“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kok Rhea Bisa Tahan ?
Hari-hari berikutnya berlalu jauh lebih sibuk untuk Rhea.
Paginya tetap dipenuhi kelas, tugas, dan presentasi seperti biasa. Lorong kampus, ruang kelas, sampai kantin fakultas kembali menjadi rutinitas yang terus ia lalui hampir setiap hari.
Namun sekarang ada satu hal baru yang ikut masuk ke dalam jadwalnya.
Ruangan Arga.
Setiap kali jam kuliahnya selesai, Rhea hampir selalu terlihat berjalan menuju lantai atas gedung fakultas sambil membawa laptop, map tugas, atau flashdisk berisi materi presentasi.
Kadang ia membantu membuat slide powerpoint untuk kelas Arga keesokan harinya. Kadang merapikan absensi mahasiswa, mengecek tugas, sampai membantu mencetak materi sebelum kelas dimulai.
Dan seperti biasa, Arga tetap menjadi Arga. Dingin, banyak menyuruh, dan terlalu perfeksionis untuk ukuran dosen muda.
“Font nya beda.”
“Spasi nya berantakan.”
“Slide ini terlalu penuh.”
Kalimat-kalimat itu sudah hampir menjadi makanan sehari-hari untuk Rhea.
Namun anehnya, ia mulai terbiasa.
Suasana ruangan dosen yang awalnya terasa canggung perlahan berubah lebih santai seiring waktu. Kadang hanya terdengar suara keyboard dan pendingin ruangan selama berjam-jam, kadang diselingi perdebatan kecil yang berakhir dengan Rhea mengomel sendiri sementara Arga hanya mendecih pelan.
Beberapa mahasiswa bahkan mulai sadar kalau Rhea sekarang sering terlihat bersama dosen favorit sekaligus dosen paling ditakuti di fakultas mereka itu.
“Rhea dipanggil Pak Arga lagi?”
“Asdos kesayangan kayaknya…”
“Buset, tiap sore nongkrong di ruang dosen terus.”
Dan setiap kali mendengar itu, Rhea biasanya hanya memutar bola matanya malas.
Sementara hari-hari terus berjalan tanpa terasa.
Kelas berganti kelas, tugas terus menumpuk, dan tanpa sadar hukuman satu bulan yang diberikan Arga perlahan mulai terasa seperti rutinitas baru dalam hidup Rhea sendiri.
Siang itu suasana kampus terasa jauh lebih ramai dibanding biasanya.
Lorong fakultas dipenuhi suara mahasiswa yang baru keluar masuk kelas, beberapa dosen terlihat berjalan membawa map dan laptop, sementara cahaya matahari siang masuk terang dari jendela-jendela besar sepanjang gedung.
Di salah satu ruang kelas lantai tiga, kelas Arga siang itu sudah dimulai sejak beberapa menit lalu.
Ruangan cukup penuh. Suara pendingin ruangan bercampur samar dengan bunyi keyboard laptop dan lembaran kertas yang dibalik mahasiswa.
Di depan kelas, Arga berdiri rapi dengan kemeja hitam dan lengan yang tergulung sampai siku. Satu tangannya memegang spidol, sementara tangan lainnya sesekali berpindah menekan slide presentasi di laptop.
Hari itu materi yang dibahas adalah tentang framing media dan bagaimana sebuah berita bisa membentuk sudut pandang publik.
“Berita bukan hanya soal apa yang disampaikan,” ucap Arga sambil berjalan pelan ke tengah kelas. “Tapi juga tentang bagaimana sesuatu disampaikan.”
Ia menampilkan sebuah headline berita di layar proyektor.
“Contoh paling sederhana…” Arga menunjuk layar menggunakan ujung spidolnya. “Dua media bisa memberitakan kejadian yang sama, tetapi menghasilkan persepsi publik yang berbeda hanya karena pemilihan kata.”
Beberapa mahasiswa mulai memperhatikan layar lebih serius.
“Misalnya,” lanjutnya tenang, “satu media menggunakan kata ‘diamankan’, sementara media lain menggunakan kata ‘ditangkap’. Maknanya terlihat mirip, tetapi efek psikologis yang diterima pembaca berbeda.”
Arga berhenti sejenak lalu menoleh ke arah mahasiswa di sisi kanan kelas.
“Karena dalam komunikasi massa…” suaranya tetap stabil dan tegas, “bahasa bukan sekadar alat penyampai informasi. Bahasa adalah alat pembentuk realitas.”
Suasana kelas langsung jauh lebih fokus dibanding sebelumnya. Bahkan beberapa mahasiswa yang tadinya sibuk sendiri mulai menulis di buku catatan dan juga mengetik di laptop masing-masing.
