NovelToon NovelToon
Sekte Nomor Satu Di Alam Semesta

Sekte Nomor Satu Di Alam Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen, seorang pemuda modern, bertransmigrasi ke Benua Langit Bela Diri. Sialnya, ia terbangun di dalam tubuh Master Sekte "Puncak Awan" yang sedang sekarat. Sekte tersebut dulunya berjaya, namun kini hanya menyisakan gunung tandus, bangunan hancur, dan Lin Chen sebagai satu-satunya anggota yang tersisa. Saat sekte musuh datang untuk mengambil alih tanah tersebut, Lin Chen membangkitkan Sistem Pembangunan Sekte Terkuat. Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang, membangun fasilitas ajaib, hingga menaklukkan surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Evolusi Paviliun Pedang

​Tiga hari setelah insiden di Reruntuhan Kuno Bintang, seluruh Wilayah Selatan bekerja seperti mesin yang digerakkan oleh teror absolut.

​Gunung-gunung harta, jutaan Batu Roh, herbal langka, hingga gulungan seni bela diri dari bekas Istana Matahari Ungu dan sekte-sekte bawahan dikirimkan berbondong-bondong ke kaki Gunung Puncak Awan. Formasi Awan Pembantai kini menjadi batas suci yang tak berani dilanggar oleh siapa pun. Setiap kultivator yang melintas dalam radius sepuluh mil akan secara otomatis turun dari pedang terbang mereka dan berjalan kaki sebagai tanda penghormatan.

​Di dalam Puncak Awan, Lin Chen tidak terlalu mempedulikan urusan administrasi yang merepotkan. Ia menyerahkan tugas penyortiran harta kepada ribuan Murid Pelataran Luar dan tetua tawanan yang telah diikat dengan Kontrak Darah.

​Saat ini, fokus utamanya adalah membelanjakan kekayaan spiritualnya untuk memperkuat fondasi para monster mudanya.

​"Sistem, aktifkan Paket Evolusi Fasilitas pada Paviliun Pedang Ilahi!" perintah Lin Chen yang sedang duduk bersila di udara, mengamati paviliun hitam tiga lantai di pelataran barat.

​[Ding!]

[Menginisiasi evolusi Paviliun Pedang Ilahi (Tingkat Bumi) menuju Tingkat Surga...]

[Proses ini akan memicu anomali resonansi Dao Pedang. Mohon Tuan Rumah mengamankan area.]

​BZZZZZ!

​Langit di atas Puncak Awan mendadak berubah warna menjadi perak kehitaman. Paviliun Pedang Ilahi bergetar hebat. Atap-atapnya meluas, kayu spiritualnya berubah dari hitam pekat menjadi warna perunggu kosmik yang memancarkan pendaran cahaya bintang.

​Bukan hanya bentuk fisiknya yang berubah. Jutaan untaian Sword Qi (Niat Pedang) yang sebelumnya hanya berputar di sekitar paviliun, kini meledak ke segala arah, membentuk sebuah pilar cahaya pedang raksasa yang menembus lapisan atmosfer!

​Di puncak gunung lain, Ye Fan dan Su Yue yang sedang bermeditasi tiba-tiba membuka mata mereka secara serempak. Tulang Pedang Kuno di dalam tubuh Ye Fan beresonansi dengan gila-gilaan, sementara Mata Pedang Bintang Jatuh milik Su Yue meneteskan setetes darah emas karena menatap terlalu dalam pada pilar pedang tersebut.

​"Hukum Pedang... ini adalah untaian Hukum Dao Pedang tingkat Surga!" seru Ye Fan dengan suara bergetar. Ia tidak menunggu perintah lebih lanjut. Tubuhnya melesat menjadi seberkas cahaya hitam, langsung menuju Paviliun Pedang Ilahi yang baru saja berevolusi. Su Yue pun mengikutinya dari belakang dengan jubah putihnya yang berkibar.

​Begitu pintu perunggu paviliun itu terbuka, bukan lagi ruang angkasa kosong berisi pedang terbang yang menyambut mereka, melainkan sembilan patung batu raksasa yang memegang sembilan jenis pedang berbeda. Setiap patung memancarkan niat kuno yang seolah mampu membelah lautan dan menghancurkan bintang.

