepis rasa ingin tahu yang sempat muncul. Untuk apa mencari wanita yang selama ini tidak ingin ia lihat?

Ia lebih memilih untuk kembali ke kamar dan menikmati hari libur dadakannya.

Namun saat kakinya melintasi koridor yang mengarah ke area belakang, langkahnya terhenti. Ia menangkap siluet Azizah yang tengah sibuk di dekat ruang laundry. Rasa penasaran yang sempat ia tepis justru menarik kakinya mendekat.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya dingin, begitu melihat Azizah sedang menggantung bunga-bunga lama dengan posisi terbalik.

Azizah tersentak, gerakannya terhenti seketika. Ia segera mengambil ponselnya dari saku celemek, lalu mengetik dengan cepat.

‘Aku sedang mengeringkannya.’

“Aku tahu. Maksudku, aku sudah menyuruhmu membuang semuanya. Tapi apa yang kau lakukan sekarang?” desak Ezra.

Azizah kembali mengetik.

‘Aku tidak tega membuangnya, jadi aku ingin membuat sesuatu yang lebih bermanfaat.’

Ezra melipat tangan di dada, senyum meremehkan tercetak jelas di wajahnya, “Memangnya apa yang bisa dilakukan wanita bisu sepertimu? Semua ini hanya sampah bunga. Memangnya apa yang bisa kau buat?”

Mendengar sindiran tajam itu, dada Azizah terasa sesak. Ia merasa kesal. Padahal, saat Ezra menikmati buburnya tadi, ia sempat berpikir pria itu mulai melunak dan manusiawi. Namun sejak pesan dari Sienna masuk, Ezra kembali ke setelan awal, menjadi pria arogan yang menyebalkan.

Tanpa ragu, Azizah mengetik lagi dengan penuh penekanan.

‘Aku ingin membuat apa itu bukan urusanmu! Bukankah kau sudah tidak menginginkan bunga-bunga ini? Jadi sekarang terserah aku ingin melakukan apa pada mereka!’

Ezra berdecak sebal setelah membaca kalimat yang cukup berani itu.

“Ya! Ya! Lakukan sepuasmu!” bentaknya, lalu memutar tumit dan kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah menghentak.

Sepeninggal Ezra, Azizah mengusap dadanya. Pria itu benar-benar plin-plan. Sifatnya berubah-ubah seiring detak jam. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengembalikan ketenangannya. Ia harus fokus pada kreasinya sendiri. Ia tidak peduli Ezra menentangnya. Bunga-bunga itu akan memiliki kehidupan kedua di tangannya.

......................

Malam harinya, selepas melaksanakan shalat maghrib di kamarnya, Azizah tidak langsung bangkit. Ia duduk bersimpuh di atas sajadah dan menengadahkan tangannya.

Pikirannya kembali melayang pada sosok Sienna. Ia tahu, kehadiran wanita itu adalah badai yang nyata bagi rumah tangganya. Ia teringat kembali senyuman Ezra saat membaca pesan wanita itu tadi siang. Sebuah kebahagiaan yang tidak pernah Ezra tunjukkan padanya.

‘Ya Allah, ya Rabb...

Terima kasih atas napas dan kekuatan yang Kau berikan hari ini. Terima kasih karena telah memberiku kesempatan untuk merawatnya, walaupun hanya melalui semangkuk bubur.

Ya Allah, aku hamba-Mu yang lemah. Hati ini terasa begitu sesak setiap kali ia menyebut nama wanita itu, setiap kali aku melihat binar bahagia di matanya karena orang lain. Aku tahu aku bukan pilihannya, aku tahu kehadiranku di sini hanyalah beban baginya.

Engkau tahu segala isi hatiku, meski lidahku tidak mampu mengucapkannya. Aku memohon kepada-Mu, berilah aku kesabaran yang seluas samudra. Jangan biarkan hatiku berubah menjadi pahit karena sikapnya yang dingin.

Mengenai Sienna...’

Azizah menjeda sejenak, dadanya terasa sakit.

‘Aku memohon kepada-Mu, jika kehadirannya memang adalah ujian untukku, maka kuatkanlah imanku. Namun jika hubungan mereka bukanlah jalan yang Engkau ridhoi untuk kebaikan Ezra, maka tunjukkanlah jalan yang terang bagi kami. Sadarkanlah suamiku, lembutkanlah hatinya agar ia bisa melihat kebenaran yang tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.

