NovelToon NovelToon
Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Fantasi / Bertani / Slice of Life
Popularitas:37.3k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan Baru untuk Kendi Penyuling Jiwa

"Kau mau memborong seluruh batu zamrud ini?!" Jessica menatap Banyu dengan mata terbelalak tak percaya. "Kau tidak sedang bercanda, kan?"

"Aku sangat serius," jawab Banyu dengan ekspresi wajah yang sangat meyakinkan. "Aku mau membeli semuanya. Untuk harganya... bagaimana kalau aku bayar persis sama dengan harga modal ayahmu saat membelinya dulu?"

Sejujurnya, belakangan ini Jessica sudah sangat banyak membantunya. Ditambah lagi, kedekatan dan kemesraan yang terjalin di antara mereka belakangan ini membuat Banyu sama sekali tidak keberatan jika gadis itu sedikit diuntungkan. Karakter dasar Banyu memang seperti itu; ia tidak pernah pelit apalagi tega memeras orang terdekatnya. Andaikan penjual batu zamrud ini adalah orang asing atau lebih parah, seseorang yang pernah mencari gara-gara dengannya Banyu dijamin akan menekan harganya serendah mungkin, tak peduli meski si penjual menangis darah karena rugi bandar. Namun untuk Jessica, ia rela membayar lebih.

Reaksi Jessica sama sekali tidak mengecewakan ekspektasi Banyu. Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku tidak bisa menerimanya! Harga itu terlalu tinggi. Kalau aku menjualnya padamu dengan harga segitu, itu namanya aku menipu dan memeras uangmu!"

Banyu tertawa pelan. "Lho, kan kamu sendiri yang bilang kalau nilai taksirannya lebih rendah dari harga belinya. Aku membelinya dengan kesadaran penuh, jadi mana bisa dibilang menipu? Ayolah, aku benar-benar butuh batu-batu zamrud ini. Anggap saja kau membantuku mengabulkan keinginanku, ya?"

Jessica masih menatap Banyu dengan tatapan setengah curiga, mencoba mencari kebohongan di wajah pria itu. Setelah yakin Banyu seratus persen serius, ia akhirnya berkompromi. "Baiklah, aku bersedia menjualnya padamu. Tapi harganya bukan 4 Juta Dolar, melainkan 3 Juta Dolar saja!"

"Eh? Kalau begitu kan kamu yang rugi bandar?" tanya Banyu keheranan.

Jessica menatapnya dengan serius. "Kau lupa dengan kata-kataku waktu itu?"

Banyu baru tersadar. Ternyata Jessica masih berpegang teguh pada prinsipnya; gadis Amerika yang super independen ini sejak awal sudah menegaskan pantang menerima 'sedekah' dari Banyu, karena ia ingin hubungan mereka berdiri di atas pijakan yang setara. Tentu saja, Banyu tidak mungkin membocorkan rahasia bahwa ia membeli zamrud-zamrud itu untuk berevolusi dengan Kendi Penyuling Jiwa. Jadi, ia memanfaatkan momen ini dan mengangguk setuju. "Oke deh, kalau begitu aku tidak akan sungkan-sungkan menerimanya!"

Melihat Banyu menyetujui syaratnya, senyum lega terukir di wajah cantik Jessica. Dengan begini, ia bisa mempertahankan martabat dan kemandiriannya tanpa merasa berutang budi atau menjadi beban bagi Banyu. Pola pikir gadis-gadis Amerika seperti ini memang sangat berbeda dengan wanita-wanita Asia pada umumnya.

Jessica menyerahkan koper perak itu kepada Banyu, lalu mengambil satu keping batu zamrud dari dalamnya. "Karena kau sudah memborong sebanyak ini, izinkan aku menyimpan satu keping ini sebagai kenang-kenangan."

