Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Julian dan Cinta Sebelah Pihak
Ruang Audiensi Utama terasa seperti gua es yang megah. Langit-langitnya tinggi, dihiasi lukisan fresko yang menggambarkan kemenangan-kemenangan militer Mobelle di masa lalu—lukisan yang kini tampak ironis mengingat keadaan kerajaan yang sedang rapuh. Lantai marmer hitam mengkilap memantulkan cahaya dingin dari jendela-jendela tinggi, menciptakan ilusi kedalaman yang tak berujung.
Floren duduk di atas takhta, punggungnya tegak kaku. Ia mengenakan jubah resmi berwarna ungu tua dengan bordiran benang emas yang berat, simbol otoritas mutlak. Di tangannya, ia memegang tongkat kerajaan yang dingin, bukan karena ia membutuhkannya untuk berdiri, tapi karena ia membutuhkan sesuatu untuk dipegang agar tangannya tidak gemetar.
Di hadapannya, dua sosok berdiri.
Sosok pertama adalah Perdana Menteri Vane. Wanita paruh baya dengan wajah yang masih cantik namun keras, rambutnya disanggul rapi tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Gaunnya mahal, terbuat dari sutra impor, dan senyumnya... senyumnya terlalu lebar, terlalu sempurna, hingga terlihat palsu. Matanya yang sipit menatap Floren dengan kalkulasi dingin, menilai setiap reaksi kecil Ratu mudanya.
Di sampingnya, sedikit mundur ke belakang, berdiri Julian.
Amel—di dalam diri Floren—terkejut saat melihat Julian secara langsung untuk pertama kalinya. Dalam memori Floren, Julian hanyalah bayangan samar, seorang pria lembut yang sering menangis. Tapi kenyataannya, Julian sangat tampan. Wajahnya halus, dengan mata besar berwarna cokelat madu yang penuh dengan kelembutan dan kesedihan. Rambutnya hitam pekat, jatuh rapi di dahi. Ia mengenakan tunik putih sederhana, berbeda dengan kemewahan ibunya, yang membuatnya tampak seperti bunga lili di tengah semak berduri.
Yang membuat Amel tidak nyaman bukanlah ketampanan Julian, melainkan tatapannya. Julian tidak menatap lantai. Ia menatap Floren. Tatapan itu intens, penuh dengan kerinduan yang menyakitkan, dan cinta yang sudah mengakar jauh sebelum Floren merebut takhta. Itu adalah tatapan seseorang yang melihat kekasihnya, bukan ratunya.
"Yang Mulia," suara Vane memecah keheningan. Suaranya manis seperti madu, tapi ada racun tersembunyi di dalamnya. "Kami datang untuk melaporkan keberhasilan operasi Delta-7, dan juga... untuk menyampaikan keprihatinan Dewan Menteri mengenai dekrit baru Anda."
Floren tidak menjawab segera. Ia membiarkan hening itu memanjang, memaksa Vane menunggu. Teknik psikologi dasar: siapa yang berbicara pertama kali setelah keheningan panjang, seringkali berada dalam posisi defensif.
Vane bergeser gelisah, tapi tetap mempertahankan senyumnya. Julian menurunkan pandangannya ke lantai, seolah malu akan ketegangan antara ibunya dan Ratu.
"Keberhasilan?" akhirnya Floren berbicara. Suaranya bergema di ruangan luas itu, dingin dan datar. "Jenderal Kaelia melaporkan bahwa unit gerilya kita berhasil menjebak kavaleri Zenthoria. Itu adalah kemenangan taktis. Namun, laporan Komandan Vane menyebutkan bahwa intelijen kita 'gagal'. Saya ingin mendengar penjelasan Anda, Perdana Menteri. Mengapa intelijen kita gagal, padahal strategi kita berhasil?"
Vane menghela napas dramatis, seolah-olah beban dunia ada di pundaknya.
"Ah, Yang Mulia. Dunia perang itu rumit. Komandan Vane—maaf, anak buah hamba—melihat peluang dan mengambilnya. Bahwa intelijen mungkin kurang akurat adalah hal yang wajar dalam kabut perang. Yang penting adalah hasilnya: musuh kalah. Hamba percaya, Ratu yang bijak akan menghargai hasil, bukan mengubur diri dalam detail birokrasi yang membosankan."
