Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja Logistik dan Hujan Timah
Bab 7: Belanja sabun dan Hujan Timah
Bagi Sloane Sterling, harga diri adalah mata uang termahal yang ia miliki. Ia bisa hidup dengan roti kering dan air keran, tapi ia tidak akan pernah sudi menerima sedekah. Itulah sebabnya, ketika Alistair Thorne mengajaknya keluar untuk "pengadaan inventaris kebersihan", Sloane sudah menyiapkan mental untuk bertarung.
"Kita tidak perlu ke Bond Street, Alistair! Supermarket di sudut East End juga punya sabun pel yang bagus!" teriak Sloane dari kursi penumpang Rolls-Royce yang kedap suara.
Alistair tetap menatap lurus ke depan, jemari tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit mengetuk setir dengan ritme yang sangat teratur. "Berdasarkan analisis laboratorium, permukaan marmer di kediaman saya membutuhkan cairan pembersih dengan pH netral yang diproduksi secara terbatas di Swiss. Cairan di East End... terlalu korosif."
"Korosif kepalamu! Itu hanya sabun!" Sloane mendengus, melipat tangannya di dada. "Kau hanya ingin pamer karena kau kaya, kan? Aku tidak mau memakai alat yang harganya lebih mahal dari harga diriku sendiri!"
Alistair tidak menjawab. Ia hanya memarkir mobil di depan sebuah butik perlengkapan rumah tangga premium yang lebih mirip galeri seni daripada toko sapu.
Di dalam toko, Sloane hampir pingsan melihat label harga sebuah sikat toilet. "Empat ratus poundsterling untuk sikat WC?! Apa sikat ini bisa membersihkan dosa-dosa masa lalumu juga?!"
Beberapa pelanggan kelas atas London menoleh dengan pandangan menghina ke arah Sloane yang berpakaian kasual dan berisik. Alistair menyadari hal itu. Matanya seketika mendingin, memancarkan aura predator yang membuat orang-orang di sekitar mereka langsung menunduk dan menjauh ketakutan.
"Saya akan membeli seluruh stok cairan pembersih seri ini," kata Alistair kepada pelayan toko dengan suara datar. "Dan kirimkan satu set vakum robotik terbaru ke alamat saya. Sekarang."
"HEI! Siapa yang menyuruhmu membeli semuanya?!" Sloane menarik lengan jas Alistair. "Aku hanya butuh satu botol! Satu!"
"Membeli dalam jumlah besar lebih efisien secara logistik, Nona Sterling," Alistair beralasan, meskipun sebenarnya ia hanya ingin memastikan Sloane tidak perlu kekurangan apa pun. "Dan vakum itu akan membantu mengurangi beban kerja Anda yang... ceroboh."
"Aku tidak ceroboh! Aku hanya dinamis!" Sloane memprotes, namun wajahnya sedikit memerah saat Alistair membayar semuanya tanpa berkedip. "Dengar ya, Pak Bos. Aku akan mencatat ini sebagai utang perusahaan. Jangan harap ini cuma-cuma!"
Alistair hanya mengangguk kaku. "Terserah Anda."
Saat mereka berjalan kembali ke mobil dengan beberapa tas belanjaan, Alistair tiba-tiba berhenti. Instingnya yang sudah terlatih bertahun-tahun di dunia bawah tanah menangkap sesuatu yang tidak beres. Sebuah motor sport hitam melambat di seberang jalan, dan sebuah van abu-abu terparkir di sudut yang menutupi pandangan.
"Nona Sterling, masuk ke mobil sekarang. Kunci pintunya. Jangan keluar sampai saya instruksikan," suara Alistair berubah drastis—dingin, tajam, dan tidak terbantah.
"Hah? Kenapa? Aku belum beli biskuit—"
"SEKARANG!" Alistair mendorong Sloane masuk ke kursi belakang dan membanting pintunya.
Detik berikutnya, van abu-abu itu terbuka. Tiga pria bersenjata keluar dan mulai memuntahkan peluru ke arah Rolls-Royce Alistair.
RATATATAT!
Kaca mobil itu tahan peluru, namun dentuman logam yang menghantam bodi mobil terdengar mengerikan. Sloane berteriak, bukan karena takut tertembak, tapi karena melihat tas belanjaan berisi cairan pembersih mahalnya pecah tertembak di trotoar.
