NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Sinar matahari pagi masuk melalui celah gorden kamar apartemen yang mewah, menyinari wajah Jati yang mulai terjaga.

Ia mengusap wajahnya sebentar, lalu dengan gerakan refleks meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas.

Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya saat melihat sebuah notifikasi email masuk dari Pak Gunawan dengan subjek: "Laporan Investigasi Keluarga Adiguna".

Jati segera membukanya. Di sana, Pak Gunawan melampirkan dua profil yang sangat kontras.

Profil Pertama: Tryas Adiguna

Seorang sosialita yang kerap menghabiskan waktu di kelab malam, memiliki reputasi sebagai model yang angkuh, dan sering terlibat dalam gaya hidup glamor yang berlebihan.

Foto yang terlampir menunjukkan sosok wanita dengan riasan tebal dan tatapan mata yang dingin—sangat berbeda dengan wanita yang makan lalapan bersamanya semalam.

Profil Kedua: Gayuh Leksananingtyas

Seorang penulis novel digital yang hidup sederhana di sebuah rumah kontrakan di jalan Mangga gang 2 nomor 60.

Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas, mandiri, dan merupakan sahabat dekat Tryas sejak masa sekolah.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa Gayuh pernah mengalami kecelakaan setahun lalu dan memiliki utang budi yang besar kepada keluarga Adiguna.

"Gayuh Leksananingtyas..." gumam Jati pelan, mengeja nama itu dengan perasaan yang campur aduk.

"Jadi, namamu adalah Gayuh."

Jati menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Kini semuanya menjadi jelas.

Alasan mengapa "Tryas" semalam sangat kikuk saat ditanya soal dunia model, mengapa ia menolak buket uang, dan mengapa ia begitu takut diantar pulang sampai ke depan gerbang rumah.

Ada rasa kecewa karena ia telah dibohongi, namun di sisi lain, ada seulas senyum tipis yang muncul di bibir Jati.

"Pantas saja kamu berbeda," bisik Jati sambil menatap foto profil Gayuh yang tampak bersahaja di layar ponselnya.

"Ternyata kamu adalah pemeran pengganti yang dikirim untuk membuangku."

Jati bangkit dari tempat tidurnya, melangkah menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

Ia tidak merasa marah seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Justru, rasa penasarannya semakin menjadi-jadi.

Jika Tryas menganggapnya "sampah" sehingga harus membuangnya kepada Gayuh, maka Jati akan memainkan peran ini sedikit lebih lama.

Ia ingin tahu, sejauh mana Gayuh akan bertahan dalam sandiwara ini, dan apakah ketulusan yang ia lihat semalam adalah asli atau bagian dari naskah novel yang sering wanita itu tulis.

Jati kembali meraih ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat untuk Gayuh.

“Selamat pagi, Tryas. Bagaimana tidurmu? Jangan lupa sarapan, ya."

Jati tersenyum sinis namun penuh arti. Permainan identitas ini baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan Gayuh lepas begitu saja.

Ia segera mandi dan membeli bubur untuk ia berikan kepada Gayuh.

Di sisi lain dimana matahari sudah semakin tinggi, namun Gayuh masih terbuai dalam mimpi indahnya.

Kelelahan setelah begadang menyelesaikan naskah dan emosi yang terkuras karena pertemuan semalam membuatnya tidur sangat pulas.

Ia sama sekali tidak mendengar suara notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya satu jam yang lalu.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang keras dan beruntun akhirnya memaksa kelopak mata Gayuh terbuka.

Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia bangkit dari tempat tidur.

Rambutnya sedikit berantakan, dan ia masih mengenakan gaun tidur berbahan tipis.

"Siapa sih? Mengganggu saja orang sedang istirahat," gumam Gayuh kesal sambil melangkah gontai menuju pintu depan.

Tanpa melihat melalui lubang intip, ia langsung memutar kunci dan membuka pintu.

Di hadapannya, berdiri seorang pria tegap yang mengenakan jaket ojek online lengkap dengan helm yang masih terpasang dan masker hitam yang menutupi sebagian wajahnya.

"Selamat pagi, apa benar di sini rumah Pak Bambang?" tanya pria itu dengan suara berat yang terdengar sangat familiar.

Gayuh mengernyitkan dahi, mencoba mengingat-ingat nama tetangganya.

"Pak Bambang? Sepertinya di sebelah—"

Kalimat Gayuh terhenti saat pria itu perlahan membuka maskernya.

Mata mereka bertemu. Jati menatap Gayuh dengan binar mata yang sulit diartikan, pura-pura terkejut setengah mati.

"Tryas?" tanya Jati dengan nada tak percaya.

Mata Gayuh membelalak sempurna. Kantuknya hilang dalam sekejap, digantikan oleh rasa panik yang luar biasa.

"J-Jati?!"

BRAAAK!

Tanpa pikir panjang, Gayuh langsung membanting pintu tepat di depan wajah Jati.

Jantungnya berdegup kencang seperti mau copot.

Ia baru tersadar dua hal: pertama, ia sedang menggunakan gaun tidur di depan Jati.

Kedua, dan yang paling gawat, Jati sekarang tahu di mana ia tinggal—yang mana ini bukanlah rumah mewah keluarga Adiguna!

