NovelToon NovelToon
Satu Ranjang Dua Luka

Satu Ranjang Dua Luka

Status: tamat
Genre:Rumah Tangga / Perjodohan / Misteri / Tamat
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Labirin Masa Lalu

​Pintu rolling door berbahan baja itu telah tertutup sepenuhnya, namun suara derit engselnya yang berkarat seolah masih bergema, menggores dinding-dinding tengkorakku.

​Aku masih duduk bersimpuh di atas lantai beton safe house yang dingin. Udara di sekitarku terasa sangat tipis. Di depanku, Akta Hibah yang ditandatangani oleh Ghazali tergeletak bisu—sebuah saksi mati betapa kotor dan menjijikkannya rasa cemburuku. Pria itu telah menyerahkan seluruh triliunan aset keluarganya kepadaku, memastikan aku memiliki perlindungan absolut, sementara aku membalasnya dengan tuduhan sebagai manipulator kejam.

​"Berdirilah, Dokter Keana."

​Suara berat Komisaris Herman memecah kesunyian gudang logistik tersebut. Perwira veteran itu melangkah mendekat, memungut dokumen legal tersebut, dan meletakkannya di atas meja stainless steel.

​"Air mata penyesalan tidak akan memutar kembali waktu. Dan di duniaku, menangis di tengah medan perang adalah cara tercepat untuk terbunuh," ucap Herman. Nada suaranya tidak menghakimi, melainkan menuntut ketegaran.

​Aku mengangkat wajahku yang sembab. Hidungku terasa perih, dan luka di bahuku kembali berdenyut, mengirimkan sinyal rasa sakit yang menjalar hingga ke tulang belikat.

​"Aku menghancurkannya, Komisaris," bisikku parau, menatap nanar ke arah meja. "Dia baru saja mengetahui bahwa anak kandungnya disuntik mati oleh wanita yang pernah ia cintai. Jiwanya sedang hancur berkeping-keping, dan aku justru menaburkan garam di atas luka terbukanya. Aku membiarkan omong kosong Nyonya Ratna mengendalikan logikaku."

​"Itulah tujuan utama seorang sosiopat, Keana. Mereka tidak perlu memegang pisau untuk membunuhmu. Mereka cukup menanamkan satu benih keraguan di kepalamu, dan membiarkanmu menghancurkan dirimu sendiri dari dalam," Herman menarik sebuah kursi lipat dan duduk. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Pertanyaannya sekarang... apakah kau akan terus duduk di lantai itu meratapi kesalahanmu, atau kau akan menggunakan otak ilmuwanmu untuk menjahit kembali apa yang telah kau robek?"

​Pertanyaan retoris itu menamparku dengan keras.

​Aku adalah seorang ahli patologi forensik. Selama bertahun-tahun, aku telah melatih diriku untuk melihat kematian secara objektif. Saat seorang pasien mati di atas meja operasi, dokter bedah mungkin akan menangis meratapi kegagalannya. Namun bagiku, kematian adalah titik awal dari sebuah investigasi. Kematian adalah sebuah teka-teki yang harus dibedah.

​Masa lalu Ghazali mungkin telah mati dan membusuk, namun ia meninggalkan jejak. Sebuah labirin gelap yang dirancang oleh Maia Anindita. Dan jika suamiku tersesat di dalam labirin itu, maka akulah yang harus masuk ke sana, membawa senter, dan menariknya keluar.

​Aku menelan isak tangisku. Aku mengusap wajahku dengan kasar menggunakan kedua telapak tanganku, memaksa sistem saraf parasimpatikku untuk mengambil alih dan menenangkan detak jantungku.

​Dengan bantuan ujung meja logam, aku memaksakan diriku berdiri. Kakiku yang telanjang dan terluka terasa kebas, namun aku mengabaikannya. Aku meraih kotak besi berkarat peninggalan Bidan Darmi yang kubawa dari klinik aborsi tadi.

