NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

permintaan evelyn

Evelyn terdiam.

Pandangan matanya sedikit kosong, namun pikirannya justru bergerak cepat.

Ingatan itu kembali muncul.

Di masa depan…ia bahkan tidak tahu tentang seleksi itu. Tidak ada yang memberitahunya. Tidak ada yang menganggapnya cukup penting untuk dilibatkan.

Ia hanya berdiri di balik jendela kamarnya di lantai dua… menatap ke bawah dengan diam, melihat orang-orang asing datang dan pergi.

Salah satunya—Cristian Noah Alexander.

Saat itu, ia tidak tahu siapa pria itu. Tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia hanya melihatnya sekilas… tanpa arti.

Namun kemudian—pria itu terpilih.

Bukan untuknya. Melainkan untuk Lauren Chaplin.

Evelyn mengingatnya dengan jelas. Bagaimana Lauren tampak puas. Bagaimana semua orang memuji pilihan ayahnya.

Dan bagaimana dirinya…tetap berada di tempat yang sama. Tak terlihat. Namun anehnya—

meskipun ditugaskan untuk Lauren, Cristian Noah Alexander sering muncul di sekitarnya. Membantu dan menemani. Seolah keberadaan Evelyn tidak sepenuhnya ia abaikan. Itu yang membuat semuanya terasa semakin rumit.

Jika semua itu hanya bagian dari rencana—kenapa harus sejauh itu? Kenapa harus bersikap seolah… peduli?

Evelyn menunduk, jemarinya saling menggenggam erat.

“Jadi… ini awalnya…” bisiknya dalam hati.

Kali ini—ia tidak akan hanya menjadi pengamat dari balik jendela. Ia akan turun langsung.

Besok—ia akan berada di sana. Bukan sebagai bayangan. Tapi sebagai seseorang yang siap mengubah semuanya.

“Kenapa? Ada yang kamu pikirkan?” tanya Alberto Chaplin, menatap Evelyn dengan sedikit curiga.

Evelyn tersentak dari lamunannya.

“Iya, Ayah…” ia menarik napas pelan, berusaha terdengar setenang mungkin. “Bolehkah aku juga memiliki sopir pribadi?”

Alberto langsung mengernyit. “Kamu tidak pernah keluar. Untuk apa?”

Pertanyaan itu tajam, seperti biasa. Namun kali ini, Evelyn tidak menunduk. Ia justru menatap ayahnya dengan lebih berani, meski tetap menjaga nada suaranya lembut.

“Iya… sebenarnya…” ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan hati-hati, “aku memiliki niat untuk liburan ke kampung halaman Ibu minggu depan.”

Nama itu—Ibu—membuat suasana sedikit berubah.

Evelyn menunduk pelan, suaranya melembut.

“Aku tahu… aku bukan anak yang terlalu berguna…” ucapnya lirih. “Tapi keinginan untuk tetap hidup… bisakah Ayah memberikannya?”

Kalimat itu menggantung di udara. Untuk pertama kalinya—tidak ada kepura-puraan di dalamnya.

Alberto terdiam. Tatapannya sedikit berubah. Selama ini, Evelyn memang tidak pernah meminta apa pun. Tidak pernah menuntut. Tidak pernah mengeluh secara langsung.

Dan hari ini… ia datang sendiri. Meminta. Bukan sesuatu yang besar. Namun cukup untuk membuatnya berpikir.

Ruangan itu hening beberapa detik. Lalu—

“Baiklah,” jawab Alberto Chaplin singkat.

Evelyn mengangkat wajahnya, sedikit terkejut meski ia berusaha tidak menunjukkannya.

“Ayah akan menambahkan satu orang lagi untukmu,” lanjutnya. “Pilihlah sendiri nanti.”

Jantung Evelyn berdetak lebih cepat.

Berhasil. Ini lebih dari yang ia harapkan.

“Terima kasih, Ayah,” ucapnya pelan.

Namun di balik ketenangannya— ia tahu. Besok bukan sekadar seleksi biasa. Itu adalah momen—di mana ia akan memilih… atau justru mendekati—Cristian Noah Alexander.

“Sepertinya sudah tidak ada lagi yang ingin saya katakan… saya permisi dulu, Ayah,” ucap Evelyn pelan.

Alberto Chaplin hanya mengangguk singkat. Tanpa tambahan kata.

Evelyn berdiri, lalu melangkah keluar dengan tenang.

Klik.

Pintu tertutup.

Langkah kakinya menjauh di lorong, meninggalkan ruangan itu dalam keheningan.

Di dalam, Alberto masih duduk di sofa kulit itu. Diam. Tatapannya kosong ke depan, namun pikirannya jelas tidak tenang.

Evelyn… Anak yang selama ini nyaris tak pernah berbicara. Tak pernah meminta. Tak pernah mendekat. Hari ini—datang sendiri. Berbicara. Bahkan… membuat permintaan.

Alberto mengerutkan keningnya sedikit.

