NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Waktu bergulir seperti pasir yang meluncur di sela jemari, tak terasa sudah hampir dua bulan pernikahan "atas kertas" itu berjalan. Namun, bagi Humairah, setiap detiknya terasa seperti ribuan tahun dalam kesunyian.

Di dalam kamar lantai atas itu, dinding-dinding bisu menjadi saksi bahwa hubungan mereka tetap sama: dingin, kaku, dan tanpa nyawa.

Fathan masih setia dengan sofanya, dan Humairah tetap dengan doa-doa panjang di atas sajadahnya.

Nyai Latifah pun semakin menjadi-jadi. Hinaan yang awalnya hanya bisikan, kini berubah menjadi perintah terang-terangan yang merendahkan.

Humairah seolah menjadi tawanan tak kasat mata yang harus mengerjakan segala urusan domestik tanpa cela, sementara statusnya sebagai menantu tetap disembunyikan rapat-rapat dari dunia luar.

Fathan tetap menjadi pengamat yang membisu. Baginya, diam adalah cara paling aman untuk tidak membangkitkan luka masa lalunya, meski itu berarti ia membiarkan istrinya perlahan layu dalam tekanan ibunya sendiri.

Di kediaman Abi Sasongko, suasana pagi terasa berbeda.

Abi Sasongko duduk di teras rumah, menatap cangkir kopi yang masih mengepul, namun pikirannya melayang jauh.

Perasaannya tidak enak. Ada sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya setiap kali ia membayangkan wajah putri semata wayangnya.

"Umi," panggil Abi Sasongko saat melihat istrinya keluar membawa nampan kecil.

"Ayo kita jenguk putri kita sore nanti. Perasaan Abi benar-benar tidak tenang sejak subuh tadi."

Umi Mamik yang mendengarnya langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.

Kerinduan yang ia pendam selama ini seolah mendapat saluran.

"Iya, Abi. Umi juga ingin membawakan lauk kesukaan Humairah. Rasanya sudah terlalu lama kita tidak mendengar suaranya secara langsung."

Tanpa menunda, Abi Sasongko mengambil ponselnya.

Ia menghubungi Kyai Umar, mengabarkan bahwa mereka akan datang berkunjung sore nanti.

Sebuah panggilan yang tanpa ia sadari akan membuka tabir penderitaan yang selama ini disembunyikan Humairah dengan rapi.

Sementara itu, di aula pesantren yang sejuk, suasana tampak jauh lebih hangat.

Humairah sedang duduk dikelilingi para santriwati.

Dua bulan ini, ia telah berubah menjadi sosok ustadzah idola.

Kelembutannya meluluhkan hati yang keras, dan kesabarannya membuat para santriwati mulai merasa nyaman, bahkan cenderung manja.

"Aduh, Ustadzah, yang ini makhraj nya susah sekali. Lidah Firda rasanya terpelintir," keluh Firda, salah satu santriwati yang dulu paling kencang menghujat, kini ia justru yang paling sering menempel pada Humairah.

Firda mengerucutkan bibirnya, berpura-pura menyerah pada lembaran kitab tajwid di depannya.

"Ustadzah ini, kalau mengajar detail sekali, sampai kesalahan sekecil semut pun ketahuan. Susah, Ustadzah!" lanjut Firda lagi yang disambut tawa oleh teman-temannya.

Aisyah yang duduk di sebelah Humairah tertawa kecil melihat tingkah temannya itu.

"Itu namanya Ustadzah sayang sama kita, Fir. Biar bacaan kita sempurna di hadapan Allah."

Humairah tersenyum di balik cadar hitamnya. Matanya yang teduh memancarkan binar kebahagiaan sesaat.

Di tempat inilah ia merasa dihargai, di tempat inilah ia merasa benar-benar hidup. Namun, binar itu meredup saat ia melirik jam di dinding.

Sebentar lagi waktu mengajar habis, dan ia harus kembali ke "penjara" besarnya untuk menyiapkan segala keperluan Nyai Latifah dan menghadapi tatapan tajam Nyai Latifah.

Ia tidak tahu, bahwa sore nanti, orang tuanya akan datang dan melihat bagaimana "ratu" mereka kini telah berubah menjadi "pelayan" di rumah orang lain.

Suara lantunan ayat suci di aula yang tenang itu mendadak terhenti ketika pintu kayu besar terbuka perlahan.

Kyai Umar melangkah masuk dengan senyum kebapakan yang tulus, namun matanya menyiratkan keharuan saat melihat bagaimana menantunya itu kini begitu dicintai oleh para santriwati.

Kyai Umar berjalan mendekat ke arah meja pengajar, membuat para santriwati segera memperbaiki posisi duduk mereka dengan takzim.

"Humairah, Nak," panggil Kyai Umar lembut.

Humairah segera berdiri dan menunduk hormat.

"Iya, Abah. Ada apa?"

"Baru saja Abi Sasongko menelepon. Beliau bilang, sore nanti Abi dan Umimu akan datang berkunjung ke sini untuk menjengukmu," ucap Kyai Umar dengan nada tenang.

"Sekarang, kamu boleh pulang lebih awal untuk bersiap-siap. Biar sisa jam mengajar ini digantikan oleh Ustadzah Fatimah."

Mendengar kata 'Abi' dan 'Umi', pertahanan Humairah yang selama dua bulan ini ia bangun kokoh tiba-tiba runtuh.

Nama itu adalah oase di tengah padang pasir penderitaannya. Bayangan wajah mereka yang hangat seketika menyerbu pikirannya.