​"Kau benar, Komisaris. Asumsi adalah pembunuh terbesar kebenaran," ucapku dengan suara yang kini telah kembali pada intonasi aslinya—dingin, datar, dan analitis. "Aku tidak bisa memperbaiki masa lalu suamiku. Tapi aku bisa memastikan bahwa wanita yang menghancurkan masa lalunya itu membusuk di penjara dengan dakwaan yang tidak bisa dibatalkan oleh hakim mana pun."

​Aku membuka kotak besi itu. Di bawah cahaya lampu neon gudang yang berkedip pelan, aku mengeluarkan map kuning kusam berisi rekam medis balita bernama Gala Anindita.

​Aku menyebarkan lembaran-lembaran kertas usang itu di atas meja. Mataku memindai setiap baris tulisan tangan Bidan Darmi.

​Sebab Kematian: Asfiksia Hipoksia akibat injeksi Kalsium Sianida intra-vena. Waktu Kematian: 12 November 2020.

​"Komisaris, lihat ini," aku menunjuk pada baris observasi post-mortem (pasca-kematian) yang ditulis dengan sangat tidak rapi di bagian bawah halaman.

​Herman bangkit dan berdiri di sebelahku. "Ada apa?"

​"Dalam ilmu toksikologi forensik, kematian akibat Kalsium Sianida memiliki tanda klinis yang sangat spesifik yang tidak bisa dimanipulasi," jelasku, jariku menelusuri teks tersebut. "Sianida mengikat enzim sitokrom oksidase di dalam sel. Artinya, sel tubuh tidak bisa menggunakan oksigen yang ada di dalam darah. Darah korban akan tetap kaya akan oksigen bahkan setelah ia mati."

​"Lalu, apa efeknya pada mayat?" tanya Herman, keningnya berkerut mencoba mengikuti alur pemikiran medisku.

​"Warna Livor Mortis atau lebam mayat," mataku menyipit, menangkap sebuah inkonsistensi yang fatal. "Lebam mayat pada korban keracunan sianida akan berwarna cherry-red (merah terang seperti buah ceri), bukan merah keunguan gelap seperti mayat pada umumnya. Tapi lihat apa yang ditulis Bidan Darmi di sini. Dia menulis: Lebam mayat berwarna kebiruan pucat di punggung bawah."

​Herman terbelalak. "Dia berbohong dalam rekam medisnya sendiri?"

​"Atau dia tidak pernah benar-benar menyuntikkan sianida itu," bisikku. Darahku berdesir hebat. Labirin masa lalu ini tiba-tiba membuka sebuah lorong rahasia yang tidak pernah kuprediksi sebelumnya.

​Aku dengan cepat membalik tumpukan kertas itu, mencari foto-foto pasca-kematian (post-mortem photography) yang biasanya dilampirkan dalam prosedur aborsi atau eksekusi gelap untuk diserahkan kepada pemesan sebagai 'bukti kerja'.

​Tanganku berhenti pada sebuah foto polaroid yang memperlihatkan balita laki-laki itu terbaring di atas ranjang klinik dengan mata terpejam.

​Aku meraih kaca pembesar (lup) dari kotak P3K, menyalakan senter kecilku, dan memfokuskan cahaya tepat ke arah wajah anak di dalam foto tersebut.

​"Perhatikan area bibir dan bantalan kuku anak ini, Komisaris," ucapku dengan ritme napas yang mulai memburu karena adrenalin. "Warnanya sianosis sentral—kebiruan pekat. Ini adalah tanda kekurangan oksigen kronis, bukan tanda darah yang kaya oksigen akibat sianida. Anak ini mati karena henti napas mekanik, atau..."

​Aku menggeser lup ke area lipatan siku anak itu, mencari tanda bekas suntikan intra-vena (IV). Permukaan kulit anak itu mulus. Tidak ada memar bekas tusukan jarum.

​"...Atau anak ini tidak mati dibunuh malam itu," desisku, sebuah kesimpulan gila meledak di kepalaku.

​"Maksudmu Bidan Darmi memalsukan kematian anak Ghazali untuk menipu Maia dan Nyonya Ratna?" Herman menopang tubuhnya di meja, wajah perwira tua itu memancarkan ketidakpercayaan. "Untuk apa? Jika ketahuan, Nyonya Ratna akan langsung membunuhnya!"

