Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Darius menggenggam tangan Vanessa dengan erat, seolah ingin menunjukkan kepemilikan tanpa peduli siapa yang melihat. Keduanya melangkah masuk ke dalam mansion dengan langkah mantap—tanpa sedikit pun mempertimbangkan perasaan seseorang yang seharusnya paling berhak di rumah itu.
Di ruang makan…
Alyssa sudah berdiri di sana.
Meja telah tertata rapi dengan berbagai hidangan. Uap hangat dari masakan masih mengepul, menciptakan suasana rumah yang… terlalu sempurna.
Ia menoleh saat mendengar langkah kaki.
“Darius, kau sudah pulang,” sahutnya lembut, dengan senyum yang tampak begitu alami.
Terlalu alami.
Darius sedikit mengernyit.
“Alyssa, hari ini Vanessa akan tinggal di sini. Kau harus memasakkan makanannya, dan juga menyediakan semua kebutuhannya,” ucapnya tanpa basa-basi.
Nada suaranya datar. Seolah yang ia minta adalah hal yang wajar.
Namun…
Alyssa tidak berubah ekspresi.
Tidak marah.
Tidak terluka.
Tidak juga bertanya.
Justru…
“Vanessa adalah sekretarismu, tentu saja aku akan melayaninya dengan baik,” jawab Alyssa dengan senyum tenang.
Ia bahkan melangkah mendekat sedikit.
“Karena sudah datang, mari makan bersama kami.”
Hening.
Vanessa dan Darius sama-sama terdiam.
Reaksi itu… tidak sesuai dengan yang mereka bayangkan.
Vanessa sedikit mencondongkan tubuh, berbisik pelan di dekat telinga Darius.
“Kenapa dia tidak marah melihatmu membawa wanita lain pulang?”
Darius menyipitkan mata, menatap Alyssa sejenak, lalu tersenyum meremehkan.
“Dia tidak berhak untuk marah,” balasnya pelan. “Lihat saja… aku ingin tahu dia bisa bertahan sampai kapan.”
Nada suaranya penuh keyakinan.
“Dia sangat mencintaiku. Dia tidak bisa hidup tanpaku,” lanjutnya. “Jadi tentu saja… dia harus bersabar.”
Vanessa tersenyum tipis mendengar itu, meski di dalam hatinya masih ada rasa tidak nyaman yang tak bisa dijelaskan.
“Darius, jangan diam saja,” suara Alyssa memotong suasana.
Ia berdiri di dekat meja, memegang sendok sayur.
“Cepat bantu aku. Aku memasak beberapa lauk. Tolong sajikan,” lanjutnya dengan nada ringan.
“Jangan biarkan tamu kita menunggu terlalu lama.”
Alyssa mengangkat mangkuk sup ayam—sup yang tadi ia siapkan dengan tangannya sendiri.
Uapnya mengepul hangat.
Aromanya… menggoda.
Namun di balik kehangatan itu, ada sesuatu yang tak terlihat.
Darius melangkah mendekat, tanpa sadar menatap istrinya sedikit lebih lama dari biasanya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Ia hanya merasa, Alyssa terlalu tenang. Terlalu patuh. Terlalu… sempurna.
“Cepat,” ucap Alyssa lagi, kali ini sambil menoleh dan tersenyum padanya.
Darius tidak merasa nyaman melihatnya.
Di sisi lain, Vanessa duduk perlahan di kursi.
Matanya terus memperhatikan Alyssa.
Wanita itu… tidak terlihat seperti seseorang yang tersakiti.
Beberapa saat kemudian, suasana di meja makan terasa aneh—terlalu tenang untuk situasi seperti itu.
Alyssa duduk dengan anggun, menyuapkan makanan ke mulutnya perlahan. Gerakannya lembut, teratur, seolah tidak ada satu pun hal yang mengganggu pikirannya.
“Vanessa,” ucapnya tiba-tiba, suaranya ringan. “Sebelumnya Darius tidak memberitahuku kau akan tinggal di sini. Jadi aku belum menyiapkan kebutuhanmu.”
Ia mengangkat pandangannya, tersenyum tipis.
“Besok aku akan menyediakan semuanya.”
Nada bicaranya tulus.
Vanessa sedikit terdiam. Ia melirik Darius sekilas, lalu kembali menatap Alyssa.
“Nyonya Fan… apakah tidak keberatan kalau aku tinggal di sini?” tanyanya hati-hati.
Alyssa langsung tersenyum lebih lebar, bahkan terlihat hangat.
“Mana mungkin aku keberatan?” jawabnya lembut. “Panggil saja namaku, biar lebih dekat.”
Ia meletakkan sendoknya pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin halus.
“Ada seseorang yang bisa membantu Darius adalah hal yang baik. Aku sangat mengharapkan itu,” ucapnya. “Kau bisa meringankan bebannya.”
Kalimat demi kalimat keluar begitu tenang.
Begitu… masuk akal.
Namun justru itulah yang membuatnya terasa tidak wajar.
“Ke depannya kau tinggal saja di sini sambil mengawasinya,” lanjut Alyssa. “Biar aku yang memasak dan menunggu kalian pulang setiap hari.”
Ia kembali mengambil sendok, mengaduk pelan sup di mangkuknya.
“Jangan makan di luar. Makanan di rumah lebih sehat,” tambahnya ringan.
Di seberangnya, Darius tidak lagi setenang tadi.
Tangannya yang memegang sendok berhenti di udara.
Alisnya berkerut tipis.
Tatapannya menempel pada Alyssa lebih lama dari yang seharusnya.
“Ada apa dengan wanita ini…” batinnya. “suaminya dekat dengan wanita lain… tapi dia malah terlihat gembira?”
“Kalian begitu tidak tahu malu berselingkuh di hadapanku… bila saatnya tiba, kalian akan tahu akibatnya,” batin Alyssa.
Ia tetap duduk dengan tenang, bahkan sempat mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis ke arah Vanessa.
“Makanlah, jangan sungkan,” ucap Alyssa lembut, seolah benar-benar menjadi tuan rumah yang ramah.
Vanessa membalas dengan senyum kecil, tapi di dalam hatinya, perasaan aneh itu kembali muncul.
Malam hari.
Pukul sebelas.
Lampu di mansion mulai redup, sebagian besar ruangan sudah gelap dan sunyi.
Namun di salah satu kamar…
Darius berada bersama Vanessa. Keduanya sedang melakukan hubungan intim dengan mesranya.
“Darius…” suara Vanessa terdengar ragu di tengah suasana itu.
“Apakah istrimu benar-benar tidak keberatan? Dia malah terlihat… gembira.”
Darius mendengus pelan, nada suaranya penuh rasa meremehkan.
“Biarkan saja,” jawabnya santai.
“Dia sedang hamil. Tidak bisa melakukan apa-apa.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada dingin.
“Selama ini dia hanya bisa di dapur… melakukan pekerjaan rendahan.”
Darius melanjutkan aksinya di atas tubuh wanita itu, ia nengoyangkan pinggulnya dengan cepat sehingga membuat wanita di bawahnya mendesah tanpa henti.
Tanpa mereka sadari di tempat tersembunyi telah terpasang kamera cctv, merekam semua kegiatan mereka di malam itu.
Alyysa berdiri di luar mendengar semua percakapan mereka.
"Keluarga Fan selain kakek, tidak ada yang menerimaku. Aku juga tidak akan ragu membuat nama kalian semakin terkenal di publik," batin Alyysa.
ayooooo