Alya terbangun di tubuh Sabrina—seorang wanita hamil yang dibenci suaminya sendiri. Dalam novel yang pernah ia baca, Sabrina akan mati tragis setelah melahirkan.
Kini hidup sebagai Sabrina, Alya berusaha mengubah takdirnya dan menjauh dari Leon, suami dingin yang tak pernah mencintainya. Namun semakin ia mencoba pergi, semakin Leon mulai memperhatikannya.
Di balik kebencian, perlahan tumbuh rasa yang tak seharusnya ada. Tapi apakah cinta bisa lahir dari hubungan yang sejak awal dipenuhi luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Jejak yang Ditemukan
Suasana lorong hotel mewah itu mendadak terasa mencekam.
Leon berdiri diam dengan rahang menegang, sementara Armand Elvara menatapnya dengan ekspresi sulit dijelaskan.
“Apa maksud pembicaraan tadi?” ulang Leon dingin.
Armand terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas berat.
“Sabrina ada di Roma.”
Kalimat itu membuat dada Leon langsung berdebar keras.
Tiga tahun.
Tiga tahun penuh pencarian tanpa hasil.
Dan sekarang… Sabrina ternyata berada di kota yang sama dengannya selama ini.
“Di mana dia?” tanya Leon cepat.
Namun Armand justru menatap tajam.
“Kalau aku tahu dari awal, mungkin aku juga sudah menemui anakku.”
Leon mengepalkan tangannya.
“Aku dengar soal rumah sakit.”
Tatapan Armand berubah dingin.
“Anaknya sakit.”
Anaknya.
Kata itu terasa aneh di telinga Leon.
Karena selama tiga tahun terakhir, ia bahkan belum pernah melihat wajah anaknya sendiri.
“Aku mau tahu rumah sakitnya,” ujar Leon tegas.
Armand tertawa kecil pahit.
“Lalu apa? Kamu mau muncul tiba-tiba setelah tiga tahun?”
Leon terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak punya jawaban pasti.
Karena sebenarnya ia sendiri tidak tahu ingin melakukan apa jika benar-benar bertemu Sabrina lagi.
Memintanya pulang?
Meminta maaf?
Atau sekadar memastikan wanita itu baik-baik saja?
Yang Leon tahu hanya satu—
Ia ingin melihat Sabrina.
Dan anaknya.
---
Sementara itu di rumah sakit…
Alya masih duduk di samping ranjang Liora sambil memegang tangan kecil putrinya.
Demam anak itu mulai turun perlahan, tetapi Alya tetap belum bisa tenang.
Matanya sembab karena kurang tidur.
“Ma…”
Suara kecil Liora membuat Alya langsung mendekat.
“Iya sayang?”
“Aku mau susu…”
Alya langsung tersenyum lega.
Syukurlah.
Setidaknya Liora sudah mulai membaik.
“Iya bentar ya.”
Kate yang baru masuk kamar membawa beberapa makanan langsung tersenyum melihat Liora sudah bangun.
“Princess kecil udah mendingan?”
Liora mengangguk kecil sambil memeluk bonekanya.
“Tante Kate…”
“Hm?”
“Om taman mana?”
Deg.
Gerakan Alya langsung berhenti.
Kate juga terlihat salah tingkah.
“Om siapa?” tanya Alya hati-hati.
“Om ganteng di taman…”
Liora tersenyum polos.
“Om baik.”
Alya menunduk cepat sambil membuka susu hangat untuk menyembunyikan ekspresinya.
Dadanya kembali terasa tidak nyaman.
Entah kenapa firasat buruk itu semakin kuat.
“Lio nggak boleh ngobrol sama orang asing sembarangan,” ujar Alya pelan.
“Tapi Om nggak jahat…”
Anak kecil itu cemberut lucu.
Kate langsung mengalihkan pembicaraan cepat.
“Oke cukup bahas Om taman. Sekarang minum susu dulu.”
Liora akhirnya menurut sambil memeluk botol susunya.
Namun setelah anak itu kembali tenang, Kate menarik Alya keluar kamar perlahan.
“Aku rasa kita harus pindah,” bisik Kate pelan.
Alya memejamkan mata lelah.
“Aku tahu…”
“Kalau Leon benar-benar sadar itu Liora—”
“Aku tahu, Kate.”
Suara Alya melemah.
Ia terlalu paham.
Liora memiliki mata Leon.
Semakin besar, wajah gadis kecil itu semakin mirip ayahnya.
Dan itu membuat Alya selalu takut.
“Aku cuma…” Alya menggigit bibir pelan. “Capek lari terus.”
Kate langsung terdiam.
Selama tiga tahun terakhir, Alya memang tidak pernah benar-benar tenang.
Selalu berpindah.
Selalu waspada.
Semua demi menjaga Liora tetap bersamanya.
---
Malam semakin larut ketika Leon akhirnya mendapatkan informasi rumah sakit tempat Sabrina berada.
Detektif pribadinya bekerja cepat setelah mendapat petunjuk dari Roma.
“Data pasien atas nama palsu, Tuan,” ujar asistennya. “Tapi kemungkinan besar memang Nyonya Sabrina.”
Leon langsung berdiri.
“Siapkan mobil.”
“Tuan mau ke sana sekarang?”
“Iya.”
Tidak ada keraguan sedikit pun dalam suaranya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, jantung Leon terus berdetak tidak tenang.
Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun…
Ia sangat gugup.
Pikirannya dipenuhi banyak hal.
Bagaimana kondisi Sabrina sekarang?
Apa dia membencinya?
Dan seperti apa anak mereka?
Mobil akhirnya berhenti di depan rumah sakit.
Leon turun cepat lalu berjalan masuk dengan langkah panjang.
Namun semakin dekat menuju ruang rawat inap anak…
Langkahnya justru mulai melambat.
Entah kenapa dadanya terasa sesak.
Takut.
Perasaan asing yang jarang sekali dirasakannya.
Sementara itu di kamar rawat inap, Alya sedang menyelimuti Liora yang mulai tertidur lagi.
“Mama…”
“Hm?”
“Besok pulang?”
“Iya sayang.”
Liora tersenyum kecil lalu kembali memejamkan mata.
Alya mengusap rambut putrinya lembut.
Tatapan matanya penuh kasih sayang.
Dan tepat saat itu—
Pintu kamar perlahan terbuka dari luar.
Alya mengira itu Kate.
Namun saat menoleh…
Tubuhnya langsung membeku.
Leon berdiri di ambang pintu.
Wajah pria itu terlihat lelah.
Matanya sedikit merah karena kurang tidur.
Namun tatapan itu masih sama seperti dulu.
Dalam.
Tajam.
Dan kini dipenuhi keterkejutan.
Sementara Leon sendiri nyaris berhenti bernapas saat melihat wanita di depannya.
Sabrina.
Benar-benar Sabrina.
Wanita itu terlihat lebih dewasa sekarang. Lebih tenang. Lebih lembut.
Namun yang membuat Leon paling sulit berpaling adalah—
Sosok anak kecil yang tertidur di ranjang rumah sakit.
Gadis kecil dengan wajah yang terasa terlalu familiar.
Untuk beberapa detik…
Tidak ada satu pun dari mereka yang bicara.
Dan dunia seolah berhenti berputar sesaat.