​Lin Chen melayang turun di belakang kedua muridnya, melipat tangan di dada dengan senyum puas.

​"Paviliun Tingkat Surga tidak lagi hanya memberikan kalian senjata," ucap Lin Chen, suaranya menggema di aula kuno tersebut. "Kesembilan patung ini adalah peninggalan dari sembilan Dewa Pedang masa lalu. Jika kalian bisa menerima satu saja pencerahan dari tebasan mereka, menembus tahap Pembentukan Inti hanyalah masalah waktu."

​Ye Fan dan Su Yue bersujud dalam-dalam. "Terima kasih atas anugerah Guru! Murid akan segera berlatih cengkeraman pedang hingga mati!"

​"Jangan mati dulu. Kalian punya waktu tujuh hari di dalam sini," balas Lin Chen santai.

​Setelah menempatkan kedua murid pedangnya, Lin Chen melesat menuju bagian belakang sekte, ke area air terjun spiritual tempat murid ketiganya, Lin Tian, sedang berlatih.

​Berbeda dengan keanggunan Ye Fan dan Su Yue, cara berlatih Lin Tian murni brutal. Pemuda itu duduk bersila di bawah air terjun raksasa, namun airnya tidak pernah menyentuh tubuhnya. Sebuah pusaran Devouring Qi hitam pekat menelan ratusan ribu galon air spiritual itu ke dalam Dantian-nya tanpa henti. Mayat-mayat monster buas yang ia buru di sekitar pegunungan berserakan di sekitarnya, esensi darah mereka telah dihisap kering.

​Merasakan kedatangan gurunya, pusaran hitam itu menyusut. Lin Tian membuka matanya, melompat turun dari batu, dan memberi hormat.

​"Guru."

​Lin Chen mengangguk, Mata Evaluasi-nya memindai tubuh Lin Tian. Pembangunan Yayasan Lapis ke-4. Hanya dalam beberapa hari setelah membalaskan dendamnya, fondasi Lin Tian justru meroket. Pemuda ini bagaikan jurang tanpa dasar. Jika diberi waktu yang cukup, ia bisa saja menelan seluruh Benua Pinggiran ini hidup-hidup.

​Namun, untuk bisa menyokong narasi legendaris hingga ribuan bab ke depan, Lin Chen tahu ia tidak boleh membiarkan muridnya terlalu nyaman di "desa kecil" ini.

​"Lin Tian, seberapa besar menurutmu dunia ini?" tanya Lin Chen tiba-tiba, menatap langit di ufuk timur.

​Lin Tian mengerutkan kening, merenung sejenak. "Dulu, aku berpikir Kota Kayu Besi adalah seluruh duniaku. Kemudian Tambang Kabut Merah menjadi nerakaku. Kini, Wilayah Selatan ini ada di bawah telapak kaki Sekte Puncak Awan kita. Aku akan mengatakan... dunia ini cukup besar untuk ditelan, namun cukup kecil untuk ditaklukkan oleh Guru."

​Lin Chen terkekeh mendengar jawaban muridnya yang mulai tertular penyakit arogansinya. Ia mengeluarkan sebuah perkamen kuno dari lengan jubahnya dan melemparkannya kepada Lin Tian.

​"Lihat itu."

​Lin Tian menangkap gulungan itu dan membukanya. Itu adalah peta. Namun, matanya langsung melebar saat menyadari skala peta tersebut.

​Wilayah Selatan, Wilayah Utara, Barat, dan Timur—yang selama ini dianggap sebagai "Dunia" oleh para kultivator di sini—ternyata hanya digambarkan sebagai sebuah pulau kecil sebesar kuku di sudut kiri bawah peta. Nama pulau itu adalah Benua Pinggiran Kering.

​Di sebelah timur daratan kecil itu, terbentang lautan hitam raksasa yang dipenuhi tanda tengkorak dan pusaran energi yang digambar dengan tinta merah. Lautan Kematian.

​Dan melampaui lautan maut tersebut, menempati 90% dari keseluruhan peta, adalah daratan raksasa tanpa batas bernama Benua Tengah: Tanah Para Dewa.