"SABUNKU! KALIAN BAJINGAN! ITU SABUN MAHAL!" teriak Sloane dari dalam mobil.
Alistair berlindung di balik pintu mobil, menarik pistolnya. Dengan tenang, ia melepaskan tiga tembakan presisi. Dua penyerang tumbang seketika. Namun, penyerang ketiga mencoba melemparkan sebuah granat asap untuk mengacaukan pandangan Alistair.
Sloane, yang melihat penyerang itu mendekati kaca mobilnya, merasa harga dirinya terinjak-injak. Beraninya mereka merusak hari belanjaku!
Tanpa pikir panjang, Sloane membuka pintu mobil sisi lain, merangkak keluar, dan menyambar sebuah botol cairan pembersih lantai yang masih utuh di lantai mobil. Ia melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah pria bersenjata itu.
PLAK!
Botol itu pecah tepat di depan kaki si penyerang, membuat lantai trotoar menjadi sangat licin karena cairan konsentrat sabun yang tumpah. Si penyerang yang sedang berlari kehilangan keseimbangan, kakinya tergelincir hebat, dan ia jatuh terjungkal dengan kepala menghantam pinggiran trotoar hingga pingsan.
Alistair, yang baru saja akan menembak, tertegun melihat pemandangan itu. Ia menatap si penyerang yang terkapar karena sabun pel, lalu menatap Sloane yang sedang berdiri dengan napas memburu dan wajah galak.
"Itu... teknik yang sangat tidak ortodoks," gumam Alistair kaku.
"Dia pantas mendapatkannya! Dia mengotori jalanan dengan peluru dan merusak sabunku!" Sloane berteriak, mengacungkan tinjunya ke arah pria yang sudah pingsan itu.
Beberapa menit kemudian, anak buah Alistair datang untuk membereskan lokasi. Alistair berdiri di samping mobil, memeriksa apakah ada peluru yang menembus tangki bensin. Ia tampak sangat serius dan berbahaya, sampai Sloane mendekatinya.
"Alistair Thorne!"
Alistair menoleh. "Ya, Nona Sterling? Apakah Anda mengalami trauma psikologis akibat serangan—"
"LIHAT JASMU!" Sloane menunjuk ke bahu Alistair. Ada noda oli dari pintu mobil yang menempel di jas mahalnya saat ia berlindung tadi. "Kau merusak jasmu sendiri! Kenapa kau tidak hati-hati?! Jas ini harganya bisa buat makan orang sekampung!"
Alistair menatap noda oli itu, lalu menatap Sloane yang kini sibuk mengelap jasnya dengan tisu basah sambil terus mengomel. "Ini hanya noda kecil..."
"Kecil katamu?! Oli itu musuh utama serat kain, Tuan Kaku! Kau ini ketua gangster atau apa, sih? Bisa berkelahi tapi tidak bisa menjaga kebersihan jas!" Sloane terus mengomel sambil menyeret Alistair masuk ke mobil. "Cepat pulang! Aku harus segera merendam jas ini sebelum nodanya permanen!"
Alistair Thorne hanya bisa duduk kaku di kursi kemudi, membiarkan Sloane mengomel di sampingnya. Para anak buah Alistair yang melihat kejadian itu hanya bisa saling lirik dengan wajah pucat, tak percaya bos mereka yang ditakuti baru saja "diculik" oleh asisten rumah tangganya sendiri karena masalah noda oli.
Alistair menoleh sedikit ke arah Sloane. Ia melihat gadis itu masih tampak kesal, tapi tangannya gemetar sedikit—tanda bahwa sebenarnya ia tadi ketakutan. Alistair mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu menepuk pelan kepala Sloane dengan cara yang sangat kaku.
"Anda... melakukan pekerjaan yang baik dengan sabun itu. Parameter keamanan saya terbantu," kata Alistair formal.
Sloane tertegun, wajahnya memerah sampai ke telinga. Ia segera memalingkan muka. "Tentu saja! Jangan pikir aku hanya bisa menyapu! Tapi jangan harap aku akan memaafkanmu soal noda oli ini!"
Alistair tidak menjawab, tapi senyum tipis yang hampir tidak terlihat muncul di wajahnya. Dunia mungkin menganggapnya berbahaya, tapi bagi Sloane, ia hanyalah seorang pria kaku yang terus-menerus mengotori jasnya sendiri. Dan anehnya, Alistair sangat menyukai kenyataan itu.
To be continued.....