Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.
Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.
" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya
" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.
Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"
" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "
Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.
Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebutuhan Konten.
Siang itu, matahari bersinar terik sekali seolah mau memanggang aspal jalanan. Dinara berjalan santai menyeberang jalan menuju warung pecel Mbok Tum. Perutnya sudah keroncongan dari tadi, apalagi habis lari ke sana ke mari untuk urus stok barang.
Warung pecel Mbok Tum letaknya pas di seberang Resto Kembang Desa, tempatnya sederhana tapi selalu ramai. Kata orang, bumbu kacang Mbok Tum itu rahasia turun-temurun, rasanya gurih, pedasnya pas, dan bikin ketagihan.
Dinara duduk di bangku kayu pendek yang sudah agak licin, ternyata sudah ada Mbak Nina di sana. Wanita itu sibuk mengipas-ngipaskan wajahnya pakai kardus bekas mie instan. Keringat membanjiri pelipisnya, rambutnya yang biasa ditata rapi sedikit berantakan kena angin panas.
" Lho Mbak Nina ada disini to? " sapa Dinara ramah.
Mbak Nina menganggukkan kepala sambil menyeruput es jeruk. Dia adalah marketing digital Restoran Kembang Desa yang sudah berpengalaman.
"Panas banget, Mbak Ra! Aku tadi habis ke daerah Guyub, cari rekanan foto buat konten baru. Rasanya pengen nyebur ke kolam es," keluh Mbak Nina sambil menghela napas panjang, wajahnya merah merona kena sengatan matahari.
Dinara nyengir sambil menuangkan air teh hangat ke gelas kecil di depannya. "Semangat, Mbak! Kan demi target penjualan juga. Kalau kontenmu bagus, pembeli makin banyak, bonus kita juga ikut nambah, kan? Pahala, pahala."
Mbak Nina mendengus pelan, wajahnya berubah masam pas teringat beban kerjanya.
"Itu dia lho yang bikin pusing. Aku bingung mau bikin konten apa lagi, Mbak. Kemarin aku ajuin video baru ke Pak Edi, tapi dia bilang kurang oke, katanya kurang mendongkrak minat beli. Mana deadlinenya minggu ini, kalau belum ada, aku bisa kena semprot lagi."
Dinara mengunyah timunnya pelan sambil mikir.
"Konten testimonial pelanggan aja, Mbak? Itu biasanya paling aman dan meyakinkan pembeli baru."
"Kalau itu dah banyak banget, Mbak Ra. Sudah ada 3 video yang isinya itu terus. Aku pengen yang lebih menarik, yang nunjukin kalau restoran kita itu paling juara," jawab Mbak Nina sambil memainkan sendoknya bosan.
"Emmm... aku juga nggak jago nyari ide konten kreatif gini sih, Mbak. Otakku cuma jalan kalau udah bahas harga, timbangan, dan mutu barang doang," jawab Dinara jujur sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal. "Atau... konten di dapur aja? Tunjukin kesibukan koki-koki kita waktu masak-masak?"
Mbak Nina langsung geleng-geleng kepala kencang. "Udah pernah, Mbak. Tapi kata Chef Dika nggak boleh sering-sering. Katanya takut rahasia bumbu atau cara masak khas kita bocor ke kompetitor. Kamu kan tau kalau Chef Dika itu paling protektif soal urusan dapur."
"Oalah... ya kalau gitu aku buntu juga, Mbak," kata Dinara sambil menyuapkan nasi penuh ke mulutnya.
Tiba-tiba mata Mbak Nina berbinar, seolah ada lampu pijar besar menyala di atas kepalanya. Dia langsung mencondongkan badan ke arah Dinara, matanya bersinar-sinar penuh ide baru.
"Ekh! Aku baru kelingan, Mbak! Kamu kan tiap subuh udah ke pasar buat milih-milih ikan kan? Kamu yang pegang kendali mutu bahan baku, kan?"
Dinara cuma bisa mengangguk pelan karena mulutnya penuh sesak sama nasi dan sayuran, matanya berkedip bingung.
Mbak Nina makin semangat ngomongnya. "Nah! Aku kontenin kamu aja ya, Mbak! Judulnya misal: 'Di Balik Lezatnya Kembang Desa: Perjalanan Mencari Bahan Terbaik'. Isinya tentang cara pemilihan bahan baku yang berkualitas tinggi, gimana kita teliti, gimana kita pastikan yang masuk ke dapur itu yang paling segar. Nanti Mas Adi bagian sayuran, aku fokusin bagian seafood alias ikan-ikanan. Mau ya, Mbak? Bantu aku dong, please!"