Tentu saja Banyu tidak keberatan dengan permintaan sepele itu. Namun, saat telapak tangannya menyentuh gagang koper yang lumayan berat tersebut, ia mendadak teringat pada satu krisis krusial. Wajahnya sedikit memerah karena canggung saat ia berdeham, "Oh ya, ngomong-ngomong... baru ingat nih, aliran kas keuanganku sekarang lagi agak seret. Aku sepertinya tidak punya cukup uang tunai untuk membayarmu sekarang. Bagaimana kalau... sebagai gantinya, aku membayarnya menggunakan saham Peternakan Lilian?"

Banyu benar-benar tidak sedang mencari alasan. Kondisi keuangannya memang sedang babak belur! Untuk membeli lahan saja, ia sudah menggelontorkan lebih dari 30 Juta Dolar. Biaya konstruksi yang sedang berjalan pun menyedot anggaran gila-gilaan. Ditambah lagi, rencananya untuk menyulap lahan pertanian dan peternakan menjadi fully mechanized (mekanisasi penuh) menuntutnya untuk berbelanja alat-alat berat pertanian yang harganya tidak main-main. Belum lagi urusan memborong ribuan ekor ternak nanti. Dompetnya benar-benar menjerit!

Semakin dipikirkan, ide menukar batu zamrud dengan saham peternakan ini terdengar sangat brilian! Ia tersenyum lebar menatap Jessica. "Kau kan tahu sendiri bagaimana potensiku berbisnis. Menukar batu permata dengan saham peternakanku dijamin akan jadi investasi paling menguntungkan yang tak akan pernah membuatmu rugi. Dan tenang saja, kalau suatu saat nanti kau butuh uang cepat dan ingin menarik sahammu, aku akan langsung mencairkannya ke dalam bentuk tunai. Bagaimana menurutmu?"

Sebagai mantan jurnalis kuliner, Jessica adalah saksi hidup betapa fenomenal dan gilanya popularitas sayuran kualitas dewa milik Banyu. Ia sangat paham bahwa menukar tumpukan batu pembawa sial ini dengan kepemilikan saham di bisnis Banyu adalah kesepakatan yang sangat luar biasa menguntungkan baginya! Apalagi, dengan memberikan saham, itu artinya Banyu sudah menganggapnya sebagai 'orang dalam', bagian tak terpisahkan dari kerajaan bisnisnya!

Memikirkan hal itu, suasana hati Jessica meroket tajam. Ia menatap Banyu dengan senyum menggoda, "Kau serius? Tidak akan menyesal?"

Sejujurnya, selain karena faktor dompet yang sedang tipis, Banyu punya agenda tersembunyi lain di balik penawaran saham ini: ia butuh orang kepercayaan untuk memegang kendali operasional saat ia tidak ada di Amerika! Banyu tentu tidak mau hidupnya habis untuk bolak-balik melintasi samudra Pasifik. Namun, jika keputusannya ini bisa sekaligus membuat Jessica sebahagia ini, itu adalah bonus yang luar biasa. Banyu menjawab tanpa ragu, "Tentu saja tidak akan menyesal. Kita kan bukan orang asing lagi, ya kan?"

Kalimat penutup "ya kan?" itu sengaja Banyu ucapkan menggunakan bahasa Indonesia untuk menambah kesan intim. Telinga Jessica mungkin tidak memahami bahasanya, namun nada manja dan kedekatan emosionalnya sukses membuat hatinya meleleh. Keinginannya untuk bersikap jaim dan independen menguap tak berbekas. Tanpa pikir panjang lagi, ia mengangguk pelan. "Baiklah. Aku setuju."

"Luar biasa!" Banyu bersorak girang. "Mulai detik ini, kau resmi menjadi salah satu pemegang saham Peternakan Lilian! Jadi, saat aku kembali ke Indonesia nanti, tolong awasi dan bantu kelola peternakan kita ini, ya!"

Jessica yang cerdas seketika menangkap udang di balik batu. Ia mengerucutkan bibirnya pura-pura sebal. "Oh, jadi ini niat aslimu memberiku saham? Pura-pura baik padahal mau menjadikanku budak korporatmu, ya? Licik banget!"