Ya Allah, aku tidak meminta untuk segera dicintai. Aku hanya meminta agar rumah tangga ini memiliki arah. Jika memang ia bukanlah orang yang ditakdirkan untuk menemaniku menua, maka ikhlaskanlah hatiku sejak sekarang. Tapi jika aku harus berjuang, maka berikanlah aku kunci untuk melunakkan hatinya.

Jadikanlah aku wanita yang sabar, bukan wanita yang menyerah. Jagalah harga diriku, walaupun di matanya aku hanyalah wanita bisu yang tidak berarti.

Aku serahkan segala urusanku kepada-Mu. Hanya kepada-Mu aku mengadu, karena hanya Engkau yang benar-benar mengerti apa yang tersimpan di balik diamku.’

Azizah menundukkan kepala. Air mata yang sejak tadi tertahan kini mulai menetes di atas sajadahnya.

Sementara itu, Ezra merasa perutnya kembali meronta. Rasa kenyang dari dua mangkuk bubur Azizah siang tadi sudah lama menghilang, berganti dengan rasa lapar yang menuntut untuk segera diisi. Ia melangkah menuju dapur dengan langkah yang cukup santai, namun ia tetap bersiaga. Ia sempat mengintip ke dalam dapur, memastikan apakah Azizah sedang berada di sana atau tidak.

Ternyata dapur itu kosong. Begitu pula dengan meja makan yang masih bersih dan tidak menyajikan apa pun.

Apa wanita itu marah karena masalah bunga tadi? Batinnya.

Ezra mendengus pelan. Ia merasa konyol karena harus mencari keberadaan Azizah hanya karena urusan perut. Namun egonya tidak mengizinkannya untuk memasak sendiri atau memesan makanan luar sementara ia tahu ada Azizah di dalam rumah ini.

Ezra kemudian melangkah menuju kamar Azizah. Tanpa mengetuk atau mengucapkan permisi, ia membuka pintu itu begitu saja.

“Azizah, aku lapar. Siapkan—“

Kalimatnya tertahan di tenggorokan. Ezra mematung di ambang pintu.

Pemandangan di depannya membuat lidahnya kelu. Azizah sedang bersimpuh di atas sajadah dengan mukena putih yang membingkai wajahnya. Ia sedang khusyuk dalam doanya dan dengan kepala tertunduk dalam. Dan yang paling mengejutkan Ezra adalah tetesan air mata yang jatuh membasahi pipi wanita itu. Azizah yang selama ini selalu menunjukkan gestur tenang, kuat, dan terkadang berani melawannya, kini tampak begitu rapuh di hadapan Sang Maha Pencipta.

Ezra terdiam, menatap punggung Azizah yang naik-turun menahan sesak.

Apa hanya karena masalah bunga tadi, dia menjadi sesensitif itu sampai menangis seperti ini? Pikirnya dengan dahi mengernyit.

Enggan mengganggu lebih jauh, Ezra perlahan menarik kembali tangannya yang tadi memegang gagang pintu. Ia menutup pintu itu kembali dengan sangat pelan, memastikan tidak ada derit yang terdengar, lalu membalikkan badan dan melangkah menjauh dari kamar itu.

Setelah Azizah menyelesaikan do’anya, ia buru-buru mengusap sisa air mata di pipinya. Kemudian melipat mukena dan sajadahnya. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia melangkah keluar kamar dengan ponsel yang setia digenggamnya.

Begitu kakinya menginjak area dapur, ia tertegun. Pemandangan di depannya benar-benar langka. Ezra sudah duduk manis di kursi meja makan dan terlihat seperti sedang menunggunya.

“Kau tidak memasak untuk makan malam?” tanya Ezra tanpa basa-basi, tatapannya lekat meneliti wajah Azizah yang kini sudah bersih dari jejak air mata. Lagipula, ia juga tidak ingin bertanya kenapa Azizah menangis di sela-sela ibadahnya.

Azizah tidak segera menjawab. Ia mengetik di ponselnya dengan jemari yang sedikit gemetar karena rasa terkejut yang masih tersisa.

‘Kau mau makan masakanku lagi? Kupikir yang tadi siang hanya karena terpaksa saat sakit.’

Ezra berdecak keras. Wanita itu benar-benar tidak paham kode atau mungkin memang sengaja memancing emosinya.

“Kau sebenarnya pura-pura bodoh atau memang benar-benar polos? Aku lapar! Cepat siapkan makanan,” perintahnya dengan tangan terlipat di dada. Nada suaranya ketus namun tidak segalak biasanya.

Azizah tidak langsung beranjak. Ada sesuatu yang mengganjal dan perlu ia pastikan sebelum hatinya kembali terayun dalam ketidakpastian. Ia kembali mengetik dengan cepat.

