NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:361.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

“Umi…” Kayla tiba-tiba berbalik menghadap Anisa. Wajahnya yang biasanya penuh ekspresi kini terlihat sungguh-sungguh.

“Iya, Nak?” Anisa menyahut lembut.

“Maafin Kayla ya,” ucap Kayla lirih sambil menunduk. “Kalau baju Kayla… udah nggak sopan.”

Anisa tersenyum, menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, Nak. Yang penting kamu selamat. Lain kali lebih hati-hati ya.”

Hati Kayla terasa menghangat, asing, tapi nyaman. “Makasih ya, Umi. Makasih juga, Fatimah.”

“Sama-sama, Mbak,” jawab Fatimah ceria. “Kapan-kapan main ke sini lagi ya.”

Kayla tersenyum kecil, lalu buru-buru membuka pintu mobil dan masuk. Pipi nya terasa panas. Entah karena matahari pagi atau rasa malu menyadari betapa kontrasnya penampilannya dengan lingkungan pondok pesantren itu.

Mesin mobil menyala. Kayla melirik sekali lagi ke arah rumah ndalem sebelum akhirnya melaju pergi.

Ia tak tahu kenapa, tapi pagi itu di tempat yang sama sekali asing ada sesuatu yang tertinggal di dadanya. Sesuatu yang pelan-pelan mengusik, mengganggu, dan entah kenapa… terasa ingin ia pahami lebih jauh.

Di dalam mobil, Kayla menyetir dengan pikiran yang berantakan.

Tangannya menggenggam setir lebih erat dari biasanya. Jalanan Surabaya pagi itu cukup lengang, namun kepalanya justru riuh oleh suara hatinya sendiri.

Bodoh banget sih aku… Kayla mendecak kesal, menatap pantulan wajahnya di kaca spion. Celana pendek, tanktop, kardigan tipis, penampilan yang selama ini tak pernah ia permasalahkan.

Selama bertahun-tahun, ia terbiasa tampil apa adanya, bahkan sering kali sengaja tampil berani.

Dia bukan tipe yang peduli omongan orang.

Dulu, Kayla pernah membeli baju seharga lima belas ribu rupiah di pinggir jalan. Dan dia baik-baik saja. Bahkan baju itu ia pakai ke club malam, Ia Tidak minder, tidak malu. Ia tetap berjalan dengan kepala tegak dan senyum percaya diri.

Baginya, harga dan penilaian orang lain tidak pernah penting.

Tapi hari ini… berbeda.

Entah kenapa, di hadapan Umi Anisa dan Fatimah, dadanya terasa sesak oleh rasa yang asing. Malu. Bukan karena bajunya murah, Jika dipikir, baju yang ia pakai bahkan nilainya lebih dari sepuluh juta.

Tapi, entah kenapa ia merasa begitu minder. Mereka begitu rapi. Begitu tenang. Begitu bersih, bukan hanya dari segi pakaian, tapi juga dari sorot mata dan tutur kata.

Sedangkan dirinya datang dengan tubuh terbuka, rambut berwarna mencolok, dan masa lalu yang bahkan ia sendiri enggan mengingatnya terlalu lama.

Kayla menghela napas panjang.

Kenapa sih aku jadi kepikiran gini?

Biasanya juga bodo amat…

Ia menggeleng, mencoba mengusir perasaan itu. Tapi bayangan wajah Anisa yang tersenyum lembut dan Fatimah yang ramah terus terlintas di kepalanya. Tidak ada tatapan menghakimi. Tidak ada sindiran. Justru itu yang membuat Kayla semakin merasa kecil.

Dan laki-laki itu.

Hanan.

Cara dia menunduk. Cara dia menjaga pandangan. Cara dia memilih diam dibanding membuat Kayla merasa tidak nyaman.

‘Kenapa juga aku bisa dibawa ke pondok pesantren sih?’ pikir Kayla kesal.

Dari sekian banyak rumah di Surabaya, dari sekian banyak orang yang bisa menolongnya, kenapa justru ke tempat itu? Tempat yang bahkan tak pernah ada dalam daftar hidupnya.

Kayla menekan gas sedikit lebih dalam.

Ia merasa seperti orang asing yang tersesat ke dunia yang bukan miliknya. Dunia yang rapi, teratur, penuh aturan sementara hidupnya sendiri selama ini berantakan tapi bebas.

