Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 Wanita Misterius
Razna terpekur membayangkan sikap kedua orang tuanya jika dia kembali dan meminta pertolongan mereka.
"Apa pintu hati Mama dan Papa akan terbuka kembali untukku setelah semua yang terjadi selama ini?" gumamnya masih gamang.
Pertanyaan -pertanyaan itu menggema dalam hatinya. Tangannya gemetar saat meraih ponsel di samping ranjangnya. Layarnya retak parah, seperti hidupnya saat ini. Dia menatap lama nomor telepon yang masih tersimpan di kontak, 'Mama Sayang'.
Jempolnya menggantung di atas layar ponsel. Sebenarnya satu tekan saja, akan bisa mengubah segalanya menjadi lebih baik. Masalah dirinya di rumah sakit ini bisa selesai. Namun hal ini membuatnya bimbang. Dia ragu untuk meminta tolong pada orang tuanya. Malu bercampur gengsi.
Namun di sisi lain, dia sangat membutuhkan pertolongan mereka. Dia harus menekan malu dan gengsi ketika masalahnya memuncak. Tidak ada pilihan lain selain kembali kepada orang tua.
“Mama…kumohon tolong Razna...” lirihnya hanya dalam hati.
Dengan napas yang tersengal dan penuh harapan, akhirnya ia menekan tombol panggil. Nomor 'Mama Sayang' ditekannya dengan hati yang harap-harap cemas.
Nada sambung terdengar hanya sebentar. Selanjutnya hanya jawaban operator yang membuatnya membeku.
"Maaf nomor yang Anda hubungi salah."
Deg.
"Mana mungkin..." gumamnya pelan.
Dia terhenyak, tergugu mendengar ucapan operator bahwa nomor ponsel mamanya salah. Dia merasa sudah tidak ada harapan lagi setelah dicoba secara berulang-ulang dan hasilnya tetap sama, "Maaf nomor yang Anda hubungi salah."
"Gimana sudah bisa?" tanya petugas administrasi yang masih menunggu kepastian dari Razna.
Razna menggeleng lemah.
"Ck...gimana sih? Kalau orang tua Ibu ga bisa dihubungi, coba hubungi nomor suami ibu. Kemarin waktu membayar biaya persalinan, suami ibu bawa uang banyak. Tapi tidak dibayarkan semua dengan alasan uang itu bukan uang dia. Kalau tahu bakalan begini, kemarin udah kupaksa aja dia bayar sepenuhnya buat sesar. Suami ibu itu banyak omong, pandai bersilat lidah. Walaupun aku baru bertemu dengan suami ibu, aku tahu bahwa suami ibu itu tidak pantas dipertahankan,"
Deg.
Razna terlihat kaget mendengar ucapan petugas yang meluapkan emosinya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, sampai petugas berbicara demikian. Yang dia tahu, suaminya benar-benar tidak punya uang buat biaya persalinan sehingga dia ngotot tidak mau membawanya ke rumah sakit lantaran biayanya sangat besar.
"Saya mohon Sus, ada kebijakan dari pihak rumah sakit terkait ini. Aku janji aku akan bayar setelah aku kerja lagi,"
"Mau sampai kapan, Bu. Seminggu, sebulan atau setahun? Itu terlalu lama. Kami hanya bisa memberimu tenggang waktu sampai dengan jam 5 sore. Setelah itu, jangan harap bayi ibu yang sudah meninggal itu bisa dimakamkan secepatnya,"
Kalimat itu sungguh terasa sakit untuk didengar. Kalimat yang berisi tekanan yang begitu sadis.
Siang semakin merayap. Tangis bayi dari ruang lain terdengar menusuk telinga Razna seperti ejekan yang bertubi. Ia memalingkan wajah ke arah dinding, membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.
Di saat itulah pintu ruang perawatan terbuka perlahan. Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah tenang. Usianya sekitar lima puluhan, pakaiannya rapi, wajahnya teduh namun sulit ditebak. Ia menatap Raznalira lama, lalu mengalihkan pandangan ke box bayi yang kosong yang terletak di sudut ruangan.
"Serahkan bayi ibu ini, biar saya yang menanggung seluruh biayanya!" seru wanita paruh baya itu kepada petugas administrasi tersebut.
Petugas itu mengangguk hormat, seolah sudah lama mengenalnya.
"Baik Bu, akan saya ambil dan membawanya ke sini, ini rincian biaya yang harus dibayar," kata petugas itu menyerahkan rincian biayanya.
"Tidak masalah. Ini saya bayar langsung. Berikan struk pembayarannya sekarang juga sekaligus bawa bayi ibu ini ke sini!"
