dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Pelan-Pelan Menjadi Kebiasaan
Pagi itu terasa aneh ah sangat aneh justru, san dr. Nayla Azzura membencinya. Sebab untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dengan rutinitas yang sama ia mendapati dirinya, menunggu sesuatu yang seharusnya tidak penting.
Menunggu hal kecil yang bahkan terasa memalukan untuk diakui, sebuah chat dari seseorang yang terlalu sering mengganggu hidupnya akhir-akhir ini.
Arsen Mahardika
Nayla menghela nafas panjang sambil membuka map pasien dimeja kerjanya, tidak ada pesan bahkan jam sudah menunjukkan pukul 08.15. Biasanya laki-laki itu sudah mengirim pesan sesuatu, entah sapaan pagi, entah pertanyaan bodoh seperti " dokter udah sarapan?" atau " hari ini jangan galak-galak ya 😀".
Menyebalkan tapi sekarang tidak ada sunyi... Dan itu aneh sangat aneh, tangannya tanpa sadar meraih ponselnya lalu berhenti di udara.
Ya Tuhan, Nayla....
Ngapain juga nunggu chat dari pasien .
Nayla langsung meletakkan ponsel kembali sedikit lebih keras, tidak masuk akal sama sekali sampai akhirnya ketukan pintu terdengar.
Tok... Tok... Tok...
" Masuk..."
Pintu terbuka dan seperti biasa dr. Celine sang sahabat masuk tanpa izin dengan kopi ditangannya.
" Selamat Pagi, dokter dingin..." sapa dr. Celine.
" Hmmm... Ganggu deh..." Nayla melirik malas.
" Tapi cantik kaaannn...."
" Kalau gak penting, keluar aja gih..." usir Nayla.
Celine terkekeh kecil lalu duduk santai di kursi depan meja, tatapannya langsung menyipit penuh rasa curiga.
" Kamu kenapa sih, cantikkkkkk...." tanya Celine.
" Kenapa apanya?"
" Ihhh akhir-akhir ini beda banget"
" Biasa aja tuh" Nayla kembali fokus ke laptop.
" Enggak yaaa...." Celine menyandarkan tubuhnya ke kursi.
" Kamu lagi nunggu sesuatu yaa .... Ngakuuuuu" rengek Celine.
Nayla berhenti mengetik... Sedetik... Dua detik... Lima detik... Lalu kembali pura-pura sibuk.
" Enggak..."
" Cowokkkk yaaa... Pasien kah?"
" Cel...." Nayla langsung memijat pelipisnya.
" Oke fix cowok, pasien itu lagi" tebak Celine cepat.
" Tuhan... Kenapa perempuan ini terlalu pintar membaca" lirih Nayla yang masih terdengar oleh Celine.
" YA AMPOOONNNN... NAYLA BENAR-BENAR ADA PROGRESS..." Celine langsung membelalak.
" Pelan-pelan Cel..." Nayla langsung menatap tajam.
" Terus kenapa muka kamu kaya orang lagi nunggu?" Celine seolah tidak ingin menghentikan keponya.
" Tidak ada yang nunggu apapun Celine, itu cuma asumsi kamu aja" Nayla menghela nafasnya pelan.
" Oke kalau aku ambil handphone kamu sekarang pasti isi chat dia paling atas kan?" selidik Celine dengan senyuman jahilnya.
Dan itu membuat Nayla semakin kesal pada dirinya.
" Dia cuma terlalu banyak bicara" gumam Nayla akhirnya.
" Oooooooo...." Celine menyeringai.
" Dia mengganggu dan menyebalkan "
" Ooooooo...."
" Terlalu percaya diri..."
" Oke fix kamu mulai suka" Celine terlihat serius dengan wajahnya.
" Ngacooo" jawaban Nayla terlalu cepat, defensif dan Celine tahu itu.
Karena Nayla selalu seperti ini kalau sedang menyangkal sesuatu, namun sebelum sempat menggoda lagi ponsel Nayla tiba-tiba saja berbunyi.
Refleks matanya langsung turun dan nama itu akhirnya muncul Arsen Mahardika dan sialnya jantung Nayla kini berdetak sedikit lebih cepat.
" Selamat Pagi dokter galak 😀... Maaf telat chat karena dari meeting. Udah sarapan belum?"
Hening dua detik... Tiga detik... Celine langsung menyeringai lebar.
" OHHHHH AKHIRNYA YANG DITUNGGU DATENG JUGA....!!!!"
" Berisik...." Nayla refleks membalikkan ponselnya.
" Cieee langsung dilihat cieeee" dengan jahil Celine terus menggoda.
" Aku cuma baca, Cel"
" Cieeeeeeeee..."
" Keluar Cel... Keluar..." usir Nayla.
" Lanjutkan perjuangan cinta kalian yaaaaa...." Celine tertawa puas menuju pintu.
" CELINE....!!!"
Namun perempuan itu sudah pergi sambil tertawa kecil, ruangan kembali sunyi dan Nayla membenci fakta bahwa sudut bibirnya sedikit terangkat sedikit saja, tangannya mulai mengetik lalu berhenti.
