Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelundup ke Dunia Luar
Suasana hati Aurelia masih sangat buruk setelah kejadian di balkon latihan kemarin. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas yang sayapnya baru saja dipatahkan oleh ayahnya sendiri. Pagi ini, ia seharusnya belajar merajut bersama Lady Elara, namun Aurelia sudah punya rencana lain.
Ia sudah menunggu di balik pintu kecil gudang logistik sejak fajar. Begitu kereta kuda besar milik ayah Lucas terdengar berderit memasuki gerbang samping, Aurelia segera memberi isyarat pelan.
"Lucas! Di sini!" bisik Aurelia.
Lucas melompat turun dari kereta. Wajahnya terlihat penuh semangat. "Kamu serius mau ikut? Kalau ketahuan, aku bisa digantung, dan kamu bisa dikurung di menara selamanya!"
Aurelia mengerucutkan bibirnya, matanya berkilat tegas. "Aku tidak peduli. Aku mau lihat pasar yang sering kamu ceritakan. Aku mau lihat dunia yang tidak ada prajurit kaku dan tidak ada Ayah yang sibuk."
Lucas menarik napas panjang, lalu menyengir jahil. "Baiklah, Tuan Putri yang keras kepala. Cepat naik ke belakang. Sembunyi di bawah tumpukan kain sutra ini. Ingat, jangan bersuara sedikit pun sampai aku bilang aman!"
Aurelia memanjat kereta dengan gesit dan masuk ke dalam tumpukan kain yang lembut namun sedikit pengap.
Jantungnya berdegup kencang saat kereta mulai bergerak kembali, melewati gerbang samping yang dijaga prajurit. Ia menahan napas saat mendengar suara pengawal menyapa ayah Lucas. Begitu kereta mulai berguncang di atas jalanan batu yang kasar, Aurelia tahu mereka sudah keluar dari wilayah istana.
"Aman! Kamu bisa keluar sekarang!" seru Lucas beberapa waktu kemudian.
Aurelia menyembul dari balik kain dan matanya langsung membelalak lebar. Di depannya membentang pasar rakyat yang sangat ramai. Suara pedagang yang berteriak menawarkan barang, aroma daging panggang yang gurih, dan warna-warni bendera kain di sepanjang jalan membuatnya terpana.
"Wah... Lucas! Ini luar biasa!" seru Aurelia. Ia segera melompat turun, tidak peduli gaunnya yang sedikit berantakan.
"Jangan jauh-jauh dari aku," Lucas menarik tangan Aurelia. "Di sini orangnya banyak sekali, kamu bisa tersesat."
Lucas membawa Aurelia ke sebuah kedai kecil yang menjual kembang gula. "Nih, coba ini. Ini namanya napas naga. Kalau kamu makan, nanti mulutmu keluar asap dingin."
Aurelia menggigit kembang gula itu dan tertawa kegirangan saat melihat asap tipis keluar dari bibirnya. "Lucas! Lihat! Aku jadi naga!"
Mereka menghabiskan siang itu dengan sangat sederhana. Lucas mengajari Aurelia cara bermain lempar gelang, melihat pertunjukan monyet kecil yang pintar, dan duduk di pinggir sungai sambil makan roti goreng.
Bagi Aurelia, roti goreng yang dibungkus kertas kusam itu rasanya jauh lebih enak daripada perjamuan kerajaan mana pun, karena ia memakannya sambil tertawa lepas tanpa ada yang mengatur cara duduknya.
"Lucas," ucap Aurelia sambil melihat pantulan matahari di sungai. "Kenapa orang-orang di sini kelihatan lebih bahagia daripada orang-orang di istana? Padahal baju mereka tidak sebagus baju sepupuku."
Lucas melemparkan kerikil ke sungai. "Mungkin karena mereka tidak perlu berpura-pura, Aurelia. Di sini, kalau lapar ya makan, kalau senang ya tertawa. Mereka tidak perlu menunggu izin dari Raja untuk sekadar tersenyum."
Aurelia terdiam, meresapi kata-kata Lucas. "Aku ingin tinggal di sini saja."
"Jangan bicara sembarangan," Lucas menepuk dahi Aurelia pelan. "Duniaku ini keras. Kadang kami tidak punya uang untuk makan enak. Kamu itu seorang Putri, tempatmu di atas sana untuk memimpin kami nanti."
"Tapi aku tidak mau memimpin kalau aku harus jadi orang yang dingin seperti Ayah," bantah Aurelia polos.
Lucas menatap Aurelia dan tersenyum tulus. "Makanya, kamu harus tetap jadi Aurelia yang aku kenal. Biarpun nanti kamu pakai mahkota, jangan lupa rasanya makan roti goreng di pinggir sungai bersamaku."
Matahari mulai turun, menandakan mereka harus segera kembali sebelum dayang menyadari kamar Aurelia kosong. Saat mereka menyelinap kembali ke dalam istana lewat jalur yang sama, Aurelia merasa seperti membawa rahasia paling besar di dunia.
Sebelum berpisah, Lucas memberikan sebuah kelereng yang ia temukan di pasar. "Ini buat tambahan koleksi harta karun kita. Jangan sedih lagi ya?"
Aurelia menggenggam kelereng itu erat-erat. "Terima kasih, Lucas. Hari ini adalah hari paling asyik seumur hidupku."
Aurelia kembali ke kamarnya tepat waktu, tepat sebelum Princess Elara mengetuk pintunya untuk mengajak latihan menyeduh teh. Saat duduk di depan meja teh yang kaku, Aurelia hanya tersenyum sendiri.
Di balik sikapnya yang kembali tenang sebagai seorang putri, ia masih bisa merasakan sisa rasa manis kembang gula di lidahnya dan kehangatan tangan Lucas yang menggandengnya di keramaian.
Ia tahu, ayahnya mungkin masih tidak melihatnya, tapi di luar sana, di antara rakyat yang berisik dan jalanan yang berdebu, ada seorang bocah laki-laki yang selalu menjadikannya pusat dunia.
---