Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Keintiman yang menyesakkan napas itu seketika buyar saat suara ketukan keras menghantam pintu baja ruangan tersebut.
Damian menarik diri perlahan, memberikan tatapan tajam ke arah pintu sebelum memberikan instruksi singkat melalui interkom. "Masuk."
Pintu terbuka, dan suasana mewah nan tenang itu berubah menjadi mencekam dalam hitungan detik.
Dua orang pria berbadan tegap masuk sambil menyeret paksa seorang laki-laki yang tangannya terikat kuat ke belakang.
Laki-laki itu tampak berantakan, wajahnya lebam, dan ia dipaksa berlutut di lantai bludru tepat di hadapan Damian.
"Tuan, kami berhasil menangkapnya. Dia adalah salah satu tikus yang mengejar Nona Valerie di taman kemarin," lapor salah satu pengawal dengan suara rendah.
Valerie tersentak, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia menatap pria yang berlutut itu dengan mata terbelalak; ia mengenali jaket hitam yang dikenakan pria itu saat mengejarnya di kegelapan malam.
Situasi di dalam ruangan biru itu kini terasa sangat dingin dan menakutkan.
Damian bersandar di sofa, matanya menyipit dengan tatapan intimidasi yang sanggup membekukan darah siapa pun.
"Katakan padaku," suara Damian terdengar tenang, namun ada ancaman kematian di setiap suku katanya. "Siapa yang mengirimmu untuk menculik gadis di sampingku ini?"
Laki-laki yang terikat itu mendongak. Matanya yang bengkak membelalak saat melihat Valerie duduk di sofa mewah tepat di samping bos besar yang paling ditakuti di wilayah ini.
Ia menelan ludah, tubuhnya gemetar, namun ia mencoba berkeras. "Saya... saya tidak akan mengatakannya. Bunuh saja saya!"
Rahang Damian mengeras. Ia benci pengkhianatan, tapi ia jauh lebih benci orang yang membuang-buang waktunya.
Tanpa peringatan, Damian berdiri dengan gerakan yang sangat cepat. Ia menyambar sebuah botol wine kristal dari atas meja di depannya, lalu dengan kekuatan penuh, ia menghantamkan botol itu ke kepala pria yang sedang berlutut tersebut.
PRANKKK!
Botol itu pecah berkeping-keping. Cairan merah tua berceceran di atas karpet bludru, bercampur dengan darah segar yang mulai mengucur deras dari dahi pria itu. Laki-laki itu mengerang kesakitan, tersungkur ke lantai dengan tubuh yang lemas.
Damian membungkuk, mencengkeram rambut pria itu dan memaksanya mendongak kembali. Suaranya kini terdengar bengis, nyaris seperti geraman binatang buas.
"Aku tidak punya kesabaran untuk pahlawan kesiangan seperti kau. Sekali lagi kutanya... siapa yang menyuruhmu?!"
Valerie membeku di tempatnya. Suaranya tercekat di tenggorokan, dan tangannya yang memegang pinggiran sofa bergetar hebat.
Pemandangan di depannya begitu brutal; ia baru saja menyaksikan sisi lain dari Damian—bukan lagi pria mesum yang sering menggodanya, melainkan seorang iblis yang tak segan-segan mencabut nyawa manusia.
Dengan sisa tenaga yang ada, laki-laki itu akhirnya meratap. Suaranya gemetar di sela-sela ringisan menahan sakit.
Ia mengaku bahwa mereka hanyalah tentara bayaran kelas teri yang disewa melalui perantara anonim. Transaksi dilakukan sepenuhnya lewat ponsel, tanpa pertemuan tatap muka, dan uang muka dikirim melalui akun kripto yang sulit dilacak.
Damian mendengus sinis, rahangnya mengeras karena jawaban itu sama sekali tidak memuaskan dahaganya akan informasi.
Dengan kasar, ia melepaskan cengkeramannya pada rambut pria itu hingga kepalanya terantuk lantai.
"Bawa tikus ini keluar. Urus dia, dan bersihkan sampah-sampah ini!" perintah Damian dingin pada bawahannya.
Dua pengawalnya segera menyeret pria malang itu keluar, sementara yang lain dengan sigap membersihkan pecahan kaca dan ceceran wine serta darah di atas karpet bludru.
Damian kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena amarah, ia menuangkan wine ke dalam gelas kristal dan meminumnya hingga tandas dalam satu tegukan, mencoba meredam gejolak emosi di dadanya.
Namun, di tengah kekesalannya, ia merasakan sebuah sentuhan lembut. Valerie, yang sedari tadi membeku ketakutan, tiba-tiba meraih tangan kanan Damian.
Pria itu tersentak, tatapan bengisnya seketika berubah menjadi keterkejutan saat melihat Valerie menarik tas kerjanya.
Gadis itu mengeluarkan sebungkus tisu basah. Dengan gerakan yang sangat telaten dan hati-hati, ia mulai mengusap noda merah di telapak tangan Damian.
Ternyata, saat menghancurkan botol tadi, beberapa serpihan kaca sempat menggores kulit keras sang predator, menyisakan luka robek yang mulai mengeluarkan darah.
Damian terpaku. Ia hanya diam membisu, memperhatikan bagaimana jemari lentik Valerie bergerak membersihkan sisa luka itu dengan penuh konsentrasi.
Valerie kemudian sedikit membungkuk, meniup luka itu dengan lembut seolah sedang menenangkan seorang anak kecil.