Manipulasi, batin Amel. Dia mencoba membuatku terlihat picik jika aku menuntut akuntabilitas.
Floren tersenyum tipis. Senyuman yang tidak mencapai matanya.
"Saya menghargai hasil, Perdana Menteri. Tapi saya juga menghargai kebenaran. Jika intelijen kita lemah, kita harus memperbaikinya. Jika Komandan Vane berbohong tentang sumber informasinya, itu adalah pengkhianatan. Saya akan meminta Jenderal Kaelia melakukan investigasi internal. Sampai itu selesai, promosi untuk unit tersebut ditunda."
Wajah Vane mengerut sejenak, topeng kesempurnaannya retak. Matanya menyipit tajam.
"Yang Mulia..." Vane memulai, nadanya lebih keras sekarang. "Penundaan ini bisa dianggap sebagai ketidakpercayaan terhadap keluarga bangsawan tertua di Mobelle. Keluarga yang telah melayani takhta selama tiga generasi. Sejak masa Nenek Anda, Ratu Elara yang bijaksana..."
Vane sengaja menyebut nama Nenek Floren, Ratu Elara, pemimpin yang dikenal lembut dan diplomatis. Sebuah perbandingan terselubung: Nenekmu lembut dan dicintai. Ibumu kejam dan dibenci. Dan kamu? Kamu aneh.
"Nenek saya memang bijaksana," potong Floren, suaranya tiba-tiba menjadi tajam seperti pisau. "Tapi kelembutan beliau dieksploitasi oleh menteri-menteri yang korup, yang menyebabkan kelaparan di provinsi selatan sepuluh tahun lalu. Saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kebijaksanaan tanpa ketegasan adalah kelemahan. Dan saya tidak lemah."
Ruangan itu hening. Bahkan penjaga di sudut ruangan tampak menahan napas.
Vane menelan ludah. Ia tidak expecting (mengharapkan) Floren akan menyerang balik dengan referensi sejarah yang spesifik. Ia menggigit bibirnya, lalu mengubah taktik.
"Tentu saja, Yang Mulia. Hamba hanya ingin memastikan stabilitas kerajaan." Vane melirik sekilas ke arah Julian, lalu kembali menatap Floren. "Ngomong-ngomong... tentang stabilitas. Ada urusan pribadi yang ingin hamba sampaikan. Putra hamba, Julian, telah lama mengabdikan dirinya pada Istana. Dia masuk ke dalam Harem Kerajaan bukan karena paksaan, tapi karena cinta yang tulus pada Yang Mulia. Sejak ia masih remaja, hatinya hanya terpaut pada Anda."
Vane membuat gerakan tangan, mengundang Julian untuk maju.
Julian mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat, tapi matanya bersinar dengan tekad. Ia melangkah maju, perlahan, menjaga jarak. Ia berhenti tepat di garis imajiner dua meter dari anak tangga takhta.
"Yang Mulia," suara Julian lembut, bergetar sedikit. "Ibuku benar. Aku... aku mencintaimu. Bukan karena gelarmu. Tapi karena siapa dirimu. Aku tahu kau menderita. Aku tahu beban yang kau pikul. Aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya ingin... berada di dekatmu. Untuk mendukungmu."
Julian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Ia membukanya. Di dalamnya, ada kalung perak dengan liontin berbentuk bunga edelweis—bunga yang tumbuh di puncak gunung tertinggi Mobelle, simbol ketahanan dan cinta abadi.
"Ini... ini milik ibumu dulu," kata Julian pelan. "Dia memberikannya padaku sebelum dia... sebelum kudeta. Dia bilang, 'Berikan ini pada Floren ketika dia siap untuk menerima cinta.' Aku menyimpannya selama bertahun-tahun. Sekarang, aku ingin mengembalikannya padamu. Sebagai tanda bahwa... ada seseorang yang peduli padamu, bukan pada takhtamu."
Amel merasa dadanya sesak. Kalung itu indah. Kata-kata Julian tulus. Ia bisa merasakan kejujuran dalam suara pemuda itu. Julian bukan seperti ibunya. Julian murni.