Dinara menelan makanannya susah payah karena kaget.
"Piye maksudnya, Mbak? Aku nggak bisa akh. Aku nggak jago ngomong di depan kamera, nanti pas aku bengong atau salah ngomong malah jadi bahan ketawaan orang."
"Tenang aja, Mbak! Aku yang bikin konsep, aku yang nulis naskah, aku yang atur posisi dan gerakan, aku yang edit semuanya. Pokoknya Mbak sama Mas Ferdi ikut aja arahanku, senyum dikit, liat ikan dikit, pegang ikan dikit, kelar!" tawar Mbak Nina antusias.
Dinara mengerutkan keningnya, mulai membayangkan situasinya.
"Mbak Nina mau syutingnya langsung di Pasar Induk Kasturi gitu maksudnya?"
"Lah iya dong, Mbak! Itu baru bagus, biar asli dan natural! Kalau bisa aku mau ikut lihat pas ikan baru diturunkan dari kapal nelayan, terus perjalanan masuk pasar, sampai akhirnya ada di tangan kita buat jadi bahan masakan enak. Cerita lengkap tentang perjalanan ikan segar dari laut ke dapur!"
Dinara menghela napas panjang, rasa malasnya mulai naik.
"Berarti... harus melibatkan Mas Langit dong, Mbak?"
"Iya lah, Mbak Ra! Kan dia pemilik lapak, dia yang supplier utama Kembang Desa, dia yang jadi bintang utamanya. Dia wajib masuk konten biar makin keren. Jadi tugas kamu, tolong bujukin Mas Langit ya? Biar dia izinkan kita syuting di lapaknya, sekalian minta izin dia tampil dikit di kamera."
Dinara langsung geleng-geleng, wajahnya berubah cemberut.
"Ish... nggak mau ah, Mbak! Dia orangnya jutek, dingin kayak es batu di kulkas, irit bicara kayak setiap kata itu bayar mahal. Ribet, Mbak, ribet! Kalau mau minta bantuan Mas Ferdi aja. Sesama lelaki kan bahasanya lebih nyambung, lebih akrab, dan nggak perlu basa-basi."
"Ya ampun, Mbak Ra... masa gitu aja takut. Kan kamu tiap hari ketemu sama dia."
"Ho'oh aku serius, Mbak! Kalau kamu minta aku angkat peti ikan seberat berapa pun aku mau, tapi kalau suruh aku ngomong sama si 'Patung Bernyawa' itu nggak mau ah, darah tinggi nanti kena omongannya," tolak Dinara tegas.
Mbak Nina melihat ketegasan di wajah Dinara, akhirnya mengangguk pasrah.
"Yaudah oke deh, aku ngobrol sama Mas Ferdi dulu aja deh siapa tau dia lebih bisa negosiasi sama Mas Langit. Tapi kalau Mas Ferdi gagal, kamu wajib bantu ya, Mbak!"
"Siap, kalau Mas Ferdi gagal baru kita bicarakan lagi. "
Mbak Nina pun beranjak pergi dengan semangat baru, meninggalkan Dinara yang kembali fokus menyantap pecel yang tinggal separuh. Mbok Tum yang dari tadi sibuk di belakang kompor, kini maju membawa teko air panas buat nambah air teh Dinara.
"Mbak Dinara, itu bangunan besar di dekat perempatan sana, yang dulu bekas restoran Jepang itu mau dibuka resto baru ya?" tanya Mbok Tum santai sambil mengelap meja kayu.
Dinara menoleh ke arah perempatan jalan itu, tempat bangunan besar yang sedang diselimuti kain terpal warna biru itu berdiri megah. Sudah dua minggu lebih suaranya berisik, ada tukang cat, tukang besi, sama tukang batu yang sibuk dari pagi sampai sore.
"Iya Mbok, sudah mulai direnovasi total kayaknya. Tapi belum kelihatan plang atau tulisan besarnya, jadi belum tau nama restoran apa. " jawab Dinara santai sambil menyuap nasi lagi.
Mbok Tum mengerutkan keningnya sedikit, tampak agak khawatir. "Waduh... nggak takut jadi saingan berat to, Mbak? Kalau mereka buka dengan harga murah atau menu enak, nanti pelanggan Kembang Desa pada pindah ke sana lho."
