NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7

Xin Yi menyelesaikan makannya dengan cepat. Ia menutup kotak bekalnya, menyimpannya rapi ke dalam tas, lalu berdiri hendak turun. Tempat ini sudah tidak sepi lagi, dan ia tidak punya niat untuk berurusan dengan orang seperti mereka.

Namun, saat kakinya melangkah menuruni tangga...

Zhang Yui yang tadi memunggunginya tiba-tiba berbalik badan untuk bersandar di pagar. Matanya yang sayu langsung menangkap sosok gadis yang sedang turun dari atap gudang.

"Eh?" serunya pelan, menatap ke arah Xin Yi.

Xin Yi turun dari atap gudang dengan langkah santai dan tenang. Ia tidak mempercepat langkah, juga tidak menunduk karena takut.

Setelah kakinya menyentuh lantai atap utama, ia hanya menepuk-nepuk sedikit rok seragamnya untuk membersihkan debu atau rumput yang mungkin menempel—gerakan yang sangat biasa dan menunjukkan sikap acuh tak acuh.

Tanpa menoleh sedikitpun ke arah kedua pemuda itu, tanpa menyapa, dan tanpa menunjukkan reaksi apa-apa, ia berbalik badan dan berjalan lurus menuju pintu keluar besi.

Di belakangnya, Zhang Yui menyenggol lengan temannya dengan siku.

"Heh, lihat," bisiknya.

Ming Juan yang sedang asyik menghisap rokok dengan heran berbalik badan. Matanya yang semula sayu kini membelalak sedikit.

Yang mereka lihat hanyalah punggung seorang gadis dengan rambut di kuncir kuda. Gadis itu dengan tenang mendorong pintu besi berat itu terbuka, melangkah masuk ke dalam lorong gelap, dan menghilang dari pandangan mereka. Pintu besi pun tertutup kembali dengan suara BUM yang pelan.

Keduanya terdiam sejenak, rokok di jari mereka hampir terbakar habis.

"Siapa tadi?" tanya Ming Juan bingung. "Murid baru? Berani sekali sendirian di sini?"

"Tidak tahu," jawab Zhang Yui sambil mengerutkan kening, matanya masih menatap pintu yang sudah tertutup itu. "Tapi... gaya jalannya keren sekali. Seolah-olah kita ini cuma angin lalu."

Xin Yi sudah pergi, meninggalkan dua berandalan itu dengan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul di dada mereka. Gadis ini... ternyata tidak seperti gadis-gadis lain yang biasanya gemetar atau berteriak jika melihat mereka.

Xin Yi tidak peduli dengan pikiran dua pemuda di atap tadi. Baginya, mereka hanyalah orang asing yang kebetulan berada di tempat yang sama.

Ia kembali ke kelas, menaruh kotak bekalnya ke dalam laci meja dengan rapi, lalu mengambil sebuah buku tebal dan berjalan keluar kembali. Jam istirahat hari ini cukup panjang, hampir dua jam, jadi ia tidak ingin membuang waktu di dalam kelas yang pengap.

Gedung B cukup luas dan berkelok-kelok; butuh waktu beberapa menit baginya untuk sampai ke taman sekolah yang letaknya tak jauh dari lapangan basket utama.

Xin Yi memilih duduk di bawah pohon besar yang rindang. Angin sejuk berhembus pelan, membuat suasana sangat tenang dan rileks. Ia membuka bukunya dan segera tenggelam dalam bacaan, mengisolasi dirinya sendiri dari kebisingan dunia luar.

Tidak jauh dari sana, di lapangan basket yang luas, suasana sangat berbeda.

Suara teriakan dan sorakan gadis-gadis terdengar riuh. Para pemuda sedang bermain basket dengan sangat antusias.

Liu Yang melempar bola dengan indah, memantulkannya ke lantai lalu melompat tinggi. Bruk! Bola masuk dengan sempurna mencetak poin.

"Wahh! Keren saudara Yang!" sorak teman-temannya.

Pemuda itu tertawa lebar, wajahnya tampan dan penuh karisma; keringat menetes di dahinya menambah kesan gagah. Ia bersiap untuk ronde berikutnya, namun matanya secara tak sengaja melirik ke pinggir lapangan, ke arah taman yang teduh.