"Hahaha, mana mungkin aku memperbudakmu!" Banyu tertawa geli. "Aku kan sudah mengangkat Mark jadi Manajer. Urusan operasional harian biar dia yang pusing. Aku hanya butuh sosok petinggi untuk membuat keputusan-keputusan strategis. Di benua ini, hanya kau satu-satunya orang yang paling bisa kupercaya seratus persen. Anggap saja kau membantuku, ya?"

Mendengar Banyu secara terang-terangan menyatakan bahwa dirinya adalah 'satu-satunya orang yang paling dipercaya', hati Jessica melambung tinggi. Ia tentu saja tidak menolak lagi dan resmi menerima status barunya sebagai Bos Saham peternakan. Di sisa perjalanan menuju Kota Wharton, mobil itu dipenuhi oleh tawa dan candaan renyah mereka berdua.

Setibanya di kota, Jessica tidak ikut kembali ke peternakan. Setelah sekian lama berkutat dengan teror utang ayahnya, hari ini semua bebannya telah sirna. Ia akhirnya bisa bersantai dan menerima undangan reuni dari teman-teman SMA-nya di kota. Malam ini, ia berencana menghabiskan waktu berpesta dengan para sahabat lamanya, jadi kemungkinan besar ia tidak akan pulang ke peternakan.

Bagi Banyu, keabsenan Jessica adalah kesempatan emas. Begitu tiba di rumah utama peternakan yang sudah sepi dari para pekerja, Banyu langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia meletakkan koper logam perak itu di atas kasur, lalu menumpahkan seluruh isinya.

Meski investasi ayahnya terbukti sebagai blunder fatal, Tuan Taylor nyatanya memborong zamrud dengan kualitas yang tak main-main. Walaupun warna hijaunya memiliki gradasi ketajaman yang berbeda-beda, seluruh batu tersebut memiliki potongan yang sangat rapi dan tingkat kejernihan yang tinggi. Ratusan keping zamrud berserakan di atas kasur Banyu, membiaskan kilau cahaya hijau yang menyilaukan mata di bawah sinar lampu kamar. Pemandangannya sungguh memukau.

Bahkan Banyu pun sempat terpukau sejenak menikmati kilau harta karun tersebut. Ia bergumam pelan, "Tiga juta Dolar... kalau dijejerin begini, wujudnya cakep juga ya."

Seandainya ada pakar gemologi (ahli batu mulia) yang mendengar ucapan Banyu, mereka pasti sudah muntah darah saking emosinya! Bisa-bisanya pemuda ini merendahkan keindahan mahakarya alam semesta dengan menyamakannya dengan tumpukan uang kertas! Benar-benar materialistis dan tak punya jiwa seni!

Tentu saja, di mata Banyu, batu-batu cantik ini tak lebih dari sekadar "camilan bergizi" untuk Kendi Penyuling Jiwanya. Selama berada di Indonesia, Banyu sudah sering merogoh kocek untuk memborong batu giok demi menyuapi kendinya. Bedanya, kali ini nilai "makanan"-nya jauh lebih fantastis.

Banyu melepaskan kalung Kendi Penyuling Jiwa dari lehernya, lalu mendekatkannya perlahan ke arah bongkahan zamrud yang berukuran paling besar. Seiring dengan menipisnya jarak, respons sang kendi semakin mengganas. Benda pusaka kuno itu bergetar hebat layaknya makhluk hidup yang sedang keranjingan, saking kuatnya getaran itu hingga membuat telapak tangan Banyu ikut kesemutan!

Ketika permukaan kendi akhirnya bersentuhan dengan batu zamrud, kilau cahaya hijau pada batu itu seketika meredup! Di detik berikutnya, selurus spektrum warna hijau di dalam batu itu seolah ditarik oleh daya hisap gravitasi yang tak kasat mata, mengalir deras bagaikan benang cahaya menuju ke dalam kendi. Hanya dalam hitungan detik, batu zamrud kualitas premium yang tadi berkilauan indah itu kehilangan seluruh warnanya, berubah menjadi serpihan material transparan yang dipenuhi retakan kasar di sekujur permukaannya.

