"Jangan nona,kami takut tuan akan memarahi kami."ucap pria itu yang memohon pada Nonanya untuk tidak pergi.
"Sudahlah, biarkan aku pergi sekarang.Lebih baik kalian diam saja."jawab wanita itu dengan nada marah.
Wanita itu langsung pergi dengan membawa sepeda motor jadulnya menuju lokasi tempat tinggal sementara dirinya.
Dibalik semua itu ternyata dia sedang menutupi identitasnya dan mencoba berbaur dengan orang lain , apalagi dibalik dia melakukan itu ada maksud tertentu tentang misi yang sedang dia lakukan untuk mencari informasi penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Kalian ada di sini juga." sapa Yogi kepada Nina dan teman-temannya.
"Ya ampun, kalian lagi."jawab Airin yang kaget melihat kehadiran ketika pria itu di tempat makan yang sama.
"Ayo duduk, kebetulan kami makan di sini."jawab Lina yang begitu menyambut mereka dengan baik.
"Ngapain juga ngajakin mereka, ganggu aja." jawab Airin dengan nada sewot.
"Jangan begitu, lebih baik kita kumpul bareng-bareng." jawab Lina yang mempersilahkan mereka duduk di meja depan mereka.
Nina hanya terdiam dan tak terlalu mau memperdulikan kehadiran mereka, Tapi ada seseorang yang diam-diam mencuri perhatian ke arah Nina.
Sebenarnya Nina merasa jika dirinya selalu dilirik oleh Andra, tapi dia tak begitu menghiraukannya dan lebih fokus untuk habiskan makanannya.
Situasi di tempat mereka makan mulai lengah, hanya ada dua orang yang saat itu yang masih makan di tempat di tempat.
Tiba-tiba saja dari arah belakang mereka terdengar suara ribut, keributan itu sampai menjadi tontonan beberapa pengunjung.
Terlihat 2 orang preman yang saat itu sedang memaksa pedagang yang jualan di tempat itu."Aku tidak mau tahu,kamu harus wajib membayar kami." 2 orang preman dengan beraninya memalak pedagang itu.
"Saya tidak punya uang sebanyak itu." ucap pedagang itu yang mulai kebingungan dipalak oleh 2 orang preman.
Preman itu mulai emosi, hingga beberapa barang yang ada di lokasi itu di banting oleh 2 preman itu.
Kejadian itu membuat beberapa orang ketakutan, sampai kursi plastik yang ada di dekat Nina dilempar hingga mengenai temannya.
"Aduh sakit."Lina terkena lemparan dari kursi plastik yang preman itu lempar.
"Hey, Jangan sembarangan lempar barang." ucap Doni yang terlihat begitu marah dengan perilaku mereka.
"Berani kamu melawan kami." ucap pria itu yang tampak begitu marah.
"Jelas-jelas kalian melempar kursi itu mengenai teman kami!" teriak Airin yang tak terima dengan apa yang 2 orang pria itu lakukan.
"Diam kamu!"Teriak preman itu segera menyerang Airin,tapi tanpa dia sadari Nina maju dan menyerang pria itu dengan tendangan.
Tatapan Nina fokus kearah pria itu hingga Nina balik menyerang pria itu, kesabaran Nina sudah habis hingga ia segera menyerang mereka.
Nina memukul keras pria itu hingga salah satu dari mereka terjatuh terkena pukulan dari Nina,sontak saja kejadian itu dilihat oleh teman-teman Nina yang syok melihat Nina jago bela diri.
2 preman itu terkapar dengan luka memar bekas pukulan dari Nina, lagi-lagi Nina memukul wajah mereka hingga berdarah.Nina mengambil pisau yang tergeletak jatuh di bawah.
Pisau itu langsung dia taruh di leher salah satu pria itu,"Jika kalian macam-macam,aku bisa berbuat lebih dari ini."ucap Nina dengan lirih yang mulai mengancam pria itu.
Pada akhirnya 2 preman itu pergi dengan langkah tertatih-tatih, situasi berubah menjadi tenang walaupun meja dan kursi hancur karena ulahnya.
"Nina." Airin datang mendekati Nina,Nina menatapnya dengan ekspresi dingin.
"Kamu tidak apa-apa,kan?" tanya Lina yang khawatir dengan kondisi Nina.