Tapi memori Floren berteriak. Sentuhan. Kedekatan. Keterikatan.
Dan aturan Amel sendiri: Dua meter.
Jika ia menerima kalung itu, ia memberikan celah. Ia mengakui validitas perasaan Julian. Ia membuka pintu bagi manipulasi Vane lebih lanjut. Dan yang paling penting, ia melanggar prinsip isolasinya sendiri.
Floren menatap kalung itu. Lalu ia menatap mata Julian. Ia melihat harapan di sana. Harapan yang akan ia hancurkan.
"Pangeran Julian," kata Floren, suaranya dingin, tanpa emosi.
Julian tersenyum harap.
"Dekrit Dua Meter berlaku untuk semua pria. Tanpa pengecualian. Termasuk Anda."
Senyuman Julian membeku.
"Anda mengatakan Anda mencintai saya," lanjut Floren. "Cinta sejati menghormati batas. Cinta sejati tidak memaksakan kehadiran. Jika Anda benar-benar peduli pada kesejahteraan saya, Anda akan menghormati aturan yang saya buat untuk ketenangan pikiran saya."
Floren menunjuk kalung itu dengan tongkat kerajaannya, tanpa menyentuhnya.
"Simpan kalung itu. Atau buanglah. Saya tidak menerimanya. Dan saya tidak membutuhkan 'dukungan' emosional dari Harem. Saya membutuhkan loyalitas. Jika Anda ingin membuktikan loyalitas Anda, lakukanlah dengan bekerja. Sekolah yang akan saya dirikan membutuhkan kepala sekolah. Apakah Anda bersedia mengajar, Pangeran Julian? Atau Anda lebih memilih bermain drama cinta di ruang takhta?"
Julian tertegun. Wajahnya pucat pasi. Air mata menggenang di matanya, tapi ia menahannya. Ia menunduk dalam-dalam.
"Saya... saya akan mengajar, Yang Mulia," bisik Julian, suaranya pecah. "Saya akan membuktikan diri saya berguna. Bukan sebagai kekasih. Tapi sebagai subjek setia Anda."
Vane tampak murka. Bibirnya bergetar karena menahan amarah. Ia memandang Floren dengan kebencian murni.
"Yang Mulia sangat... efisien," desis Vane. "Hamba berharap efisiensi ini tidak sampai mengeringkan kemanusiaan Anda."
"Kemanusiaan saya terjaga, Perdana Menteri," jawab Floren tenang. "Dengan memastikan tidak ada favoritisme. Sekarang, kalian boleh pergi. Saya punya pekerjaan lain."
Vane menarik lengan Julian kasar. "Ayo, Julian. Kita sudah membuang waktu Ratu yang berharga dan penting."
Mereka berbalik dan berjalan keluar. Julian menoleh sekali lagi sebelum pintu tertutup. Tatapannya penuh luka, tapi juga ada kilatan baru: rasa hormat yang pahit. Ia tidak mendapatkan cinta Floren. Tapi ia mendapatkan tujuan.
Saat pintu tertutup, Floren menghembuskan napas panjang. Tangannya gemetar hebat di bawah jubahnya. Ia merasa seperti monster. Ia baru saja menghancurkan hati seorang pemuda yang tulus.
Tapi ia tahu itu perlu.
Dari balik tirai samping, Kaelia muncul. Ia telah mendengarkan semuanya.
"Keras," komentar Kaelia datar. "Anda mematahkan hati putra Perdana Menteri di depan ibunya. Itu bukan strategi politik biasa, Yang Mulia. Itu deklarasi perang pribadi."
Floren menegakkan punggungnya lagi, menolak menunjukkan kelemahan di hadapan satu-satunya orang yang ia anggap setara.
"Itu diperlukan, Jenderal," jawab Floren, suaranya kembali stabil meski tenggorokannya kering. "Vane menggunakan anaknya sebagai alat tawar-menawar emosional. Jika saya menerima kalung itu, atau bahkan sekadar tersenyum, saya memberikan celah bagi Vane untuk mengklaim pengaruh atas keputusan saya. Saya harus memutus rantai itu. Sekarang."
Kaelia mendengus pendek, sebuah suara skeptis. "Dan hasilnya? Anda memiliki musuh yang lebih licik di Dewan Menteri, dan seorang pemuda yang hancur hatinya di Harem. Apa keuntungan strategisnya?"