​"Wilayah Selatan yang baru saja kita taklukkan hanyalah setitik debu di padang pasir," ucap Lin Chen dengan nada datar, membiarkan kenyataan itu menghantam arogansi Lin Tian. "Di Benua Tengah, seorang kultivator Pembangunan Yayasan seperti kalian hanya pantas menjadi penyapu jalan di sekte kelas tiga. Bahkan aku, dengan ranah Inti Emas, hanya dianggap sebagai kultivator tingkat menengah."

​Lin Tian mencengkeram peta itu erat-erat. Alih-alih takut, jurang hitam di matanya justru bergolak liar. Api ambisi yang jauh lebih gila dari sekadar membalas dendam klan kecilnya mulai menyala.

​"Dunia yang berisi para dewa..." gumam Lin Tian, suaranya serak karena antusiasme. Tubuhnya gemetar karena kegembiraan. "Guru, kapan kita akan menyeberangi lautan ini?"

​Senyum tipis mengembang di wajah Lin Chen. Tepat seperti yang kuharapkan dari Protagonis Bintang 6. "Tujuh hari lagi," jawab Lin Chen. "Kalian memiliki tujuh hari untuk menstabilkan aura pembunuh kalian. Setelah itu, kita akan meninggalkan tempat ini."

​"Meninggalkan Puncak Awan? Tapi, Guru, bagaimana dengan gunung raksasa yang baru saja kita bangun ini? Bagaimana dengan seribu murid pelataran luar dan miliaran kekayaan di perbendaharaan?" tanya Lin Tian kebingungan. Membangun sekte nomor satu adalah tujuan mereka, mengapa harus meninggalkannya begitu saja?

​"Sekte Puncak Awan tidak akan runtuh hanya karena kita pergi," Lin Chen berbalik, menatap deretan paviliun megah di kejauhan. "Gunung ini sekarang adalah Cabang Selatan Sekte Puncak Awan. Para tetua tawanan yang telah diikat kontrak darah akan menjaga dan mengembangkan tempat ini untuk mengumpulkan sumber daya dasar bagi kita."

​Lin Chen menepuk pundak Lin Tian, menularkan kepercayaan diri mutlak.

​"Sekte Utama Puncak Awan yang sesungguhnya belum dibangun, Lin Tian. Kita akan mendirikannya tepat di jantung Benua Tengah, di atas tulang belulang para kaisar dan dewa yang berani menghalangi jalan kita."

​Mata Lin Tian memerah karena kefanatikan. "Murid mengerti! Murid akan bersiap dan berlatih hingga mati selama tujuh hari ini!"

​Setelah Lin Tian kembali ke air terjunnya dengan semangat membara, Lin Chen berjalan kembali ke kamarnya. Layar sistem virtual masih menyala di depannya, menampilkan sisa saldonya: 20.000 Poin Sistem.

​Lautan Kematian bukan lautan biasa. Ia dipenuhi badai kekosongan ruang, petir pembelah jiwa, dan monster laut berukuran raksasa tingkat Inti Emas atau bahkan Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul). Kereta Singa Api miliknya tidak akan mampu bertahan melintasi badai tersebut lebih dari sepuluh menit.

​Ia butuh kendaraan penyeberangan antar-benua yang sah.

​"Sistem, buka Toko Sistem. Filter: Transportasi Antar-Benua tingkat tinggi."

​Deretan barang legendaris bermunculan.

​[Perahu Roh Daun Melayang] - Harga: 5.000 Poin. (Kecepatan sedang, pertahanan rendah, resiko tenggelam 80% di Lautan Kematian).

[Bahtera Naga Tulang] - Harga: 12.000 Poin. (Kecepatan tinggi, diintai oleh jiwa naga pendendam, sangat berisik).

[Kapal Perang Pembelah Bintang (Tingkat Bumi Kelas Puncak)] - Harga: 18.000 Poin. Mata Lin Chen langsung terkunci pada pilihan ketiga.