"Kita pulang saja." Nina langsung pergi dari tempat itu, sebelum ia pergi Nina pergi menemui pemilik warung itu.
"Ini uang ganti rugi saya,sudah merusak meja dan kursi Bapak." Nina memberikan uang pada penjualan itu.
"Tapi mbak..."
"Tolong terima,saya pun harus bertanggungjawab dengan apa yang saya lakukan." jawab Nina yang tak ingin bermasalah dengan orang lain.
"Baiklah,jika mbaknya tetap memaksa.Saya terima uang ini."Setelah urusannya selesai,Nina pergi lebih dulu di ikuti Airin dan Lina dibelakang.
Sedangkan posisi Andra, Yogi dan Doni masih berdiri dengan tatapan tak percaya,"Ini beneran,atau hanya mimpi." ucap Yogi yang kaget melihat Nina dengan cepatnya ia melumpuhkan 2 preman itu.
Doni langsung memukul pundak Yogi dengan keras,"Plakk."
"Aduh sakit." ucap Yogi yang spontan teriak.
"Kamu itu tidak mimpi,kita jelas-jelas lihat tadi." Jawa Doni yang menganggap aneh pertanyaan Yogi.
"Diam-diam dia jago juga bela diri." ucap Andra yang baru pertama kalinya melihat Nina jago bela diri.
"Wah,gawat dong.Kalau kamu jadi pacar dia bisa babak belur kamu." jawab Yogi yang tahu betul jika Andra diam-diam mengawasi Nina.
"Pacar apanya?"
"Masih ngeles saja kamu,bukannya kamu diam-diam suka sama Nina." Andra menatap tajam kearah Yogi,ia mulai kesal dengan perkataan dari Yogi.
"Sudah-sudah, ngapain kalian malah ribut.Lihat mereka sudah pergi." ucap Doni yang akhirnya pergi dari tempat itu.
Akhirnya Nina sampai di tempat kost mereka, dibelakang Nina ada Airin dan Lina yang baru saja sampai.
Baru saja Nina akan hendak akan masuk kamar, tiba-tiba saja langkah dia terhenti setelah Airin dan Lina datang mendekati Nina.
"Nina." Ia pun menoleh ke samping.
"Ada apa?" tanya Nina seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Lina yang terlihat begitu khawatir jika ada apa-apa dengan Nina.
"Aku baik-baik saja,justru kamu bagaimana bukannya tanganmu kena lemparan itu?" tanya balik Nina pada Lina Karena sedari awal dia yang tidak sengaja terkena barang lemparan dari preman itu.
"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah menolong." jawab Lina dengan senyuman.
"Iya."jawab singkat Nina yang langsung masuk kedalam kamar.Tiba-tiba saja Airin menarik tangan Luna,"Ada apa?" tanya Lina pada Airin.
" Apa kamu tidak merasa aneh." kata Airin yang diam-diam mengamati Nina.
"Aneh apalagi?" tanya Lina pada Airin.
"Waktu kejadian tadi,aku lihat diri Nina seperti bukan dirinya." kata Airin.
"Kalau bicara yang jelas." jawab Lina yang merasa aneh dari perkataan Airin tentang Nina.
Airin menceritakan kejanggalan yang menurutnya sedikit aneh,"Apa kamu tidak merasa aneh?" tanya balik Airin pada Lina.
"Sedikit,tapi dia melakukan itu pun hanya melindungi kita." Lina lebih berpikir positif dengan apa yang Nina lakukan.
"Terserah apa tanggapanmu,tapi aku hanya berpendapat saja." jawab Airin yang hanya menilai dari sisinya.
Akhirnya mereka bubar dan masuk ke kamar mereka masing-masing. sedangkan di posisi Nina sekarang, ia mulai terlihat begitu was-was.
"Jangan sampai mereka mencurigaiku, harga mereka identitasku habis saja terbongkar."gumam Nina yang merasa kesal.
Diam-diam Nina mengirim pesan kepada Lukas, hanya untuk memberitahu secepatnya pekerjaan itu segera ia selesaikan.
"Aku tak bisa mengulur waktu lagi, jika semua memang informasi sudah terkumpul waktunya untuk menyerang mereka." batin Nina, yang di mana tujuannya menyamar hanya untuk mengetahui situasi tentang musuhnya.