Dinara langsung tersenyum lebar, dia menatap Mbok Tum dengan tatapan yakin dan tenang.
"Nggak takut sama sekali, Mbok! Percaya deh, rejeki itu Gusti Allah yang ngatur, nggak bakal ketuker sama punya orang lain. Mbok lihat kan? Di sekitar sini aja ada tiga penjual nasi pecel, tapi yang paling ramai tetep warung Mbok Tum. Kalau jujur, mutunya bagus dan pelayanannya ramah, orang bakal balik lagi. Saingan itu bukan buat ditakutin, tapi buat disemangatin biar kita makin bagus lagi kerjanya."
Mbok Tum langsung tertawa senang.
"Nggih Mbak, saya setuju sama ucapan Mbak Ra. "
Baru aja obrolan manis itu selesai, datanglah dua orang laki-laki pakai baju kerja berdebu debu bangunan. Mereka duduk di bangku kosong dekat Dinara, kelihatan sangat lapar dan capek. Mereka adalah pekerja proyek renovasi bangunan besar di perempatan sana.
Dinara yang ramah, iseng bertanya.
"Mas, itu bangunan besar di ujung sana mau dijadikan resto apa sih? Penasaran saya dari kemaren belum ada tulisan jelasnya."
Salah satu pekerja itu menggaruk kepalanya yang penuh debu semen.
"Anu Mbak... opo to namanya... aku lali loh Mbak."
"Selaya Resto, Mbak. Itu cabang baru. Katanya bakal jadi cabang terbesar mereka di daerah sini. Plangnya baru mau dipasang besok pagi." ujar teman yang satunya lagi.
WALAH DALAH! CILOKO IKI!
Kalimat itu terucap nyaris tanpa sadar dari mulut Dinara. Tangan yang sedang memegang sendok langsung berhenti di udara, matanya melotot bulat kayak bola pingpong, nasi yang mau masuk ke mulutnya tiba-tiba macet di jalan. Jantungnya rasanya berhenti berdetak sebentar, terus berdebar kencang banget sampai rasanya mau melompat keluar dari dada.
Padahal baru beberapa detik yang lalu dia berpidato panjang lebar sama Mbok Tum soal 'rejeki nggak bakal ketuker', 'nggak takut saingan', dan 'yakin sama kualitas sendiri'. Eh giliran tau nama saingannya itu SELAYA RESTO, rasanya dunia Dinara kayak mau runtuh seketika.
Selaya Resto! Tempat kerja Haura! Istri kedua mantan suaminya! Wanita yang bikin hidupnya hancur, yang bikin dia harus pisah dari Mas Tri, yang bikin dia harus berjuang mati-matian dari nol lagi! Dan sekarang... musuh bebuyutan itu mau buka cabang baru di sekitar sini.
'Ya Allah kenapa harus berurusan sama Umi Dasyim lagi sih? Baru aja aku mau tenang, baru aja aku seneng kerja di sini, ekh dia mendekat? kenapa harus Selaya? kenapa nggak resto yang lain aja? karena pasti sesekali Haura akan mengecek restoran itu' batin Dinara teriak histeris.
Dia buru-buru menghabiskan teh manisnya, berusaha menenangkan jantungnya yang makin tak karuan detaknya. Di kepalanya langsung terbayang wajah Haura yang sok alim, sok lembut, tapi aslinya beracun itu. Terbayang juga Mas Tri yang lemah dan bimbang itu.
'Ah sudahlah Dinara! Tetep prinsip tadi, rejeki nggak bakal ketuker!' ujarnya optimistis dalam hati sambil bergegas bayar ke Mbok Tum, rasanya nggak tenang lagi duduk di sana.
Dinara berjalan balik ke arah Kembang Desa dengan langkah agak gontai, kepalanya penuh dengan kekhawatiran baru yang besar. Di ujung jalan sana, bangunan besar itu berdiri angkuh, dan bagi Dinara, itu bukan sekadar bangunan baru, tapi itu seperti gerbang neraka yang mau dibuka lebar-lebar buat menyambut dia lagi.
'Hati-hati aja, Dinara... Mulai sekarang, perang sesungguhnya baru mau dimulai lagi. Dan kali ini di medan yang sama.'
mau ku Author nulis sekali UP 10 Eps 🤭🤭🤭 But I Luv you Thor😍😍😍
buat KA Atta.. mkasih dah buat cerita yg menarik ini, sehat trs dan idenya makin lancar...🙏🥰