Sementara itu di barisan paling depan ujung dekat jendela, Rhea duduk bersama Lusi di sebelahnya.
Laptop terbuka di atas meja, tetapi perhatian Rhea lebih banyak tertuju ke depan kelas dibanding catatan di layarnya sendiri.
Di depan sana, Arga kembali berpindah slide.
“Sekarang coba lihat berita politik.” Ia melipat satu tangannya di depan dada. “Kenapa satu tokoh bisa terlihat seperti pahlawan di satu media, lalu berubah menjadi tokoh bermasalah di media lain?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
“Karena media punya kepentingan.” Tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Dan framing adalah salah satu cara paling halus untuk memengaruhi opini publik tanpa audiens sadar mereka sedang diarahkan.”
Beberapa mahasiswa langsung mengangguk kecil.
Arga kembali berjalan pelan menuju meja dosen lalu mengambil botol minumnya.
“Makanya,” lanjutnya setelah meneguk air sebentar, “kalau kalian hanya membaca satu sumber berita…” ia mengangkat pandangan ke seluruh kelas, “maka besar kemungkinan opini kalian sedang dibentuk oleh orang lain.”
Hening beberapa detik memenuhi ruangan.
Cara Arga menjelaskan memang tidak pernah terlalu berlebihan, tetapi justru itu yang membuat kelasnya selalu terasa serius dan penuh tekanan. Setiap kalimat yang keluar terdengar rapi, tajam, dan seperti sudah dipikirkan matang-matang.
Sementara itu di bangku depan, Lusi melirik Rhea yang masih memperhatikan Arga tanpa sadar.
“Kesayangannya Pak Arga fokus banget deh.”
Rhea langsung menoleh cepat.
“Diem deh.”
Lusi malah menahan tawa sambil kembali pura-pura menulis.
Sedangkan di depan kelas, Arga kembali melanjutkan materinya seperti tidak mendengar apa pun. Arga kembali melanjutkan penjelasannya sambil berpindah ke slide berikutnya.
“Tingkat konsumsi informasi masyarakat saat ini jauh lebih cepat dibanding beberapa tahun lalu,” ujarnya tenang sambil berjalan pelan di depan kelas. “Masalahnya, kecepatan itu sering membuat orang berhenti berpikir kritis.”
Suara keyboard kembali terdengar samar di beberapa sudut ruangan.
Sebagian mahasiswa sibuk mencatat, sebagian lainnya memperhatikan layar proyektor yang menampilkan grafik perubahan pola konsumsi media digital.
“Sekarang orang lebih suka informasi singkat, cepat, dan instan,” lanjut Arga. “Mereka membaca judul tanpa memahami isi, lalu merasa sudah paling benar.”
Namun di tengah penjelasannya, langkah Arga perlahan berhenti. Tatapannya mengarah lurus ke barisan belakang kelas.
Beberapa mahasiswa ikut menoleh pelan.
Di sana, seorang mahasiswa laki-laki terlihat duduk santai sambil menunduk memainkan ponselnya sejak tadi tanpa benar-benar memperhatikan kelas.
Suasana ruangan langsung berubah sedikit canggung.
Namun Arga tidak menegur secara langsung.
Pria itu justru kembali melangkah pelan ke tengah kelas sambil menyelipkan satu tangan ke saku celananya.
“Ponsel,” ucapnya tiba-tiba. “Adalah contoh paling sempurna bagaimana teknologi membuat manusia merasa pintar hanya karena bisa mengakses informasi.”
Beberapa mahasiswa langsung saling melirik kecil.
“Padahal akses informasi tidak sama dengan kemampuan memahami informasi.”
Nada suara Arga masih terdengar tenang.
Tetapi satu kelas mulai tahu ke mana arah pembicaraan itu berjalan.
“Sekarang banyak orang terlalu sibuk melihat layar,” lanjutnya sambil melirik singkat ke arah belakang, “sampai lupa menggunakan otaknya sendiri.”
Deg!
Suasana kelas langsung semakin sunyi. Bahkan beberapa mahasiswa mulai menahan senyum sambil pura-pura fokus ke laptop masing-masing.
Sementara mahasiswa laki-laki di belakang tadi perlahan menghentikan aktivitas ponselnya.
Namun Arga belum selesai.
“Lucunya lagi…” Ia berhenti tepat di depan meja dosen. “Orang yang paling sedikit memahami materi biasanya justru paling percaya diri merasa bosan.”
Dan kali ini beberapa mahasiswa benar-benar sudah menunduk menahan reaksi mereka. Rhea sendiri langsung melirik pelan ke arah belakang sebelum kembali menatap Arga.
Sedangkan mahasiswa laki-laki itu mulai terlihat tidak nyaman.