Namun anehnya, di tengah rasa malu dan kesalnya, ada satu perasaan lain yang pelan-pelan menyusup.

Penasaran.

Tentang rumah itu. Tentang ketenangan yang ia rasakan semalam. Tentang laki-laki bersarung yang bahkan tak berani menatap wajahnya. Kayla menghela napas lagi, lebih pelan kali ini.

“Cuma kebetulan,” gumamnya pada diri sendiri. “Nggak lebih.”

Mobil terus melaju, menjauh dari pondok pesantren. Tapi tanpa Kayla sadari, hatinya justru sedang perlahan tertarik kembali ke sana.

**

Hari demi hari berganti. Tanpa terasa, setelah seminggu penuh menghabiskan waktu di Surabaya, Kayla akhirnya bersiap kembali ke Jakarta.

Eyang Narti duduk di kursi rodanya, menatap cucunya dengan sorot mata yang berat ditinggal. Tangannya menggenggam tangan Kayla lebih lama dari biasanya.

“Nduk… apa kamu nggak di sini aja sama Eyang?” ucapnya pelan, hampir seperti memohon.

Kayla tersenyum, berusaha terlihat santai meski dadanya terasa menghangat. “Eyang… Kayla kan masih kuliah. Kalau Kayla di sini terus, nanti kuliah Kayla gimana?”

“Tapi kamu di sana sendirian, Nduk,” suara Eyang bergetar.

“Kayla udah biasa, Eyang,” jawab Kayla lembut. Ia mengusap punggung tangan Eyang pelan. “Nanti kalau ada waktu, Kayla ke sini lagi. Janji.”

Eyang Narti menghela napas panjang. “Ya sudahlah…”

Pamit pun dilakukan dengan pelukan singkat namun penuh rasa. Tak lama kemudian, Om Arman mengantar Kayla menuju bandara.

Suasana bandara cukup ramai. Orang-orang berlalu-lalang dengan koper dan wajah lelah, suara pengumuman terdengar bersahut-sahutan.

‘’Ya udah Om, Kayla sudah bisa sendiri kok. Makasih ya Om, udah anterin Kayla,”

‘’Kamu hati hati. Kalau ada apa apa, jangan sungkan telfon Om. Jangan sendiri! Kamu itu perempuan Kay,’’

‘’Iya iya Om. Kayla janji, nanti pokoknya akan sering telfon Om sama Eyang!’’

‘’Ya udah, om pulang ya,”

‘’Ok Om,”

Setelah memastikan om Arman pergi. Kayla berjalan mendorong koper nya, hingga tiba-tiba langkahnya terhenti.

“Umi!”

Tanpa sadar, Kayla berlari kecil menghampiri sosok yang sangat ia kenal. Wanita paruh baya itu menoleh, lalu tersenyum teduh.

“Assalamualaikum, Kayla…” sapa Anisa hangat.

“Waalaikumsalam,” Kayla terkekeh kecil, sedikit canggung. “Maaf, Umi, hehehe…”

Namun Anisa hanya tersenyum, senyum yang selalu terasa menenangkan.

“Kok Umi di sini?” tanya Kayla penasaran. “Umi mau ke mana?”

“Umi mau ke Jakarta, Nak. Kamu?”

“Kayla juga mau pulang, Umi.”

Anisa mengangguk pelan. “MasyaAllah, kebetulan ya.”

Kayla melirik ke sekeliling. “Umi sama siapa?”

“Sama—”

“Umi!” Suara laki-laki itu membuat Anisa dan Kayla menoleh bersamaan.

Deg.

Jantung Kayla berdegup keras tanpa aba-aba. Entah kenapa, setiap kali melihat laki-laki itu, tubuhnya selalu bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat menata diri.

Hanan berdiri beberapa langkah di belakang Anisa, membawa tas kecil. Penampilannya tetap sederhana, rapi, dan menenangkan.

“Umi sama Hanan,” jawab Anisa.

Kayla mengangguk kecil. Tatapan Hanan sempat singgah padanya hanya satu detik lalu kembali berpaling, seperti biasa.

Kayla menunduk, refleks menilai dirinya sendiri. Hari ini ia mengenakan jins panjang, hoodie longgar, dan topi. Pakaian yang jauh lebih tertutup dari biasanya.

Namun menyadari Hanan kembali menjaga jarak pandang, Kayla spontan menarik tudung hoodie dan menutup kepalanya.

Entah kenapa… ia ingin.