​"Uang. Atau mungkin sisa nurani. Darmi adalah bidan yang merawat kehamilan Maia selama sembilan bulan. Dia yang melahirkan anak itu ke dunia. Mungkin dia tidak sanggup menyuntik mati balita sehat yang ia rawat sendiri," aku menatap Herman dengan mata berkilat tajam. "Jika anak itu tidak mati karena sianida malam itu... jika foto ini hanyalah foto anak yang sedang tertidur di bawah pengaruh obat bius..."

​"Maka ada kemungkinan anak kandung Ghazali masih hidup," Herman menyelesaikan kalimatku.

​Keheningan yang memekakkan telinga merampas sisa udara di dalam gudang tersebut.

​Beban kebenaran ini begitu masif hingga membuat lututku kembali goyah. Anak Ghazali. Putra dari pria yang kucintai, darah daging dari wanita yang paling kubenci, mungkin masih bernapas di luar sana, tersembunyi dari peradaban elit keluarga Mahendra.

​"Komisaris," suaraku berubah menjadi instruksi militer, "kita harus menemukan Bidan Darmi malam ini juga. Kita harus memaksanya bicara sebelum Maia menyadari bahwa wanita tua itu telah menyerahkan kotak ini pada kita."

​BRAK!

​Belum sempat Herman mengangguk, suara gebrakan keras dari arah pintu besi kecil yang menyatu dengan rolling door menghentikan rencana kami.

​"Tidak perlu mencariku, Dokter."

​Pintu itu terbuka. Bidan Darmi berdiri di ambang pintu, tubuhnya basah kuyup oleh hujan, gemetar hebat, dan terengah-engah. Namun, ia tidak datang sendirian.

​Di belakangnya, seorang pria jangkung dengan kemeja biru tua yang basah kuyup melangkah masuk. Pria itu memakai kacamata berbingkai tebal.

​Leo Sastra. Pengacara litigasiku.

​"Maaf aku datang terlambat ke sarang persembunyian kalian ini, Keana," Leo Sastra menutup pintu besi itu dengan rapat, lalu mendorong Bidan Darmi masuk lebih dalam ke ruangan. Pengacara kawakan itu menatapku dengan wajah serius. "Begitu Komisaris Herman memberitahuku bahwa kalian pergi ke klinik aborsi itu, aku segera menyusul ke sana. Aku tiba tepat waktu untuk menyelamatkan wanita tua ini dari tiga orang preman sewaan yang sedang berusaha membakar kliniknya."

​Herman refleks menarik pistolnya. "Algojo Maia?"

​"Benar," Leo mengangguk tegas. "Maia Anindita sedang melakukan aksi bersih-bersih besar-besaran. Dia tahu persis bahwa bukti ekshumasi Bi Inah yang kita dapatkan hari ini akan sangat memberatkannya di pengadilan. Dia mencoba membakar setiap saksi hidup yang tersisa dari masa lalunya."

​Aku menatap Bidan Darmi yang kini meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Aku melangkah mendekatinya, berjongkok di hadapannya, dan mencengkeram kedua bahunya yang ringkih.

​"Katakan padaku kebenarannya, Darmi," tuntutku dengan suara yang menggemakan otoritas. "Balita di foto itu. Dia tidak mati karena sianida. Di mana kau menyembunyikan putra Ghazali?"

​Bidan Darmi menangis terisak-isak, air matanya bercampur dengan air hujan di wajahnya keriputnya. "Aku... aku tidak sanggup membunuhnya. Anak itu memanggilku 'Oma' setiap kali aku memberinya makan. Aku membius anak itu dengan Kloralhidrat dosis rendah agar dia terlihat seperti mayat untuk kufoto. Setelah Maia memberikan uang sisa pembayarannya dan pergi..."

​"Ke mana kau membawanya?" aku mengguncang bahunya sedikit.

