NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jebakan Dibalik Jamuan

Matahari pagi baru saja melintas di ufuk timur, menyinari halaman luas kediaman Buwana dengan cahaya keemasan yang tampak begitu indah namun terasa menyilaukan bagi Naura. Semalam, ia kembali tidak bisa memejamkan mata. Ancaman Dewa dan rencana jahat yang tergambar jelas di mata Sera kemarin sore terus berputar di kepalanya. Hatinya berdebar cemas, namun ia berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan memberi kepuasan apa pun kepada mereka dengan menunjukkan rasa takut atau kelemahan.

Dengan tangan yang sedikit gemetar namun gerakan yang tegas, Naura merapikan pakaiannya. Ia mengenakan gaun berwarna biru muda yang sopan namun tetap anggun, rambutnya disisir rapi dan diikat ke belakang, memperlihatkan wajah polosnya yang cantik namun tampak pucat karena kurang tidur. Di depan cermin, ia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya sendiri, lalu mengangguk pelan sebagai tanda memberi semangat pada diri sendiri.

"Kau bisa, Naura. Kau harus kuat," bisiknya pelan.

Pintu kamar terbuka perlahan, Bi Inah masuk membawa nampan berisi sarapan ringan. Wajah wanita tua itu tampak lebih cemas dari biasanya, kerutan di dahinya terlihat semakin dalam. Ia meletakkan nampan di meja, lalu segera mendekat ke arah Naura dengan suara berbisik.

"Nyonya... Nona Sera sudah datang setengah jam yang lalu. Dia sekarang sedang ada di ruang kerja bersama Tuan Dewa. Saya dengar dia membawa banyak dokumen penting, tapi... matanya tidak terlihat seperti orang yang sedang mengurus bisnis," ucap Bi Inah dengan nada khawatir. "Nyonya, hati-hati. Tatapan Nona Sera pagi ini jauh lebih tajam dan penuh kebencian dibandingkan kemarin. Saya rasa dia sudah menyiapkan sesuatu untuk Nyonya."

Naura tersenyum tipis, mengelus punggung tangan Bi Inah yang dingin. "Terima kasih, Bi Inah. Saya sudah menduganya. Tapi saya tidak bisa lari atau bersembunyi, bukan? Kalau itu yang dia inginkan, biarkan saja. Saya akan hadapi apa pun yang terjadi."

Tak lama kemudian, panggilan datang. Seorang pelayan lain mengetuk pintu dan menyampaikan perintah langsung dari Dewa: Naura harus segera datang ke ruang tengah, menyajikan minuman dan camilan untuk mereka berdua, dan tetap berada di sana untuk melayani sampai urusan mereka selesai.

Langkah kaki Naura terasa berat saat ia berjalan menuju ruang tengah. Setiap langkah terasa seperti berjalan menuju medan perang. Saat ia sampai di ambang pintu, pemandangan yang terlihat di sana membuat jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.

Dewa duduk santai di sofa besar berwarna cokelat tua, satu kaki disilangkan di atas kaki lainnya, wajahnya terlihat tenang namun berwibawa. Di sampingnya, sangat dekat, duduk Sera. Wanita itu mengenakan gaun berwarna merah menyala yang sangat mencolok dan seksi, rambutnya terurai indah, dan senyum manis yang tak pernah lepas dari bibirnya. Tangan Sera dengan santai dan akrab bertumpu di lengan jas Dewa, seolah-olah pria itu benar-benar miliknya dan Naura tidak ada harganya sama sekali.

Saat Naura masuk membawa nampan berisi teh hangat dan kue-kue, Sera mengangkat wajahnya, menatap Naura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum sinis yang tersembunyi.

"Ah, ini dia Nyonya Buwana kita yang cantik," ucap Sera dengan suara lembut namun penuh sindiran, cukup keras agar terdengar jelas ke seluruh ruangan. "Kau datang tepat waktu, Naura. Kami sudah menunggu. Angkasa sangat haus, tahu? Dia banyak bicara soal bisnis pagi ini. Dan kau... kan tugasmu melayani kami dengan baik, bukan?"

Dewa hanya melirik sekilas ke arah Naura, tatapannya dingin dan kosong, seolah wanita yang berdiri di depannya ini hanyalah pelayan biasa yang tidak punya hak istimewa apa pun.

"Letakkan di meja," perintah Dewa singkat, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada dokumen yang ada di tangannya, seolah keberadaan Naura sama sekali tidak penting.

Naura berjalan mendekat dengan hati-hati, menundukkan pandangannya. Ia meletakkan nampan di atas meja kaca rendah di depan mereka. Tangannya sedikit bergetar saat menuangkan teh ke dalam cangkir putih yang halus. Aroma teh melati yang harum menyebar ke udara, namun tidak mampu menghilangkan suasana yang penuh ketegangan itu.

