NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan yang masih sama

Suasana ruang makan langsung riuh begitu aroma capcay bakso dan ikan goreng menyengat indra penciuman sepuluh anggota lainnya. Mereka segera mengambil posisi duduk melingkar di area tengah. Karena keterbatasan ruang dan kursi, lingkaran besar itu terbentuk dengan sangat rapat.

​Kanaya dan Lisa berjalan keluar dari dapur membawa mangkuk terakhir. Namun, begitu Kanaya mengedarkan pandangan mencari tempat kosong, jantungnya sempat mencelos.

​Semua ruang sudah penuh terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk yang kosong di lingkaran itu: satu di sebelah Wisnu yang sedang tersenyum menyambutnya, dan satu lagi di sebelah Arman yang duduk diam di sisi seberang.

​Wisnu langsung menggeser sedikit posisi duduknya, berniat memberi ruang lebih luas untuk Kanaya. "Nay, sini duduk di—"

​Belum sempat Wisnu menyelesaikan kalimatnya, Kanaya sudah mengambil keputusan cepat. Dengan langkah mantap dan tanpa ragu, ia langsung berjalan memutari lingkaran dan mendudukkan dirinya di samping Arman.

​Tindakan spontan itu membuat suasana sempat hening satu detik bagi orang-orang yang tahu dinamika di antara mereka. Wisnu tersenyum kaku, tangannya yang tadi sempat memberi isyarat perlahan turun kembali ke pangkuannya. Di sisi lain, Clarissa yang duduk agak jauh dari Wisnu tampak mengembuskan napas lega yang samar, mengira gertakannya tadi pagi di kantor desa berhasil membuat Kanaya tahu diri.

​Sementara itu, Arman yang berada di samping Kanaya langsung membeku. Ia tidak menyangka Kanaya akan memilih duduk di sebelahnya daripada di dekat Wisnu yang jelas-jelas terus memberikan perhatian sejak pagi. Bau harum sabun dari tubuh Kanaya dan geseran kain almamater mereka yang bersentuhan membuat debar jantung Arman berpacu tidak karuan.

​"Makanannya kelihatan enak banget, yuk kita doa dulu!" seru salah satu anggota memecah kecanggungan.

​Setelah doa selesai dibacakan, piring-piring mulai digilir. Kanaya sengaja memfokuskan dirinya penuh pada piringnya sendiri, mengambil nasi dan capcay sewajarnya. Ia tahu duduk di samping Arman juga bukan hal yang sepenuhnya aman untuk hatinya, tapi setidaknya, berada di dekat sang mantan jauh lebih baik daripada harus memicu badai cemburu Clarissa yang bisa merusak kedamaian seluruh posko KKN mereka.

​Arman diam-diam meletakkan mangkuk sambal lalapan yang letaknya agak jauh ke dekat piring Kanaya, bertindak dalam diam tanpa suara, membiarkan mantan kekasihnya itu makan dengan tenang di sisinya.

Kanaya melirik sekilas ke arah mangkuk sambal lalapan yang tiba-tiba sudah berpindah posisi tepat di sebelah piringnya. Di sampingnya, Arman tampak masih fokus menyendok nasinya sendiri seolah-olah tidak terjadi apa-apa, namun Kanaya tahu betul siapa yang melakukannya.

​Sejak dulu, Arman memang selalu hafal kebiasaan makannya. Laki-laki itu tahu kalau Kanaya tidak bisa makan tanpa rasa pedas, dan ia juga tahu kalau Kanaya paling malas harus merentangkan tangan jauh-jauh untuk mengambil lauk di tengah kerumunan orang banyak.

​Sentuhan perhatian kecil yang begitu akrab itu sempat membuat dada Kanaya berdesir sesaat. Ingatannya seolah ditarik paksa ke masa-masa di mana Arman selalu memperlakukannya seperti ratu sebelum semuanya hancur berantakan.

​Namun, Kanaya segera menepis rasa itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mengendalikan raut wajahnya agar tetap datar. Tanpa mengucapkan terima kasih secara lisan untuk menjaga jarak, Kanaya hanya mengambil sesendok sambal itu dengan tangan kirinya, lalu melanjutkan makannya dalam diam.

​Di sisi seberang meja, pandangan Wisnu sesekali masih tertuju ke arah mereka. Ada kilat kekecewaan yang samar di mata sang ketua kelompok melihat Kanaya yang begitu menutup diri darinya, namun memilih duduk dan menerima perhatian diam-diam dari Arman. Sementara itu, Clarissa yang menyadari arah pandang Wisnu kembali mengetatkan rahangnya, membuat suasana makan siang di bawah kepungan angin sawah itu terasa makin sarat akan ketegangan yang tersembunyi.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!