​"Aku menyerahkannya ke sebuah panti asuhan kecil di perbatasan Bogor," isak Darmi, menatapku dengan sorot mata penuh penyesalan. "Aku mengganti namanya. Aku memalsukan akta kelahirannya. Aku mengira dia akan aman di sana."

​"Kau mengira?" potong Herman tajam, insting interogatornya langsung menyala. "Apa yang terjadi padanya?"

​"Satu tahun kemudian... Nyonya Ratna mulai curiga. Dia tidak pernah percaya padaku. Dia menyewa detektif swasta untuk melacak alur keuanganku," Darmi menelan ludah dengan susah payah. "Nyonya Ratna menemukan panti asuhan itu. Dia mengetahui bahwa anak itu masih hidup."

​Udara di sekitarku terasa membeku. Nyonya Ratna menemukannya.

​"Dan apa yang Nyonya Ratna lakukan?" tanyaku dengan napas tertahan.

​"Beliau tidak membunuhnya," jawab Darmi, sebuah jawaban yang sama sekali tidak memberikan kelegaan. "Beliau justru membawa anak itu kembali ke bawah pengawasannya. Beliau memindahkan anak itu ke Panti Asuhan Kasih Mahendra—panti asuhan elit milik yayasannya sendiri. Beliau menjadikan anak kandung Ghazali sebagai 'anak asuh' yang tidak pernah diketahui identitas aslinya oleh siapa pun, bahkan oleh Ghazali sendiri."

​Sebuah konspirasi yang begitu kejam, begitu sistematis, hingga membuat nalar kemanusiaanku berontak. Nyonya Ratna menyembunyikan cucu kandungnya sendiri di panti asuhannya. Ia membiarkan Ghazali mengira anaknya telah mati digugurkan, sementara sang anak hidup di bawah pengawasan mutlak sang nenek yang sosiopat.

​"Lalu... balita usia enam tahun yang meninggal karena gejala hipoksia di panti asuhan itu sebulan sebelum Kakek dibunuh..." kepalaku berputar hebat menyatukan potongan-potongan puzzle berdarah ini.

​Aku menoleh ke arah Herman, mataku terbelalak ngeri.

​"Balita yang dijadikan tikus percobaan oleh Maia untuk menguji racun Digoxin itu..." suaraku nyaris hilang, dicekik oleh horor yang tak terbayangkan.

​"Itu adalah Gala," isak Darmi, membenamkan wajahnya ke kedua telapak tangannya. "Maia Anindita meracuni anak panti asuhan itu tanpa tahu bahwa balita yang ia jadikan kelinci percobaan adalah anak kandungnya sendiri."

​Keheningan absolut meruntuhkan dimensi ruang dan waktu di gudang itu.

​Leo Sastra yang biasanya tidak pernah kehilangan kata-kata, kini mematung dengan mulut setengah terbuka. Komisaris Herman mengumpat pelan, memalingkan wajahnya karena mual mendengar kekejaman di luar batas nalar manusia.

​Tragedi Yunani Kuno mana pun tidak akan pernah bisa menandingi kebusukan keluarga Mahendra. Maia, demi ambisinya menguasai harta, telah menyuntikkan racun ke dalam aliran darah darah dagingnya sendiri, tanpa pernah menyadari identitas korban kecilnya karena Nyonya Ratna menyembunyikan kebenaran itu dengan terlalu sempurna.

​"Ghazali..." bisikku, sebuah nama yang meluncur bersamaan dengan pecahnya hatiku untuk kedua kalinya malam ini.

​Pria itu. Suamiku. Di bawah guyuran hujan tadi, ia meraung menangisi kematian anaknya yang ia kira disuntik mati oleh bidan ini enam tahun lalu. Jika ia mengetahui fakta bahwa anaknya justru hidup hingga usia enam tahun, hanya untuk dijadikan bahan eksperimen racun oleh mantan kekasihnya sendiri... jiwa Ghazali tidak akan sekadar hancur. Kewarasannya akan musnah. Ia akan berubah menjadi monster yang sesungguhnya.