Proses penyerapan ini ternyata sedikit berbeda dengan batu giok. Jika batu giok biasanya akan hancur lebur menjadi debu halus setelah diserap intisarinya, batu zamrud ini justru menyisakan residu kasar yang bentuk dan teksturnya persis seperti pecahan kaca murahan. Andaikan Banyu tidak menyaksikan prosesnya dengan mata kepala sendiri, ia tidak akan pernah percaya bahwa bongkahan kaca rongsokan ini beberapa detik yang lalu adalah batu zamrud bernilai miliaran rupiah!

Fakta bahwa kendi pusakanya sangat menggemari zamrud membuat Banyu luar biasa bersemangat. Ia langsung mendekatkan kendinya ke bongkahan zamrud kedua, ketiga, dan seterusnya. Ia sangat penasaran, evolusi spektakuler macam apa yang akan terjadi pada ruang dimensinya setelah menelan "prasmanan sultan" senilai puluhan miliar ini!

Kecepatan kendi dalam melahap intisari zamrud ternyata sedikit lebih lambat dibandingkan saat melahap batu giok. Untuk menghabiskan satu koper penuh zamrud itu, kendi tersebut membutuhkan waktu lebih dari satu jam! Namun, ada hal magis yang terjadi selama proses panjang itu. Seiring bertambahnya volume energi spiritual yang diserap, Banyu mulai merasakan sebuah koneksi batin yang sangat ganjil namun intim dengan pusaka tersebut. Ia secara telepati bisa merasakan 'emosi' yang dipancarkan oleh kendi itu perasaan puas, bahagia, dan rasa syukur yang meluap-luap, persis seperti orang kelaparan yang baru saja disuguhi pesta pora makanan lezat.

Fenomena luar biasa ini adalah buah manis dari latihan Banyu mengukir Liontin Daun Giok akhir-akhir ini. Saat memahat, Banyu memusatkan seluruh konsentrasi dan jiwanya pada setiap guratan, membuat koneksi spiritualnya dengan Kendi Penyuling Jiwa semakin dalam dan mengakar. Koneksi inilah yang memungkinkannya untuk mendeteksi fluktuasi mikroskopis dari sang kendi. Sebaliknya, kendi itu kini mampu merespons gelombang emosi Banyu. Ini adalah pertanda bahwa Banyu dan artefak gaibnya telah berevolusi mencapai tingkatan "Kesatuan Batin".

Jika dulu Banyu hanya menganggap kendi ini sebagai "alat tempur" atau "mesin pencetak uang", kini pandangannya berubah. Benda kuno ini seolah telah hidup dan perlahan melebur menjadi bagian integral dari eksistensi tubuhnya.

Meskipun otak Banyu belum mampu membedah sains di balik fenomena metafisik ini, instingnya mengatakan bahwa ini adalah lompatan evolusi yang sangat positif. Ia tersenyum lebar dan bergumam, "Tiga juta Dolar... worth it banget gila!"

Saking semangatnya, Banyu meraup sisa-sisa batu zamrud terakhir, menumpuknya menjadi satu gundukan kecil, dan langsung mengubur Kendi Penyuling Jiwa ke dalamnya. Begitu permukaannya bersentuhan dengan pusaka itu, warna hijau pada tumpukan zamrud itu memudar dengan cepat, ditakdirkan untuk berakhir menjadi gundukan 'pecahan kaca'.

Sekitar setengah jam kemudian, pesta pora itu akhirnya usai. Kendi Penyuling Jiwa telah menyapu bersih seluruh intisari zamrud hingga tak bersisa. Di atas tempat tidur Banyu, kini hanya tersisa tumpukan serpihan kasar transparan yang terlihat sangat menyedihkan. Siapa sangka, tumpukan "kaca beling" ini dulunya bernilai nyaris Rp 45 Miliar! Ini mungkin akan menjadi rekor pecahan kaca termahal sepanjang sejarah umat manusia!