Di sana, jauh dari keramaian, duduk seorang gadis.

Ia bersandar santai di batang pohon, wajahnya tertunduk fokus membaca buku. Tidak peduli pada sorakan, tidak peduli pada permainan seru di depannya. Ia tampak seperti dunia yang terpisah.

Mata Liu Yang berkedip perlahan, terpaku sesaat. Ada sesuatu yang aneh namun menarik dari gadis itu.

"Hei Liu Yang! Nanti malam makan bersama!!" seru salah satu temannya, memecah lamunannya.

Liu Yang segera kembali tersenyum dan mengangguk. "Oke, siap!"

Ia kembali menoleh ingin mencuri pandang sekali lagi pada gadis misterius itu...

Eh?

Liu Yang mengerutkan kening. Tempat itu kosong. Gadis itu hilang.

Dengan cepat ia memindai area sekitar, dan akhirnya menemukan sosok itu. Xin Yi baru saja menutup bukunya, berdiri dengan tenang, dan berjalan menjauh meninggalkan taman, kembali ke arah gedung sekolah.

Punggungnya menghilang di balik sudut koridor, meninggalkan rasa penasaran baru di hati Liu Yang.

Mobil berhenti di halaman depan rumah. Xin Yi turun dengan langkah tenang, tas punggung masih tersampir di bahu. Baru saja ia melangkah melewati pintu utama, suara tawa riang dan percakapan yang ramai sudah terdengar jelas dari arah ruang tamu.

Gadis itu berjalan masuk tanpa suara.

Di ruang tamu yang luas itu, terlihat Huo Feilin—ibu tirinya—sedang duduk bersandar nyaman di sofa. Dan di sebelahnya, duduk seorang gadis remaja yang sangat cantik.

Wanita muda itu memiliki kulit seputih susu, wajah halus dengan riasan tipis yang sempurna, dan rambut hitam legam yang diatur begitu rapi. Ia mengenakan pakaian kasual namun terlihat sangat mahal dan modis.

Berbeda jauh dengan Xin Yi yang baru pulang sekolah, berkulit kecokelatan dan tampak sederhana.

Xin Yi menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap pemandangan itu dengan wajah datar.

Melihat kedatangan Xin Yi, suasana di ruang tamu sedikit mereda. Huo Feilin menoleh, menatap putri tirinya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara penilaian dan ketidakpedulian.

Gadis cantik di sebelahnya pun ikut menoleh. Matanya menyapu penampilan Xin Yi dari atas ke bawah dengan cepat, lalu ia menyunggingkan senyum yang terlihat manis namun sedikit angkuh.

Itu pasti Xin Yiran, putri Bibi Xin Wei dan sepupunya.

"Xin Yi sudah pulang," ucap Nenek Xin yang duduk di kursi utama, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi sedikit canggung. "Ayo masuk, Nak. Ini Yiran, sepupumu. Dia sama kamu satu sekolah kan?"

Xin Yi hanya mengangguk pelan. "Halo."

Sapanya singkat, dingin, dan langsung pada intinya—sama seperti caranya bersikap pada siapa pun hari ini.

Xin Yiran menatap Xin Yi dari ujung kaki hingga ke wajah. Matanya menyipit sedikit, lalu tersenyum manis namun nada bicaranya terdengar seolah-olah sedang menyesali sesuatu.

"Kakak Xin Yi... kenapa kulitmu terlihat seperti terbakar begitu? Gelap sekali," ucapnya dengan nada polos yang jelas-jelas bernada mengejek.

Suasana seketika hening. Nenek Xin langsung terlihat cemas dan gelisah. "Ah, Yiran jangan bicara seperti itu. Itu kan karena dulu kakakmu sering berada di luar ruangan."

Sementara itu, Huo Feilin tetap tenang duduk di sofa, menyeruput tehnya dengan anggun seolah tidak mendengar apa-apa, tapi matanya tajam memperhatikan reaksi putri tirinya. Bibi Xin Wei sedang berada di ruang belajar bersama Kakek Xin, jadi dia tidak melihat kelakuan putrinya yang satu ini.

