NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Terjebak Dalam Pernikahan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Trauma masa lalu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: HaluBerkarya

Aurin Josephine— tidak pernah menyangka, niatnya kabur dari perjodohan yang diatur paman dan bibinya justru menyeretnya ke dalam pernikahan tak terduga dengan pria asing, malam itu.

Gallelio Alastar, seorang CEO dingin yang mati rasa, mengubur perasaannya bersamaan dengan istrinya lima tahun lalu. Pernikahan itu tidak pernah ia inginkan. Bahkan terasa seperti pengkhianatan pada janji yang pernah ia berikan.
Namun di rumah yang sama, di bawah satu atap yang terasa asing, Aurin mulai mengenal sisi lain pria itu.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertekad… membuatnya jatuh cinta lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Lepaskan Aurin, kak!

Mobil Gallelio berhenti di depan rumah. Motor Ezra terlihat sudah terparkir di sana. Pria itu turun lalu melesat masuk ke dalam rumah.

​"Gallel, kamu datang?!" sapa Mama Amanda yang sedang duduk di ruang keluarga sembari menonton televisi.

​Gallelio tidak menjawab. Ia melesat begitu saja melewati ibunya dan langsung menuju lantai atas.

​"Aneh... kenapa anak-anakku hari ini seperti orang kesurupan semua?!" gumam Mama Amanda heran menatap punggung putra sulungnya yang sudah mulai menghilang di balik anak tangga. Wanita itu menggelengkan kepalanya, Bagaimana tidak, beberapa menit yang lalu Ezra pulang dan tidak seperti biasanya yang selalu menyapanya, hari ini anak itu nyelonong begitu saja bahkan masih mengenakan helm di wajahnya.

​Karena perasaan tidak tenang, wanita itu berdiri dan ikut naik ke lantai atas.

​.

​.

​"Ezra, buka pintunya!" Gallelio berdiri di depan kamar adiknya dan mengetuk pintu berkali-kali. Namun tidak ada sahutan dari dalam. Pintu kamar itu terkunci rapat.

​"Ezra Aditya! Buka atau saya dobrak pintunya!" ujarnya. Ia masih menahan diri agar sepatunya yang mengilap tidak melayang menghantam pintu kamar itu.

​"Gallel, kenapa kamu teriak begitu?! Adik mungkin tidur," Mama Amanda mendekat.

​"Dia tidak tertidur, Ma. Wajahnya babak belur, makanya dia berdiam diri di dalam kamarnya!" lapor Gallelio pada ibunya. Mendengar itu, Mama Amanda mendelik.

​"Babak belur? Apa yang terjadi padanya?" tanya wanita itu panik. Tanpa menunggu jawaban Gallelio, ia segera kembali ke lantai bawah untuk mengambil kotak obat serta air hangat untuk kompres. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan peralatan di tangannya.

​"Masih belum dibuka?!" tanyanya saat melihat Gallelio masih berdiri di sana.

​Gallelio menggeleng. Ia membiarkan ibunya mendekat ke pintu sementara ia sendiri memegang baskom air hangat tersebut.

​"Eza, sayang, buka pintunya. Mama mau bicara!" suara lembut namun sarat akan perintah itu membuat sang pemilik kamar akhirnya membuka pintu. Ezra tidak bicara, ia hanya memberi jalan bagi ibunya untuk masuk.

​"Hanya Mama yang boleh masuk kamarku!" ujar Ezra dingin. Ia hendak menutup kembali pintu sebelum Gallelio menahannya.

​"KELUAR, SIALAN!!"

​"Ezra!!" bentak Mama Amanda, kaget mendengar suara menggelegar putra bungsunya. Tidak salah lagi, ini pertama kalinya putra yang cenderung lembut dan hangat itu bicara sangat kasar.

​"Ma, jangan bawa si Gallelio itu ke kamar Eza! Eza tidak sudi melihatnya sekarang!!" teriak Ezra marah.