"Jangan tumpah, ya... kalau sampai cairan ini mengenai dokumen penting kami, kau tahu kan akibatnya?" bisik Sera pelan, tepat saat Naura hendak meletakkan cangkir di depan Dewa.

Gerakan tangan Naura terhenti sejenak karena kaget, namun ia segera menguasai diri kembali dan meletakkan cangkir itu dengan aman. Naura berbalik hendak mundur berdiri di sudut ruangan seperti pelayan lain, namun suara Sera kembali menghentikannya.

"Tunggu dulu, Naura. Kenapa kau buru-buru sekali pergi? Kan kau istri Angkasa, mestinya kau duduk dan menemani kami bicara. Lagipula..." Sera menoleh ke arah Dewa, tersenyum manja sambil meremas lengan pria itu sedikit lebih erat. "...kan aku dan Angkasa sedang membicarakan rencana kerja sama besar yang akan menguntungkan keluarga Buwana. Kau juga bagian dari keluarga ini, meski... bagaimana pun caranya kau masuk ke sini. Kau harus tahu hal-hal begini, kan?"

Dewa mengangkat wajahnya, menatap Naura dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan tantangan di sana, seolah ia sengaja membiarkan Sera melakukan apa saja untuk melihat reaksi Naura.

"Duduk saja di sana," ucap Dewa pelan, menunjuk kursi tunggal yang agak jauh terpisah. "Dengarkan. Lihatlah bagaimana orang yang benar-benar punya kuasa dan kemampuan mengurus urusan besar. Mungkin kau bisa belajar sedikit saja, meski aku ragu kau paham apa-apa."

Kata-kata itu seperti jarum yang menusuk tepat ke dada Naura. Penghinaan yang halus namun menyakitkan. Namun, Naura menelan rasa sakit itu, duduk dengan tenang, dan menatap lurus ke depan. Ia tidak akan memberi kepuasan pada mereka dengan menangis atau marah.

Satu jam berlalu begitu saja. Sera terus berbicara dengan nada manja, tertawa kecil setiap kali Dewa berbicara, sesekali menyentuh tangan atau bahu Dewa dengan sangat akrab, berusaha memperlihatkan betapa dekat hubungan mereka di depan mata Naura. Dewa membiarkan saja, bahkan sesekali membalas senyum Sera, membuat hati Naura semakin terasa diremas-remas. Bagi Dewa, ini adalah bagian dari hukumannya. Menyakiti hati Naura dengan cara membuatnya cemburu dan merasa tidak berharga, sama seperti rasa sakit yang dulu ia rasakan.

Namun, di tengah percakapan yang terlihat santai itu, mata Sera terus bergerak, mencari celah untuk menjatuhkan Naura. Kesempatan itu datang lebih cepat dari yang ia duga.

Saat Dewa hendak mengambil dokumen yang ada di sisi meja dekat tempat duduk Naura, tanpa sengaja siku pria itu menyenggol gelas teh yang baru saja dituangkan Naura tadi. Gelas itu miring, dan teh hangat itu tumpah, membasahi sebagian dokumen yang ada di depan Dewa, serta sedikit mengenai lengan kemeja putih pria itu.

"Ah!" Dewa menarik tangannya cepat, wajahnya seketika berubah dingin dan marah.

Sera yang duduk di sampingnya langsung melompat berdiri, wajahnya berubah ngeri seolah baru saja terjadi bencana besar. Ia segera mengambil tisu, mengelap lengan Dewa dengan panik, sambil berteriak kaget.

"Aduh! Angkasa! Kemejamu basah! Dan dokumen ini... ini adalah dokumen perjanjian kerja sama senilai ratusan miliar rupiah! Dokumen asli yang tidak ada salinannya!" Sera berbalik menatap Naura dengan mata melotot penuh kemarahan pura-pura, suaranya meninggi tajam. "Naura! Apa yang kau lakukan?! Kau sengaja menuangkan teh terlalu penuh, kan?! Kau ingin merusak kerja sama kami? Kau ingin membuat Angkasa rugi besar? Kau benar-benar tidak tahu diri!"

Naura berdiri kaku, wajahnya pucat pasi. Ia melihat kejadian itu dengan jelas. Itu kecelakaan murni. Dewa yang menyenggolnya. Tapi cara Sera memutar fakta, dan ekspresi marah Dewa yang nyata... semuanya seolah menyalahkan Naura sepenuhnya.

"Saya tidak... saya tidak bermaksud begitu, Tuan Buwana. Itu kecelakaan, kau sendiri yang..." Naura mencoba membela diri, suaranya bergetar.

"Diam!" bentak Dewa keras, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Ia bangkit berdiri, menatap Naura dengan tatapan yang begitu penuh amarah dan kekecewaan, seolah dunia sudah berakhir. Ia menatap dokumen yang basah itu, lalu menatap lengan bajunya yang terkena noda cokelat.

