Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
Di meja "inti" yang letaknya tak jauh dari tempat Melody duduk, suasana mendadak memanas saat Jigar menyenggol lengan Kaisar dengan raut wajah mengejek.
"Sarr, liat noh! Fans garis keras lo beneran hapus bedak gegara lo tolak kemarin," bisik Jigar, tapi suaranya cukup keras untuk didengar teman-teman se-mejanya. "Patah hati kawan, tapi jujur... makin cantik sih dia kalau natural gitu. Tahu gitu mending buat gue aja semalam."
Zoya yang duduk di antara mereka menoleh ke arah Melody dengan tatapan prihatin. "Kaisar, kamu kok tega banget nolak Melody? Dia kan baik, udah suka sama kamu dari lama. Kasihan tau," ucap Zoya lembut, benar-benar mencerminkan sosok protagonis wanita yang terlalu suci hatinya.
Kaisar? Jangan harap dia memberikan jawaban panjang lebar. Cowok itu tetap diam, jemarinya hanya memainkan gelas air mineral di depan wajahnya. Baginya, keberadaan Melody maupun ocehan Zoya seolah hanya angin lalu yang tidak penting.
Galen, yang sejak tadi memperhatikan interaksi itu, menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti. Ia menatap Kaisar dengan tatapan provokatif.
"Seharusnya elo terima aja, Sar. Kasihan kan cewek tulus kayak gitu lo sia-siain," ucap Galen santai.
Kaisar melirik Galen tajam melalui sudut matanya. Dia bukan orang bodoh. Kaisar tahu betul maksud Galen menyuruhnya menerima Melody adalah agar Galen punya jalan yang lebih mulus untuk mendekati Zoya tanpa gangguan dari dirinya.
"Berisik," ucap Kaisar singkat, padat, dan sangat dingin.
Suaranya yang berat itu langsung membungkam tawa Jigar. Matanya yang tajam sempat melirik sekilas ke arah meja Melody—tepat saat gadis itu sedang asyik mengunyah kerupuk dengan pipi menggembung—sebelum akhirnya Kaisar membuang muka dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.
Sementara itu, di mejanya, Melody merinding tiba-tiba.
"Duh, perasaan gue nggak enak. Kayak ada malaikat maut lagi absen nama gue di kejauhan," gumam Melody sambil mengusap tengkuknya, tak sadar kalau dirinya baru saja jadi bahan pembicaraan para penguasa sekolah.
Melody berjalan sambil mengelus perutnya yang terasa sangat kenyang. "Aduh, nikmat mana lagi yang kau dustakan," gumamnya dalam hati. Di dunia aslinya, makan di kantin sekolah saja harus irit-irit, sekarang dia bisa memesan apa saja tanpa melihat harga.
Rere yang berjalan di sampingnya terus menatap Melody dengan tatapan penuh selidik. "Mel, jujur deh sama gue. Elo kesurupan Jin Tomang ya pas di kamar mandi tadi?"
Ghea ikut menimpali, "Iya, gila! Makan elo banyak banget tadi. Biasanya kan elo diet ketat demi bisa pakai baju yang ngepas biar dilirik Kaisar. Patah hati beneran mengubah elo ya, Mel?"
Melody langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah dua sahabatnya itu dengan wajah memelas.
"Diem gak! Plis, jangan sebut-sebut kebodohan gue itu lagi!" ucap Melody dengan nada frustrasi. "Mulai sekarang, anggap aja Melody yang lama itu udah pindah ke planet Pluto. Gue yang sekarang mau fokus makan enak dan hidup panjang."
Rere tertawa terbahak-bahak sambil merangkul pundak Melody. "Oke, oke. Gue suka gaya lo yang begini. Daripada galau mulu gara-gara si Es Batu itu, mending kita happy-happy."
"Lagian ya, Mel," tambah Ghea sambil membenarkan letak bando di rambutnya. "Lo kalau tampil natural begini tuh speknya beda. Tadi si Jigar sama Galen aja sampai ngeliatin lo terus pas kita lewat meja mereka."
"Hah? Galen sama Jigar ngeliatin gue?" Melody mendelik. Aduh, gawat. Jangan sampai gue masuk ke radar para tokoh utama. Gue mau jadi figuran yang nggak kelihatan aja biar aman dari badai!
"Udah, ah! Fokus masuk kelas aja. Jam berikutnya pelajaran apa?" tanya Melody mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Matematika, sayangg..." jawab Rere lemas.
Melody langsung pucat. "Mati gue. Udah masuk novel, masih ketemu angka juga?!"