Namun, Banyu sama sekali tidak peduli dengan rongsokan mahal tersebut. Ia langsung menyambar Kendi Penyuling Jiwa dan mengamatinya dengan mata berbinar-binar. Sesuai dengan pengalamannya selama ini, segala bentuk perluasan teritori atau evolusi di dalam ruang dimensi selalu terefleksikan terlebih dahulu pada relief lukisan yang terukir di permukaan luar kendi. Sebelum menelan zamrud, relief kendi tersebut hanya menampilkan penampakan garis pantai. Banyu sangat berharap bisa segera melihat lukisan baru yang menandakan evolusinya.

Namun, saat pandangan matanya jatuh pada permukaan kendi, alih-alih bersorak kegirangan... Banyu justru ternganga kaget setengah mati.

1
Noor hidayati
kayaknya authornya ini memang menyukai free sex
Sri Murtini
Sesuai takdir Siska adalah isteri pertamamu banyu ...mslh dayang lainya ikuti mengalir saja tp dgn pertimbangan istri pertama ya !!
Yusup Surya
sialan plot twist dalam plot twist
Sri Murtini
Banyu segera nikahi Siska siapa tahu ada banyu yunior yg singgah dirahim siska sblm zina berlanjut💪😍😍
wan auw
ahhh kurang bnyak thorrr
isnaini naini
stlh beratus ratus episode...akhirnys....emang author satu ini pnuh kjutan
Memyr 67
𝗆𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗇𝗒𝖺𝗄 𝗍𝗎 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎. 𝖽𝖺𝗁 𝖻𝖾𝗋𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝗄𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇𝖺𝗇 𝗌𝗂𝗌𝗄𝖺, 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖾𝖻𝗈𝗅 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗅𝖺𝗀𝗂? 𝗍𝖺𝗇𝗉𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗇𝗂𝗄𝖺𝗁𝖺𝗇? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋 𝗉𝗅𝖺𝗒𝖻𝗈𝗒 𝖼𝖺𝗉 𝗄𝖺𝗉𝖺𝗄.
Hardware Solution
akhirnyaaaa.....
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒, 𝗒𝗎𝖽𝗈 𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝖻𝖺𝗅𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗍𝗂𝗆𝗉𝖺𝗅
Gege
akhirnya banyu pecah prewi...dan ular kadutnya pun berevolusi bukan buat kencing ajah...🤭🤣
Cui Lan Seng
hahaha emang benar novel terjemahan berarti emang indonesia bukan asia ya
Zamo: Anjirr, aku ampe mikir apa maksudnya ini? tapi bener juga ya, dikiranya Indonesia benua sendiri🤭
total 1 replies
Endro Budi Raharjo
lalu crita ditangkep polisi gmn kelanjutannya ???
Riyanganz
seperti biasa dramanya 4 chapter ga selesai selesai😄
Was pray: biasa .... muter2 kayak gangsing, satu konflik gak kelar2.. .. 🤭
total 1 replies
Memyr 67
𝗉𝖾𝗆𝗎𝖽𝖺 𝖺𝗌𝗂𝖺. 𝗄𝖺𝗇 𝗉𝗈𝗌𝗂𝗌𝗂 𝖻𝖺𝗇𝗒𝗎 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝖺𝗌𝗂𝖺 𝗍𝗁𝗈𝗋.
asammanis
wkwk bosen hidup🤣🤣
BaksoEnak
hahahah kayaknya ini novel terjemahan Da Xia yaa ketahuan kamu🤭🤭🤭
Was pray
jadi tersangka penganiayaan itu Rendi biar banyu mikir dulu kalau mau bertindak, udah jelas menganiaya Rendi di tempat publik( rumah sakit)itu udah veruko tinggi
Gege
othor berusaha membuat konflik yang memicu emosi pembacanya, ..🤣
asammanis
wkwk kekuatan amplop emang paling top🤣
asammanis
wkwk susternya kena mental 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!