Arga akhirnya mengangkat pandangannya lurus ke arahnya.
“Sudah selesai dengan ponselmu?”
Mahasiswa itu langsung menegakkan tubuhnya sedikit.
“Oh… maaf, Pak.” Ia tersenyum tipis seperti tidak merasa bersalah. “Materi bapak terlalu banyak teori. Saya cuma sedikit bosan.”
Dan satu kelas langsung diam.
Arga menatap mahasiswa itu beberapa detik tanpa ekspresi.
Lalu perlahan meletakkan spidol di meja.
“Kalau kemampuan berpikir anda hanya sebatas mencari hiburan setiap lima menit…” suaranya rendah dan tajam, “maka jangan salahkan materi kuliah karena otak anda tidak mampu bertahan untuk memahami sesuatu yang lebih berat dari layar ponsel.”
Deg!
Mahasiswa itu langsung terdiam.
Namun Arga masih menatap lurus ke arahnya.
“Dan satu lagi.” Ia melipat kedua tangannya di depan dada. “Mahasiswa yang benar-benar pintar biasanya sibuk belajar.” Tatapannya semakin dingin. “Bukan sibuk menunjukkan rasa bosan untuk mencari perhatian.”
Suasana kelas benar-benar membeku.
Tidak ada yang berani bersuara.
“Keluar.”
Satu kata itu jatuh begitu saja dari mulut Arga.
Tenang. Datar. Tapi cukup membuat suasana kelas langsung terasa dingin.
Mahasiswa laki-laki itu tampak terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengerutkan kening kecil.
“Tapi, Pak—”
“Saya tidak pernah mengulang kalimat saya sampai dua kali.”
Nada suara Arga tidak naik sedikit pun. Namun justru itu yang membuat satu kelas semakin diam. Mahasiswa laki-laki itu akhirnya mengembuskan napas kasar lalu berdiri dari kursinya. Suara gesekan kursi terdengar cukup jelas di tengah ruangan yang hening.
Beberapa mahasiswa langsung menoleh mengikuti pergerakannya ketika ia berjalan melewati barisan kursi menuju pintu kelas dengan wajah yang sudah jauh berubah tidak nyaman.
Sampai akhirnya...
Brak!
Pintu kelas tertutup kembali. Dan setelah itu tidak ada yang berani bicara. Rhea yang duduk di depan bahkan ikut diam sambil menatap lurus ke arah Arga. Untuk sesaat ia benar-benar bisa merasakan kenapa dosen itu begitu ditakuti di fakultas mereka.
Di depan kelas, Arga tetap berdiri tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
Ia mengambil kembali spidol hitamnya lalu menoleh ke seluruh mahasiswa.
“Siapa nama mahasiswa tadi?”
Salah satu mahasiswa langsung menjawab pelan.
“Riko, Pak…”
“Hmm.”
Arga mengangguk kecil.
“Jika ada yang mau menyusulnya keluar, saya persilakan.”
Seketika beberapa mahasiswa langsung menegakkan posisi duduk masing-masing. Ada yang buru-buru menatap ponselnya, ada juga yang langsung pura-pura fokus membuka buku.
Bahkan suasana kelas mendadak jadi terlalu tertib.
Di samping Rhea, Lusi perlahan mendekat sambil menutupi mulutnya dengan buku.
“Rhe…”
“Hmm?”
“Pak Arga kalau pas nggak ngajar galak gitu juga nggak sih?” bisiknya pelan. “Kamu kan asdosnya, pasti tahu.”
Rhea langsung terdiam sebentar. Matanya sempat melirik ke depan kelas, tepat ke arah Arga yang kini kembali menjelaskan materi seolah kejadian barusan bukan sesuatu yang besar.
“Iya,” jawabnya pelan. “Sama aja.”
...****************...
Waktu berjalan begitu cepat sampai tanpa terasa kelas Arga hari itu sudah berlangsung lebih dari satu jam tiga puluh menit.
Slide terakhir akhirnya muncul di layar proyektor tepat ketika suasana kelas mulai dipenuhi suara ketikan laptop dan lembaran buku yang dibalik pelan oleh para mahasiswa.
Di depan kelas, Arga berdiri sambil sesekali melihat layar laptopnya sebelum kembali mengangkat pandangan ke seluruh ruangan.
“Untuk minggu depan,” ucapnya tenang, “saya mau kalian membuat analisis framing dari satu berita politik atau sosial.”
Beberapa mahasiswa langsung mulai mencatat cepat.
“Gunakan minimal tiga media berbeda.” Arga berjalan pelan ke sisi meja dosen sambil melipat satu tangannya di depan dada. “Dan saya tidak mau ada yang mengambil sumber dari akun gosip, konten potongan video, atau media yang bahkan tidak jelas kredibilitasnya.”
