NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran ketujuh

  Malam itu, dirumah Hanum sangat sibuk. Mereka sibuk mempersiapkan penyambutan keluarga pak Karto.

  "Apa semua sudah siap, Risa?" tanya pak Haris.

  "Hampir, mas." Jawab bu Risa.

  Pak Haris menatap jam yang melingkar di tangannya, "agak dipercepat, pak Karto akan sampai lebih awal, mereka sudah ada di jalan, diperkirakan akan sampai sebelum jam 9." Katanya.

  "Iya, mas." Jawab bu Risa.

  "Hanum, kamu bersihkan dirimu. Dandan yang rapi, jangan kecewakan ayah lagi, ya!"

 "Iya, ayah." Ucapnya, patuh.

  "Dimana Nadia?" Tanya pak Haris yang dijawab gelengan kepala dari Hanum dan bu Risa.

  Dalam kesibukan itu, mereka tidak menyadari bahwa Nadia tidak ada di rumah, entah sejak kapan. Semua orang tidak ada yang melihatnya pergi, Nadia pun tidak berpamitan pada siapapun.

  "Kemana anak itu? Cepat telepon Nadia!" titah pak Haris.

  Hanum mencoba menekan nomor Nadia, namun tak ada jawaban darinya, begitupun saat ayah dan ibunya yang menelepon, tak ada jawaban dari Nadia.

  "Ya, sudah. Sebaikanya kamu bersiap Hanum." Kata pak Haris sedikit kesal.

  Hanum segera pergi untuk membersihkan diri, memakai pakaian rapi, lalu duduk di depan cermin untuk menyesuaikan hijabnya.

  "Ya Allah... Aku akan selalu percaya bahwa rencanamu pasti indah." Bathin Hanum sambil memandangi wajah diri di depan cermin.

  Dia akan pasrah pada LAMARAN KETUJUH. Akan siap menerima apapun keadaanya dengan hati yang ikhlas.

  Ayah dan ibunya begitu bahagia, saat melihat Hanum keluar dari kamar dengan senyum tulus, dan lagi akhirnya Hanum akan menerima lamaran itu, sesuai janjinya.

  "Wah, cantiknya anak ibu." Puji bu Risa dengan senyum yang merekah di wajahnya.

  "Terimakasih ya, nak. Akhirnya kamu mau menuruti keinginan ayah sama ibu," ucap pak Haris sambil memeluk putri sulungnya itu.

  Hanum pun tersenyum saat dipelukan sang ayah, "sama-sama, ayah." Katanya, lalu beralih memeluk ibunya.

   Suara bel berbunyi membuat semua menoleh ke arah sumber suara. Hatinya mendadak berdebar kencang, Hanum semakin yakin bahwa yang datang itu adalah jodohnya, karena Hanum belum pernah merasakan debaran seperti itu.

  "Kamu yang buka pintunya, ya?" titah pak Haris pada Hanum.

  Hanum tersenyum sambil mengangguk, lalu berjalan mendekati pintu.

  Manik matanya membulat, kala menatap punggung laki-laki yang datang itu tidaklah asing baginya. Degup jantungnya semakin kencang saat laki-laki tampan itu berbalik arah, menghadap dirinya dengan mengukir senyum lembut.

  "Abi?"

  "Hey, kenapa syok gitu, aku tadi sudah bilang mau ke rumah, kan?" Katanya.

  Belum sempat Hanum menjawab, pak Haris dan bu Risa sudah lebih dulu berdiri dibelakang Hanum.

  "Assalamualaikum, pak Haris, bu Risa." Salam dari Abi setelah melihat mereka.

  "Waalaikumussalam, Abi." Jawab keduanya.

  "Mari masuk, nak Abi!" ucap bu Risa.

  Abi pun masuk rumah Hanum, pandangannya menyapu ke seluruh ruangan. "Sepertinya akan ada acara ya, pak Haris?" tanya Abi, penasaran karena melihat ada banyak makanan di ruang tamu.

  "Iya, Bi. Kami akan menyambut tamu malam ini," kata pak Haris dengan bahagia.

  Entah bagaimana, dan apa yang dipikirkan oleh Abi. Tanpa bertanya dan pikir panjang, ia langsung mengutarakan niatnya datang ke rumah itu.

  "Baik pak Haris, saya tidak mau menganggu acara pak Haris dan keluarga. Jadi, saya mau langsung pada intinya saja." Katanya.

  "Iya, Bi. Ada apa?" tanya pak Haris, mendengarkan dengan serius.

  "Maksud dari kedatangan saya kemari, yang pertama tentu dengan niat bersilaturahmi, dan yang kedua, saya berniat ingin melamar anak bapak."

  Deg!

  Hanum merasa tidak percaya, karena beberapa hari yang lalu, Abi mengatakan akan menikah. Masih segar dalam ingatan, Hanum mengatakan akan mengisi daftar tamu yang hadir pertama.