‘Jadi kau menyukai masakanku? Dan mulai sekarang kau rutin makan di rumah?’

Ezra memalingkan wajah, merasa tersudut oleh pertanyaan lugas itu. Ia berdehem pelan dan membuang muka sebelum menjawab dengan gumaman singkat.

“Hm.”

Seulas senyum tulus terbit di bibir Azizah.

Alhamdulillah, ya Allah. Suamiku akhirnya menerimaku, walaupun hanya lewat masakanku, batinnya penuh rasa syukur.

Tanpa menunggu perintah kedua, ia segera bergegas menuju meja dapur. Sebenarnya, ia sudah selesai memasak sejak sebelum azan Magrib tadi, sehingga ia hanya perlu memanaskannya sebentar dan menyajikannya di hadapan Ezra.

Di sisi lain meja makan, Ezra terus menatap punggung Azizah yang selalu terbalut hijab panjang. Ia menduga wanita itu mungkin menganggapnya bodoh. Setelah mati-matian menolak masakannya selama ini, sekarang ia justru menagihnya. Ia menyalahkan lidahnya yang jujur dan tidak bisa diajak kompromi. Namun Ezra segera menegaskan pada dirinya sendiri. Ini hanya urusan makanan. Untuk urusan lain, kebenciannya pada Azizah masih tetap kokoh di tempatnya.

Azizah kemudian menata hidangan di meja makan dengan telaten. Malam ini, ia menyajikan capcay dan ikan goreng berbalut tepung yang renyah. Ia meletakkan dua piring, bakul berisi nasi, dan dua gelas air putih di meja makan itu.

Setelah itu, ia mengambil piring Ezra dan menyendokkan nasi untuk suaminya. Sebelum menyajikan lauk, Azizah menunjukkannya terlebih dahulu pada Ezra untuk memastikan porsinya sesuai.

“Tambah sedikit,” ucap Ezra singkat.

Azizah mengangguk patuh, menambahkan sedikit nasi lagi sebelum melengkapi piring itu dengan capcay dan ikan goreng. Ia kemudian menyajikannya dengan rapi di hadapan Ezra.

Ezra memperhatikan setiap gerakan istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan, “Apa kau perlu melayaniku sampai seperti ini? Mamaku saja tidak pernah mengambilkan makanan saat Ayahku masih hidup.”

Azizah yang hendak mengambil nasi untuk dirinya sendiri pun menghentikan gerakannya. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di meja, lalu mengetikkan sesuatu dengan tenang.

‘Sebenarnya hal itu bukan suatu kewajiban mutlak, tapi dianggap sebagai bentuk kebaikan. Yang dianjurkan dalam rumah tangga adalah suami-istri saling bahu-membahu dalam segala urusan. Jadi, jika seorang istri mengambilkan makanan untuk suaminya, sebaiknya suami juga memberikan timbal balik untuk menghargai atau berterima kasih. Karena hal itu merupakan amalan yang baik dan dapat mempererat hubungan.’

Ezra terdiam cukup lama setelah membaca penjelasan itu. Ada sesuatu yang merambat lembut di dadanya. Sebuah kesejukan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Pelajaran tentang hak dan kewajiban yang dibalut dalam ketulusan seperti ini tidak pernah ia dengar atau dapatkan dari siapapun selama ini.

Melihat Ezra yang mematung, Azizah kembali mengetik dengan senyum tipis.

‘Kenapa diam? Ayo makan.’

Ezra berdehem, mencoba memecah keheningan yang tiba-tiba terasa canggung. Ia mulai menyendok makanannya. Sekali lagi, lidahnya dimanjakan oleh rasa yang sama lezatnya dengan bubur siang tadi.

Azizah di seberang meja hanya bisa menunduk sambil menahan senyumnya. Ia bahagia melihat betapa lahapnya pria itu menghabiskan setiap suapan. Untuk sesaat, rumah yang selama ini terasa dingin itu tampak sedikit lebih hangat. Bahkan mereka terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya.

1
Lilik Juhariah
bagus banget ceritanya
Lilik Juhariah
suka ceritanya
Maulidia Okta
ah.... Melow Ya Thor...
Maulidia Okta
jadi ikut mewek /Sob/
Lilik Juhariah
bismillah moga Ezra menerima pernikahan yg yg menyebut nama Allah dan disaksikan para Malaikat, lelaki sejati adalah lelaki yg tak pernah ingkar janji
falea sezi
bkin pergi aja dah males bgt di injak2 terus
falea sezi
buat si bisu di sukain cogan lain😒 biar dia cmburu
falea sezi
laki sialannn😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!