Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.
Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Kehangatan di Balik Sisi Dingin
Malam semakin larut, namun Han Ji-an belum bisa memejamkan mata. Kata-kata Min Chae-rin di Hotel Shinhwa terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. “Kau tidak tahu apa-apa tentang kegelapan di dalam keluarga Cha.”
Ji-an menghela napas panjang, berjalan menuju balkon kamar utama mereka yang luas. Angin malam Hannam-dong yang berembus dari arah Sungai Han menerpa helai-helai rambut hitamnya. Ia merapatkan piyama sutra hitamnya, mencoba mengusir rasa dingin yang tiba-tiba merayapi hatinya. Bukan karena takut, melainkan karena ia tidak ingin kebahagiaan kecil yang baru ia bangun bersama Jin-wook terusik sedikit pun.
Tiba-tiba, sebuah kehangatan yang familier mendekapnya dari belakang.
Sepasang lengan kokoh melingkar erat di pinggangnya, menarik tubuh ramping Ji-an agar menempel sempurna pada dada bidang yang selalu menjadi tempat teramannya. Aroma maskulin perpaduan kayu cendana dan sisa sabun mandi langsung menyerbu indra penciuman Ji-an.
"Mengapa belum tidur, hmm?" Suara berat dan serak khas bangun tidur milik Cha Jin-wook berbisik tepat di ceruk leher Ji-an, mengirimkan sensasi getaran halus yang membuat jantung Ji-an berdesir.
Ji-an menyandarkan kepalanya ke belakang, bertumpu pada bahu tegap suaminya. "Hanya sedang berpikir. Angin malam ini sangat segar."
Jin-wook tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh Ji-an dengan gerakan lembut namun pasti, memaksa istrinya untuk menghadap ke arahnya. Di bawah pendar cahaya bulan yang menembus kaca balkon, mata elang Jin-wook yang biasanya menatap dunia dengan dingin, kini memancarkan binar protektif dan penuh gairah yang pekat.
"Kau berbohong, Han Ji-an," ujar Jin-wook lembut. Jemari besarnya yang hangat naik menyentuh pipi Ji-an, mengusapnya perlahan dengan ibu jari. "Matamu tidak bisa berbohong padaku. Ini tentang Min Chae-rin, bukan?"
Ji-an tertegun. Pria ini selalu tahu segalanya tentang dirinya, bahkan sebelum ia sempat bersuara. "Dia... mengatakan sesuatu yang aneh di pesta tadi. Tentang kegelapan di keluarga Cha."
Tatapan Jin-wook meredup sejenak, kilatan luka masa lalu melintas di matanya, namun dengan cepat digantikan oleh intensitas rasa cinta yang mendalam saat menatap Ji-an.
"Keluargaku memang bukan tempat yang suci, Ji-an ah. Perebutan takhta, pengkhianatan... aku tumbuh di lingkungan seperti itu setelah orang tuaku tiada. Paman-pamanku seperti serigala berbulu domba," Jin-wook mendekatkan wajahnya, dahi mereka kini saling bersentuhan, membuat Ji-an bisa merasakan napas hangat Jin-wook yang memburu. "Tapi dengarkan aku baik-baik. Aku tidak peduli seberapa gelap masa laluku atau seberapa besar badai yang akan mereka bawa. Aku memilihmu bukan untuk menjadikanku tameng, tapi karena kau adalah satu-satunya cahayaku. Aku akan menghancurkan siapa pun yang mencoba meredupkan cahaya itu."
Kata-kata yang sarat akan komitmen itu membuat mata Ji-an berkaca-kaca. Tiga tahun lalu, ia memohon pada pria lain untuk tidak membuangnya. Namun malam ini, pria paling berkuasa di Seoul justru berbisik seolah-olah dirinyalah yang tidak bisa hidup tanpa Ji-an.
"Jin-wook ya..."
Sebelum Ji-an sempat menyelesaikan kalimatnya, Jin-wook membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang intens dan penuh tuntutan. Ciuman itu tidak lagi lembut seperti biasanya; ada rasa kepemilikan yang posesif, rasa takut kehilangan, dan gairah yang membara di dalamnya.
Ji-an mengalungkan lengannya di leher Jin-wook, membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, menyalurkan seluruh rasa percaya dan cintanya yang mendalam. Jin-wook mengerang rendah, memperdalam ciuman mereka sembari mengangkat tubuh Ji-an dengan mudah, membawanya masuk kembali ke dalam kamar dan membaringkannya di atas ranjang king-size yang empuk.
Di bawah remang lampu tidur, Jin-wook menatap Ji-an dari atas, jemarinya mengunci jemari lentik Ji-an di atas kasur.
"Kau milikku, Han Ji-an. Selamanya," bisik Jin-wook parau, sebelum kembali menenggelamkan mereka berdua dalam malam yang penuh kehangatan romantis, mengusir semua bayang-bayang musuh dari pikiran mereka untuk sementara waktu.
Keesokan harinya, di sebuah kafe VIP tersembunyi di kawasan Gangnam.