Suara keluhan kecil langsung terdengar dari beberapa sudut kelas.
“Pak… banyak banget…”
“Ya memang.” Arga menatap datar ke arah mahasiswa itu. “Kalau mau tugas mudah, ambil kelas olahraga.”
Seketika satu kelas langsung tertawa kecil sementara mahasiswa tadi buru-buru menunduk malu. Namun Arga sendiri tetap terlihat tenang seperti tidak merasa baru saja menyindir seseorang.
Ia kembali menutup laptopnya pelan lalu mulai mencabut kabel proyektor.
“Format tugas saya kirim malam ini.” Tatapannya menyapu seluruh mahasiswa. “Dan saya harap minggu depan tidak ada lagi yang datang ke kelas tanpa membaca materi.”
Hening beberapa detik.
“Baik. Cukup sampai di sini kelas hari ini.”
“Baik, Pak…” jawab mahasiswa hampir bersamaan.
Suasana kelas perlahan berubah ramai. Suara kursi bergeser mulai terdengar di berbagai sisi ruangan ketika para mahasiswa membereskan barang masing-masing sebelum keluar satu per satu.
Di barisan depan dekat jendela, Lusi ikut memasukkan buku catatannya ke dalam tas lalu menoleh ke arah Rhea yang masih sibuk menutup laptop.
“Rhe, aku duluan ya.” Lusi berdiri sambil merapikan sling bag di bahunya. “Aku ambil kelasnya Bu Hesti.”
Rhea mengangguk kecil.
“Oke, Lus.”
Setelah Lusi pergi, Rhea ikut berdiri sambil membawa laptop dan beberapa buku catatannya. Gadis itu berjalan menuju meja dosen di depan kelas tempat Arga masih sibuk merapikan buku, dokumen, dan laptopnya ke dalam tas kerja hitam miliknya.
“Pak Arga…”
“Hmm?”
“Hari ini Pak Arga tidak suruh saya apa-apa?”
Tangan Arga berhenti sesaat di atas resleting tasnya sebelum akhirnya ia mengangkat pandangan.
“Tidak, Rhea.”
“Kenapa, Pak?”
Arga menatapnya beberapa detik dengan ekspresi tenang seperti biasa.
“Semuanya sudah kamu kerjakan.” Ia kembali memasukkan laptopnya ke dalam tas. “Bahkan powerpoint untuk minggu depan saja sudah kamu bantu kerjakan.” Tatapannya kembali terangkat pelan ke arah Rhea. “Mau mengerjakan apa lagi?”
“Eh…”
Rhea langsung menggaruk kepalanya sendiri sambil tertawa canggung.
Ruangan kelas saat itu sudah mulai jauh lebih sepi dibanding beberapa menit lalu. Hanya tersisa beberapa mahasiswa yang masih sibuk membereskan barang sambil sesekali melirik ke arah mereka berdua.
“Sudah.” Arga akhirnya mengangkat tas kerjanya dari meja. “Kamu pulang saja.”
“Pak Arga mau ke mana?”
“Ke ruangan saya.”
Entah kenapa Rhea langsung refleks berjalan mengikutinya.
“Saya boleh ikut ke ruangan bapak?”
Arga melirik sekilas sambil mulai berjalan keluar kelas.
“Mau apa?”
Langkah Rhea ikut melambat sebentar.
“Eh…” Ia berpikir beberapa detik sambil mengerucutkan bibir. “Mau apa ya?”
Dan itu sukses membuat Arga berhenti sepersekian detik sebelum akhirnya menggeleng kecil.
“Sudahlah.” Nada suaranya terdengar pasrah tipis. “Terserah kamu saja.”
Rhea langsung terkekeh pelan sendiri lalu buru-buru berjalan mengikuti Arga keluar kelas.
Lorong fakultas siang itu masih cukup ramai oleh mahasiswa yang berpindah kelas. Beberapa orang langsung menoleh begitu melihat Arga berjalan melewati koridor dengan Rhea yang mengikuti beberapa langkah di belakangnya sambil membawa laptop.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar samar dari sisi lorong.
“Itu Rhea lagi ya?”
“Kayaknya emang deket banget sama Pak Arga…”
“Gila sih, mana galak banget lagi dosennya.”
“Aku aja kalau ditatap Pak Arga udah takut duluan.”
“Makanya heran, kok Rhea bisa tahan tiap hari bareng sama Pak Arga.”
Sementara itu Rhea yang masih sibuk mengikuti langkah Arga sama sekali tidak menyadari bagaimana beberapa mahasiswa perempuan lain diam-diam memperhatikan mereka dengan rasa iri bercampur penasaran.