​[Deskripsi Kapal Perang Pembelah Bintang: Terbuat dari Besi Giok Bintang. Memiliki Formasi Perisai Tiga Lapis yang mampu menahan serangan kultivator Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul) secara penuh. Dilengkapi dengan dua Meriam Pemusnah Qi. Bergerak menggunakan energi Batu Roh. Sanggup membelah badai kosmik dan tsunami Lautan Kematian dengan mulus.]

​"Harganya menguras kantongku sampai kering," ringis Lin Chen, menatap saldo poinnya yang akan langsung anjlok kembali ke kemiskinan. "Tapi demi entri yang overpowered dan bergengsi di Benua Tengah, ini adalah investasi wajib."

​"Beli!"

​[Ding! Pembelian berhasil. 'Kapal Perang Pembelah Bintang' disimpan di Ruang Penyimpanan Sistem.]

​Tujuh hari berikutnya adalah masa persiapan yang sangat sibuk bagi Cabang Selatan Puncak Awan. Ribuan murid bekerja siang malam menata ulang gunung. Lin Chen secara resmi menunjuk beberapa tetua tawanan yang paling setia (karena takut mati) sebagai pelaksana tugas, dengan instruksi untuk terus menambang dan merekrut jenius lokal untuk dikirim ke Benua Tengah di masa depan.

​Hingga akhirnya, pagi hari keberangkatan pun tiba.

​Di pelataran utama yang paling tinggi, Lin Chen berdiri dengan jubah putihnya yang tak ternoda. Di belakangnya, Ye Fan dengan aura pedang yang lebih tenang namun mematikan, Su Yue dengan keanggunan rasi bintang yang mistis, dan Lin Tian dengan aura pusaran hitam yang semakin pekat. Ketiganya tampak seperti tiga senjata dewa yang baru saja keluar dari tungku penempaan surgawi.

​Ribuan murid pelataran luar bersujud di dasar tangga, menatap sang Master Sekte dengan penuh penghormatan dan isak tangis.

​"Kami mendoakan keselamatan Leluhur dan para Kakak Seperguruan! Semoga kemenangan menyertai Sekte Puncak Awan di Tanah Para Dewa!" teriak mereka serempak, menggema ke seluruh lembah.

​Lin Chen mengangguk pelan. Tidak ada kata-kata perpisahan yang panjang atau emosional. Ia hanya mengangkat tangan kanannya ke udara.

​WUSSHHH!

​Sebuah bayangan hitam raksasa tiba-tiba meledak dari cincin Lin Chen, menutupi sinar matahari pagi sepenuhnya.

​Di langit, mengambang sebuah kapal perang kolosal sepanjang dua ratus meter yang terbuat dari besi spiritual berwarna hitam keperakan. Permukaannya diukir dengan rune formasi kuno yang memancarkan cahaya biru terang. Meriam raksasa di sisi kiri dan kanannya memancarkan aura pemusnahan yang membuat udara di sekitarnya terdistorsi.

​Para murid di bawah ternganga hingga rahang mereka hampir lepas. Kapal terbang raksasa?! Bahkan Istana Matahari Ungu yang telah berkuasa ribuan tahun tidak pernah memiliki pusaka tingkat dewa seperti ini!

​"Naik," perintah Lin Chen.

​Ketiga muridnya melompat ke atas geladak kapal dengan cekatan, darah mereka mendidih melihat kendaraan raksasa yang akan membawa mereka menyeberangi maut. Lin Chen menyusul, mendarat dengan elegan di anjungan nakhoda. Ia memasukkan ribuan Batu Roh tingkat menengah ke dalam tungku formasi kapal.

​"Tujuan kita, Benua Tengah," ucap Lin Chen sambil menekan tuas kemudi. "Lautan Kematian hanyalah parit kecil di halaman depan kita."

​BOOOOOOM!

​Formasi kapal meledak dengan energi pendorong. Kapal Perang Pembelah Bintang itu melesat membelah awan dengan kecepatan kilat, meninggalkan jejak cahaya biru yang membentang di langit timur.

1
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Amrye Jhon
semangat
Amrye Jhon
lanjut
Amrye Jhon
bagus
Amrye Jhon
mantap
Ress
Kurang ajar memang🤣/Sob/
Deevy Tresiyana
💪Thor karya mu sangat kereeen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!