Xin Yi tidak marah, tidak juga tersinggung. Ia hanya menatap lurus ke mata sepupunya dengan tatapan tenang namun tajam.

"Apa maksudmu dengan 'terbakar'?" tanya Xin Yi pelan namun dingin. "Apakah kamu tidak tahu bahwa manusia memiliki begitu banyak jenis warna kulit? Tidak semua orang harus seputih susu sepertimu... mirip mayat hidup."

Wajah Xin Yiran langsung memerah padam dan membeku. Dia tidak pernah menyangka gadis desa ini akan berani membalas kata-katanya dengan setegas itu di depan orang lain.

Dengan cepat, dia mengubah ekspresinya. Matanya berkaca-kaca, dia menundukkan kepala seolah merasa sangat bersalah dan malu.

"Aku tidak bermaksud begitu. Maaf kalau kata-kataku menyinggung perasaan Kakak,"ucapnya manja, berusaha mengambil simpati.

Namun Xin Yi hanya mendengus pelan di dalam hati.

"Tidak perlu minta maaf," jawab Xin Yi datar. "Aku tidak merasa tersinggung. Karena apa yang kamu katakan itu benar adanya, dan aku juga tidak marah sama sekali."

Huo Feilin di sudut ruangan sedikit mengangkat alisnya. Anak ini... benar-benar luar biasa dingin dan tidak mudah diganggu.

Nenek Xin segera berdeham untuk mencairkan suasana yang mulai memanas.

"Sudah-sudah, Xin Yi pasti lelah setelah pulang dari sekolah seharian. Ayo Nak, naik ke kamar mandi lalu istirahat sebelum makan malam."

"Baik, Nenek. Terima kasih," jawab Xin Yi singkat. Ia membungkuk sedikit memberi hormat pada Nenek dan Huo Feilin, lalu tanpa menunggu lagi, ia langsung berbalik badan dan berjalan menuju tangga, meninggalkan Xin Yiran yang terpaku di tempatnya.

Begitu punggung Xin Yi menghilang, Xin Yiran langsung meledak. Dia memegang lengan baju Nenek Xin sambil merengek keras.

"Nenek! Lihat itu! Kakak Xin Yi bersikap agresif denganku?! Hanya karena ditanya sedikit langsung marah-marah begitu!"

Nenek Xin menghela napas panjang, lalu menatap cucunya dengan tatapan menegur.

"Yiran, tenanglah. Jangan bicara seperti itu lagi pada Kakakmu. Nenek sudah bilang kan, dia punya latar belakang berbeda. Kalau kamu bicara seenaknya, wajar kalau dia tersinggung. Mulai sekarang, hormati kakakmu, mengerti?"

Xin Yiran mendengus kesal, merasa sangat dirugikan dan dipermalukan.

Dan di balik sikap tenangnya, Huo Feilin hanya diam menyimak semuanya dari awal sampai akhir. Di dalam hatinya, ia mulai menilai: Gadis ini... bukan boneka lembut yang bisa dimanipulasi seenaknya oleh putri manja seperti Xin Yiran.

Di dalam kamarnya yang luas, Xin Yi duduk bersila di atas karpet tebal yang empuk. Jendela besar di kamarnya dibiarkan terbuka lebar, membiarkan angin malam masuk dan memainkan ujung rambutnya.

Ia baru saja selesai mandi dan mengenakan setelan pakaian olahraga berbahan elastis yang nyaman. Tubuhnya yang lentik dan kuat bergerak dengan luwes.

Xin Yi merenggangkan kedua kakinya selebar mungkin hingga membentuk garis lurus sempurna di lantai, lalu tubuhnya menunduk ke depan dengan mudah tanpa sedikit pun rasa sakit.

Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, fokus penuh pada aliran napas dan peregangan otot.

Sudah dua minggu ia tidak melakukan rutinitas ini. Tubuhnya mulai terasa kaku. Ia butuh mengembalikan kondisi fisiknya seperti sediakala, agar tetap siap menghadapi apa pun.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!