Laura, seorang gadis kota yang mandiri, menemukan belahan jiwanya pada Arka ketika mereka bekerja di tempat yang sama. Cinta mereka yang kuat membawa keduanya ke jenjang pernikahan. Namun, kebahagiaan itu mulai terkikis saat Laura setuju untuk ikut Arka pindah dan tinggal di kampung halamannya.Sejak hari pertama, kehidupan Laura berubah menjadi penuh air mata. Ibu mertuanya, Rohaya, tidak pernah menyukainya. Rohaya selalu mencari-cari kesalahan Laura, mulai dari cara memasak, mengurus rumah, hingga hal-hal kecil lainnya. Laura tidak pernah tahu alasan di balik kebencian mendalam ibu mertuanya tersebut. Di sisi lain, Arka adalah suami yang setia. Arka selalu pasang badan dan mati-matian membela Laura setiap kali Rohaya menyudutkan istrinya.Di balik sifat ketat dan kejamnya, Rohaya menyimpan trauma dan dendam masa lalu yang kelam terhadap "orang kota". Saat Rohaya sedang hamil dulu, suaminya yang bernama Arman berselingkuh dengan seorang wanita kota bernama Sinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ellin Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Salah Sasaran
...****************...
Suasana ruang tamu masih dipenuhi ketegangan setelah Arman berdiri dan menghentikan pertengkaran itu.
Tak ada yang benar-benar tenang.
Laura berdiri di dekat sofa dengan mata sembab.
Nisa memegang tangan putrinya erat.
Dion masih menahan amarahnya.
Arka berdiri di sisi Laura, seperti benteng yang tak ingin membiarkan siapa pun melukainya lagi.
Sementara itu,
Rohaya berdiri dengan dada naik turun.
Tatapannya tajam.
Penuh emosi yang selama ini ia tekan sendiri.
Arman menatap istrinya.
“Sudah cukup, Rohaya. Jangan terus menyalahkan Laura.”
Kalimat itu justru membuat emosi Rohaya semakin memuncak.
“Jangan membelanya lagi!”
Suara Rohaya meninggi.
Semua orang terdiam.
Ia menatap Arman dengan mata yang mulai basah.
“Sejak awal kamu selalu seperti ini! Selalu membuat aku terlihat salah!”
Arman menghela napas.
“Ini bukan soal benar atau salah—”
“Tapi ini soal luka!”
bentak Rohaya.
Tangannya gemetar.
Bertahun-tahun ia menyimpan semuanya.
Menelan semua rasa sakit sendirian.
Dan hari itu,
semuanya seperti meledak sekaligus.
Rohaya menatap Laura.
Tatapan itu penuh campuran marah,
benci,
dan luka yang tidak pernah sembuh.
“Kamu tahu kenapa aku tidak pernah bisa menerima kamu?!”
Laura membeku.
Dadanya langsung sesak.
Air mata mulai menggenang lagi.
Rohaya melangkah mendekat.
“Karena kamu mengingatkanku pada perempuan itu!”
Ruangan mendadak sunyi.
Semua orang menatap Rohaya.
Arman langsung menegang.
“Rohaya—”
Tapi Rohaya sudah terlalu jauh.
Suara yang selama ini terkunci akhirnya keluar begitu saja.
“Perempuan kota itu! Perempuan yang pernah jadi selingkuhan suamiku!”
Kalimat itu menggema di ruang tamu.
Dan waktu seperti berhenti.
Laura membelalak.
Nisa dan Dion saling menatap.
Arka membeku.
Bella yang sejak tadi diam pun terkejut.
Bahkan Rohaya sendiri…
langsung syok dengan ucapannya.
Tangannya perlahan menutup mulut.
Seolah ia baru sadar apa yang baru saja ia katakan.
Tatapannya kosong.
Ia tidak pernah berniat membuka itu.
Tidak seperti ini.
Tidak di depan semua orang.
Tidak di depan Laura.
Arman menunduk pelan.
Wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang.
Ruangan begitu sunyi,
sampai suara napas terasa jelas.
Laura berdiri tanpa mampu bergerak.
Semua potongan yang selama ini terasa aneh,
perlahan mulai menyatu.
Tatapan benci Rohaya.
Sindiran tentang perempuan kota.
Kebencian yang terasa terlalu dalam untuk sekadar alasan sepele.
Semua ternyata bukan benar-benar tentang dirinya.
Tapi tentang masa lalu.
Tentang luka yang belum pernah sembuh.
Air mata Laura jatuh perlahan.
Namun kali ini,
bukan hanya karena sedih.
