Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.
Atau mungkin—
kota yang terlalu gelisah membuat waktu terasa berbeda.
Kota Heimdall belum sepenuhnya tenang.
Beberapa prajurit masih berjaga.
Beberapa orang masih berbisik.
Namun di sisi lain—
di tempat yang jarang diperhatikan—
kehidupan tetap berjalan.
Di daerah kumuh—
Grachius berjalan pelan.
Langkahnya ringan.
Namun tujuannya jelas.
Ia berhenti di sebuah sudut.
Di sana—
dua sosok yang ia kenal.
Finn dan Sasha.
Mereka terlihat terkejut.
“…kau datang lagi?”
Grachius mengangguk pelan.
“…aku akan pergi.”
Sunyi sejenak.
Finn mengernyit.
“…secepat ini?”
Grachius tidak menjawab langsung.
“…aku tidak bisa tinggal lama.”
Sasha menatapnya.
“…karena mereka mencari orang berambut putih?”
Grachius sedikit melirik.
“…ya.”
Sunyi.
Finn menghela napas.
“…kami tahu itu kau.”
Tidak ada tuduhan.
Hanya… kepastian.
Grachius tidak menyangkal.
Beberapa detik berlalu.
“…kami ikut.”
Grachius langsung menoleh.
“Tidak.”
Jawaban itu cepat.
Tanpa ragu.
Finn mengernyit.
“Kenapa?”
“…perjalananku…”
Grachius menatap lurus.
“…berbahaya.”
Sasha sedikit maju.
“…kami juga bisa—”
“Tidak.”
Ia memotong.
Sunyi.
Nada suaranya tidak keras.
Namun tidak bisa dibantah.
“…kalian tidak akan bertahan.”
Kata-kata itu jujur.
Bukan merendahkan.
Namun realistis.
Finn mengepalkan tangan.
Namun tidak membalas.
Karena ia tahu—
itu benar.
Sunyi.
Grachius menatap mereka berdua.
“…jaga dia.”
Ia menatap Finn.
“…itu cukup.”
Finn terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
“…ya.”
Grachius memasukkan tangannya ke dalam pakaiannya.
Mengeluarkan sesuatu.
Dua lembar kertas kecil.
Dengan pola dan simbol yang digambar halus.
Ia menyerahkannya pada Finn.
“…ini?”
Grachius menjawab singkat.
“…jimat.”
Sasha sedikit mendekat.
“…untuk apa?”
“Melindungi.”
Sunyi.
“…cara pakainya?”
“Lempar.”
Jawaban sederhana.
Finn menatap kertas itu.
“…dan itu cukup?”
Grachius mengangguk.
“…cukup.”
Beberapa detik berlalu.
Finn menggenggam jimat itu.
“…terima kasih.”
Grachius tidak menjawab.
Ia hanya menatap mereka sebentar.
Seolah mengingat.
Lalu—
ia berbalik.
“…jangan mati.”
Sasha tersenyum tipis.
“…kau juga.”
Grachius tidak menoleh.
Namun—
“…tidak akan.”
Langkahnya mulai menjauh.
Pelan.
Namun pasti.
Finn dan Sasha hanya berdiri.
Melihatnya pergi.
Tanpa mengejar.
Tanpa memanggil.
Karena mereka tahu—
jalan itu…
bukan milik mereka.
Dan Grachius—
tidak pernah melihat ke belakang.
Namun kali ini—
ia tidak sendirian sepenuhnya.
Karena di belakangnya—
ada dua orang—
yang mulai percaya.
Dan di tangannya—
mereka memegang sesuatu—
yang mungkin—
akan menyelamatkan mereka suatu hari nanti.
...----------------...
...----------------...
Pagi semakin terang.
Langit cerah—
namun suasana Kota Heimdall masih tegang.
Grachius berjalan menuju gerbang timur.
Langkahnya tenang.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Padahal—
seluruh kota sedang mencarinya.
Di kejauhan—
gerbang itu terlihat.
Dijaga.
Lebih ketat dari biasanya.
Beberapa prajurit berdiri.
Mengawasi setiap orang yang keluar.
Grachius tidak berhenti.
Ia terus berjalan.
Hingga akhirnya—
“Berhenti.”
Seorang penjaga mengangkat tangannya.
Grachius berhenti.
Tatapannya tetap datar.
“Mau ke mana?”
Pertanyaan sederhana.
Grachius menjawab tanpa ragu.
“…berpetualang.”
Penjaga itu mengernyit.
“…berpetualang?”
Nada suaranya sedikit curiga.
Namun Grachius tidak menambahkan apa-apa.
Sunyi beberapa detik.
Lalu—
mata penjaga itu bergerak.
Ke rambut Grachius.
Putih.
Langkahnya terhenti.
“…tunggu.”
Penjaga lain mendekat.
“Periksa dia.”
Grachius tidak bergerak.
Dua penjaga berdiri di depannya.
“Angkat kepalamu.”
Grachius melakukannya.
Perlahan.
Dan saat itu—
mata mereka bertemu.
Sunyi.
Detik itu terasa lebih lama.
Mata—
kuning.
Kemerahan.
Seperti matahari.
Keduanya membeku.
“…dia…”
Belum sempat selesai—
Grachius bergerak.