"Lain kali, jika kau ingin melakukan hal brutal seperti itu lagi, pastikan tanganmu sendiri tidak terluka," ucap Valerie pelan.
Ia mengambil sebuah plester bermotif sederhana dari tasnya, lalu menempelkannya dengan rapi di atas luka Damian.
Setelah selesai, Valerie mendongak dan memberikan senyuman manis—senyum tulus yang sangat kontras dengan suasana berdarah yang baru saja terjadi di ruangan itu.
Detik itu juga, ada sesuatu yang aneh menyusup ke dalam relung hati Damian. Rasa hangat yang asing, yang selama ini ia kunci rapat-rapat di balik dinding es kekuasaannya.
Tatapannya terkunci pada wajah Valerie, seolah-olah ia baru saja melihat sisi lain dari gadis itu yang jauh lebih berbahaya daripada ribuan musuh yang ia hadapi:
sebuah ketulusan yang mulai meruntuhkan pertahanannya, dan Sikap lembut Valerie mulai menggoyahkan dominasi Damian.
Setelah suasana tegang di ruangan itu mulai mencair, Damian berdiri dan memberi isyarat agar Valerie mengikutinya ke meja kerja besar yang terbuat dari kayu jati gelap di sudut ruangan. Di sana, beberapa tumpuk dokumen penting sudah menunggu untuk dirapikan.
"Susun ulang semua ini berdasarkan kategori transaksi, lalu input data ringkasannya ke dalam sistem ini," perintah Damian sambil menyalakan layar monitor yang terlindungi enkripsi tingkat tinggi.
Valerie menarik kursi dan mulai bekerja. Meski hatinya masih sedikit bergetar karena kejadian berdarah tadi, kecerdasan alaminya segera mengambil alih.
Jemarinya menari dengan lincah di atas papan ketik, memilah dokumen dengan ketelitian yang mengagumkan.
Ia mampu menyesuaikan diri dengan cepat, memahami pola alur data yang rumit hanya dalam hitungan menit.
Sementara itu, Damian duduk di sampingnya, tampak fokus membaca ulang rincian pemasukan dari bisnis kasino dan jaringan gelapnya.
Sesekali, Valerie menghentikan gerakannya. "Damian, kode referensi di dokumen seri-B ini tidak muncul di database utama. Apakah aku harus membuat entri baru atau memasukkannya ke kategori cadangan?" tanyanya tanpa menoleh.
Damian tidak langsung menjawab dengan kata-kata. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah ke belakang kursi Valerie.
Pria itu sedikit membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran kursi dan meja, seolah sedang mengurung Valerie dalam jangkauan tubuhnya.
"Gunakan kategori cadangan untuk itu, Sayang. Itu adalah transaksi transit yang belum diverifikasi," bisik Damian tepat di samping telinga Valerie sambil menunjuk baris angka di layar.
Napas hangat Damian menyapu kulit lehernya, membuat bulu kuduk Valerie meremang. Jantungnya kembali berdetak liar. Posisi Damian yang begitu dekat—dengan aroma maskulin yang kini bercampur samar dengan aroma wine—membuat konsentrasi Valerie buyar seketika.
Ia mencoba tetap menatap layar, namun sudut matanya justru terfokus pada lengan kokoh Damian yang terbalut kemeja navy tepat di samping lengannya.
"Paham?" tanya Damian lagi, suaranya rendah dan dalam, seolah ia tahu persis efek yang ia timbulkan pada asisten barunya itu.
Valerie hanya bisa mengangguk kaku, jemarinya mendadak terasa dingin. Ia menyadari satu hal: bekerja sebagai asisten pribadi Damian bukan hanya menguras tenaga, tapi juga menguji ketahanan jantungnya setiap detik.
Sekitar dua jam mereka berkutat dengan deretan angka dan dokumen yang seolah tak ada habisnya. Valerie akhirnya mengembuskan napas panjang, merenggangkan kedua tangannya ke atas dan memutar lehernya untuk menghilangkan ketegangan yang menumpuk di bahu.
Melihat asisten pribadinya sudah mencapai batas kelelahan, Damian menutup laptopnya.
"Cukup untuk hari ini. Ayo pulang," ajak Damian singkat.
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil mewah itu terasa sunyi dan menenangkan, kontras dengan keriuhan kasino bawah tanah tadi.
Lampu-lampu kota yang melintas di jendela mobil menciptakan bayangan yang menari-nari di wajah Valerie.
Rasa kantuk yang luar biasa setelah seharian penuh tekanan emosional dan fisik akhirnya menang. Tanpa sadar, kepala Valerie perlahan oleng ke samping dan jatuh tepat di pundak tegap Damian.
Damian sempat tersentak kecil saat merasakan beban di bahunya. Ia melirik gadis di sampingnya yang kini sudah terlelap dengan napas yang teratur.
Alih-alih menjauh, Damian justru mengulas senyum tipis—sebuah ekspresi lembut yang tak akan pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia bisnisnya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia membenarkan posisi kepala Valerie agar gadis itu bisa tidur dengan lebih nyaman di sandarannya.
Pandangan Damian kemudian beralih pada telapak tangan kanannya. Ia menatap plester bermotif sederhana yang ditempelkan Valerie tadi. Luka itu tidak seberapa, namun perhatian kecil dari gadis ini terasa lebih membekas daripada luka itu sendiri.
Damian mendesah pelan, menyandarkan kepalanya sendiri sambil terus menatap plester itu.
Perasaan aneh itu datang lagi—sebuah getaran asing yang mengusik dinding es di hatinya.