Petugas itu menerima pembayaran dengan senang hati.
"Baik Bu saya akan buatkan struk pembayarannya, sekaligus membawa bayi itu ke sini,"
"Ingat tidak pake lama!" ujar wanita paruh baya itu tegas.
Raznalira menatap wanita paruh baya itu dengan penuh tanda tanya. Dia tidak mengenalnya. Wanita itu sangat asing. Tetiba datang sebagai Dewi penyelamat. sungguh apakah ini yang namanya pertolongan Allah yang datang dengan sendirinya ketika seseorang hanya berharap pertolongan dari-Nya? Itu mungkin saja. Manusia hanya bisa menduga.
“Boleh aku duduk?” tanyanya lembut.
Raznalira mengangguk bingung.
"Ibu siapa? Mengapa Ibu sangat baik padaku, padahal aku tidak kenal dengan Ibu."
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis.
“Mbak tidak perlu tahu siapa aku. Tadi secara tidak sengaja aku dengar bayi Mbak meninggal dan Mbak belum bisa menebusnya padahal siapapun yang sudah meninggal harus segera dimakamkan. Aku hanya ikut merasakan apa yang Mbak rasakan saat ini,“ jelas wanita itu tersenyum tipis.
"Kalau begitu terima kasih sudah mau membantuku. Aku janji secepatnya akan melunasi pembayaran rumah sakit ini."
"Oooh tidak perlu. Aku hanya minta Mbak menyerahkan bayimu untuk aku makamkan dengan layak, itu saja. Dan Mbak akan memberimu sejumlah uang untuk kehidupanmu setelah keluar dari rumah sakit ini,"
Air mata Raznalira kembali mengalir. “Kenapa Ibu sangat baik padaku sementara kita baru saja bertemu?" ucapnya penasaran.
“Aku hanya ingin membantumu. Aku merasa terpanggil untuk membantu wanita tulus sepertimu. Mbak jangan salah paham. Anggap saja ini sedekah untuk meringankan beban di pundakmu. Berikan bayi itu padaku dan aku yang akan memproses pemakaman bayimu sampai selesai.”
Raznalira memejamkan mata menerima tawaran itu. Sungguh dunia seakan tengah mempermainkan hatinya. Menyerahkan jasad anaknya sendiri pada orang asing karena tidak memiliki uang untuk memakamkan jasadnya. Namun Razna tidak punya pilihan lain.
Dengan tangan gemetar dan hati yang hancur, Razna mengangguk.
“Aku mohon,” katanya lirih. “Kuburkan dia dengan baik. Doakan dia seperti anakmu sendiri dan beri nama di pusaranya Alira Ayunda! Aku mohon agar aku bisa mengenali makam anakku sendiri,"
Wanita itu berdiri. “Aku janji akan memenuhi keinginanmu. Mbak jangan khawatir. Gunakan uang ini untuk melanjutkan hidupmu beberapa Minggu ke depan. Aku tidak ingin ibu dari bayi ini larut dalam kesedihan. Oiya nanti datanglah di TPU Griya Indah! Anak Mbak akan dimakamkan di sana," ujarnya menyakinkan.
Razna mengangguk sambil menerima amplop putih dengan tangan gemetar. Dia tahu ini salah. Tapi sekali lagi, dia tidak punya pilihan untuk bisa keluar dari rumah sakit ini selain menerima pertolongan dari wanita asing yang sudah berbuat baik padanya.
"Ini bayinya Bu!" ujar petugas memberikan bayi tersebut.
"Ku mohon aku ingin memeluknya terakhir kali..." pinta Razna memohon.
"Silakan, tapi hanya sebentar!" ujar wanita asing itu membiarkan Razna memeluk bayi yang akan menjadi miliknya.
Petugas mengikuti perintah wanita asing tersebut, menyerahkan bayi kepada Razna.
Razna menerima bayi dengan tangan gemetar dan hati yang rapuh.
“Maafkan Ibu, Nak,” bisiknya sambil terisak.
“Ibu memberikan jasadmu pada orang lain agar kau dimakamkan sebagai manusia. Ibu tidak punya pilihan, Sayang..."
"Sudah ya Bu..."ujar wanita itu lembut.
Razna menyerahkan bayinya dengan berat hati kemudian menerima struk pembayaran pelunasan biaya rumah sakit.
Biaya rumah sakit sudah lunas tapi bayinya diserahkan kepada orang lain dan dia menerima amplop putih.
"Apa arti semua ini? Apa itu sama saja aku telah menjual bayiku sendiri pada orang asing?" tanyanya lirih.
Deg.
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...