Floren berdiri, berjalan turun dari anak tangga takhta hingga berada sejajar dengan Kaelia, namun tetap mempertahankan jarak dua meter yang sakral.
"Julian tidak hancur, Kaelia. Dia diberi tujuan," kata Floren tegas. "Saya menawarkannya posisi sebagai Kepala Sekolah Pertama untuk Pria di Mobelle."
Kaelia mengangkat alis, ekspresi wajahnya berubah dari skeptis menjadi bingung, lalu tertarik. Ia menyilangkan tangan di dada, otot-otot lengannya menegang di bawah seragam militer.
"Sekolah?" ulang Kaelia, seolah-olah Floren baru saja mengusulkan agar pasukan makan batu. "Anda ingin membuka sekolah... untuk pria? Di Mobelle? Di seluruh benua Aethelgard, tradisi kita jelas: Wanita memimpin, berperang, dan memutuskan hukum. Pria mengurus domestik, seni, dan harem. Mengajari mereka membaca peta atau strategi? Itu pemborosan sumber daya. Mereka secara biologis dan sosial dianggap lebih lemah, lebih emosional. Tempat mereka adalah di rumah, menjaga kenyamanan para pemimpin wanita."
Floren menatap Kaelia lurus-lurus. Ia tahu argumen ini akan datang. Ini adalah dogma global yang telah mengakar selama berabad-abad di semua kerajaan.
"Kelemahan itu adalah konstruksi sosial, Kaelia, bukan fakta biologis mutlak," kata Floren dingin. "Dan emosi, jika dikelola dengan pendidikan yang tepat, bisa menjadi empati—sesuatu yang sangat kurang di kalangan jenderal seperti Anda, maaf."
Kaelia tidak tersinggung. Justru, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia menyukai tantangan intelektual.
"Empati tidak menghentikan panah Zenthoria, Yang Mulia," balas Kaelia tajam. "Lalu, jelaskan logikanya. Mengapa membuang waktu dan emas untuk mengajari pria yang seharusnya hanya sibuk merawat kebun dan menjahit baju? Raja-raja di negara tetangga pun tidak pernah melakukan ini. Mereka menganggap pria sebagai properti atau hiasan."
Floren mengambil napas dalam-dalam. Ini saatnya menjual visinya. Bukan sebagai mimpi indah, tapi sebagai kebutuhan militer dan ekonomi.
"Karena kita kekurangan tenaga kerja terampil, Kaelia," jelas Floren. "Lihat laporan logistik minggu lalu. Kita kehilangan tiga bulan karena kurangnya juru tulis yang bisa menghitung stok gudang dengan cepat. Pria-pria di harem? Mereka kebanyakan bangsawan rendahan atau tahanan politik yang tidak berguna. Tapi jika mereka bisa membaca, menulis, dan berhitung, mereka bisa menjadi administrator, ahli obat-obatan, atau insinyur sipil."
Floren melangkah selangkah lebih dekat, matanya berkilat dengan intensitas.
"Dan dalam perang... tentara tidak hanya butuh otot. Mereka butuh orang yang bisa memperbaiki jembatan, meracik obat luka, dan membaca kode musuh. Dengan mendirikan sekolah, saya tidak menciptakan prajurit garis depan—itu masih domain wanita. Saya menciptakan pendukung perang yang efisien. Saya mengubah beban menjadi aset. Jika Mobelle menjadi kerajaan pertama yang memanfaatkan potensi pria secara maksimal, kita akan memiliki keunggulan logistik dan intelektual atas negara-negara lain yang masih membiarkan setengah populasi mereka 'menganggur' secara intelektual."
Kaelia diam. Ia memproses informasi itu. Matanya bergerak cepat, menghitung implikasi logisnya. Ia bukan politisi yang korup; ia adalah prajurit yang pragmatis. Jika sesuatu itu membuat pasukannya lebih kuat, dia akan mendengarkannya.
"Jadi," kata Kaelia perlahan, nada suaranya lebih rendah, lebih serius. "Anda ingin mengubah harem menjadi... pabrik administrator dan teknisi?"