Tok! Tok! Tok!

"Tryas? Sepertinya aku salah rumah. Tapi, kenapa kamu ada di sini?" suara Jati terdengar dari balik pintu, terdengar polos namun penuh selidik.

"Maaf, aku tadi hanya mau mengantar paket untuk Pak Bambang."

Gayuh menyandarkan punggungnya di pintu, napasnya memburu.

Ia segera menyambar kardigan panjang yang tergantung di dekat pintu dan merapikan rambutnya secepat kilat.

Ia tidak punya pilihan selain menghadapi situasi ini sebelum Jati semakin curiga.

Dengan tangan gemetar, Gayuh kembali membuka pintu sedikit. Ia memaksakan sebuah senyum kaku.

"E-eh, Jati... maaf ya, tadi aku kaget," ucap Gayuh gagap.

Jati menatap sekeliling rumah kontrakan sederhana itu, lalu kembali menatap Gayuh.

"Ini rumah siapa, Tryas? Bukannya rumahmu di kawasan perumahan elit?"

"Ini, rumah singgahku! Iya, rumah untuk aku mencari inspirasi kalau sedang bosan di rumah besar," bohong Gayuh, keringat dingin mulai bercucuran.

"Ayo, masuk dulu, Jat. Tidak enak bicara di depan pintu."

Gayuh mempersilakan Jati masuk ke ruang tamu kecilnya yang penuh dengan buku-buku.

Di sudut meja, pot bunga anggrek bulan pemberian Jati semalam tampak berdiri cantik, seolah sedang menertawakan kebohongan yang baru saja Gayuh ciptakan.

Gayuh mencoba bersikap senormal mungkin meski jantungnya masih berpacu tidak karuan.

Ia harus segera mengalihkan perhatian Jati dari detail-detail kecil di rumah ini.

"Mau kopi?" tawar Gayuh, mencoba memecah keheningan yang canggung.

"Boleh," jawab Jati singkat sambil melepas jaket ojeknya, menampilkan kaos oblong yang santai.

Gayuh segera melesat ke dapur yang hanya dibatasi oleh sebuah tirai tipis.

Sambil menunggu air mendidih, ia merutuki kecerobohannya.

"Bagaimana bisa Jati sampai ke sini hanya karena salah alamat?" gumam Gayuh

Sementara itu, di ruang tamu, Jati tidak benar-benar duduk diam.

Ia bangkit dan melangkah mendekati sebuah meja kecil yang dipenuhi tumpukan kertas.

Matanya tertuju pada sebuah bingkai foto sederhana yang memperlihatkan Gayuh sedang merangkul dua orang tua dengan senyum yang sangat tulus.

Wajah mereka sama sekali tidak mirip dengan keluarga Adiguna.

Pandangan Jati kemudian beralih ke atas meja tamu.

Di sana terdapat beberapa lembar draf tulisan yang baru saja dicetak.

Judul di bagian atas kertas itu menarik perhatiannya.

"Penulis novel..." gumam Jati sangat pelan.

Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini bukan hanya seorang model "gadungan", melainkan seorang pencipta cerita yang mungkin sedang terjebak dalam ceritanya sendiri.

Jati segera duduk kembali dengan rapi saat mendengar langkah kaki mendekat.

Gayuh datang dengan nampan kecil berisi secangkir kopi hitam yang mengepul harum.

"Maaf ya, hanya ada kopi hitam. Aku belum sempat belanja stok susu," ucap Gayuh sambil meletakkan cangkir itu di depan Jati.

Jati meraih cangkir itu, namun ia tidak langsung meminumnya. Ia menatap Gayuh dengan tatapan yang sulit ditebak.

"Terima kasih, Tryas. Oh iya, bubur ayam ini untuk kamu saja."

Gayuh mengernyitkan dahi. "Lho, bukannya tadi orderan untuk Pak Bambang?"

Jati tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang sedikit berderit.

"Iya, tapi sepertinya aku sedang tidak beruntung hari ini. Ternyata alamat Pak Bambang tadi itu orderan fiktif. Sudah kucari ke sebelah, orangnya tidak ada. Jadi, aku anggap saja ini waktu istirahat untuk menemuimu."

Gayuh tertegun. Ia merasa iba sekaligus merasa bersalah.

Kasihan sekali Jati, sudah lelah bekerja malah kena tipu orderan fiktif, pikirnya tanpa menyadari bahwa Jati-lah yang baru saja menipunya dengan skenario yang jauh lebih rapi.

"Ya ampun, jahat sekali orang yang melakukan itu," ucap Gayuh tulus.

"Sudah, kamu istirahat di sini dulu saja kalau begitu. Minum kopinya dulu, agar kamu lebih tenang."

Jati meminum kopinya perlahan, matanya menatap Gayuh dari balik uap kopi.

Ia merasa sangat terhibur melihat bagaimana Gayuh berusaha keras menyembunyikan identitas aslinya, padahal semua kartu sudah ada di tangan Jati.

"Kamu sendiri, sedang apa di 'rumah singgah' sesederhana ini, Tryas? Tidak takut ada nyamuk atau hantu?" tanya Jati memancing, sambil melirik ke arah tumpukan naskah di meja.

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!