​"Kita tidak boleh membiarkan Ghazali mengetahui detail ini sekarang," ucapku tegas, bangkit berdiri dan menatap Herman serta Leo secara bergantian. "Jantungnya baru saja pulih dari henti fatal. Kondisi psikologisnya sedang berada di titik nadir. Fakta ini akan memicu respons psikosomatis yang bisa menghentikan jantungnya secara permanen."

​"Tapi Keana," sela Leo Sastra, melangkah maju membenarkan letak kacamatanya, "fakta ini adalah senjata nuklir kita di persidangan lusa! Jika kita bisa membuktikan bahwa Nyonya Ratna menyembunyikan anak itu, dan Maia secara tidak sadar membunuh anak kandungnya sendiri untuk bereksperimen dengan racun Digoxin, hakim tidak akan punya pilihan selain menjatuhkan hukuman mati (Capital Punishment) pada mereka berdua. Bukti ini melengkapi mens rea dan actus reus mereka dengan sempurna!"

​"Aku tidak peduli pada kesempurnaan hukummu, Pak Leo!" bentakku, mataku menyala-nyala menantang pengacara hebat itu. "Aku adalah istrinya! Dan sebagai dokter, tugasku adalah menyelamatkan pasienku, bukan mendorongnya ke ujung tebing keputusasaan hanya demi memenangkan sebuah persidangan!"

​Leo terdiam, terkejut dengan ledakan agresiku.

​Aku merapikan kerah kemeja flanelku. "Kita akan tetap membawa kasus ini ke pengadilan. Kita akan menggunakan hasil ekshumasi Bi Inah dan sisa parfum mawar di kuku wanita itu. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjebloskan mereka ke penjara. Tapi rahasia tentang Gala... rahasia ini akan kusimpan sendiri sampai suamiku siap menerimanya."

​Aku mengambil jas lab putihku yang sudah kotor, melipatnya, lalu menyampirkannya di lengan kiriku.

​"Tolong amankan Bidan Darmi di tempat yang tidak akan pernah bisa dilacak oleh orang-orang Mahendra," instruksiku pada Herman.

​"Kau mau ke mana?" tanya Herman.

​"Aku akan pulang ke apartemen Sudirman," jawabku, membalikkan badan menuju pintu rolling door. "Suamiku sedang sendirian di sana, terjebak di dalam labirin masa lalu yang gelap. Aku harus memastikan bahwa dia tahu, aku tidak akan pernah melepaskan tangannya lagi."

​Perjalanan kembali ke kawasan elit Sudirman terasa seperti membelah dua dimensi yang berbeda.

​Saat aku berdiri di depan pintu apartemen mewah berpanel kayu ek itu, waktu menunjukkan pukul lima pagi. Fajar belum menyingsing, dan lorong koridor terasa membeku.

​Aku mengangkat tanganku yang bergetar pelan, memasukkan kode akses pada panel digital pintu. Tanggal kematian kakeknya.

​Klik.

​Pintu terbuka tanpa suara. Udara di dalam apartemen gelap, dingin, dan berbau khas parfum oud milik Ghazali. Namun, ada keheningan yang salah di tempat ini. Keheningan yang tidak terasa seperti kedamaian, melainkan seperti kekosongan dari sebuah tempat yang ditinggalkan.

​"Mas?" panggilku pelan, melangkah masuk menyusuri lorong menuju ruang tengah.

​Tidak ada jawaban.

​Aku menyalakan lampu sakelar ruang keluarga. Ruangan itu kosong. Sofa tempat kami berciuman beberapa jam yang lalu kini terlipat rapi. Tidak ada jas basahnya, tidak ada perban bekas darahnya.

​Aku berlari menuju kamar utama. Kosong. Ranjang itu tidak pernah ditiduri. Aku membuka pintu kamar mandi. Kosong.

​Kepanikan mulai meremas paru-paruku. "Ghazali!" teriakku, berlari ke arah ruang kerja di sudut apartemen.

​Ruangan itu juga kosong. Namun, di atas meja kerja berbahan kayu mahoni itu, terdapat sebuah benda yang membuat darahku berhenti mengalir.