"Saya ingin mengubah pria yang terpinggirkan menjadi pilar negara," koreksi Floren. "Julian akan menjadi guru pertama. Dia cerdas, lembut, dan dihormati oleh kaumnya. Jika dia berhasil, yang lain akan mengikuti. Dan jika Vane mencoba menggagalkannya, dia akan terlihat sebagai pengkhianat kemajuan kerajaan, bukan sekadar ibu yang dendam."
Kaelia menatap Floren lama. Ada keheningan yang tegang, di mana Kaelia sedang menimbang apakah Ratu mudanya ini gila atau jenius.
Akhirnya, Kaelia mengangguk. Satu kali. Tegas.
"Itu... radikal. Dan berbahaya," kata Kaelia. "Para Ratu di kerajaan tetangga akan menganggap Anda merusak tatanan alami dunia. Mereka akan menyebut Anda bid'ah."
"Biarkan mereka bicara," balas Floren. "Selama pasukan kita menang dan kas negara penuh, mereka akan iri, bukan menghina."
Kaelia melirik ke arah pintu tempat Julian keluar tadi.
"Tapi Julian..." gumam Kaelia, suaranya sedikit lebih lunak, meski masih kasar. "Dia rapuh. Mengajarnya mungkin akan memakan waktu. Apakah Anda yakin dia punya tulang punggung untuk menghadapi ejekan para menteri konservatif? Mereka akan menyebutnya 'sekolah budak'."
Floren tersenyum tipis. Senyuman dingin yang penuh keyakinan.
"Julian mencintai saya, Kaelia. Atau setidaknya, ia mencintai ide tentang saya. Untuk membuktikan bahwa cintanya bukan sekadar obsesi kosong, dia akan membakar dunia demi membuat sekolah ini berhasil. Saya tidak memanfaatkan kelemahannya. Saya memanfaatkan dedikasinya."
Kaelia tertawa kecil. Suara itu jarang, parau, dan tanpa humor, tapi nyata.
"Anda memang dingin, Yang Mulia. Menggunakan cinta seorang pemuda sebagai bahan bakar reformasi negara." Kaelia membungkuk singkat, kali ini dengan rasa hormat yang lebih dalam daripada sebelumnya. "Baiklah. Saya akan mengalokasikan sebagian anggaran militer untuk pembangunan gedung sekolah. Sebagai 'uji coba logistik'. Jika gagal dalam enam bulan, saya akan menutupnya dan Anda harus mengakui bahwa tradisi lama lebih baik."
Itu adalah taruhan. Dan Floren menerimanya.
"Diterima, Jenderal," kata Floren. "Siapkan kontraknya. Dan Kaelia..."
"Ya?"
"Terima kasih. Atas kejujuran Anda."
Kaelia sudah berbalik untuk pergi, tapi ia berhenti sejenak, menoleh lewat bahunya. Wajahnya keras, tapi matanya tidak lagi menyelidik dengan curiga.
"Jangan berterima kasih pada saya, Yang Mulia. Saya tidak melakukan ini untuk Anda. Saya melakukannya agar pasukan saya tidak kelaparan karena kesalahan hitung juru tulis yang bodoh. Dan karena... saya penasaran. Saya ingin melihat apakah Anda benar-benar bisa mengubah dunia, atau hanya tenggelam dalam ambisi sendiri."
Kaelia menghilang di balik tirai, meninggalkan Floren sendirian di ruang takhta yang luas.
Floren menghembuskan napas panjang. Langkah pertama telah diambil. Vane marah. Julian termotivasi. Kaelia skeptis tapi mendukung.
Sekarang, tantangannya adalah eksekusi. Floren berjalan menuju jendela besar di ujung ruangan. Di luar, langit mulai gelap. Kota Mobelle tidur, tidak menyadari bahwa aturan mainnya baru saja diubah selamanya.
Sekolah, batin Floren. Ini bukan hanya tentang pendidikan. Ini tentang membuktikan bahwa perubahan itu mungkin, bahkan di dunia yang menolak berubah.
Ia mengepalkan tangannya. Gemetar itu sudah hilang. Digantikan oleh tekad baja.
Permainan baru saja dimulai. Dan Floren Amelie siap memainkannya sampai akhir.