“Apa yang terjadi padanya…?” gumamnya pelan.

Bukan hanya itu. Kata-kata Evelyn tadi masih terngiang di kepalanya. Tentang mimpi. Tentang kehilangan. Dan—tentang keinginan untuk pergi ke kampung halaman ibunya.

Valencia.

Valencia. Nama yang sudah lama tidak disebut di rumah ini. Seorang wanita yang meninggal setelah melahirkan Evelyn. Kenangan yang… tidak pernah benar-benar ia sentuh lagi.

Tatapan Alberto sedikit berubah. Ada sesuatu yang samar—entah penyesalan, atau hanya bayangan masa lalu yang muncul sesaat.

Namun segera ia menghela napas dan kembali menegakkan tubuhnya. Ekspresinya kembali dingin. Seperti biasa.

“Perubahan mendadak seperti ini…” gumamnya.

“...tidak sederhana.”

Namun ia tidak menghentikannya. Tidak juga menolaknya. Karena untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya pahami—

permintaan Evelyn tadi… tidak terdengar salah. Dan mungkin…untuk pertama kalinya—ia mulai melihat anak bungsunya itu… sedikit berbeda.

Di dalam ruang kerja yang kembali sunyi, Alberto Chaplin masih duduk diam. Tatapannya kosong, namun pikirannya jauh dari tenang.

Selama ini…bukan berarti ia membenci Evelyn. Perasaan itu jauh lebih rumit dari sekadar benci atau sayang.

Bayangan masa lalu perlahan muncul. Wajah Valencia—lembut, hangat… dan penuh kehidupan. Wanita yang pernah menjadi pusat dunianya. Namun juga—wanita yang hilang… tepat setelah melahirkan Evelyn.

Alberto menutup matanya sejenak.

Hari itu… hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan—justru berubah menjadi kehilangan terbesar dalam hidupnya.

Dan tanpa sadar…perasaan itu tertinggal. Bercampur. Kacau. Jika harus memilih…

mungkin di sudut hatinya yang paling gelap—ia pernah berharap… Evelyn tidak pernah dilahirkan. Agar Valencia tetap hidup.

Pemikiran yang kejam. Namun nyata. Itulah sebabnya… ia memberi nama belakang itu pada Evelyn.

Valencia.

Bukan hanya sebagai kenangan— tapi juga sebagai pengingat. Pengingat akan apa yang telah hilang. Dan mungkin… tanpa ia sadari—itu juga menjadi jarak di antara dirinya dan anak itu.

Ia tidak pernah menyakiti Evelyn secara langsung. Namun juga tidak pernah benar-benar mendekat. Sikapnya dingin. Terlihat tidak peduli. Seolah Evelyn hanyalah bagian dari rumah… bukan bagian dari hatinya.

Alberto membuka matanya perlahan.

Namun hari ini—ada sesuatu yang berbeda. Cara Evelyn berbicara. Tatapannya. Keberaniannya. Semua itu…tidak seperti biasanya.

“Valencia…” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan pada masa lalu. Lalu ia menghela napas panjang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—

ia mulai mempertanyakan satu hal. Apakah selama ini… ia terlalu jauh menjauh dari anaknya sendiri?

Ingatan itu terus berlapis dalam benak Alberto Chaplin.

Saat Valencia mengandung Evelyn… itu adalah masa paling sibuk dalam hidupnya.

Kampanye calon walikota yang ia dukung sedang berada di puncaknya. Setiap hari dipenuhi rapat, strategi, pertemuan penting—tidak ada waktu tersisa untuk hal lain.

Termasuk… untuk istrinya sendiri.

Valencia lebih sering sendiri di rumah besar itu.

Dan satu-satunya orang yang selalu berada di dekatnya adalah seorang pelayan—Mathias.

Awalnya, tidak ada yang aneh. Mathias hanya menjalankan tugasnya. Menemani, membantu, menjaga.

Namun seiring waktu—muncul bisik-bisik. Desas-desus. Tentang kedekatan yang dianggap melewati batas. Tentang kemungkinan… perselingkuhan.

Alberto membuka matanya perlahan.

Tatapannya mengeras. Ia tidak pernah benar-benar membuktikan kebenaran itu. Tidak pernah memastikan.

Namun—isu itu sudah cukup untuk menanamkan keraguan. Keraguan yang tumbuh diam-diam.

Dan saat Valencia meninggal setelah melahirkan Evelyn… semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Kehilangan. Kemurkaan. Dan… kecurigaan.

Itulah sebabnya—meskipun ia tidak pernah mengatakan apa pun secara langsung— ada jarak yang tidak terlihat antara dirinya dan Evelyn.

Bukan hanya karena kehilangan Valencia. Tapi juga karena… keraguan yang tak pernah benar-benar hilang. Dan mungkin— itulah alasan terdalam kenapa ia tidak pernah benar-benar bisa memperlakukan Evelyn seperti anak-anaknya yang lain.

1
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!