“Assalamualaikum, Mas Hanan,” sapa Kayla pelan.

“Waalaikumsalam,” jawab Hanan singkat.

“Sekali lagi… terima kasih ya, waktu itu.”

Hanan hanya mengangguk. Tidak berkata apa-apa. Lalu menoleh pada ibunya. “Ayo, Umi.”

Anisa tersenyum pada Kayla. “Kayla, Umi duluan ya, Nak. Kamu hati-hati di jalan.”

“Iya, Umi,” jawab Kayla cepat. “Umi juga hati-hati ya.”

Mereka berpisah di koridor bandara yang sama-sama menuju Jakarta, namun dengan perasaan yang berbeda. Kayla menatap punggung mereka menjauh, hatinya terasa aneh. Tidak sedih, tidak senang tapi penuh dengan sesuatu yang belum ia pahami.

‘Kemarin dia menghindar karena aku pake baju terbuka. Tapi, sekarang, bajuku udah ketutup sampai aku engap. Dai masih aja cuek, sebenernya mau dia apa sih?’ gumam Kayla kesal sendiri.

‘Muka gue gak seserem itu kali ah!’

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Yuliana Purnomo
huuuh lega ternyata dinkevin genderuwo musnah
diah nursanti
kalo sudah begini km bilang cinta fin,semoga setelah ini km lebih bisa menghargai istrimu
🍎billaacha90🍎
Akhirnya kamu sadar kan Arfin, gimana rasanya kehilangan orang yang terpenting dalam hidup kita. Baguslah kamu sudah membuktikan kepada Fatimah bahwa kamu bisa bertanggung jawab menyelamatkan nya.

Senang rasanya akhirnya kamu bisa jujur membuka hatimu Arfin, Semoga kamu masih dapat kesempatan untuk memperbaiki hubungan mu, semoga setelah badai dalam rumah tangga mu segera digantikan dengan kebahagiaan oleh Mommy author
Sri Hendrayani
tegang juga bab ini mom
Yanti Gunawan
seru banget trselip cerita horor🤣🤣 aku syuka🤣🤣 Mksh othor syg😍😍😍
Budhe Satryo
panjang gpp mom seruu jg 🤭🤭😍😍😍
arfin moga kami sadar bneran lho
Ainal Fitri
boleh dech klo seuprit tkut nya nti terlalu nyaman jd nya horor Mulu sampe sampe takut gak bs tidur 😭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
panjang juga gak papa kok mom , walaupun aq penakut suka nonton horor, walaupun habis itu gak berani kekamar mandi sendiri karena ditempat q kamar mandinya ada di luar rumah 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
akhirnya kalah juga tu genderuwo 🤭
Nie
takut bacanya, tapi kok ya penasaran sampe tiap hari ngecek barangkali ada update🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
nah setuju sama pendapat genderuwo ini🤭
Eka ELissa
panjang juga GK papa Mak....🤣🤣👍biarin kpok tu laki Cemen dia sok bgt mng di luaran GK ada yg suka bini nya.....😡😡😡😡lbih ngeri lagi kan bini nya di sukai jin....dri dunia lain... truus apa kabar tuu...laki2 di luar sana Pati byk yg antri mo jadi pengganti mu fin 🤣🤣🤣
Eka ELissa
nah loh.....syok tu arfin 🫣🫣🫣🫣smpah 😡😡🤣🤣🤣🤣
Ida Zubedd
rasanyaa kek ikutan ada d sana jugaaa . tegang
Eva Karmita
wooooww ...keren seru aku suka 😍 ...semoga setelah kejadian ini kamu sadar Fin dan bisa ambil hikmahnya jangan egois dan keras kepala lagi ...ingat Fatimah sama Arash yg harus kamu jaga istrimu tidak butuh kemewahan dia cuma butuh perhatian dan kasih sayang Fin
Eva Karmita
astaghfirullah... semoga Arfin sama Fatim bisa keluar , ayo Fin selamatkan istrimu jangan cuma bisanya ngomel sudah saatnya kamu tunjukkan keseriusan hatimu untuk Fatimah 🥰💪🔥
Ita rahmawati
kampret lah bacanya kok bisa jd kyk nonton ya kebayang semua kejadiannya 🤣
Maya's ❤️
ikut an tegang bacanya wey 🙈
Syti Sarah
lnjut lgi mom 🙏psti stelah ini fatim dan arfin akan bersatu kmbali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!