"Kau benar-benar tidak berguna!" hardik Dewa tajam, langkahnya mendekat ke arah Naura hingga wanita itu mundur terpojok ke dinding. "Aku sudah bilang berkali-kali, lakukan tugasmu dengan benar! Tapi apa yang kau lakukan? Kau merusak dokumen penting, kau membuatku kotor, dan kau membuat keributan di rumahku! Apakah memang sifatmu ceroboh dan tidak becus seperti ayahmu? Selalu saja merusak apa yang berharga bagi orang lain!"

Kata-kata itu menghujam lebih dalam dari sekadar amarah. Dewa kembali membandingkannya dengan ayahnya, kembali menyamakan kesalahan kecil ini dengan dosa besar masa lalu.

Sera berdiri di samping mereka, tersenyum kemenangan yang tersembunyi di balik wajah cemasnya. "Angkasa, jangan marah terlalu keras, nanti kesehatanmu terganggu. Tapi... Naura memang sudah keterlaluan. Dia pasti sengaja, kan? Dia iri melihat kita akrab, dia tidak suka kita bahagia, jadi dia ingin merusak suasana. Seharusnya kau lebih tegas padanya, Angkasa. Dia butuh pelajaran agar tahu diri."

Dewa menatap Naura yang berdiri gemetar, matanya berkaca-kaca namun berusaha menahan air mata itu agar tidak jatuh. Di dalam hati Dewa, ada rasa bingung yang samar. Ia melihat ketakutan dan kejujuran di mata Naura, seolah wanita itu benar-benar tidak berniat buruk. Namun, rasa marah karena dokumen rusak, ditambah hasutan Sera, dan rasa benci yang sudah tertanam lama, membuatnya menutup mata pada kemungkinan itu.

"Kau dengar apa kata Sera?" ucap Dewa dingin, nadanya penuh penghakiman. "Dia lebih paham situasi ini daripada kau. Kau di sini hanya membawa masalah dan kerusakan. Mulai hari ini, kau tidak boleh lagi mendekati ruang kerja, ruang tamu, atau tempat aku bekerja. Kau akan dikurung di kamarmu sampai aku memanggilmu lagi. Dan jangan harap kau akan makan makanan enak. Kau akan makan apa yang pantas untuk orang yang tidak berguna sepertimu."

Dewa berbalik badan, melepaskan kemejanya yang basah dan melemparkannya ke lantai dengan kasar, seolah kemeja itu adalah Naura sendiri.

"Bawa dia pergi dari sini," perintah Dewa pada Bi Inah yang muncul cemas di ambang pintu. "Dan pastikan dia tidak keluar dari kamarnya. Kalau dia melanggar, kau yang akan menanggung akibatnya."

Bi Inah mengangguk ketakutan, segera mendekat dan menuntun Naura yang hampir tak sanggup berdiri karena lemas dan sakit hati. Saat melewati Sera, wanita itu berbisik pelan di samping telinga Naura dengan senyum yang sangat mengerikan.

"Permainan baru saja dimulai, Nyonya Buwana. Dan kau baru saja kalah di babak pertama. Tunggu saja, masih banyak kejutan lain yang lebih menyakitkan yang sudah aku siapkan khusus untukmu."

Naura berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, hatinya hancur lebur. Ia merasa sangat sendirian, sangat tidak adil, dan sangat sakit. Dewa tidak mau mendengar penjelasannya. Dewa langsung menuduhnya, langsung menyamakan ia dengan ayahnya, dan lebih percaya pada kata-kata wanita lain daripada istrinya sendiri.

Di dalam ruangan yang kini kembali sunyi, Sera tersenyum puas melihat kepergian Naura. Ia berbalik menatap Dewa yang sedang duduk kembali, mengusap wajahnya dengan kasar.

"Maafkan aku, Angkasa. Aku jadi membuatmu marah," ucap Sera manja, kembali mendekat. "Tapi kau lihat sendiri sifatnya. Dia memang tidak beruntung. Kau harus lebih keras padanya, agar dia sadar posisinya."

Dewa tidak menjawab. Ia menatap dokumen yang basah itu, lalu menatap pintu tempat Naura pergi tadi. Ada rasa berat yang aneh di dadanya. Ada suara kecil di benaknya yang berbisik: Mungkin dia benar-benar tidak sengaja. Mungkin kau terlalu keras padanya.

Namun, Dewa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran itu. Dia anak Hadi Zafira. Dia musuh. Dia harus disiksa. Jangan lemah, Angkasa. Jangan jatuh hati pada musuhmu sendiri.

Tapi semakin ia berusaha menepisnya, semakin ia teringat wajah Naura yang sedih dan terluka tadi, dan entah mengapa rasa sakit itu terasa menular ke dalam hatinya sendiri.

 

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!