" Apa perlu aku balas? Ahh tidak usah... Tapi tidak sopan juga"
Akhirnya Nayla mengetik singkat membalas pesan Arsen.
" Sudah..."
Balasan datang kembali lebih cepat.
" Syukurlah 😉, kalau dokter belum makan nanti saya bawakan lagi"
Nayla langsung menghela nafasnya seolah merasa lega.
" Ganggu banget " namun anehnya gangguan itu mulai terasa familiar.
Mahardika Group
Arsen sedang berada ditengah meeting besar, ruangan yang sudah penuh layar presentasi dengan beberapa direksi tampak serius membahas proyek. Namun fokus Arsen tidak sepenuhnya disana, karena ponselnya baru saja berbunyi dan ada satu nama yang membuat mood nya langsung membaik.
dr. Nayla
Senyuman kecil itu langsung terbit di wajahnya ketika ada balasan pesannya, Bima sang sekretaris melirik aneh.
" Pak, kenapa senyum sendiri?" tanya Bima setengah berbisik.
" Bim, dia balas chat saya..." jawab Arsen santai tapi tidak menutup rasa bahagianya.
" dokter itu?" tanya Bima.
" Hmmmm..." Arsen mengangguk santai.
" Waahhh..." Bima menghela nafasnya pelan.
" Kenapa, Bim?"
" Bahaya ini, Pak"
" Kenapa bahaya?" tanya Arsen bingung.
" Bapak sudah seperti anak SMA jatuh cinta" jawab Bima.
Arsen tertawa kecil, mungkin benar karena sejak bertemu perempuan dingin itu semuanya terasa aneh. Arsen jadi selalu ingin tahu apakah Nayla sudah makan atau belum, merasa capek atau tidak, hari ini pulang jam berapa ? Bahkan hal kecil sekalipun terasa penting bagi dirinya... tapi semua itu terasa sangat menyenangkan.
Siang hari.
Rumah sakit terasa lebih sibuk dari biasanya, Nayla baru saja selesai menangani pasien ketika seorang perawat masuk dengan tergesa-gesa.
" dokter Nayla, ada kiriman"
" Lagi?" tanya Nayla heran.
" Iya, dok..." perawat itu menaruh kiriman diatas meja, dengan ekspresi yang tengah menahan senyum.
Paper bag besar itu kini membuat Nayla tidak perlu menebak isinya, tapi sudah pasti dari Arsen.
" Tolong taruh aja disitu, sus.."
Perawat itu kini pergi sambil tersenyum kecil, begitu ruangan sepi Nayla langsung membuka paper bag perlahan. Terlihat makanan hangat, buah potong, vitamin, dan sticky note kecil. Tulisan yang sudah mulai terasa familiar.
" Buat dokter yang suka lupa istirahat, jangan sakit, ya. Saya tidak suka lihat dokter capek. --- Arsen.
Nayla merasa dadanya terasa sedikit hangat, dan itu membuatnya semakin takut karena perhatian kecil seperti ini biasanya menjadi awak dari sesuatu. Dan sesuatu itu selalu berakhir buruk, bayangan masa lalu itu kembali muncul.
Ibunya... Rumah yang hancur, Ayahnya yang diam-diam menangis, dan janji yang tidak pernah ditepati membuat semua orang pergi pada akhirnya.
" Jadi, kenapa harus mulai nyaman? "
Ponselnya kembali berbunyi lagi.
" Makanannya jangan dibuang ya 😉"
Entah kenapa untuk pertama kalinya, Nayla membalas lebih cepat.
" Terimakasih"
Di sisi lain kota Arsen hampir salah membaca.
" Dia bilang terimakasih, bukansatu kata galak".
Arsen langsung tersenyum lebar sampai-sampai Bima meliriknya bingung.
" Pak, kenapa bahagia banget kayaknya"
" Kayaknya saya hari ini menang, Bim" Arsen tertawa kecil.
Malam hari untuk pertama kalinya Nayla membawa pulang makanan pemberian seseorang, Ayahnya langsung mengernyitkan keningnya.
" Tumben bawa makanan?"
" Dari rumah sakit, Yah" bohong Nayla.
Ayahnya hanya mengangguk namun saat masuk kamar ponselnya kembali berbunyi.
" dokter hari ini capek?"
Nayla membaca lama lalu membalas.
" Lumayan"
Balasan datang dengan cepat.
" Kalau capek cerita aja, saya siap menjadi pendengar yang baik 😉"
Nayla terdiam lama, sudah sangat lama tidak ada yang menawarkan hal sesederhana itu. Mendengar tanpa meminta apapun dan itu... Terasa terlalu nyaman, dan terlalu bahaya.
Namun malam ini untuk pertama kalinya Nayla tidak buru-buru menjauh.
" Good night, Pak Arsen"
Balasan itu cepat datang kembali.
" Ya Tuhan... Akhirnya tidak dipanggil pasien lagi 😭... Good night juga, dokter Nayla jangan mimpiin saya, Ya. Biar saya saja yang mimpiin dokter ❣️".
Dan untuk pertama kalinya Nayla tertawa kecil sendiri dikamar, pelan namun nyata. Meski jauh didalam dirinya ia mulai takut, karena laki-laki itu pelan-pelan mulai menjadi kebiasaan.