Tanpa bisa dibendung, air mata Humairah luruh membasahi bagian dalam cadarnya. Bahunya bergetar hebat.

Ia menangis bukan karena sedih, melainkan karena rasa rindu yang sudah mencapai puncaknya—rindu pada satu-satunya tempat di mana ia merasa benar-benar dicintai tanpa syarat.

"Iya, Abah. Terima kasih banyak. Saya akan pulang sekarang," jawab Humairah dengan suara yang parau karena tangis.

Ia segera merapikan kitab-kitabnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Rasa tidak sabar untuk memeluk Umi Mamik membuatnya seolah melupakan sejenak rasa lapar dan lelah yang mendera selama ini.

Humairah menoleh ke arah para santriwati yang menatapnya dengan bingung sekaligus iba melihat ustadzah kesayangan mereka menangis.

"Anak-anak, Ustadzah pulang dulu, ya. Besok kita lanjutkan lagi hafalannya," pamit Humairah sambil mengusap sudut matanya yang basah.

"Yahhh... Ustadzah nggak seru! Kan tadi janjinya mau cerita soal sejarah Imam Syafi'i," keluh Firda sambil cemberut, mencoba mencairkan suasana.

"Iya, Ustadzah! Masa pulang sekarang sih, nanggung banget," sahut santriwati lain yang ikut-ikutan manja.

Humairah tertawa kecil di balik isaknya. Meski hatinya sedang dilanda badai emosi, tingkah manja mereka selalu berhasil membuatnya sedikit terhibur.

"Maaf ya, besok Ustadzah kasih bonus cerita yang lebih panjang. Assalamualaikum," ucapnya sambil melangkah keluar kelas dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya, menuju rumah utama untuk menyambut kepulangan hatinya.

Langkah kaki Humairah terasa begitu ringan saat menyusuri jalanan pesantren, namun seketika langkah itu membatu tepat di depan pintu rumah.

Di dalam, ia melihat Nyai Latifah sedang memegang kain lap dengan wajah yang merah padam.

Ruang tengah yang tadinya sedikit berantakan kini sudah tampak rapi, namun aura di rumah itu terasa mencekam.

Nyai Latifah menoleh, melempar kain lap itu ke atas meja dengan kasar saat melihat Humairah masuk.

"Ooh, jadi begini kelakuan 'menantu idaman' Abah?" sindir Nyai Latifah dengan suara melengking.

"Orang tuanya mau datang, dia malah enak-enakan di aula, membiarkan mertuanya yang tua ini membersihkan rumah sendirian. Hebat sekali caramu mencari muka, Humairah."

Humairah menunduk dalam, tangannya meremas ujung gamis.

"Maaf, Umi. Tadi Humairah tidak tahu kalau Abi dan Umi akan datang secepat ini. Abah baru memberitahu di kelas..."

"Diam!" potong Nyai Latifah tajam.

Beliau melangkah mendekat, membisikkan ancaman tepat di telinga Humairah.

"Ingat satu hal. Jangan berani-berani mengadu atau memasang wajah melas di depan orang tuamu. Kalau sampai ada satu kata keluar dari mulutmu soal perlakuan kami di sini, aku pastikan Fathan akan menceraikanmu saat itu juga. Kamu mau membuat orang tuamu serangan jantung karena melihat anaknya jadi janda?"

Deg.

Jantung Humairah seperti berhenti berdetak. Ancaman cerai adalah ketakutan terbesarnya, bukan karena ia takut kehilangan Fathan, tapi karena ia tidak sanggup melihat harga diri Abinya hancur untuk kedua kalinya.

"I-iya, Umi. Humairah mengerti," jawabnya dengan suara bergetar.

"Sekarang cepat masak! Abahmu minta hidangan spesial. Sana!"

Humairah segera menghapus air matanya. Ia bergerak cekatan di dapur.

Demi menyambut Abi dan Uminya, ia ingin memberikan yang terbaik.

Ia mulai menyiapkan bumbu rempah untuk nasi kebuli—hidangan istimewa yang selalu menjadi favorit Abi Sasongko di hari raya.

Ia mencuci beras basmati dengan telaten, mengolah daging kambing agar empuk dan tidak bau, hingga aroma kapulaga dan kayu manis mulai memenuhi dapur.

Sementara itu, di ruang tamu, Nyai Latifah duduk dengan senyum licik.

Beliau mengambil ponsel dari saku daster sutranya dan mencari sebuah nama di kontak.

Seorang wanita dari masa lalu yang ia anggap jauh lebih layak bersanding dengan Fathan.

Sarah adalah putri seorang pengusaha kaya, lulusan S2 dari luar negeri, dan memiliki strata sosial yang menurut Nyai Latifah sebanding dengan keluarganya.

"Halo, Sarah? Nak, sore ini datanglah ke rumah ya. Ada acara makan-makan keluarga. Umi sangat merindukanmu," ucap Nyai Latifah dengan suara yang dibuat semanis mungkin.

Setelah menutup telepon, Nyai Latifah bergumam sinis,

"Kita lihat saja. Biar orang tua Humairah sadar, bahwa anak mereka yang hanya lulusan SMA itu tidak ada apa-apanya dibanding Sarah. Aku akan pamerkan seperti apa kualitas menantu yang sebenarnya aku inginkan."

Di dapur, Humairah terus mengaduk nasi kebuli dengan hati yang hancur.

Ia tidak tahu bahwa sore yang ia nantikan sebagai pelipur lara, justru sedang dirancang menjadi panggung penghinaan baru bagi dirinya dan kedua orang tuanya.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!