​Mama Amanda yang kebingungan menatap kedua putranya bergantian. Ezra memancarkan tatapan penuh kebencian, sedangkan Gallelio hanya menatap datar. Ia tidak peduli meski diusir atau diperlakukan kasar, pria itu tetap bergeming di posisinya.

"KELUAR!!" napas Ezra memburu. Tangannya mengepal kuat hingga urat di lehernya menegang.

"Gallel, keluar dulu ya. Mama obatin adek dulu," ujar Mama Amanda lembut.

Gallelio menghela napas kasar. Tatapannya masih tajam menancap ke arah adiknya beberapa detik sebelum akhirnya pria itu melangkah keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, Mama Amanda duduk di sisi ranjang. Wanita itu merentangkan tangannya pelan.

Dan saat itulah pertahanan Ezra runtuh.

Cowok yang selama ini selalu terlihat santai, hangat, dan tidak pernah mau menunjukkan sisi lemahnya di depan keluarga kini justru menunduk di pelukan ibunya. Tangisnya pecah tanpa suara, namun getaran di bahunya berguncang hebat.

Mama Amanda tidak langsung bertanya. Tangannya hanya mengusap pelan punggung putranya, membiarkan semua emosi yang sejak tadi ditahan itu keluar lebih dulu. Baru setelah napas Ezra mulai sedikit tenang, wanita itu membuka suara.

"Adek ada masalah? Cerita sama Mama," ujarnya lembut.

Ezra justru semakin mengeratkan pelukannya, lalu menggeleng pelan di bahu wanita itu.

"Baiklah, tidak sekarang," gumam Mama Amanda mengerti. "Sebelum itu Mama obatin dulu lukanya, coba lihat wajahnya."

Wanita itu melepaskan pelukan Ezra perlahan, lalu mengambil kain kecil yang sudah dicelupkan ke air hangat. Tatapannya langsung berubah penuh rasa tidak tega melihat wajah tampan putranya yang dipenuhi lebam.

"Ya ampun... siapa yang bikin wajah adek jadi begini, hm?" ujarnya lirih.

Kain hangat itu menempel pelan di sudut wajah Ezra. Setelahnya, Mama Amanda mengoleskan salep dengan hati-hati, bahkan sesekali meniup luka di dekat bibir putranya secara refleks seperti saat Ezra masih kecil dulu.

"Kalau Papa lihat nanti, dia pasti marah besar," ujarnya lagi sembari menempelkan kapas ke sudut bibir cowok itu.

Ezra hanya diam. Tatapannya kosong lurus ke depan, bahkan tidak bereaksi saat kapas itu menekan luka lebam di wajahnya.

"Sakit?" tanya Mama Amanda sengaja menekan sedikit kapas itu.

Ezra menggeleng pelan.

Dibanding luka di wajahnya, rasa sakit itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan sesak di dadanya saat ini.

.

.

.

Setelah selesai mengobati luka putranya, Mama Amanda akhirnya berdiri. Wanita itu memilih keluar lebih dulu, memberi Ezra waktu untuk menenangkan diri sebelum nanti ia bertanya lebih jauh tentang apa yang sebenarnya terjadi.

​Namun saat tangannya nyaris menutup kembali pintu kamar itu, sebuah tangan lebih dulu menahannya dari luar.

​Gallelio.

​"Gallel, kamu masih di sini?" tanya Mama Amanda heran.

​Gallelio hanya mengangguk singkat.

​"Jangan ganggu adek dulu, dia sedang tidak baik-baik saja," ujar wanita itu memberi peringatan.

​"Ada yang mau Gallel bahas sama Ezra, Ma."

​Mama Amanda menyipitkan matanya curiga. "Atau kamu yang bikin wajah adek jadi babak belur begitu?"

​"Saya tidak sejahat itu sampai memukulnya, Ma," jawab Gallelio datar.

​Setelah itu pria tersebut masuk begitu saja ke dalam kamar Ezra, lalu menutup pintu rapat agar ibunya tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.