Tapi karena rasa tidak adil yang begitu besar.
Suaranya bergetar saat akhirnya ia bicara.
“Jadi… selama ini…”
Ia menatap Rohaya dengan mata penuh luka.
“Semua ini… karena aku berasal dari kota?”
Rohaya tidak menjawab.
Ia hanya diam.
Matanya berkaca-kaca.
Laura melangkah maju.
Suaranya semakin pecah.
“Karena seseorang yang bahkan bukan aku?”
Nisa menggenggam tangan putrinya,
tapi Laura perlahan melepaskannya.
Ia ingin bicara sendiri.
Untuk pertama kalinya.
Selama ini ia diam.
Selalu menahan.
Selalu mencoba mengerti.
Tapi hari itu,
ia tidak sanggup lagi.
Air matanya jatuh deras.
“Lalu kenapa aku yang harus menanggungnya?!”
Suara itu pecah.
Penuh luka.
Penuh kecewa.
Semua orang terdiam.
Laura menangis sambil menatap Rohaya.
“Aku datang ke rumah ini karena aku mencintai Arka… bukan untuk menggantikan seseorang dari masa lalu Ibu.”
Dadanya naik turun.
Suaranya semakin gemetar.
“Aku tidak pernah menyakiti Ibu. Aku tidak pernah berniat mengambil apa pun dari Ibu. Aku hanya ingin diterima…”
Ia menghapus air matanya kasar.
“Tapi setiap hari aku diperlakukan seperti musuh. Seolah aku harus membayar dosa orang lain.”
Kalimat demi kalimat menghantam ruangan itu.
Bahkan Bella yang biasanya dingin,
kali ini hanya bisa diam.
Laura menatap Rohaya lurus.
“Kalau Ibu terluka karena orang lain… kenapa aku yang harus dihukum?”
Tidak ada jawaban.
Karena memang tidak ada jawaban yang cukup.
Rohaya berdiri membeku.
Wajahnya pucat.
Selama ini ia merasa dirinya benar.
Merasa semua perlakuannya punya alasan.
Tapi mendengar pertanyaan itu langsung dari Laura…
ia merasa seperti ditampar oleh kenyataannya sendiri.
Bahwa benar—
Laura tidak bersalah.
Dan selama ini,
ia melampiaskan luka pada orang yang salah.
Air mata Rohaya akhirnya jatuh.
Bukan karena marah.
Tapi karena rasa sesak yang tiba-tiba menghancurkannya dari dalam.
Ia menatap Laura,
namun tidak sanggup berkata apa-apa.
Karena untuk meminta maaf pun,
rasanya terlalu terlambat.
Arman melangkah pelan.
“Rohaya…”
Namun Rohaya mundur.
Ia menggeleng pelan.
Tidak.
Bukan sekarang.
Ia tidak sanggup.
Tidak sanggup melihat tatapan Laura.
Tidak sanggup menghadapi kenyataan.
Tidak sanggup membuka luka yang selama ini ia kubur.
Tanpa berkata apa-apa lagi,
Rohaya berbalik.
Langkahnya cepat menuju kamar.
“Bu—”
panggil Arka.
Tapi Rohaya tidak berhenti.
Pintu kamar tertutup keras.
BRAK!
Dan suara itu seperti penutup dari rahasia bertahun-tahun.
Ruang tamu kembali sunyi.
Tidak ada yang langsung bicara.
Laura berdiri diam,
masih menangis dalam pelukan Arka.
Arka memeluk istrinya erat.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa.
Karena semua ini jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Nisa mengusap air matanya sendiri.
Dion menatap pintu kamar Rohaya dengan wajah keras,
namun bahkan ia pun tahu—
luka itu nyata.
Arman duduk perlahan di kursi.
Tubuhnya terasa berat.
Rahasia yang ia kira sudah terkubur,
akhirnya kembali menghancurkan semuanya.
Dan untuk pertama kalinya,
semua orang di rumah itu tahu—
bahwa akar dari semua penderitaan ini
bukanlah Laura.
Melainkan dosa lama
yang tidak pernah benar-benar selesai.
Sementara di balik pintu kamar,
Rohaya terduduk di lantai.
Menangis sendirian.
Seperti dulu.
Seperti bertahun-tahun lalu.
Saat pertama kali hatinya dihancurkan.
Namun kali ini,
yang paling menyakitkan bukan masa lalu itu.
Melainkan kesadaran bahwa—
selama ini,
ia telah menjadi orang yang sama menyakitkannya.
(Bersambung Episode 15)
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...