​Sebuah arm-sling (gendongan lengan) berwarna gelap yang tadi ia gunakan untuk menopang tangan kanannya yang hancur, tergeletak di atas meja. Di sebelahnya, terdapat sebuah amplop cokelat berlogo Pengadilan Negeri—surat cerai palsu yang ia tandatangani di ruang VIP kepolisian malam itu.

​Dan di atas surat cerai tersebut, diletakkan sebuah cincin pernikahan berbahan platinum. Cincin miliknya.

​Tanganku bergetar saat aku meraih secarik kertas sticky note kuning yang menempel di bawah cincin tersebut. Tinta Montblanc hitam yang sama kembali menggoreskan sebuah pesan.

​Namun kali ini, pesan itu tidak ditulis dengan kelicikan seorang manipulator hukum. Pesan itu ditulis dengan tangan kiri yang gemetar, menyajikan keputusasaan murni dari seorang pria yang jiwanya telah mati.

​“Kau benar, Keana. Aku adalah monster yang sama dengan ibuku. Tanganku terlalu kotor oleh darah masa laluku untuk menyentuh kehidupanmu yang bersih. Lanjutkan hidupmu. Gunakan aset yayasan itu untuk rumah sakitmu. Tolong, jangan pernah mencariku. Biarkan aku menebus dosaku pada putraku sendirian di neraka.”

​Kertas kuning itu terlepas dari sela jariku, melayang jatuh ke atas lantai kayu.

​Aku jatuh terduduk di kursi kerjanya, menatap cincin pernikahan yang ditinggalkannya dengan pandangan buram oleh air mata.

​Ghazali telah pergi. Ia tidak pergi karena ia tidak mencintaiku. Ia pergi karena ia percaya bahwa cintanya akan menghancurkanku. Manipulasi ibunya dan tragedi masa lalunya telah berhasil meyakinkannya bahwa ia adalah racun yang harus disingkirkan dari hidupku.

​Di luar jendela apartemen, hujan pagi mulai turun kembali. Di ruangan yang terasa terlampau luas ini, aku meringkuk memeluk lututku sendiri.

​Luka di antara kami ternyata belum benar-benar sembuh. Ia hanya dibius sesaat oleh kehangatan sekilas. Dan kini, saat bius itu habis, rasa sakitnya meledak dengan brutalitas yang menghancurkan.

​"Kau bodoh, Ghazali Mahendra," isakku, membenamkan wajahku ke atas meja kerjanya yang dingin. "Kau meninggalkanku tepat di saat aku memutuskan untuk menelan semua racunmu."

​Ranjang ini tak lagi sekadar ranjang yang dingin; ranjang ini kini telah benar-benar kosong. Dan untuk pertama kalinya, sang dokter forensik tidak tahu bagaimana cara membedah jalan untuk kembali menemukan suaminya yang hilang.

1
falea sezi
ya uda end
falea sezi
novel sekeren ini sedetail ini sepi like ya ampun😍 aq ksih hadiah deh
falea sezi
uda Keana dia cocok ma maia yg uda di ewe
falea sezi
🤣 laki najis pernah tidur gk dia sama maya pasti pernah donk
falea sezi
mending cerai aja lah😕
Detia Anastasia
Gila aku suka novel gini, kenapa baru nemu sekarang🤧
Yeni Puspitasari
pernikahan yang mengerikan Thor,
baca part ini aku merinding
Mei TResna Rahmatika
kapan bahagianya thorr😭
Mei TResna Rahmatika
pliss thor nanti bikin happy ending buat keana sama ghazali😭
Mei TResna Rahmatika
kasian banget keana😭
Mei TResna Rahmatika
susah di tebak alurnya tp seruuu poll
Mei TResna Rahmatika
plisss Ghazali jangan mati thorr😭
Mei TResna Rahmatika
deg"an tiap baca part nya thor
Mei TResna Rahmatika
nangisss bangettt part ini 😭😭
Dewy Aprianty
seru banget, lanjut thorr
Mei TResna Rahmatika
baguss kak, cerita nya lain drpd yg lain
nunggu update selanjutnya kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!