​Ezra yang tadi hendak berbaring kini kembali duduk di sisi ranjang. Tatapannya langsung berubah dingin begitu melihat kakaknya masih datang menghampiri. Sedangkan Gallelio berdiri tegak di depan pintu dengan wajah datar seperti biasa.

​"Siapa?" tanyanya singkat.

​Ezra terkekeh pendek penuh sinis. "Ck, jangan sok peduli, sialan!" tukasnya lalu berdiri. Kini mereka saling berhadapan dengan tatapan tajam yang sama kerasnya.

​"Lepaskan Aurin, Kak," ujar Ezra tanpa basa-basi.

​"Kenapa harus?" balas Gallelio tenang, berusaha mencari keseriusan di wajah adiknya itu.

​"Karena dia nggak cocok sama Kakak!" suara Ezra meninggi. "Lucu rasanya lihat pria yang selama ini dikenal paling mencintai mendiang istrinya tiba-tiba menikah lagi."

​Rahang Gallelio langsung mengeras mendengar nama itu diseret ke dalam pembicaraan.

​"Bukannya Kakak dulu bilang cuma Kak Sera satu-satunya perempuan yang Kakak cintai?" lanjut Ezra dengan tatapan penuh emosi. "Atau sekarang Kakak malah mengkhianati semua omongan Kakak sendiri?"

​Tangan Gallelio mengepal kuat di sisi tubuhnya. Namun ia masih diam.

​"Kakak itu milik Kak Sera. Dan Kak Sera juga satu-satunya yang jadi milik Kakak," ujar Ezra lagi dengan napas memburu. "Bukan Aurin."

​Hening. Suasana di dalam kamar itu terasa semakin menyesakkan.

​"Dan Aurin juga nggak pantas hidup seperti itu, Kak," suara Ezra kini berubah lebih rendah, namun jauh lebih menusuk. "Dia nggak pantas jadi bayang-bayang orang yang sudah mati."

​Untuk pertama kalinya tatapan Gallelio berubah sedikit goyah.

​"Dia punya masa depan. Dia punya hak buat dicintai dengan utuh," lanjut Ezra. "Sedangkan bersama Kakak? Dia cuma akan terus hidup di bawah bayang-bayang Kak Sera."

​Ezra menatap lurus ke mata kakaknya.

​"Lepaskan dia."

​"Biar saya yang bahagiain Aurin."

​"Karena sedari awal... saya yang lebih dulu ada untuk dia."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Rosita Zaky
bagisss
ChaManda
😭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
cih kesal
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
kan kan kan kocak ini si Gel... bilang aja aku minta no kamu biar kalau ada apa-apa gampang/Curse//Curse//Curse//Curse/ pke alesan sebagai terima kasih
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: gengsi kk🤣🤣😭
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
🤔 apa ini? kau mulai water? cihhh... dasar Gelooooooo/Curse//Curse//Curse//Curse//Curse/
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: 🤣🤣jangan lama2 dia dinginnya, ntar beku kak
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
huhuhuair mataku😭😭😭
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
jeng jeng jeng jeng..... Gel... baik2 bini mu incaran adik lelaki mu
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩: maca iya yuk lah buat Erza nyemek2
total 4 replies
ChaManda
aduhh kasian juga yaa si Clara
ChaManda
🫵🏻🫵🏻🫵🏻
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhh msh kesel sama pak duda ngeselin😑
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
heh astagaaa keliarga gilaa ku penggal juga itu kepala kalian biar sekalian gk ounya otak😑
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
idih.... mulai nyaman dia natap yang belum tumbuh🤭
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Udah tumbuh tapi belum keliatan menarikknya🤣🤣
total 1 replies
ChaManda
buat istrimu atau buat kamu?☺️
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄: Gallelio: buat gadis itu, biar gak kuyuss krempeng
total 1 replies
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
🤣
ChaManda
🤣😭🫵🏻
ChaManda
🤣🤣🤣🤣 aku suka gayamuu
ChaManda
😭😭😭
ChaManda
🤣🤣🤣
ChaManda
heleh heleh🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!