Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HELAI-HELAI YANG GUGUR
Matahari pagi menembus jendela kamar perawatan intensif, namun bagi Clarissa, cahaya itu tidak lagi terasa hangat. Ia merasa seperti kaca yang sudah retak seribu; satu sentuhan kasar saja akan menghancurkannya menjadi debu. Setelah sadar dari komanya, kenyataan pahit kembali menghantamnya: perjuangan sesungguhnya baru saja dimulai.
"Kemoterapi siklus pertama akan dimulai hari ini, Clarissa," ucap dr. Kusuma dengan nada lembut namun tegas. "Ini tidak akan mudah. Tubuhmu akan terasa sangat sakit, kamu mungkin akan mual, dan... kamu tahu konsekuensinya pada fisikmu."
Clarissa menatap cermin kecil di atas nakas. Wajahnya yang dulu selalu dipoles riasan mahal kini tampak layu. "Lakukan saja, Dok. Aku ingin hidup," bisiknya. Suara angkuh sang ratu kampus telah hilang, berganti dengan suara seorang pejuang yang ketakutan.
Cairan kimia itu mulai mengalir masuk ke dalam pembuluh darahnya melalui kateter. Awalnya hanya terasa dingin, namun beberapa jam kemudian, Clarissa merasa seolah-olah ada api yang menjalar di dalam urat nadinya. Rasa mual yang hebat menghantamnya, membuatnya memuntahkan apa pun yang masuk ke perutnya, bahkan hanya seteguk air putih.
Bastian setia di sampingnya, memegang wadah setiap kali Clarissa muntah, tanpa rasa jijik sedikit pun. "Tahan, Clar. Lo kuat. Gue di sini," bisiknya sembari mengusap punggung adiknya yang kini tinggal tulang.
"Bas... sakit banget..." Clarissa merintih, air matanya jatuh bercampur dengan keringat dingin. "Gue nggak kuat kalau harus begini terus."
"Lo kuat. Inget janji kita? Paris, Clar. Paris menanti lo." Bastian mencoba tersenyum, meski hatinya hancur melihat kembarannya menderita sedemikian rupa.
Sore harinya, saat efek kemo sedang sedikit mereda, pintu kamar terbuka. Adrian berdiri di sana dengan sebuah bantal leher empuk dan sebuah buku sketsa.
"Hai," sapa Adrian canggung. Ia duduk di kursi samping tempat tidur.
Clarissa refleks menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang pucat. "Jangan lihat gue, Adrian. Gue jelek banget sekarang."
Adrian dengan lembut menarik pinggiran selimut itu ke bawah. "Gue nggak pernah ke sini buat lihat make-up lo, Clar. Gue ke sini buat lihat lo. Dan menurut gue, lo jauh lebih cantik begini daripada saat lo pakai topeng jahat di kampus."
Clarissa tertegun. Jantungnya berdebar, bukan karena penyakit, tapi karena ketulusan di mata Adrian. "Semua orang di kampus pasti senang gue menderita begini, kan?"
"Nggak semuanya," Adrian membuka buku sketsanya. "Anak-anak basket titip salam. Bahkan Maya... dia buatkan lo gelang manik-manik ini." Adrian memakaikan gelang warna-warni di pergelangan tangan Clarissa yang kurus. "Dia bilang, warna-warna ini melambangkan harapan."
Seminggu setelah kemoterapi dimulai, apa yang paling ditakuti Clarissa terjadi. Pagi itu, saat ia mencoba menyisir rambutnya, segenggam rambut hitam panjangnya tertinggal di sisir. Ia menarik lagi, dan lebih banyak lagi yang gugur.
Clarissa terdiam, menatap rambutnya yang berserakan di atas sprei putih. Ia mulai terisak, lalu tangisannya pecah menjadi raungan histeris. Rambut itu adalah satu-satunya simbol kecantikannya yang tersisa, "mahkota" yang membuatnya merasa berkuasa.
"Bas! Rambut gue, Bas! Gue botak!" teriaknya histeris.
Bastian masuk dengan tergesa-gesa dan langsung memeluk adiknya. "Nggak apa-apa, Clar. Itu cuma rambut. Nanti bakal tumbuh lagi yang lebih bagus."
"Gue cacat, Bas! Gue nggak punya apa-apa lagi!"
Bastian melepaskan pelukannya, menatap mata Clarissa dengan dalam. Ia kemudian mengambil sebuah alat cukur elektrik yang sudah ia siapkan. Tanpa ragu, Bastian menyalakan alat itu dan mulai mencukur rambutnya sendiri hingga habis di depan Clarissa.
"Lihat? Sekarang kita sama. Kita botak bareng," kata Bastian sambil tersenyum tipis. "Lo nggak sendirian dalam perang ini. Gue bakal ikut menderita bareng lo sampai lo sembuh."
Clarissa terpaku. Ia menyentuh kepala kakaknya yang kini plontos, lalu tertawa di tengah tangisnya. Kehangatan yang selama ini ia cari melalui perhatian semu di kampus, akhirnya ia temukan dalam pengorbanan saudara kembarnya.
Malam itu, Pak Gunawan datang membawa sebuah kotak tua dari gudang rumah mereka. Ia duduk di sisi ranjang Clarissa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Papa menemukan ini di barang-barang Mama," ucap Pak Gunawan pelan. Ia mengeluarkan sebuah surat yang ditulis oleh ibunya beberapa hari sebelum melahirkan si kembar.
“Untuk putri kecilku yang akan lahir... Maaf jika Ibu tidak bisa menemanimu tumbuh besar. Ketahuilah, setiap napas yang Ibu berikan untukmu adalah anugerah terbesar dalam hidup Ibu. Jangan pernah merasa bersalah atas keberadaanmu, karena kamu adalah bukti bahwa cinta itu ada.”
Clarissa membaca surat itu berulang kali. Beban rasa bersalah yang ia bawa selama 20 tahun beban yang membuatnya menjadi sosok yang jahat perlahan terangkat. Ia bukan pembunuh ibunya. Ia adalah hadiah terakhir ibunya.
Di bawah remang lampu kamar rumah sakit, untuk pertama kalinya Clarissa tertidur dengan senyuman yang benar-benar tulus. Namun, di luar ruangan, dr. Kusuma menunjukkan hasil laboratorium terbaru kepada Bastian dengan wajah serius.
"Kondisinya belum membaik secara signifikan, Bastian. Kita butuh donor sumsum tulang belakang sesegera mungkin, atau kemoterapi ini hanya akan memperlama penderitaannya."