Cepat.
Buk.
Satu pukulan ke perut.
Penjaga pertama langsung terjatuh.
Yang kedua mencoba bereaksi—
namun terlambat.
Tak.
Serangan tepat ke leher.
Ia ikut jatuh.
Sunyi.
Beberapa orang di sekitar belum sepenuhnya menyadari.
Gerakannya terlalu cepat.
Terlalu bersih.
Grachius berdiri.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia melangkah lagi.
Melewati gerbang.
Tidak berlari.
Tidak terburu.
Hanya… berjalan.
Dan dalam beberapa detik—
ia sudah keluar dari kota.
Meninggalkan Kota Heimdall di belakangnya.
Angin luar terasa berbeda.
Lebih bebas.
Lebih luas.
Grachius tidak menoleh.
Tidak sekali pun.
Namun di belakang—
kekacauan akan segera menyusul.
Dan kali ini—
tidak ada jalan kembali.
Langkahnya terus maju.
Menuju timur.
Menuju perjalanan panjang—
yang baru saja benar-benar dimulai.
...----------------...
...----------------...
Di sisi lain Kota Heimdall—
pagi terasa berbeda.
Lebih sunyi.
Namun juga… lebih berat.
Di sudut daerah kumuh—
Finn duduk diam.
Di tangannya—
dua lembar jimat.
Dari Grachius.
Ia menatapnya lama.
Simbol-simbol di atasnya—
tidak ia mengerti.
Namun ia tahu—
itu bukan sesuatu yang biasa.
“…melindungi…”
Gumamnya pelan.
Tangannya sedikit mengepal.
Pikirannya kembali pada kejadian kemarin.
Preman.
Ketakutan.
Dan dirinya—
yang tidak bisa melakukan apa-apa.
Lalu—
sosok itu datang.
Grachius.
Tenang.
Tanpa ragu.
Melawan.
Finn menunduk.
“…lemah…”
Kata itu keluar pelan.
“…aku bahkan tidak bisa melindungi…”
Ia melirik ke samping.
Sasha sedang duduk tidak jauh darinya.
“…adik sendiri.”
Sunyi.
Namun kali ini—
ia tidak menahan perasaan itu.
Ia menerima.
“…pengecut.”
Napasnya berat.
Namun—
sesuatu berubah.
Ia mengangkat kepalanya.
Matanya tidak lagi kosong.
Ia teringat kata-kata Grachius.
“Perjalananku berbahaya.”
“Kalian tidak akan bertahan.”
Itu bukan hinaan.
Itu… kenyataan.
Namun—
“Dia tetap berjalan…”
Finn menggenggam jimat itu lebih erat.
“…sendirian…”
Sunyi.
“…dan melawan dewa.”
Ia tertawa kecil.
Namun pahit.
“…gila.”
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
ia berdiri.
Sasha menoleh.
“…kenapa?”
Finn tidak langsung menjawab.
Ia menatap ke arah pusat kota.
Ke arah kuil.
“…Sasha.”
Nada suaranya berbeda.
Lebih serius.
“…kalau apapun terjadi…”
Ia menoleh ke arah adiknya.
“…kau akan tetap bersamaku?”
Sasha terdiam sejenak.
Namun hanya sejenak.
Lalu—
ia tersenyum.
“…tentu saja.”
Jawaban tanpa ragu.
Sunyi.
Namun—
cukup.
Finn tersenyum tipis.
“…bagus.”
Ia menatap jimat di tangannya.
Lalu—
ke arah kota.
Matanya menyipit.
“…kalau begitu…”
Ia menarik napas dalam.
“…kita mulai dari hal kecil.”
Sasha mengernyit.
“…apa?”
Finn tidak langsung menjawab.
Namun di kepalanya—
sesuatu mulai terbentuk.
Bukan mimpi.
Bukan harapan kosong.
Namun—
rencana.
“…kalau kita tidak bisa melawan dewa…”
Ia menggenggam jimat itu.
“…kita hancurkan yang ada di bawah mereka dulu.”
Sasha menatapnya.
“…maksudnya?”
Finn menatap ke arah jalan—
tempat orang-orang kuil biasa lewat.
“…orang-orang kuil.”
Sunyi.
“…yang memilih… yang mengambil… yang membawa…”
Matanya menjadi tajam.
“…mereka bukan dewa.”
Angin berhembus.
“…dan mereka bisa dilawan.”
Sasha sedikit ragu.
“…itu berbahaya…”
Finn tersenyum tipis.
“…aku tahu.”
Ia menatap adiknya.
“…tapi kalau kita terus diam…”
“…kita akan tetap seperti ini selamanya.”
Sunyi.
Sasha menunduk sejenak.
Lalu—
mengangguk pelan.
“…aku ikut.”
Finn tersenyum.
Bukan senyum bahagia.
Namun—
tekad.
“…baik.”
Ia menyimpan jimat itu.
Dan untuk pertama kalinya—
ia melangkah.
Bukan untuk bertahan.
Namun—
untuk melawan.
Dan tanpa mereka sadari—
sebuah api kecil…
telah menyala.
Di tempat yang paling tidak dianggap.
Dan suatu hari—
api itu…
bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
JIMAT YANG GRACHIUS BERIKAN