NovelToon NovelToon
Surat Dari Cafe Senja

Surat Dari Cafe Senja

Status: tamat
Genre:Fantasi / Misteri / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis Singkat:*

Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.

Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.

Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

*Bab 7: Penerbitan dan Pulang*

Tiga bulan berlalu.

Hujan di Jogja udah ganti kemarau,

tapi meja 7 tetap jadi tempat paling ramai di Kafe Senja—meskipun cuma rame oleh dua orang.

_Senja yang Tertunda_ selesai di 217 halaman.

Buku catatan Rani juga penuh. Halaman terakhirnya cuma satu kalimat tulisan Revan:

_“Untuk Rani, aku nggak lupa. Aku cuma belajar hidup lagi.”_

Malam itu mereka tutup kafe lebih awal.

Mas Bayu bawa kue bolu kukus, katanya “perayaan kecil”.

Alya ngeliatin file di laptopnya, masih nggak percaya.

“Selesai,” gumamnya.

“Beneran selesai.”

Revan ngangguk.

“Kamu ngelakuinnya, Alya.”

"kamu hebat"

Alya ketawa kecil, matanya berkaca.

“Kalau nggak ada meja 7, nggak bakal selesai.”

Mas Bayu yang dari tadi diem tiba-tiba angkat tangan.

“Eh, ngomong-ngomong… aku kirimin naskah kalian ke temen aku di Jakarta. Editor lama aku.”

Alya langsung kaku.

“Mas…”

“Santai. Nggak pake nama. Cuma naskah. Dia nggak tahu kok

siapa yang nulis.”

Mas Bayu nyodorin HP.

“Baru bales WA. Katanya… dia mau ketemu.”

---

Dua minggu kemudian, ada email masuk.

Subjeknya simpel: _Penawaran Penerbitan – Senja yang Tertunda_

Alya baca email itu 7 kali.

Mereka mau terbitkan. Royalti, kontrak, launching di Jakarta.

Revan lihat ekspresi Alya langsung ngerti.

“Kamu takut.”

Alya nutup laptop pelan.

“Aku nggak takut nulis. Aku takut ketemu orang-orang itu lagi. Editor yang bilang aku nggak jujur. Wartawan. Pembaca yang tahu nama Dara.”

Revan duduk di sebelahnya.

“Terus?”

“Terus aku nggak mau kabur lagi,” jawab Alya pelan.

“Tapi aku juga nggak tahu cara buat diem di tempat.”

Mas Bayu nyaut dari belakang bar.

“Waktu Dara dulu, dia juga takut. Tapi dia bilang, ‘Kalau aku nggak muncul, berarti aku ngasih menang ke rasa takutku.’”

Revan ngangguk.

“Jadi gimana? Kita ke Jakarta?”

Alya diem lama. Ngeliat meja 7. Ngeliat Revan. Ngeliat kafe kecil yang udah jadi rumah.

“Ke Jakarta,” katanya akhirnya.

“Tapi nggak sendiri.”

---

Hari launching tiba.

Ballroom hotel di Jakarta penuh. Nama _Alya Maharani_ terpampang di banner besar.

Alya berdiri di backstage, napasnya nggak beraturan.

Revan ada di sampingnya, pakai kemeja rapi yang aneh banget buat ukuran barista.

Mas Bayu di baris depan, bawa buku catatan Rani.

“Siap?” tanya MC.

Alya genggam tangan Revan.

“Siap.”

Ia naik ke panggung. Lampu menyilaukan. Suara tepuk tangan berdengung.

Ia buka mulut, suaranya gemetar di kalimat pertama:

“Aku Alya. Dan ini bukan cerita tentang kehilangan.

Ini cerita tentang pulang.”

---

Selesai sesi tanya jawab, seorang wanita tua mendekati Alya.

Matanya basah.

“Namaku Bu Sari,” katanya.

“Dara… dia murid les nulis aku dulu. Dia titip pesan buat kamu.”

Bu Sari nyodorin amplop cokelat kecil.

Di luarnya tulisan tangan Dara:

_Untuk Alya kecil, buka kalau kamu udah berani._

Alya nggak buka di tempat. Ia simpan.

Malam itu, di kamar hotel, ia buka amplop itu.

Isinya cuma satu kalimat:

> _Halaman kosong itu milikmu. Isi sesukamu. Aku bangga._

---

Tiga hari setelah launching, mereka balik ke Jogja.

Kafe Senja sepi seperti biasa.

Alya taruh buku _Senja yang Tertunda_ yang baru terbit di meja 7.

Di halaman pertama, ia tulis tangan:

> _Untuk Revan.

> Terima kasih sudah jadi alasan aku pulang.

> —A_

Revan baca itu, terus naruh buku Rani di sebelahnya.

Di halaman terakhir, ia tulis:

> _Untuk Alya.

> Terima kasih sudah ngajarin aku mulai lagi.

> —R_

Mas Bayu masuk bawa dua gelas kopi.

“Meja 7 resmi pensiun ya?”

Alya dan Revan saling lihat, terus ketawa bareng.

“Nggak,” kata Alya.

“Meja 7 nggak pensiun. Meja 7 jadi tempat buat nulis bab baru.”

---

1
Nobitaku
baca dari awal sampai akhir mewek mulu, gimana ini thor
Febriana Hanifah: huaaa maaf ya qhaqha ceritanya melow 🥺
total 1 replies
Murti Ningsih
sampai disini ceritanya lumayan bagus
Febriana Hanifah: halo kak, Terimakasih sudah membaca Karya saya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!