Aroma kopi yang mahal tidak mampu meredakan ketegangan di ruangan itu. Min Chae-rin duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya sembari menatap pria di hadapannya dengan pandangan muak yang kentara.
Pria itu adalah Kang Min-woo. Penampilannya hari ini sedikit lebih rapi dengan kemeja yang dipinjamkan oleh orang suruhan Cha Tae-sung, namun gurat kemiskinan dan keputusasaan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Jadi, kau adalah mantan suami Han Ji-an yang tidak berguna itu?" Chae-rin membuka suara, nadanya penuh penghinaan.
Min-woo mengepalkan tangannya di bawah meja, mencoba menahan emosi. "Saya datang ke sini atas perintah Wakil Presdir Eksekutif Cha Tae-sung, Direktur Min. Kita memiliki tujuan yang sama—menjatuhkan Cha Jin-wook dan merebut apa yang seharusnya menjadi milik kita."
Chae-rin mendengus sinis, menyesap tehnya. "Jangan samakan levelku denganmu, Kang Min-woo. Kau dihancurkan karena kebodohanmu sendiri. Tapi harus kuakui... kau memegang satu kartu as yang sangat menarik."
Chae-rin mengeluarkan sebuah dokumen foto dari tasnya, melemparkannya ke hadapan Min-woo. Itu adalah foto Cha Jin-wook lima tahun lalu, sedang menggendong seorang bayi di sebuah rumah sakit terpencil di Swiss—jauh sebelum ia bertemu Han Ji-an.
"Cha Jin-wook selalu mengklaim bahwa anak pertamanya, Cha Hyun-woo, adalah anak kandungnya dari hasil 'pernikahan rahasia' masa lalu yang tidak pernah terdaftar," Chae-rin tersenyum licik, matanya berkilat penuh kemenangan. "Tapi pamannya, Cha Tae-sung, menemukan bukti bahwa anak itu adalah anak adopsi ilegal. Ibu kandung asli dari anak itu... masih hidup. Dan dia adalah mantan narapidana yang butuh uang."
Min-woo menatap foto itu, otaknya yang licik segera bekerja. "Jika publik dan dewan direksi tahu bahwa pewaris utama Cha Group bukanlah darah daging asli Jin-wook, dan dia telah memalsukan dokumen keluarga..."
"Posisi Jin-wook sebagai CEO akan digugat atas dasar pelanggaran moralitas dan hukum," potong Chae-rin dengan tawa kecil yang kejam. "Dan Han Ji-an? Dia akan dikenal sebagai wanita malang yang membesarkan anak haram orang lain. Skenario yang sangat romantis untuk menghancurkan kebahagiaan mereka, bukan?"
Min-woo tersenyum miring. Rasa dendamnya pada Ji-an yang telah membuatnya merangkak di aspal waktu itu kembali berkobar. "Apa yang harus saya lakukan, Direktur Min?"
Chae-rin mendekatkan tubuhnya, menatap Min-woo dengan pandangan mematikan. "Bawa ibu kandung asli anak itu ke Seoul. Buat keributan di depan kediaman Hannam-dong saat Jin-wook tidak ada di tempat. Kita lihat... seberapa kuat Han Ji-an bertahan ketika 'anak kesayangannya' terancam direbut."
Sore itu, Jin-wook pulang lebih awal dari kantor. Ia sengaja mengosongkan jadwal rapatnya demi menghabiskan waktu bersama sang istri.
Saat Ji-an sedang membaca buku di ruang tengah, Jin-wook tiba-tiba datang dari belakang dan menjatuhkan tubuhnya di samping Ji-an, menyandarkan kepalanya di pangkuan istrinya seperti seorang anak kecil yang manja—sisi yang tidak akan pernah dipercayai oleh seluruh karyawan Cha Group jika mereka melihatnya.
Ji-an tersenyum lembut, jemarinya bergerak menyisir rambut hitam legam suaminya. "Kau terlihat sangat lelah, Yeobo. Ada masalah di kantor?"
Jin-wook memejamkan matanya, menikmati usapan lembut Ji-an yang selalu berhasil menghilangkan seluruh stresnya dalam sekejap. "Hanya merindukanmu. Berada di dekatmu adalah satu-satunya cara mengembalikan energiku."
Ji-an terkekeh geli, menunduk untuk mengecup dahi Jin-wook. "Kau pandai sekali merayu sekarang."
Jin-wook membuka matanya, menatap Ji-an dengan tatapan yang mendalam dan penuh komitmen. Ia meraih tangan Ji-an yang bebas, mengecup telapak tangannya dengan lembut. "Ini bukan rayuan, Ji-an ah. Ini janji. Apa pun yang terjadi di depan nanti... tetaplah menggenggam tanganku seperti ini."
Ji-an mengangguk pasti, merasakan getaran cinta yang begitu kuat di antara mereka. Namun, di luar jendela penthouse mereka yang megah, bayang-bayang Kang Min-woo dan rencana busuk Min Chae-rin sudah mulai bergerak mendekat, siap menguji seberapa besar kekuatan cinta sang Nyonya Cha.
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️