  "Bi, bukannya...kamu bilang...?"

  "Iya, Num. Pernikahanku batal, aku pikir mungkin ini yang terbaik, karena aku jadi punya kesempatan buat melamar kamu." Katanya.

  "Bi, kita sebenarnya—" ucap pak Haris, bingung menjelaskan. Namun pak Haris teringat akan janji Hanum, yang akan menerima LAMARAN KETUJUH apapun keadaannya.

  "Jawabannya nggak harus sekarang, pak Haris." Potong Abi, "saya juga akan menghargai apapun jawaban Hanum, dan keputusan dari pihak keluarga pak Haris juga." Katanya.

  "Abi, maafkan kami—" ucap bu Risa yang langsung dicegah oleh pak Haris.

  "Tunggu, pak Karto menelepon." Kata pak Haris, lalu pamit mengangkat telepon dari pak Karto.

  Hanum masih terdiam, "rencana apa lagi ini ya Allah?" Bathin Hanum.

  "Kamu pasti bingung ya, Num? Ya wajar sih. Tapi kamu nggak usah bingung, aku bakal nerima apapun jawaban mu kok." Kata Abi, "kalau diterima ya alhamdulillah, memang itu yang aku harapkan. Kalau kamu nolak juga nggak jadi masalah, kita masih teman seperti sebelumnya. Aku janji kalau kamu nolak, kita masih akan seperti biasa." Katanya yang hanya dibalas senyum oleh Hanum.

    Mata Hanum tidak berkedip saat pak Haris kembali. Ia menatap tegang, menunggu ayahnya mengatakan sesuatu.

  "Bagaimana, mas?" tanya bu Risa, dengan napas tersengal-sengal.

  Pak Haris duduk di sofa, wajah seriusnya sulit dibaca. Hanum tidak tahu apa yang sedang ayahnya pikirkan, namun ia dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang penting.

  Hanum tak dapat menahan rasa ingin tahunya, "ada apa, ayah?"

  Bukannya menjawab pertanyaan anak dan istrinya, pak Haris justru menghela napas dalam, lalu berkata pada Abi. "Abi, kalau ucapan kamu serius, tolong bawa ibumu secepatnya."

  Ucapan pak Haris membuat bu Risa dan Hanum melebarkan kelopak matanya.

  "Apa yang terjadi, mas?" tanya bu Risa.

  "Iya, ayah. Apa yang terjadi?" timpal Hanum.

  "Begini Abi, Hanum memang sedang menunggu LAMARAN KETUJUH, dia sudah berjanji akan menerima apapun keadaannya. Mungkin kamu laki-laki yang tepat buat Hanum. Dan ayah menerima lamaran ini." Katanya.

  "Alhamdulillah," ucap syukur Abi. "Insya Allah, besok saya langsung ajak ibu ke sini." Kata Abi yang dijawab anggukan mantap oleh pak Haris.

  "Mas?"

  "Ayah?"

  Lirih Hanum dan bu Risa yang dijawab angkat tangan kanan dengan jari-jari terentang, oleh pak Haris.

  Bu Risa dan Hanum masih binggung, bagaimana pak Haris mengambil keputusan itu, sementara keluarga pak Karto sedang menuju ke rumahnya.

  * *

   Malam itu, Dj memainkan lagu-lagu hits, membuat suasana semakin panas. Reza dan Nadia sedang merayakan kemenangan mereka, karena Hanum akan menerima LAMARAN KETUJUH.

   Suasana riuh, tawa dan teriakan memenuhi ruangan. Ketika lampu disko berkedip, serta bass yang menggetarkan hati, membuat semua orang bergoyang tanpa henti.

  "Wah, musiknya keren banget kan, sayang?" tanya Reza sembari merangkul Nadia.

    "Iya, mas. Aku suka banget sama lagu ini!" Seru Nadia.

  "Mau minum apa?" Tawar Reza sambil menyodorkan Bir.

   "Thanks!" Jawab Nadia tanpa penolakan.

  Nadia dan Reza begitu menikmati suasana itu. Hingga malam telah larut dan Nadia tampak mabuk berat hampir tak sadarkan diri, Reza tak mungkin mengantarnya pulang ke rumah. Tanpa pikir panjang, dibawanya Nadia ke apartemen milik Reza.

   "Nad! Nadia!" Panggil Reza sambil menepuk-tepuk pipi Nadia, setelah mereka telah sampai di lobby.

  "Aku nggak bisa jalan, mas..." Lirihnya dengan mata yang masih tertutup.

  Tidak ada pilihan lain, Reza mengangkat tubuh Nadia dari lobby ke lantai sembilan mengunakan lift. Ia langsung membaringkan tubuh tanpa daya itu di kamarnya.

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!